
"Azka! Azkaaaaaaa! hiks hiks hiks" teriak Azkia sambil menangis.
"Azkaaaa! jangan tinggalin aku." teriaknya
Brakk
Suara pintu terbuka dengan kencang, seseorang masuk dengan tergesa - gesa menghampiri Azkia.
"Dek, Kia... Azkia hey bangun." ucap Axel sambil menepuk pipi Azkia agar terbangun dari tidurnya.
"Azkia!" ucapnya sambil menggoyangkan lengan Azkia, tubuh Azkia terguncang saat menangis dan terus meneriaki nama Azka. Keringan dingin terlihat membasahi kening Azkia, perlahan Azkia sadar dari mimpinya itu.
"Astagfirullah!" teriak Azkia lalu duduk diatas kasur.
Terlihat Axel tengah duduk disebelahnya sambil menatapnya.
"Mimpi buruk dek?" tanya Axel.
"Abaangg hiks hiks!" saat menyadari di depannya ini adalah Axel, Azkia langsung saja memeluknya dengan erat seolah sedang mencari ketenangan dalam pelukan itu.
"Kenapa?" tanya lembut Axel sambil mengusap kepala Azkia.
"Azka bang Azka ninggalin Kia, Kia takut bang... Kia gak mau kehilangan Azka." ucap Azkia sambil menangis.
Axel yang mendengar perkataan Azkia pun bingung. "Kamu mimpi, dek?" tanya Axel.
"Hah jadi Kia cuma mimpi bang, Azka masih baik - baik aja kan?" tanya Azkia dengan sesegukan.
"Azka kan masih koma dirumah sakit, tadi kita kan dari sana." ucap Axel sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Astagfirullah, mimpi Kia tadi kayak nyata banget bang... Kia takut." kata Azkia.
"Udah gak papa, itu cuma bunga tidur jangan terlalu di pikirin ya... lebih baik kamu sholat terus doain Azka supaya cepat sadar, okay?" saran Axel sambil membelai pelan kepala Azkia.
"Iya bang, Kia gak sadar udah ketiduran tadi habis mandi sampai belum sholat isya'." ucap Azkia.
__ADS_1
"Yaudah kamu sholat dulu gih sana, habis itu makan ya." perintah Axel kepada adeknya itu.
"Kia malas makan, rasanya gak ada semangat makan." ucap Azkia dengan wajah menunduk mengingat Azka.
"Gak boleh gitu, harus makan.. kalo kamu sakit nanti gak bisa jenguk Azka loh." rayu Axel agar Azkia mau makan.
"Xel.. eh bang, Kia tuh ngrasa bersalah babget sama Azka.. mungkin kalo bukan gara - gara Kia, Azka gak bakalan kayak gini." ucap Azkia dengan sendu.
"Gak baik nyalahin diri sendiri."
"Kalo aja pas Azka nanya soal abang, Kia langsung cerita dan gak lupa semuanya gak akan seperti ini bang." ucap Azkia, sesekali jemarinya meremas baju yang sedang ia kenakan.
"Hmmm?" tanya Axel bingung dengan perkataan Azkia.
"Azka udah nanya saol siapa yang teleponan sama Kia, pas Kia mau jawab temen kita dateng terus gak jadi cerita sama Azka... habis itu tadi sampai berantem gitu sama kamu, bang." kata Azkia.
"Hmm, dia siapa kamu emangnya?" tanya Axel penasaran.
"Di- dia pacar Kia." ucap Kia tersipu malu saat mengakui Azka sebagai pacarnya.
Axel memang selalu bisa membuat Azkia tersenyum, walaupun disaat sedih sekalipun. Karena Axel tidak menyukai jika Azkia menangis.
"Emm ya gitulah." ucao Azkia, pipinya sudah merah saat digoda Axel.
"Lain kali apapun itu ceritakan sama pasanganmu, jangan ada yang di sembunyiin ya... biar gak salah paham, okay!" nasehat Axel. Azkia mengangguk mengerti dengan apa yang Axel ucapkan.
"Yaudah sana sholat, jangan nangis mulu jelek." ucap Axel lagi sambil terkekeh.
"Ih adeknya sendiri dibilang jelek, abangnya lebih jelek dong wle." canda Azkia sambil berlari ke arah kamar mandi.
"Kamu yang jelek!" ucap Axel namun sudah tidak didengar oleh Azkia lagi.
Setelah beberapa saat Azkia keluar dari kamar mandi, segera dia mengambil sajadah dan mukenanya. Azkia akan melaksanakan kewajibannya yaitu sholat.
Dengan khusyuk Azkia menjalankan rakaat demi rakaat, setelah selesai sholat Azkia menengadahkan tangannya untuk berdoa.
__ADS_1
"Ya allah engkaulah yang maha pemberi sakit dan sehat, engkaulah yang maha pemurah.. Ya allah tolong sembuhkanlah Azka, sadarkan lah dia dari komanya.. Berikan kesehatan kepadanya, Aku gak tega lihat dia terbaring lemah di rumah sakit, Sembuhkanlah Azka ya allah.... Amiiin." air matanya lolos begitu saja dari pelupuk mata Azkia.
Begitulah potongan dari doa Azkia yang bisa kita dengar. Setelah selesai Azkia turun kebawah, dia hanya mengambil beberapa lembar roti tawar untuk mengganjal perutnya. Untuk makan nasi Azkia tidak berselera saat teringat Azka yang masih koma.
Setelah itu dia kembali ke kamarnya, matanya sulit terpejam lagi. Karena dia takut dengan mimpi yang terlihat sangat nyata itu. Sesekali air matanya jatuh membahasih pipinya, "Azka.. cepet sembuh!" lirihnya.
...............
Azka masih terlelap dalam koma nya, dia seperti sedang bermimpi melihat kedua orang tuanya yang begitu mengkhawatirkannya. Mama Kayla menangis sambil memeluknya, begitu juga dengan Papa Yudha yang menangis walaupun tidak bersuara.
Azka juga melihat sahabat - sabatnya bersedih melihatnya seperti ini, "Kenapa mereka sedih?" batin Azka.
Azka seperti sedang berada ditempat yang indah penuh dengan bunga - bunga yang bermekaran, burung - burung berkicau dengan merdunga. Disebelahnya ada air terjun yang sangat asri, airnya jernih mengalir dengan derasnya.
Samar - samar Azka mendengar suara yang terus memanggil namanya, seperti suara mamanya terkadang terdengar seperti suara Azkia.
"Kaka, bangun ya sayang!" suara lembut itu jelas mamanya karena tidaj ada yang memanggil Azka dengan sebuatan Kaka.
"Azka! Bangun ya!" suara itu terus terdengar ditelinga Azka, namun Azka tidak tahu siapa yang memanggilnya itu.
"Bos, bangun lah gue kangen lo omelein."
Azka merasa heran karena dia sedang bangun, kenapa mereka menyuruhnya untuk bangun.
"Gue kan gak tidur kenapa disuruh bangun?" gumam Azka, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bangun?" gumam Azka lagi.
Kemudian dia mencoba memejamkan matanya sebentar, dan mendengarkan suara - suara yang semakin terdengar jelas ditelinganya.
Kemudian perlahan Azka membuka matanya, dan.....
......................
Apa yang terjadi?
__ADS_1