Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Serius Nempel


__ADS_3

...Aku akan terus memperjuangkanmu, apapun yang akan terjadi!...


...~e h~...


......................................................................................


Azkia berjalan menuju kantin bersama kedua sahabatnya, namun tidak dengan Azka yang memilih menuju belakang sekolah.


Saat sudah sampai di kantin Azkia antri memesan bakso, tanpa dia sadari disebelahnya sudah berdiri seseorang yang kemaren membuatnya terluka.


"Haii." sapa Kevin.


Azkia mendongak melihat siapa yang menyapanya,"Juga." jawab Azka.


"Gimana itu jidat?" tanya Kevin sambil mengulurkan tangan akan menyentuh jidat Azkia.


"Udah baik." jawab Azkia sambil menepis tangan Azkia.


"Itu kan Azkia pacarnya Azka kan kenapa bareng sama Kevin?" bisik seseorang.


"Bener, dasar cewek cabe... semuanya aja di deketin." sindir mereka.


"Kemaren sama kak Rayhan, terus Azka ini sama Kevin besok siapa lagi yang dia goda."


Azkia mencoba mengatur nafasnya agar tidak marah saat mendengar sindirian mereka.


Kevin menutup kedua telinga Azkia begitu saja di hadapan banyak orang, hal itu semakin membuat mereka beransumsi negatif.


"Jauh - jauh deh, kita gak kenal juga." ucap Azkia sambil menyinkirkan tangan Kevin dari telinganya.


"Gak usah di dengerin, anggap aja angin lewat." ucap Kevin.


Azkia hanya diam saja tanpa menanggapinya, setelah mendapatkan pesanannya ia kembali duduk bersama Nayla dan Devira.


"Ki?" panggil Devira.


"Hmmm?"


"Kok lo bisa kenal kevin, sih?" tanya Devira menyelidik.


"Lo gak tau gosip soal Kevin?" tanya Nayla.


Seketika saja Azkia menghentikan makannya, lalu melihat kedua temannya yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Gue gak kenal, Kevin... dan gue gak tahu gosip tentang dia." ucap Azkia sambil menyuapkan bakso kedalam mulutnya.


"Yakin gak kenal? Kok tadi kelihatan deket gitu." tanya Devira.


"Kalian berdua mau percaya gue apa mulut mereka." ucap Azkia dengan kesal.


"Hehe maaf, kita kan penasaran... dan lebih baik lo jangan deket - deket Kevin." pinta Devira.


"Kenapa?" tanya Azkia penasaran.


"Lo kan udah ada Azka, ya kali lo mau deket sama Kevin juga!" bentak Nayla.


"Hehe alus - alus, gak usah nggas." ucap Azkia sambil terkekeh.


"Tapi nih ya, gue pernah denger kalo Azka sama Kevin tuh dulunya sahabatan, tapi gak tau kenapa sekarang jadi musuh." ucap Devira sambil menyeruput jus mangga miliknya.


"Masa sih?" tanya Azkia dan Nayla bersamaan.


"Entah gue kan cuma denger gosip." kata Devira.


"Jadi mereka udah saling kenal dong?" batin Azkia.


..............


Dibelakang sekolah terlihat tiga orang yang sedang duduk santai di bawah pohon, sesekali mereka terlihat tertawa.


Azka mengeluarkan sesuatu yang sudah lama tak disentuhnya, tapi kali ini dia menyentuhnya lagi.


"Lo ngrokok lagi, Ka?" tanya Devan, saat melihat Azka akan menyalakan sebuah korek.


"Hmmm." saut Azka malas.


"Gak baik buat kesehatan, apalagi jantung lo, Ka." nasehat Attaya.


"Berisik." sambil melemparkan bungkus rokok itu kepada Attaya.


"Lo ada masalah apa?" tanya Devan, dia tahu persis Azka tidak akan merekok jika tidak ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Gak." jawabnya singkat, sambil membuat bulatan dari asap rokok yang ia hisap.


"Jujur aja, Ka... gue tahu lo." seru Devan.


Azka membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap Devan dan Attaya sekilas.

__ADS_1


"Gue mau dijodohin." ucap Azka malas.


"What!" kaget Attaya dan Devan.


"Lo gak bercanda kan, Ka?" tanya Attaya.


"Hmm.. kapan gue pernah bercanda." saut Azka sambil menghisap rokoknya lagi.


"Terus Azkia gimana?" tanya Devan.


"Gue udah tolak perjodohan itu, tapi papa maksa banget... gue dikasih waktu beberapa bulan ini untuk pikirin masalah perjodohan itu baik-baik." cerita Azka.


"Berat banget kalo harus di jodohin sama orang yang gak kita cinta." kata Attaya.


"Saran gue, lo harus bicaraan masalah ini sama Azkia... kalian cari solusi yang terbaik." saran Devan, dan diangguki oleh Attaya.


"Kita tetap ada buat lo, Ka... kapan pun dan dimana pun lo butuh kita." ucap Attaya sambil menepuk bahu Azka.


"Thanks."


............


Istirahat pun sudah selesai semua siswa sudah kembali kedalam kelasnya, namun tidak dengan Azka yang masih setia di belakang sekolah.


"Sutt, Azka dkk mana?" tanya Nayla yang duduk di sebelah bangku Azkia.


"Gak tahu, dari tadi belum balik." jawab Azkia sambil berbisik.


"Bolos lagi tuh anak, gak berubah juga." Devira ikut menimpali percakapan mereka.


"Ngilang kemana sih kamu tuh, di chat juga gak diliat." gumam Azkia sambil memandangi layar ponselnya.


"Siang anak - anak." sapa bu Rumini.


"Siang, buu." saut mereka serentak.


"Lengkap?" tanya bu Rumini saat mengabsen siswanya.


Beliau jarang sekali mengabsen satu persatau muridnya, lebih praktis menanyakan lengkap atau tidaknya siswa yang hadir.


"Seperti biasanya, bu... Azka, Attaya dan Devan bolos." saut Ciko selaku ketua kelas.


"Mereka kemana, Ko?" tanya Bu Rumini.


"Ga-gak tahu, bu." jawab Ciko ragu, pasalanya dia tahu kemana temannya itu.


"Yasudah, sekarang buka buku kalian halaman 52." perintah bu Rumini.


Setelah beberapa jam berlalu pelajaran bu Rumini pun selesai, dan bel pulang sekolah telah berbunyi.


"Kuy, Ki... Kita mampir dulu ke toko buku." ajak Nayla sambil menunggu Azkia membereskan perlengkapan sekolahnya yang masih tergeletak diatas meja.


Mata Azkia sesekali melihat kearah samping dimana Azka biasanya duduk. Namun hingga pelajaran usai pun Azka belum balik kedalam kelasnya.


Saat Azkia akan beranjak dari kursinya, tiba-tiba saja terasa sulit. Rok yang ia kenakan menempel erat pada kursi.


"Kenapa, ayo buruan." ajak Devira yang sudah tidak sabar.


"Bentar, ini kenapa gue gak bisa berdiri?" tanya Azkia sambil berusaha berdiri.


"Ha?" tanya Devira bingung.


"Rok gue nempel sama kursi." ucap Azkia yang membuat mereka berdua langsung melihat temoat duduk Azkia.


"Coba lo berdiri." ucap Nayla yang sudah berada di samping kursi Azkia.


Dan benar saja saat Azkia mencoba berdiri terlihat kesusahan, bahkan sampai kursi itu ikut terangkat.


"Serius nempel." ucap Devira panik.


"Kita berdua tarik kursinya, lo tarik badan lo." perintah Nayla.


"Okay!" ucap Azkia sambil mengangguk.


Kemudian Devira dan Nayla memegangi kursi dan bersiap untuk menariknya.


"Hitungan ke tiga, tarik!" ucap Devira.


Azkia dan Nayla mengangguk paham dengan perintah Devira.


"Satu... dua.. tiga." kemudian mereka menarik dengan sekuat tenaga.


Akhirnya rok yang dipakai Azkia bisa terlepas, membuat Nayla dan Devira terjungkal kebelakang. Sedangkan Azkia ia terjatuh kedepan.


Bruk!


Untung saja Azkia tidak jatuh ke lantai namun wajahnya terbentur dada bidang seseorang.

__ADS_1


"Kerasa banget sih, kan tambah jenong nih jidat." gumam Azkia.


"Kalian ngapain?" suara dingin terdengar jelas ditelinga Azkia, membuatnya mendongakkan kepalanya.


"Eh Azka, dari mana?" tanya Azkia.


"Dari taman belakang." saut Azka.


"Suutt... Kia suutt." panggil Nayla dengan wajah panik.


"Kiaa!" teriak Devira membuat semua yang berada di dalam kelas itu menutup telinganya karena sakit dengan teriakan Devira.


"Jangan teriak-teriak kenapa, sih?" kesal Azkia.


"Rok lo bolong." ucap Nayla tanpa bersuara, tangannya menunjuk-nunjuk kearah rok yang dikenakan Azkia.


"Ngomong apa gak ada suaranya?" tanya Azkia bingung.


"Rok lo, bolong." kesal Devira.


"Hah?" ucap mereka semua.


"Astagfirullah!" pekik Azkia saat tersadar dengan perkataan Devira.


Dengan cepat Azkia langsung berlalri menuju bangkunya membuat Azka heran.


"Kenapa?" tanya Azka.


"I-itu ada yang iseng, naruh lem di kursi aku.. ya ja-jadinya gini." jelas Azkia sambil tertunduk malu.


"Siapa?" tanya Azka.


"Apanya yang siapa?" tanya Devira beridri di sebelah Azkia.


"Siapa yang lakuin?" tanya Azka sambil mendekat kearah bangkunya.


"Ga-gak tau." ucap Azkia masih menunduk.


"Berdiri!" perintah Azka saat sudah didepan Azkia.


"Gak mau." tolak Azkia.


"Jangan buat aku mengulang perkataan untuk sekian kalinya." ucap Azka dingin, sebenarnya dia tidak tega melihat sikapnya seperti ini.


Namun bagaimana lagi, Azka sedang banyak pikiran yang mengganggunya. Membuatnya mudah sekali terbawa emosi dengan hal-hal sepele.


"Kalo gak mau jangan di paksa!" ucap Nayla.


"Berdiri!" perintah Azka yang semakin membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.


"Sabar, Ka." ucap Devan yang berdiri dibelakang Azka.


Dengan berat hati Azkia menuruti permintaan Azkia, wajahnya masih tertunduk karena malu. Dia bahkan tidak berani menatap kesamping ataupun kepada Azka yang tengah berdiri di hadapannya.


Terasa tangan melingar dipinggang Azkia, membuat mata Azkia membulat tajam.


"Ma-mau apa, ka—" pertanyaan Azkia terpotong saat sentilan mendarat mulus dijidatnya.


"Aawwhh." keluh Azkia.


"Buang tuh pikiran kotornya!" ucap Azka sambil mengambil tas yang berada di laci meja.


Ucapan Azka membuat mereka semua menahan tawanya, namun tidak dengan Azkia.


Azkia baru tersadar ternyata tangan Azka tadi berada di pinggangnya untuk memakaikan jaket di pinggang Azkia, agar roknya yang bolong tidak terlihat lagi.


"Ma-makasih." ucap Azkia, pipinya sudah bersemu merah.


"Lain kali hati-hati." ucap Azka sambil mengacak rambut Azkia, lalu melangkah keluar kelas diikuti Attaya dan Devan.


"Byee bebeb, Deviraku." kata Devan sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Hueek." ucap Devira dengan kesal.


Sedangkan Azkia mencoba duduk kembali dengan jantung yang masih berdegup kencang.


"Lama - lama bisa kena serangan jantung gue." ucap Azkia sambil memegangi dadanya.


"Lo bilang apa, Ki?"


"Gak kok." elak Azkia.


"Yaudah ayo pulang, jangan lupa beli seragam baru." kata Devira.


Kemudian mereka semua menuju parkiran sekolah, dengan jaket Azka yang melingkar rapi di pinggang Azkia.


......................

__ADS_1


__ADS_2