
...Sesuatu hal yang dapat memacu adrenali, dapat membuat kita lupa tentang kesedihan kita....
...-Azka (е н)-...
........................................................................................
Malam semakin larut dengan udara dingin yang membuat siapa saja enggan beranjak dari tempat tidurnya, namun hal itu tidak menghentikan niat Azka dan teman - temannya untuk memenuhi ajakan Aldo.
Dengan kecepatan sedang Azka mulai menembus jalanan yang cukup gelap, hanya terlihat beberapa kendaraan saja yang berlalu - lalang. Jam tangan yang melingkar di tangan kiri Azka sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dimana waktu sangat nyaman untuk terlelap dalam mimpi.
Azka mengeratkan pegangannya pada setir motor yang sedang dia kemudikan, saat berada di lampu merah entah kenapa terlintas dalam benak Azka bayangan saat dirinya kecelakaan beberapa waktu lalu.
"Shit!" umpat Azka, saat kejadian itu semakin jelas diingatannya.
Azka mencoba mengatur nafasnya, agar bisa mengendalikan hatinya saat ini. Membuang rasa takut itu jauh - jauh dari dalam pikirannya. Bahkan lukanya waktu itu belum sembuh sepenuhnya, namun ia paksakan untuk ikut balapan.
Tidak butuh waktu lama Azka sudah sampai di jalan yang lumayan sepi, jalan ini lah yang akan mereka gunakan untuk balapan liar.
Hampir semua geng motor yang akan bertanding sudah berdatangan termasuk Aldo dan kedua sahabat Azka.
Terdengar riuh suara penonton dan bisingnya suara knalpot yang mampu memecahkan kesunyian malam ini. Udara yang tadinya dingin kini perlahan terasa hangat, karena cukup banyak orang yang melihat pertandingan.
Azka sudah terlihat keren dengan cenala jins berwarna hitam, dipadukan dengan kaos berwarna hitam juga. Tidak lupa dia mengenakan jaket kulit yang warnanya senada dengan baju yang ia gunakan.
"Gimana udah siap?" tanya Aldo yang berada di sebelah Azka. Dengan helm fullface yang belum ia kenakan.
"Siap!" ucap Azka yakin.
"Lukamu gimana, Ka?" tanya Devan yang berdiri disebelah motor Azka.
"Masih aman." saut Azka sambil mengenakan helm fullfacenya.
"Semangat, pasti menang!" seru Attaya dan diikuti beberapa orang dibelakang Azka, lebih tepatnya mereka adalah teman-teman Azka saat balapan. Mereka yang akan menjadi supporter jika Azka maupun Attaya, Devan yang akan bertanding.
"Goo Azka goo!" seru mereka kompak.
"Semangat Aldo!"
"Semangat bos, Ken!"
Azka mulai memanasi mesin motornya seperti yang lainnya. Kali ini ada lima orang yang akan bertanding, termasuk Azka dan Aldo.
Satu wanita cantik berjalan di depan mereka dengan menggunakan selembar sapu tangan, sapu tangan itu akan dia lemparkan keatas sebagi tanda balapan dimulai.
Suara bising knalpot semakin menjadi saat acara sudah dimulai, para peserta sudah berjejer di tempat yang sudah disiapkan. Kini tinggal menunggu aba-aba dan langsung gas poll.
Wanita itu mulai menghitung mundur, "Tiga... duaa.. satu!" tepat dihitungan kesatu sapu tangan itu dia lemparkan keatas.
Kelima orang itu langsung tancap gas, berharap menjadi yang pertama sampai garis finis. Aldo sudah melesat terlebih dahulu diikuti Azka dan Ken.
Azka menembus malam yang dingin itu dengan kecepatan penuh, sudah lama ia tidak merasakan kesenangan ini. Saat tubuhnya bergesek dengan angin malam yang dingin, dengan kecepatan tinggi seolah bisa membuat semua beban pikiran Azka menghilang begitu saja.
__ADS_1
Azka mampu menyusul Aldo, kali ini Azka lah yang berada diurutan pertama. Namun, tiba - tiba saja terdengar sirine dari mobil polisi yang membuat mereka semua panik.
Mereka yang tadinya berkerumun menunggu sang juara tiba - tiba saja bubar dan berhamburan kesana-kemari karena mendengar suara sirine polisi.
Azka, Aldo dan Ken yang sudah hampir sampai di garis finis tidak mampu berbalik arah, karena kecepatan mereka yang diatas rata - rata. Sedangkan didepan mereka sudah berdiri beberapa polisi beserta mobil patroli.
Sayangnya jalan yang digunakan tidak bercabang, hanya ada satu jalur itu. Mau tidak mau mereka ikut diamankan ke kantor polisi terdekat.
Sama halnya dengan Bobo dan Ciko yang baru saja sampai harus berususan dengan polisi. Apalagi mereka tidak ahlinya dalam hal kabur.
"Kan gue udah bilang jangan ketempat seperti ini!" kesal Ciko yang awalnya tidak mau namun karena paksaan dari Bobo akhirnya ikut melihat balapan.
"Ye maaf lah, mana tahu kalo ada razia." elak Bobo.
"Telat!" kesal Ciko sambil berjalan mengikuti arahan polisi.
Sedangkan Attaya dan Devan berhasil kabur terlebih dahulu, karena mereka berdua sudah terbiasa kejar - kerjaran dengan polisi. Dengan gesit Attaya masuk kedalam gang-gang yang tentu saja polisi tidak akan berpikiran jika mereka akan bersembunyi disana.
"Lo gak ada tempat sembunyi yang bagus dikit apa?" kesal Devan yang dibonceng Attaya.
"Yang penting aman." saut Attaya.
"Aman sih aman, ya kali sembunyi di TPA... parfum gue sampe kalah wangi!" Devan mencium bajunya yang tadi sudah disemprot parfum.
"Anggap aja ini parfum mahal hehe." Attaya terkekeh saat mengingat ditempat pembuangan akhir ini memang baunya sangat menyengat. Namun tempat ini adalah persembunyian yang paling aman.
"Mahal-mahal, bau sampah ini!" kesal Devan.
"Emmpptt.. cih, tangan lo bau juga!" umpat Devan saat berhasil melepas bekapam Attaya.
"Sorry, tadi gak sengaja me—"
"Dahlah, bikin gue pusing aja.. lain kali sembunyi di tempat yang wangi kek." gerutu Devan, Attata hanya memutar bola matanya dengan malas karena masih untung mereka selamat dari kejaran polisi.
..........
Di sinilah Azka, Aldo, Ken dan teman - teman yang tertangkap lainnya. Mereka sedang berbaris rapi di halaman kantor polisi, dengan wajah yang tertunduk kebawah seolah sedang menyesali perbuatan mereka. Padahal mereka sedang mengumpat kesal.
"Kata lo aman?" bisik Ken pada Aldo yang tepat disebelahnya.
"Biasanya aman-aman aja, kagak tahu gue kenapa tiba - tiba ada razia." bisik Aldo.
"Baru juga mau menang, jadi menanggung malu gini." kata Ken.
"Pengalaman haha." ucap Aldo sambil terkekeh sedangkan Azka hanya diam saja.
"Hmmm.. nanti gue suruh om gue aja bantuin bebasin kita." saut Ken.
"Siap, atur saja." jawab Aldo dan diangguki oleh Azka.
"Siapa itu yang BERISIK! Kalian itu disuruh merenungkan perbuatan buruk kalian, bukannya bergosip!" teriak salah satu polisi yang berada di belakang mereka. Tampannya cukup gagah, dan terlihat tegas.
__ADS_1
"Kalian tahu tidak, KE-SA-LA-HAN kalian itu apa!" polisi itu memberikan penekan pada kata kesalahan, agar mereka sadar dengan perbautan yang mereka lakukan.
"Jawab!"
"Balapan liar!" ucap mereka kompak.
Polisi itu menarik nafasnya panjang, tidak habis pikir pada anak jaman sekarang yang sukanya balapan liar. Padahal mereka masih duduk dibangku sekolah, jika memang ada bakat dalam hal itu kan ada lembaga yang bisa membuat mereka jadi pembalap terkenal dan berpotensi.
Tidak harus balapan dijalan yang bisa mengganggu orang lain bahkan bisa mengakibatkan kecelakaan.
"Sekarang kalian push-up 50kali, setelah itu kalian baca pancasila satu persatu!" perintah polisi yang sedari tadi menghukum mereka.
Dengan berat hati mereka semua menuruti perintah polisi, setelah beberapa waktu push-up pun selesai. Kemudian satu persatu dari mereka maju untuk membacakan pancasila.
Azka kaget saat melihat Bobo maju kedepan, dia tidak menyangka jika Bobo bisa berada disini. Pasalnya tadi Azka hanya bersama Attaya dan juga Devan, namun kedua orang itu tidak terlihat hingga saat ini.
"Nama siapa?" tanya polisi.
"Na-nama Bobby Wijaya, pak!" ucap Bobo sedikit gagap.
"Kamu pelajar kan? Kenapa tengah malam bisa sampai ditempat seperti itu?" tanya polisi.
"Sa-saya cuma mau no-nonton, pak!"
"Oh berarti udah sering, ya?" tanya polisi.
"Baru pertama kali."
"Yaudah, sekarang bacakan Pancasila."
"Pancasila, satu.. ketuhanan yang maha Esa." ucap Bobo.
"Kok gue kaya pernah kena hukumam kek gini juga ya." batin Bobo saat menghapalkan Pancasila.
"Kenapa berhenti?" tanya polisi.
Pertanyaan itu seketika membuat pikiran Bobo menjadi kosong, sila selanjutnya dia bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Semakin Bobo mencoba mengingat maka semakin dia lupa akan sila kedua dan seterusnya.
"Lanjutkan!" perintah polisi dengan tegas.
"Lu-lupa, pak!"
"Kamu ini warga negara Indonesia bukan? Masa Pancasila saja lupa?" gertak polisi, seketika saja membuat Bobo berkeringat dingin.
"Ma-maaf, pak!" ucap Bobo sambil menunduk.
"Kok bau pesing, ya!" polisi itu celingukan mencari sumber bau yang ia cium.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
jangan lupa vote gratisnya ya untuk author :)
__ADS_1