
...Terkadang mencintai seseorang memang semenyakitkan ini!...
...,~Farah...
......................................................................
Setelah bel bunyi mereka semua berhamburan menuju kantin, namun Azkia tidak menunjukkan raut bahagia. Karena ia masih kepikiran tentang seseorang yang mirip dengan masa lalunya.
Ditambah lagi entah kenapa hari ini Azka terlalu mengusiknya, sejak pagi Azka tak henti-hentinya mengikuti kemana pun Azkia berada. Seperti saat ini, tempat duduk yang biasa Azkia duduki bersama sahabatnya kedatantan tamu, siapa lagi kalo bukan Azka.
"Ciiee yang punya pacar, takut pacarnya ilang ngab?" sindir Devira sambil mengenggol lengan Azkia.
"Iya, udah kaya anak ayam yang takut kehilangan induknya." tawa mereka semua pecah saat mendengar ucapan Bobo yang ikut bergabung.
"Tau tuh aneh banget," saut Azkia sambil cemberut, ia merasa risih jika kemana pun diikuti seperti ini.
"Itu tuh tandanya Azka, gak mau jauh-jauh dari lo, Ki," ucap Devan yang duduk di sebelah Devira.
"Iya tapi kan kalo sampai ke toilet aja diikutin kan risih," gerutu Azkia sambil cemberut.
Byuurrr
Attaya tidak kuasa menahan tawanya hingga makanan yang sedang ia makan tersembur mengenai wajah Azka.
"Hati-hati, sayang!" dengan cepat Nayla mengambil tissu lalu memberikannya kepada Attaya.
Azka? dia sangat kesal karena wajahnya yang terkena semburan Attaya.
"Bisa makan gak sih?" kesal Azka samb8l mengelap wajahnya dengan tissu.
"Sorry bos, habisnya lucu aja kenapa ngikutin sampai toilet segala?" tanya Attaya sambil terkekeh.
"Gue cuma nunggu di luar,"
"Ya sama aja sih, cewek akan risih kalo diikutin mulu ngab!" kata Bobo.
"Nah bener itu." Azkia menganggukkan kepalanya.
"Kan biar aman dari curut satu itu," geram Azka.
"Curut yang mana?" tanya Devan.
"Yang bersihin toilet bareng itu, terus kalian uwu-uwuan." saut Bobo tiba-tiba.
"Kevin?" tanya mereka menatap tanya kepada Azka.
Azka hanya mengangguk membuat mereka semua bingung ada hubungan apa Azka dengan Kevin, pasalnya tidak semua orang tahu jika mereka dulu pernah bersahabat
Drrttt drttt
Ponsel Azka terus bergetar, tertera nama 'Papa'yang terus saja memanggil. Namun hanya di diamkan saja oleh Azka tanpa ada niatan untuk menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa gak diangkat?" tanya Ciko.
"Iya, sapa tau penting," ucap Nayla.
Azka tetap tidak bergeming.
"Angkat, Ka... dari papa mu tuh," ucap Azkia yang bisa melihat siapa yang menghubungi Azka.
"Cih!" decak Azka, namun tetap saja menurut pada Azkia.
Azka menggeser tombol hijau pada layar.
"Ha—"
"*Nanti pulang sekolag langsung ke kantor papa, kita bahas soal perjodohan itu!" perintah Yudha, padahal Azka belum sempat mengucapkan sepatah kata.
"Awas kalo gak datang, papa akan kirim kamu ke rumah om kamu yang ada di Jepang!" ancam Yudha agar anaknya menuruti kemauannya*.
Tanpa menunggu persetujuan Azka, Yudha langsung saja mematikan ponselnya. Ia tahu bahwa Azka akan memprotesnya, dan Yudha juga tahu jika Azka tidak ingin di pindahkan ke Jepang. Terlebih lagi Om nya sangat disiplin jadi jika Azka disana, ia tidak akan bisa sebebas ini.
"Cih!" gerutu Azka sambil melemparkan ponselnya diatas meja, hambir saja ponsel itu masuk kedalam mangkuk baksonya Devan.
"Kenapa?" tanya mereka semua sambil memandangi Azka.
Ya mereka tahu jika Azka sedang memiliki masalah yang belum mereka ketahui, mereka juga enggan menanyakannya karena itu privasinya.
Azka hanya diam saja, tangan kirinya ia gunakan untuk menopang kepalanya yang terasa berat. Hanya sebelah matanya yang terlihat karena sebelah lagi tertutup oleh telapak tangannya.
Azka memejamkan matanya seolah sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu pusing.
Azka melirik sekilas kearah suara itu yang berada tepat disebelah kanannya, Azkia.
Azka tersenyum tipis seolah memberitahu jika dia tidak apa-apa, ya Azka harus menyelesaikan masalahnya ini sendiri. Dia tidak ingin membuat orang disebelah ini menjadi sedih jika mendengar masalah perjodohannya.
Karena dihati Azka sudah terkunci satu nama, yaitu Azkia Agatha.
"KAA, AZKA!" teriak seseorang dari ujung kantin.
Dengan terpaksa Azka membuka matanya lagi, melihat siapa yang memanggilnya itu.
"Azka, cepet ikut gue," ucapnya sambil mengatur nafas yang hampir habis karena berlari mencari Azka..
"Ogah!" tolak Azka sambil menepis tantan Zian, ya orang itu adalah Zian.
"Ini darurat, Ka!" teriak Zian didepan Azka.
"Ada apa sih, Zi?" tanya Devan.
"Itu ada... ada yang mau bunuh diri!" ucap Zian dengan nafas yang masih memburu.
"Apaa!!" teriak mereka bersamaan kecuali Azka.
__ADS_1
"Serius gue, makanya ini darurat!" ucap Zian.
"Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Bobo.
"Ada anak angkatan kalian, kalo gak salah namanya Fa.. Fa—"
"Fa so la si dooo!" canda Bobo ditengah kepanikan.
"Bukan itu ogeb!" kesal Zian.
"Lah lo lama, gue kira kan Fa so la si do kan terusannya," ucap Bobo sambil terkekeh membuat mereka ikut tertawa.
"Pokoknya lo harus ikut gue, Azka!" perintah Zian.
"Gue gak perduli," ucap Azka.
Dia tidak perduli karena itu bukan urusannya, dia paling malas untuk mengurusi urusan orang lain yang tidak penting. Ditambah lagi masalah perjodohan yang terus membuatnya pusing.
"Apa hubungannya sama Azka, kenapa lo maksa dia... kan lo bisa panggil keamanan sekolah?" tanya Attaya yang panjang seperti kereta api.
"Keamanan sekolah udah disana, guru pun udah disana tapi percuma aja... soalnya dia gak mau turun kalo gak ketemu Azka," teriak Zian yang membuat mereka menjadi pusat perhatian di kantin.
Azka menaikan sebelah alisnya sambil menatap Zian.
"Hah, siapa... si Siska bukan?" tanya Devan.
"Bukan, bukan dia... yang satunya?" kata Zian, karena dia benar-benar lupa akan nama cewek yang akan bunuh diri itu.
"ZI, BURUAN KEBURU TERBANG DIA DARI ROOTOFT!" teriak Miko yang ikut menyusul Zian karena terlalu lama.
"SUSAH INI, LAGI BUJUK TEMBOK!," teriak Zian yang tidak kalah kerasnya membuat mereka menutup tekinga.
"HEH KALIAN BISA GAK, GAK USAH TERIAK-TERIAK KUPING GUE JADI SAKIT!" teriak Devira yang tidak mau kalah.
"Lah situ juga teriak neng," ucap Devan sambil terkekeh.
"BODO AMAT!" kesal Devira sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Yaudah ayo, kita liat dulu siapa tau emang lagi darurat, Ka," bujuk Azkia sambil menggandeng lengan Azka.
Azka mengacak-acak rambutnya dengan kasar, lalu mendengus karena mau tidak mau Azka harus ikut dengan bujukan Azkia.
"Nah gitu dong dari tadi, dasar tembok," cibir Zian.
"Banyak omong lo," ucap Azka sambil berjalan melewati Zian, dengan sengaja bahunya ia tabrakan dengan bahu Zian.
"Santai ngab!" kata Zian, kemudian dia mengikuti Azka dan Azkia. Sedangkan dibelakangnya ada sahabat-sahabat Azka yang mengikuti juga.
"Ayo buruan, sebelum melayang nyawa orang," ucap Miko.
"Lo kata layangan apa melayang terbang tinggi," saut Bobo sambil terkekeh.
__ADS_1
Kemudian mereka semua menuju ke rootoft, untuk melihat cewek yang ingin mencoba bunuh diri.
......................