Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Udah Isi?


__ADS_3

Malam minggu ini dihabiskan oleh Azka dirumah mertuanya. Karena sejak menikah mereka berdua belum sempat berkunjung ke kediaman Bima. Sampai tadi Azkia ditelepon sang mama untuk menginap disana karena kangen.


Azka sudah selesai dengan rutinitasnya mandi, ia keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian santainya. Ada handuk kecil yang masih melingkar dileher untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Saat Azka akan meletakkan handuknya diatas kasur tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Disana ada Azkia tengah berdiri menatap tajak Azka.


"Hayo handuknya!" ucap Azkia.


"Iya-iya." Azka melangkah menuju kamar mandi dan meletakan handuk kecilnya ditempat yang sudah disedikan.


"Bagus!" Azkia mengacungkan jempol tangannya sambil tersenyum manis.


Azka tidak merespon ia memilih duduk dibalkon kamar Azkia sambil menikmati hangatnya senja yang tampak cantik. Sedangkan Azkia ia membersihkan dirinya setelah membantu sang mama masak didapur.


Tidak butuh waktu lama Azkia sudah selesai, ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Bahkan semerbak wangi sampo memenuhi kamarnya. Tapi ia tidak melihat wajah Azka sama sekali, padahal tadi dia didalam kamar sebelum Azkia masuk kekamar mandi.


"Hubby!" panggil Azkia.


Tak ada sautan sama sekali membuat Azkia mencari disekitar kamar. Ia menemukan Azka tengah tertidur di kursi yang ada dibalkon kamarnya. Kedua kakinya ia naikkan diatas meja dengan tangan yang bersedekap didepan dada. Bahkan hangatnya cahaya matahari sore tidak mampu mengusik tidurnya.


Nyaman, itulah yang Azka rasakan sekarang ini. Azkia hanya tersenyum memandangi wajah sang suami. Azka benar-benar terlihat tampan dengan hidung mancung dan bulu matanya yang panjang.


Tangan Azkia terulur mengusap pelan pipi Azka, sesekali Azkia mencubit pipi itu karena gemas. Tiba-tiba saja tangannya dicengkram kuat hingga tak bisa dilepaskan.


"Seru cubit pipinya?" ucapnya dengan mata yang masih terpejam.


"Seru, lepasin sakit," rengek Azkia. Azka menegakkan duduknya dan menatap Azkia lekat, detik berikutnya ia ditarik hingga menabrak dada bidan Azka.


Azka tersenyum semirik menatap wajah Azkia, ia memeluk pinggang Azkia erat. Ya sekarang Azkia sudah duduk dipangkuan Azka sambil menatap Azka.


Cup


Azka mencium pipi Azkia membuat pipinya memerah, entahlah padahal mereka sudah menikah tapi tetap saja Azkia selalu blusing dengan perlakuan manis Azka. Detik berikutnya Azkia mengaduh kesakitan karena perbuatan Azka.


"Aduhh, sakit! Lepasin Azka, lepasin sakit." rengek Azkia.


Azka yang mendengar namanya disebut tanpa embel-embel suamiku, hubby, ataupun sayang meneruskan tangannya yang sedang mencubit pipi Azkia.


"Panggil apa?" tanya Azka.


"Sa-sayang!" kata Azkia sambil menahan sakitnya.


"Anak pintar," ucap Azka gemas, ia melepaskan cubitan pada pipi Azkia lalu menciumnya.

__ADS_1


"Sembuh!" ucap Azka, Azkia hanya diam menunduk saja.


Sang mama memanggil mereka untuk makan malam bersama, dengan terpaksa mereka menyudahi keromantisan itu.


Tak ada suara apapun kecuali dentingan sendok dan garpu. Hingga suara sang mama membuat mereka berdua terdiam.


"Bagaimana udah isi belum?" tanya mama Lala, sambil menatap Azkia yang duduk didepannya.


"Isi? Lah ini kan diisi mah," jawab Azkia.


"Bukan itu makaud mama," kata Lala gemas.


"Lalu?" tanya Azkia.


"Baby, udah isi belum?" tanya mama Lala.


"Uhuukk," Azka tersedak dengan pertanyaan sang mama mertua.


Azkia yang berada disamping Azka langsung saja menyodorkan segelas air padanya. Azka langsung saja menerima segelas air itu dan meminumnya sampai tandas.


"Belum mah," jawab Azkia.


"Loh kok belum sih, kalian buat adonannya gak?" tanya sang mama membuat pipi Azka dan Azkia memerah.


"Buat kok mah," kali ini bukan Azkia melainkan Azka yang menjawabnya. Bisa-bisanya Azka menjawab seperti itu, membuat Azkia malu padahal bukan dirinya yang menjawab.


"MAMAH!" bisa-bisanya sang mama berbicara seperti itu dengan mantunya. Sedangkan Bima hanya menggeleng dengan kelakuan sang istri tapi tidak dipungkiri jika dia juga menanti kehadiran snag cucu.


Setelah selesai makan malam mereka semua mengobrol diruang keluarga hingga larut malam. Bima dan Lala sudah berpamitan untuk tidur karena sudah lelah. Sedangkan Azka dan Azkia masih diruang ke keluarga, mereka sedang menonton film horor.


Azkia hanya duduk diujung sofa bersama Azka disebelahnya, tiba-tiba saja ia merasa ada yang berat dipangkuannya. Azkia melirik, ia sedikit takut karena sebagian lampu sudah dimatikan agar suasa mendukung dengan film horor.


Dipangkuannya terlihat wajah datar Azka yang sedang menatapnya hal itu membuat Azkia kaget.


"Huaaaa!" teriaknya.


"Suttt! Ganggu orang tidur," kata Azka sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir Azkia.


Azkia mengangguk mengerti, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Ia sangat terkejut karena hanya wajah Azka yang terkena cahaya sehingga ia meringa jika itu hantu.


Sebenarnya Azkia tidak terlalu berani melihat film horor, buktinya ia sering menutup matanya dengan telapak tangan ataupun dengan batal yang ada disebelahnya.


Azka tersenyum tipis, Azkia terlihat lucu dengan wajah ketakutannya tapi masih saja penasaran.

__ADS_1


Azka membenamkam wajahnya diperut Azkia hal itu membuat Azkia merasa geli. Ia menyuruh Azka untuk menjauh tapi yang namanya Azka tidak akan perduli apapun yang dikatakan orang lain.


"Sayang geser jangan gini," kata Azkia.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Pokoknya pindah," protes Azkia.


"Pindah dimana?" tanya Azka ambigu.


Azkia tak menjawab ia lebih fokus pada film yang sedang diputar itu. Tiba-tiba saja hantunya muncul membuat Azkia kaget dan memeluk Azka.


"Takut aja masih nonton," cibir Azka.


"Kan penasaran!" kata Azkia.


Azkia tak melepaskan pelukannya, karena suasananya semakin mencekam. Bahkan hantu yang menyeramkan pun sering muncul. Azkia menggigit bibirnya pelan membuat Azka gusar.


Tiba-tiba saja hantu itu muncul lagi hingga satu layar besar dipenuhi wajahnya, Azkia yang fokus langsung terlpelonjat kaget. Hingga ia melompat dalam pangkuan Azka, wajahnya ia benamkam dicuruk leher Azka.


Hembusan nafas Azkia terasa hangat saat tanpa sengaja menyentuh telinga Azka. Hal itu membuat adik Azka terbangun, jika sudah begini hanya Azkia yang dapat membuatnya tertidur kembali.


"Nyun!" panggil Azka.


"Hmm, setannya udah ilang belum?" tanya Azkia.


"Udah," singkat Azka.


Lalu Azkia menjauhkan wajahnya dari curuh leher Azka, terlihat Azka sedang menatapnya begitu juga dengan Azkia. Mereka terdiam dengan tatapan yang saling mengunci. Tangan Azkia bergerak membuat Azkia mengeluh.


Cup


Azka mencium bibir ranum milik Azkia itu dengan rakus. Bahkan Azka sudah turun kebawah, mereka berdua larut dengan suasana itu.


Tapi tiba-tiba ada suara yang membuat mereka berdua kaget.


"Ki, kalian belum ti—" suara itu tertahan matanya membulat sempurna karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.


"Haduh setannya serem banget sih, takut!" ucapnya langsung pergi masuk kedalam kamarnya lagi sambil menahan tawanya.


"Moga aja sebentar lagi aku punya cucu!" ucapnya setelah menutup pintu kamarnya.


Sedangkan mereka berdua merasa canggung, kemudian mematikan layar tv nya. Azkia segera bergegas menuju kamarnya karena malu.

__ADS_1


"Hast bisa-bisanya!" gumam Azka.


...----------------...


__ADS_2