Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Hatiku selalu Bersamamu


__ADS_3

...Caramu membuatku tertawa...


...akan selalu ku ingat...


...~ Azkia A~...


...--------------------------------...


Azkia masuk kedalam kamarnya dengan lesu, tas sekolahnya di lemparkan ke sembarangan arah. Tubuhnya ia hempaskan begitu saja diatas kasur dengan posisi tengkurap.


"Arrgghhh!!" teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.


Amarah, benci dan kesal menjadi satu dalam hati Azkia saat ini, karena seseorang yang ia lupakan dengan susah payah kembali lagi ke kehidupannya.


Pertemuan yang tidak sengaja dengan masa lalunya membuatnya kesal, namun terselip rindu yang sangat mendalam. Rindu akan semua perhatian dan canda tawanya, Azkia juga penasaran kenapa dia tiba-tiba hilang begitu saja disaat Azkia benar - benar telah jatuh hati padanya.


"Kenapa? Kenapa harus datang lagi disaat gue sudah bisa lupain lo, lo gak pernah tau kan seberapa keras usaha gue buat lupain lo," gumam Azkia.


"Lo jahat banget sih sama gue," ucap Azkia sambil terisak dalam tangisnya.


Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat keras.


"Lo tau kan betapa gue sayang sama lo, tapi kenapa lo hilang gitu aja tanpa ada penjelasan sedikit pun... lo jahat, Ndre!"


Azkia membenamkan wajahnya diatas bantal agar tangisnya tidak terdengar oleh keluarganya.


Sakit perih dan penasaran semua bercampur menjadi satu dalam hati Azkia saat ini. Azkia penasaran kenapa dia meninggalkannya begitu saja tanpa ada kepastian yang jelas, Azkia sangat penasaran dengan alasan itu.


Ddrrrtttt drrrttt


Ponselnya berdering memecahkan pikiran Azkia tentang masa lalunya yang begitu menyiksanya. Menyayangi seseorang yang tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada penjelasan apapun.


Dengan malas Azkia mencari keberadaan tas yang ia lemparkan kesembarang tempat, ponsel itu terus berdering yang menunjukan bahwa si penelepon terus menghubunginya.


Azka mengambil tas yang tergeletak di lantai, dengan malas tangannya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


Alis mata Azkia terangkat saat melihat nama 'Azka' yang sedang menghubunginya saat ini.


Dengan susah payah Azkia mengatur nafasnya agar tidak terdengar jika dirinya sedang menangis.


"Halo," ucap Azkia.


"Lama banget angkatnya," ucap seseorang diseberang sana yang tidak lain adalah Azka.


"Ma-maaf," jawab Azkia suaranya sedikit bergetar masih ada sedikit isak tangis yang bisa Azka dengar.


"Kok nangis, kenapa? Jujur," ucap Azka yang terdengar khawatir.

__ADS_1


Deg!


Untuk beberapa saat Azkia terdiam, seperti ada sesuatu yang menghangat di dalam hatinya. Seketika saja semua rasa gelisah kesal dan benci hilang saat mendengar suara Azka yang menanyakan keadaannya.


Azkia tidak butuh apapun saat ini, yang ia butuhkan hanya bahu untuknya bersadar dan juga telinga yang siap mendengar semua ceritanya.


"Kok diem, kenapa?" Azka mengulangi lagi pertanyaannya saat Azkia tidak kunjung menjawab.


"Aku gak papa kok," saut Azkia sambil membuang nafasnya dengan kasar.


"Yakin?" Azka tahu jika Azkia sedang tidak baik-baik saja, namun mungkin belum saatnya Azka mengetahui hal apa yang membuat Azkia bersedih.


"I-iya Azka, I'm fine," ucap Azkia sambil tersenyum.


"Gak usah senyum, percuma gue gak bisa liat senyum lo," ucap Azka terkekeh.


"Hmmm, ada apa telepon?" tanya Azkia yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Cuma mau bilang," ucap Azka yang sengaja digantungkan agar membuat Azkia penasaran.


"Bilang apa?" tanya Azkia sambil melangkah menuju balkon kamarnya.


"....."


"Mau bilang apa beruang ku—" pertanyaan Azkia yang belum selesai namun sudah dipotong Azka.


"Kangen," singkat jelas padat itulah yang Azka ucapkan.


"Yaudah kalo gak percaya, terserah!" ucap Azka ketus.


"Yaealah gitu aja ngambek, waferan amat ngab," sindir Azkia sambil tertawa.


"Biarin, yang penting kamu udah gak sedih lagi," kata Azka, ucapan itu membuat Azkia tersenyum.


Ya saat ini hanya Azka lah yang bisa membuatnya melupakan kesedihannya itu, bahkan Azka yang bisa menciptakan tawa di bibir mungil Azkia. Walaupun dengan hal-hal yang tidak jelas seperti saat ini.


"Yaudah buruan mandi sana, udah sore," perintah Azka.


"Mager ini, nanti aja," tolak Azkia yang kini sudah duduk di kursi sambil menikmati hangatnya matahari sore.


"Sekarang, Nyun!" perintah Azka.


Azkia mengerucutkan bibirnya mendengar perintah Azka.


"Bibirnya gak usah dimaju-majuin gitu, kaya bebek tau gak haha," tawa Azka terdengar hangat di telinga Azkia.


"Sok tau!"

__ADS_1


"Lah emang tau, kan aku di sampingmu,"


Azkia celingukan kesana kemari mencari keberadaan Azka yang mengatakan jika dirinya disamping Azkia.


"Mana, gak ada," kata Azkia.


"Hatiku selalu bersamamu, jadi aku tau apapun yang terjadi sama kamu saat ini," ucap Azka dengan yakin.


"Kamu cenayang, ya?" tanya Azkia.


"Cenayang?" tanya balik Azka yang tidak paham maksud Azkia.


"Itu loh kaya dukun gitu namanya cenayang,"


"Enak aja ganteng-ganteng gini dibilang dukun, emang kamu pernah liat dukung ganteng?" tanya Azka.


Azkia menggeleng, bodohnya Azka tidak akan bisa melihatnya menggeleng karena ini bukan vidio call.


"Gak, tapi sekarang aku punya dukun," ucap Azkia sambil terkekeh.


"Hah?"


"Iya kamu itu dukun, dukun cinta... canda ngab!"


Hal itu membuat mereka berdua tertawa bersama. Ya begitulah Azka, dia bisa sedingin es dikutub bahkan tidak ada orang yang berani mendekatinya, dan bahkan bisa sehangat matahari senja.


"Oh iya, tadi aku cuma mau ngabarin kalo udah sampai rumah," ucap Azka sedikit kikuk.


Lagi-lagi Azkia tersenyum senang, dia merasa bahwa dirinya telah di perioritaskan oleh Azka. Buktinya sekarang dia bela-belain telepone hanya untuk mengabari Azkia.


"Bagus, anak baik," canda Azkia.


"Cih, gue bukan anak kecil," kesal Azka.


"Iya-iya gitu aja nggas, yaudah mau mandi dulu," ucap Azkia, kini dia sudah berara di dalam kamar.


"Okee," saut Azka.


"Assalamualaikum, beruang kutub!" pamit Azkia.


Senyuman yang masih terlihat jelas di bibir merahnya itu,walaupun matanya bengap karena menangis.


"Waalaikumsalam, Nyun,"


Azkia meletakkan ponselnya diatas nakas, seperti yang di bilang tadi kini ia sedang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menenangkan pikirannya.


Sedangkan Azka ia masih setia menatap layar ponselnya, terlihat wajah cantik yang sedang tersersenyum manis. Azka akan tersenyum sendiri saat menatap foto itu, seorang gadis yang memberikan warna baru dalam hidupnya. Seseorang yang perlahan merubahnya menjadi Azka yang tidak dingin seperti dulu, merubah Azka menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

__ADS_1



........................


__ADS_2