
Azka mengajak Zenna ke supermarket untuk membeli beberapa camilan dan juga pesanan Azkia. Azkia tidak ingin ikut dengan alasan ia sibuk mengerjakan skripsinya, sehingga Azka hanya berdua dengan Zenna.
Banyak pasang mata yang menatap Azka, mereka kagum dengan ketampanan Azka. Kali ini ia hanya mengenakan kaos berwarna putih dipadukan dengan celana jins hitam sedikit sobek dibagaian lutut kanan kirinya. Ia menggunakan kaca mata hitam karena memang cuaca sendang panas.
Sedangkan Zenna tampak imut dengan dress warna baby pink, tak lupa rambutnya yang panjang dikucir dua. Pipinya yang cubby begitu menggemaskan.
"Papa muda tuh, gans banget!"
"Pengen jadi anaknya aku!"
"Jadi istrinya aja gimana pasti anaknya lucu-lucu nanti," ucap salah satu perempuan.
"Astaga, papa muda dari mana ini pengen gue culik anaknya biar papanya ngikut," ucap karyawan toko.
"Rasanya pengen nikah, kalau liat yang seperti itu,"
"Anaknya imut banget itu, kaya boneka!"
Dan masih banyak lagi cuitan yang dilontarkan orang-orang saat melihat Azka dan Zenna. Tapi yang namanya Azka tidak perduli dengan omongan mereka sama sekali. Azka lebih berfokus pada Zenna, karena baru kali ini ia membawa anak kecil sendirian.
"Oom Aca, Zee mau ice," kata Zenna sambil menunjuk stand ice cream.
"Zenna mau itu?" tanya Azka, Zenna mengangguk kemudian mereka berdua mengantri.
Tak jarang banyak orang yang menggoda Azka atau hanya sekedar mencubit pipi Zenna.
Setelah mendapatkan ice cream kini mereka pindah dirak tempat makan ringan. Azka mengambil sebuah troli dan mendudukan Zenna diataa troli. Azka mendorong troli itu menyusuri setiap rak makanan ringan. Apapun yang Zenna tunjuk langsung Azka masukan kedalam troli.
Tak lupa Azka juga memberli beberapa camilan untuk snag istri. Hingga troli itu hampir penuh dengan makan ringan dan susu. Setelah puas memilih Azka membawa barang belanjaannya menuju kasir.
Hanya beberapa orang saja dalam antrian itu sehingga tak butuh waktu lama untuk Azka mengantri. Azka tidak menyadari jika sejak tadi ia diperhatian oleh seseorang. Seseorang yang harus melepaskan perasaannya dan mengubur rasa itu dalam-dalam.
Setelah membayar Azka meminta tolong kepada salah seorang karyawan untuk membantu membawa dua kantong kresek besar itu. Tapi sebelum karyawan membantu membawakan ada seorang gadis cantik mengambil alih dua kantong kresek itu.
"Biar saya saja, mbak!" ucapnya lalu diangguki oleh karyawan.
Azka belum menyadarinya karena ia berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu mobilnya.
"Taruh situ!" perintah Azka setelah membuka pintu penumpang.
Perempuan itu menurut saja dengan perintah Azka. Azka tercengang saat mengetahui siapa yang sedang berdiri dihadapnnya ini.
__ADS_1
"Hai, apa kabar?" tanyanya.
"Siska?" ucap Azka datar. Dengan cepat Azka merubah ekspresi wajahnya yang hangat menjadi dingin dan datar saat tahu siapa yang berada didepannya.
Ya dia Siska Kumalasari, perempuan yang tergila-gila dengan Azka saat masih sekolah menengah. Mungkin sampai saat ini tidak ada yang tahu selain Siska dan yang diatas.
"Iya, udah lama ya kita gak ketemu." ucap Siska.
"Hmm,"
Azka mendudukan Zenna dikursi sebelah kemudi, setelah memasang seatbelt Azka menutup pintu mobilnya.
"Siapa gadis kecil itu?" tanya Siska.
"Bukan urusan lo," dingin Azka.
Siska mencekal lengan Azka kencang sehingga ia berbalik menagap Siska. Siska tersenyum manis, ia rindu ya sangat rindu dengan laki-laki yang tengah berdiri dihadapannya ini. Siska belum mengetahui tentang status Azka saat ini.
"Ka, gue kangen sama lo!" ucap Siska.
"Gue gak!" tegas Azka sambil menghempaskan tangan Siska.
"Gue, gue masih sayang sama lo! Selama ini gue udah berusaha buat lupain lo, sampai gue kuliah diluar negeri," curhat Siska.
Azka hanya diam saja, tak ingin menanggapi atau membalas perktaan Siska.
"Gue udah berusaha buka hati gue buat orang lain, tapi semuanya percuka karena dihati gue cuma ada lo!" kata Siska.
"Udah?" tanya Azka, Siska bingung dengan pertanyaan Azka.
"Gue pergi!" kata Azka yang membuka pintu mobilnya.
"Tunggu! Jawab pertanyaan gue dulu," pinta Siska.
Azka menatap tajam Siska seolah ia akan memakan gadis didepannya itu.
"Anak kecil itu bukan anak lo, kan?" tanya Siska memastikan.
"Anak gue!" dua kata dari Azka membuat jantung Siska serasa berdenyut kencang.
Ia menolak percaya ucapan Azka tapi kika melihat gadis kecil itu sekilas mirip sekali dengan Azkia.
__ADS_1
"Bu-bukan anak lo, bukan!" ucap Siska.
"Terserah lo!" geram Azka kemudian masuk kedalam mobil dan langsung menancapkan gas meninggalkan Siska yang masih mematung memegangi dadanya.
"Gak! Gue gak percaya kalau dia anak lo sama si bakpia!" teriak Siska. Ia tidak perduli menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Dadanya berdenyut nyeri mengingat ucapan Azka tadi. Kepalannya terasa pening, bahkan air matanya mengalir sangat deras. Siska berjongkok sambil menepuk-nepuk pelan dadanya yang sakit.
"Kenapa setelah sekian lama kita gak bertemu, rasa ini masih sama. Kenapa!" lirih Siska.
"Kenapa gue gak bisa lupain lo, kenapa Ka? Padahal gue juga pengen bahagia kaya lo, gue pengen. Apakah mencintaimu sesakit ini?" monolog Siska.
"Sis?" panggil seseorang yang sangat Siska kenali.
"Mikhael?" lirik Siska sebelum ia pingsan dalam dekapan Mikhael.
"Sis, hey Siska kamu kenapa? Bangun, Sis!" ucap Mikhael sambil menepuk pipi Siska berulang kali, tapi tetap saja tidak ada respon.
Akhirnya Mikhael menggendong Siska ala bridal style menuju mobil yang tidak jauh dari posisinya. Dengan langkah cepat Mikhael sudah didepan mobil dan langsung membukanya. Ia membawa Siska kerumah sakit terdekat, Mikhael takut jika terjadi sesuatu pada Siska.
Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Mikhael sampai dilobi rumah sakit, dengan cepat ia membawa Siska masuk. Suster dan perawat yang melihat itu langsung tanggap dan membawa bangkar agar mudah membawa Siska keruang ugd.
"Maaf, mohon tunggu disini!" ucap salah satu suster karena Mikhael mencoba ikut masuk ke dalam Ugd.
"Tolong dia sus!" kata Mikhael panik.
Terlihat jelas bagaimana wajah khawatir dari seorang Mikhael, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. Walaupun ia tahu jika kekasihnya masih mincintai orang lain, tapi itu bukan masalah buatnya. Yang terpenting saat ini adalah kondisi Siska.
"Harusnya gue selalu disamping lo, jadi lo gak akan kaya gini," gumam Mikhael.
Saat Mikhael mondar-mandir didepan UGD tiba-tiba pintu itu terbuka. Terlihat seorang dokter mengenakan masker kesehatan keluar dari dalam UGD, seketika itu Mikhael merasa tidak asing dengan sang doket tapi ia tidak perduli yang paling penting kondisi Siska saat ini.
"Gimana keadaanya dok?" tanya Mikhael.
"Dia udah menidingan, jangan membuat dia bersedih karena itu tidak baik buat kondirisnya saat ini. Terlebih lagi jangan biarkan dia memikirkan sesuatu yang berat, nanti dia bisa stres." jelas sang dokter.
"Oke terimakasih dok," ucap Mikhael.
"Saya permisi," ucap doketr itu lalu melangkah menjauh. Sedangkan Siska ia dibawa keruang rawat inap sesuai instruksi sang dokter.
"Kamu harus baik-baik aja, Sis!" gumam Mikhael sambil menatap wajah pucat Siska.
__ADS_1
...----------------...