Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Jangan lepaskan


__ADS_3

Sejak tadi Azkia selalu menenpel pada Azka, bahkan ia tidak ingin sedetik pun melepaskan genggaman tangannya. Azka hanya bisa pasrah saja dengan kelakuan tunangannya itu. Mau bagaiama pun, merekah sudah lama tidak bertemu.


"Ki, kasihan si Azka masih capek jangan digelendotin mulu," celetuk Devira.


"Namanya juga kangen, Ra. Dahlah biarin aja." bela Nayla.


"Kamu capek?" tanya Azkia polos sambil mendongak menatap Azka.


"Gak kok," saut Azka sambil mengusap lembut kepala Azkia.


"Tuh denger sendiri kan?" ucap Azkia sambil menjulurkan lidahnya kearah Devira.


Sedangkan Devira hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Mereka memaklumumi sikap Azkia yang berubah seratus persen saat di hadapan Azka.


"Yakin gak capek? Orang sampai bandara langsung kesini?" tanya Devan yang duduk disamping Azka.


"Aduh," rengek Devan saat perutnya disikut oleh Azka.


Azka memelototkan matanya, seolah sedang melarang Devan memberitahu Azkia.


"Kamu baru sampai terus kesini?" tanya Azkia tidak percaya.


Azka hanya diam saja, sedangkan Devan lah yang menjawab pertanyaan itu.


"Iya, terus sampai sini jadi model dadakan haha," kata Devan sambil terkekeh.


Azka menginjak kaki Devan karena geram, Devan hanya bisa meringis kesakitan.


"Gue gak nyangka kalau Azka yang bakal jadi modelnya," saut Attaya.


"Iya, sama!" kata Nayla dan diangguki oleh Devira.


"Hmm." Azka hanya menaikkan bahunya.


Mereka semua asik bertukar cerita sampai tidak menyadari jika pemenang desain sudah diumumkan. Dan Azkia mendapatkan juara ke 2 dalam fhasionshow kali ini.


Hal itu membuat Azkia sangat bahagia terlebih lagi ada Azka disisihnya. Tanpa ragu Azkia memeluk erat Azka saat namanya disebutkan sebagai juara ke dua.


Setelah acara selesai mereka pulang ke rumah Azka, karena oleh-oleh yang Azka bilang sudah ada di rumahnya. Oleh-oleh itu ia titipkan kepada orang tuanya yang pulang terlebih dahulu.


.............


"Udah lama banget kita gak ke sini," celetuk Attaya sambil menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


"Iya, untung gak lupa jalan kesini," saut Devan sambil terkekeh.


"Kalian aja jarang kesini apalagi kita," kata Devira.


"Udahlah yang penting kita udah kesini lagi," kata Nayla.


Azkia masih saja mengikuti kemana pun Azka berjalan hingga tiba di kamar Azka, Azkia menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Azka heran.


"A-aku nunggu disini aja," kata Azkia malu.


Walaupun ia tunangan Azka, namun belum pernah Azkia masuk kedalam kamar Azka. Hal itu membuat Azka memiliki ide untuk menggoda Azkia.

__ADS_1


"Gak mau masuk?" tanya Azka.


"Gak, gak mau.. aku disini aja!" jawab Azkia dengan cepat.


"KA, OLEH-OLEH KITA DIMANA?" teriak Devan dari lantai bawah.


"Cih," decak Azka, "Ganggu aja!" gumamnya.


"Ada box besar di dekat tv, buka aja!" ucap Azka sambil melihat Devan dari lantai atas.


"Buat kita semua ini?" tanya Attaya antusias.


"Udah ada namanya masing-masing!" ucap Azka berbalik melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.


Azka berhenti saat di depan pintu kamarnya, tanpa menoleh ia mengatakan sesuatu pada Azkia.


"Hadiahmu di dalam, terserah mau diambil atau gak!" ucap Azka dingin.


"Ba-bawain keluar aja gimana, Ka? Aku... aku gak enak kalau harus masuk kamarmu!" kata Azkia.


"Gak mau!" singkat Azka kemudian masuk kedalam kamarnya.


Sebelum meletakkan ponselnya diatas nakas, ia sudah memesan banyak makanan untuk teman-temannya. Setelah itu Azka pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Badannya sudah terlalu lengket dan juga rasa lelah sangat terasa. Ia akan berandam air hangat untuk beberapa saat.


Azkia mondar-mandir di depan pintu kamar Azka, ia tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi Azka terlihat kesal saat dirinya tidak mengikuti perkataan Azka.


"Gimana ini?" gumam Azkia.


"Masuk gak, masuk gak.. masuk, gak? Duhh!" Azkia sedikit frustrasi.


"Masuk aja lah, kalau di macem-macem kan tinggal teriak!" gumam Azkia.


Perlahan ia masuk kedalam kamar Azka yang terlihat begitu nyaman, desain simple namun sangat cocok untuk Azka.


"Azka?" lirihnya saat mendapati Azka tidak ada diruangan itu.


Azkia mengamati setiap sudut kamar itu, ia melihat beberapa bingkai foto yang tersusun rapi diatas nakas.


Terlihat foto Azka dari kecil hingga dia remaja, bahkan ada foto saat mereka bertunangan.


Azkia menatap foto itu sekilas, ada perasaan bahagia saat melihat foto itu.


"Aku aja belum pajang foto kita berdua di kamar," gumam Azkia.


Azkia mendudukkan tubuhnya di tepi kasur yang berukuran besar itu. Ia masih fokus menikmati satu buku album yang memperlihatkan foto Azka waktu kecil. Hingga ia tidak menyadari seseorang sudah berdiri di sebelahnya dengan tangan yang masih sibuk mengusap rambutnya yang masih basah.


"Ganteng kan," ucapnya tepat ditelinga Azkia.


Karena terlalu dekat membuat Azkia merinding dengan hembusan nafas yang terasa dipipinya.


"Astaga! Kenapa deket banget sih, bikin kaget aja." keluh Azkia sambil berdiri dar duduknya.


"Hmmm,"


"Man-mana oleh-olehku?" tanya Azkia mencoba menghilangkan kecanggungan itu.


"Lebih penting oleh-olehnya, ya? Dari pada aku?" tanya Azka menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Ka."


"Lalu?" tanya Azka.


"Kan kamu yang nyuruh aku kesini katanya hadianya ada disini," ucap Azkia ragu.


"Memang!" singkat Azka.


Azkia menegadahkan tangannya untuk meminta oleh-olehnya. Namun bukannya memberikan oleh-oleh, Azka lebih mendekati Azkia. Hingga membuat Azkia tersudut karena sudah tidak ada ruang lagi di belakangnya.


"Ka-kamu ma-mau ngapain?" tanya Azkia panik karena jaraknya sangat dekat dengan Azka.


Bahkan Azkia bisa mencium wangi parfum yang Azka pakai, wangi yang selama beberapa tahun ini Azkia rindukan.


"Menurutmu?" tanya balik Azka.


Wajah Azka sudat berada tepat di depan Azkia, terlihat senyuman yang menggoda dari bibir ranum milik Azka.


Glek!


Azkia menelan slavinanya saat menatap bibir yang menggoda itu. Azka semakin mendekatkan wajahnya hingga tanpa diminta Azkia memejamkan matanya.


Melihat itu Azka tersenyum lebar, lalu ia meninggalkan Azkia yang masih memejamkan matanya.


"Kok lama banget sih?" batin Azkia.


Ia sedikit membuka matanya, dan ternyata tidak ada Azka dihadapannya. Pandangannya menyusuri setiap sudut kamar namun tidak terlihat sedikitpun Azka.


"Sial, aku di kerjain lagi!" gumam Azkia sambil melemparkan album foto pada kasur Azka.


Lalu saat Azkia berbalik ia melihat Azka yang tengah berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangannya di depan ada. Ia tersenyum manis kepada Azkia.


Membuat Azkia semakin kesal saja, ia melewati Azka begitu saja tanpa menoleh. Antara malu dan kesal itulah yang Azkia rasakan sekarang.


"Nyun?" panggil Azka, namun tidak di hiraukan oleh Azkia.


Dengan cepat Azka menarik pergelangan tangan Azkia, membuatnya jatuh dalam pelukan Azka. Sangat dekat! Azkia membuang wajahnya kesamping, ia sedang kesal dengan Azka yang selalu menggodanya.


"Nyun," panggil Azka lagi dan kali ini lebih lembut.


Azkia tidak bergeming, ia masih membuang wajahnya kesamping. Seolah tidak mendengar suara Azka.


Azka menyentuh dagu milik Azkia, ia membawa Azkia agar menatapnya.


"Marah?" tanya Azka menatap dalam mata Azkia.


Azkia masih saja bungkam, tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Azka.


Hal itu membuat Azka geram, dengan gerakan cepat Azka menarik tengkuk Azkia agar mendekat kerahnya. Terasa ada sesuatu yang hangat menyentuh jidat Azkia, membuatnya sedikit melirik keatas. Dan terlihatkan Azka sedang mencium keningnya dengan penuh perasaan.


Tangan kirinya berada di pinggang Azkia yang tengah memeluk dengan erat. Azkia tersenyum samar, lalu ia memeluk pinggang Azka dengan erat.


Entah kenapa air matanya tiba-tiba saja membasahi pipi putihnya itu.


"Gue kangen banget sama lo, muka tembok. Banget! Walaupun kamu jauh tapi makasih udah selalu suport aku, bantu aku walaupun lewat perantara. Pokoknya aku sayang banget sama kamu!" batin Azkia.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2