Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Tanpa Kamu!


__ADS_3

Pelan namun pasti itulah yang Azkia rasakan saat ini. Pelan-pelan ia bisa menerima hubungan jarak jauh yang sedang ia jalani, walaupun satu minggu ini terasa sangat sulit untuk Azkia.


Bagaimana tidak, mereka berdua yang telah terbiasa bersama setiap harinya harus rela berpisah. Seperti ada yang kurang saat Azka tidak berada di dekat Azkia. Azkia terlihat tidak memiliki semangat untuk melewati hari-harinya.


Setiap hari ia hanya berdiam diri di kamar sambil memandangi layar ponselnya. Waktu yang berbeda membuat komunikasi mereka sedikit terhambat. Bagaimana tidak, jika di tempat Azkia malam hari, lain halnya dengan tempat Azka yang masih siang hari.


Hal itu membuat waktu tidur Azkia terganggu, karena saat ia tengah terlelap dalam tidur ponselnya berdering. Ada panggilan dari Azka ataupun sebaliknya.


Sesekali Azkia keluar rumah untuk membeli keperluannya dan juga untuk menghibur dirinya yang sedang menahan rindu.


Seperti sore ini, tanpa sadar Azkia memarkirakan mobilnya disebuah Cafe. Rindu itulah yang terlihat jelas saat pertama kali turun dari mobil, bahkan dari kejauhan nama Cafe itu sudah terlihat. Memingat Cafe itu memiliki beberapa lantai sehingga nama Cafe terpasang tinggi. Membuat siapapun bisa melihat nama Cafe itu dari kejauhan.


"Kenapa gue kesini?" gumam Azkia sambil menutup pintu mobilnya.


Ia melihat banyak orang keluar masuk Cafe Rindu itu, membuat pikiran Azkia melayang beberapa hari lalu saat dia datang kesini berdua bersama Azka.


"Seperti nama Cafe ini, gue juga lagi rindu sama orang yang selalu ngajak gue kesini," ucap Azkia sambil berjalan masuk ke dalam Cafe.


Azkia mendapat sapaan dari karyawan Cafe yang selalu tersenyum mengapa para pelanggannya. Azkia hanya mengangguk lalu ia memilih tempat outdoor yang biasa ia tempati jika datang ke Cafe.


"Kesini lagi, tapi gak sama kamu," batin Azkia.


Untung saja meja yang biasa ia tempati sedang kosong, sehingga Azkia memilih duduk disitu. Ia melihat setiap sudut meja dan juga kursi yang selalu Azka duduki, sesekali terdengar helaan nafas berat dari Azkia.


Cukup lama Azkia menatap kursi di hadapnnya itu. Sesekali terlihat senyumannya tipis menghiasi sudut bibir Azkia. Saat ia mengingat jelas tingkah Azka yang membuatnya kesal, namun saat ini tingkah itu yang membuatnya sangat rindu.


Azkia melihat ponselnya, ia membuka aplikasi chat untuk melihat adakah balasan pesan dari Azka. Namun setelah membuka aplikasi chat itu membuat wajah Azkia semakin masam. Karena pesan yang ia kirim ke Azka masih berwarna abu-abu yang artinya belum dibaca sama sekali oleh Azka. Bahkan waat Azkia mengiriminya sebuah pesan lagi, pesan itu terlihat centang satu yang artinya nomor Azka tidak aktif.


Azkia mendengus kesal sambil meletakan ponselnya diatas meja. Ia memilih menatap langit yang selalu indah saat senja.

__ADS_1


"Kamu kemana sih? Kalau tidur kasih tau dulu lah biar aku gak nunggu kaya gini." gerutu Azkia, satu tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya.


Azkia membiarkan angin sore itu menerpa wajah cantiknya, bahkan rambutnya yang dibiarkan tergerai menjadi sedikit kusut. Pikirannya masih tidak bisa lepas dari bayang-bayang Azka, membuat hatinya semakin rapuh dengan jarak yang membatasi mereka.


Tanpa sadar butiran bening itu lolos begitu saja membasahi pipinya. Azkia mengerjabkan matanya beberapa kali agar hujan itu tidak jadi turun dipipinya. Terdengar helaan nafas yang begitu berat, seolah orang yang mendengarnya juga bisa merasakan jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Belum ada sebulan, Ka... rasanya waktu berputar lambat," gumam Azkia.


"Kangen kamu boleh gak, sih?" gumamnya lagi sambil menatap benda pipi itu.


Terlihat gambar seseorang yang tengah tersenyum manis, membuat Azkia semakin rindu dengan senyuman yang dapat meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.


Saat Azkia tengah asyik menatap layar ponselnya yang terpasang wajah Azka.Tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang mengagetkan Azkia, pelayan itu membawa sebuah nampan yang berisi beberapa makanan yang Azkia sukai.


"Aku pelum pesen, mbak." Azkia merasa heran karena pelayan itu menurunkan beberapa makanan manis di meja Azkia.


"Terus kenapa di taruh di meja saya?" tanya Azkia bingung.


"Karena pemilik Cafe ini berpesan jika ada perempuan cantik yang sedang bersedih dimeja ini, maka kami diperintahkan untuk menyediakan makanan ini." jujur pelayan Cafe itu yang membuat Azkia masih bingung.


"Hah?" bingung Azkia, namun pelayan Cafe itu terlihat enggan menjelaskan lagi.


"Saya permisi dulu, silahakn dinikmati!" ucapnya sambil sedikit menunduk, pelayan itu membiarkan Azkia sendirian dengan semua kebingungan menghantui pikirannya.


"Apa sih, gak jelas banget!" dengus Azkia.


Ia tidak perduli dengan ucapan pelayan tadi yang hanya dianggap angin lalu oleh Azkia. Kini matanya lebih terfokus pada makanan yang ada dihadapannya. Kue coklat lumer dengan toping strawberry diatasnya, dipadukan dengan segelas minuman dingin yang ditamabhkan ice cream coklat didalamnya. Membuat mood Azkia kembali lagi.


__ADS_1


Azkia melihat ada sebuah notes kecil disebelah desert itu.


"Miss you!" ucap Azkia membaca secari notes itu.


Azkia menyerkitkan alisnya, ia melihat sekeliling tidak ada satu orang pun yang ia kenali. Membuat Azkia semakin bingung.


Azkia mengambil ponselnya lalu memfoto dessert itu, karena ia yakin jika yang menulis notes itu adalah Azka.


Jari jemari Azkia dengan cekatan menari-nari diatas layar ponselnya, ia sedang sibuk mengirimkan sebuah pesan yang tidak tau kapan pesan itu akan dibalas.


Terlihat tulisan 'send' yang artinya pesan itu terkirim. Namun belum sampai pada si penerima pesan karena masih centang satu warna abu-abu.


Azkia melahab larva cake itu, yang begitu lumer saat masuk kedalam mulutnya. Azkia memang menyukai makanan manis terlebih lagi yang rasa coklat.


Tiba-tiba saja air matanya jatuh lagi, karena lagi-lagi ia mengingat Azka yang selalu membelikannya makanan bahkan susu pun rasa coklat.


"Andai kamu disini, pasti akan lebih indah lagi sore ini," gumam Azkia sambil menyerka air matanya.


Azkia yang sudah terbiasa dengan keberadaan Azka menjadi sangat kehilangan saat harus berjauhan seperti ini. Hampir setiap tempat yang pernah di datangi bersama Azka, akan selalu membuat Azkia merindukan sosok Azka. Bahkan, makanan pun bisa mengingatkannya tentang Azka.


"Gue kenapa jadi bucin banget sih, hah!" gerutu Azkia.


Ia masih betah duduk di Cafe itu hingga jingga yang indah berganti dengan malam yang sunyi.


...----------------...


"Jarak mengajarkan kita, bagaimana rasanya merindukan dan di rindukan!"


-E H-

__ADS_1


__ADS_2