
Beberapa tahun berlalu, membuat seorang Azka yang terkenal dingin berubah total. Ia sudah menjadi seorang ayah dengan dua anak yang sangat mirip dengannya, terutama anak pertamanya, Azzalea. Sedangkan anak keduanya Azzam Hafidz Aldric, ia terlihat mirip dengan Azkia namun jika diperhatikan baik-baik Azzam juga mirip dengan sang papa dibagian matanya dan juga hidung. Apalagi ketika sang anak itu marah pasti akan sama dengan Azka, terlihat menakutkan.
Soal paras dan kepintarannya jangan diragukan lagi, dengan bibit seperti Azka dan Azkia tentunya kedua anak itu sangat menawan. Mereka berdua masih kecil saja sudah banyak yang meninta izin Azka untuk menjodohkan anak mereka, bagaimana jika nanti Azzalea dan Azzam mengajak dewasa. Pastinya akan membuat Azka semakin ketat dan protektif kepada kedua anaknya itu.
Hari ini mereka semua sedang berlibur bersama keluarga besarnya, orang tua Azka pun ikut dalam acara liburan kali ini. Tak hanya orang tua Azka karena orang tua Azkia dan juga Axel pun ikut.
Mereka memilih liburan dikawasan pegunungan dengan udara sejuk dan bebas dari polusi udara membuat mereka betah berlama-lama disini. Mereka memiliki sebuah Vila yang cukup besar tentunya, mengingat keluarga mereka adalah keluarga besar.
Pagi ini Azkia dan Melati sudah sibuk didapur, mereka sedang berperang dengan peralatan masak tentunya. Azkia sudah cukup mahir dengan peralatan dpaur, karena semenja ia memiliki seorang putri Azkia bertekad bisa memasak.
Azkia ingin sang anak mendapatkan makanan yang terjamin, ia tidak memperbolehkan anak-anaknya makan makanan cepat saji. Karena itu tidak baik untuk pertembuhan sang anak.
Jadilah sekarang Azkia sangat lihai dalam hal masak memasak, ia ditemani sang kakak ipar memasak sop daging dan beberapa macam olahan lainnya untuk sang anak. Melati hanya membantu sebisanya karena ia sedang hamil anak kedua sehingga tidak bisa terlalu lelah.
Tak Tak Tak!
Suara sepatu terdengar jelas saat menuruni satu persatu anak tangga itu, karena bisa dipastikan semuanya masih terlelap dalam tidur mereka karena semalam mereka asyik berkadang.
Azkia dan Melati pun kompak menoleh, mereka melihat Azka sudah rapi dengan pakaian olahraga. Bisa dipastikan Azka akan joging disekitarlan Villa.
"Mau kemana?" pertanyaan itu lolos begotu saja dari bibir tipis sang istri.
Azka menaikkan sebelah alisnya, apa kurang jelas dengan pakaian olahraganya sehingga Azkia harus bertanya dengan pertanyaan yang ia sendiri sudah tau jawabannya.
"Tidur," jawab Azka.
"By?" panggil Azkia selembut mungkin, jika sudah seperti itu Azka tau jika sang istri akan mengomelinya.
"Mau joging istriku sayang, kenapa hmm?" tanya Azka yang sudah berdiri didepan Azkia sambil menarik pinggang rampingnya agar mandekat.
Walaupun sudah memiliki dua anak, pinggang Azkia masih terlihat ramping karena ia sangat menjaga pola makan dan olahraganya. Ia tidak mau menjadi gendut padahal Azka saja tidak mempermasalahkannya. Tapi lain dengan pikiran Azkia, ia takut sang suami berpaling darinya. Mengingat Azka adalah seorang Ceo yang tentu saja banyak wanita yang mencoba mendekatinya, meskipun mereka tahu Azka seorang yang sudah beristri dan memiliki dua anak.
"Lepasin ada, malu sama kak Melati," bisik Azkia.
Bisikan itu pun masih terdengar jelas ditelinga Melati, karena ia berdiri tidak jauh dari tempat Azkia.
__ADS_1
"Aku gak lihat kok, aku kan ikan!" kata Melati sambil terkekeh. Sedangkan Azka menyunggingkan senyumnya menatap Azkia.
"Mana ada ikan segede kakak," ucap Azkia sambil melihat Melati yang sudah keluar dari area dapur.
Sedangkan Azka semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Azkia.
"Bangunin dulu Lea sama Azam," pinta Azkia sambil mematap Azka lembut.
"Kamu aja, Nyun. Nanti aku kesingan mau joging." tolak Azka.
"Gak ada penolakan, ya. Kalau gak mau nurut siap-siap gak dapet jatah!" ancam Azkia dengan wajah seserius mungkin.
Mendengar hal itu membuat Azka membelalakkan kedua matanya, ia sangat lemah didepan sang istri. Ia yang biasanya suka memerintah dengan tegas, bisa langsung berubah menjadi penurut saat didepa Azkia.
Dengan malas Azka langsung melepaskan pelukannya, tapi ia dikejutkan dengan ciuman singkat yang dilakukan sang istri.
"Biar semangat bangunin anak-anak," ucap Azkia setelah itu ia kembali fokus pada masakan yang baru ia racik.
"Kurang lah, lagi dong!" pinta Azka yang sudah mendekati Azkia.
"Nurut, gak?" tanya Azkia.
"Cih, iya-iya... punya istri galak amat sama siami3 sendiri," gerutu Azka sambil melangkah mundur.
Pemandangan sepasang suami istri itu tak luput dari penggelihatan Yudha dan juga Axel tentunya. Mereka yang hendak menikmati udara pagi harus menghentikan langkahnya saat melihat drama itu. Mereka hanya bisa tertawa melihat Azka yang diam tak berkutik didepan Azkia, padahal saat dikantor tidak ada yang berani dengannya termasuk beberapa relasi kerjanya.
Azka membalikkan badannya dan apa yang dilihat? Papa dan juga kakak iparnya sedang tertawa tanpa suara sambil mematap Azka. Namun tawa itu berubah saat Azka menatapnya tajam, mereka berdua berpura-pura seolah sedang membicarakan bisnis dan sesekali tertawa canggung.
"Anak om, nyeremin... tatapannya langsung buat orang mati kutu," bisik Axel ketika Azka sudah menaiki anak tangga menuju kamar Azzalea dan juga Azam.
"Sama kaya papanya, kan?" tanya Yudha sambil tekekeh. Sedangkan Axel hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, kemudian mereka berdua melanjutkan niat awal mereka untuk menikmati udara sejuk.
Tok tok tok
Azka beberapa kali sudah mengetuk kamar anaknya itu tapi tetap saja tidak ada jawab, sehingga Azka memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Ceklek.
Terlihatlah dua anak yang berbeda usia itu masih terlelap dalam tidurnya, bahkan wajah Azzalea sampai tidak terlihat karena ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Ale bangun, udah pagi," kata Azka sambil membuka selimut Azzalea hingga wajahnya terlihat. Tapi apa yang diperbuat Azzalea, ia menarik kembali selimut itu sampai menutupi wajahnya lagi.
Azka tidak lah sesabar Azkia, melihat putri kecilnya yang bertingkah seperti itu membuat Azka langsung bertindak. Ia menarik paksa seluruh selimut yang menutupi tubuh Azzalea, hingga selimut itu jatuh dilantai.
"Bangun atau uang jajan kamu papa potong!" ancam Azka, dan benar saja Azzalea langsung bangun mendengar uang jajannya akan dipotong.
Dengan mata yang masih terpejam Azzalea mencoba bangkit dari tidurnya, ia masih duduk sambil mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang belum pulih. Sedangkan Azam yang merasa terganggu pun ikut bangun.
"Oke anak papa sudah bangun semua, sekarang cepat mandi dan ikut papa joging!" perintah Azka yang masih sibuk membuka tirai jendela kamar itu.
"Dingin, pah!" rengek Azzalea.
"Iya, dingin pah... gak usah mandi, ya?" pinta Azam.
"Papa gak mau denger bantahan dari kalian ya! Pokoknya mandi sekarang juga papa tunggu, kalau sampai gak nurut papa gak akan kasih kalian uang jajan sampai seminghu kedepan!" titah Azka.
"Tinggal minta mama kalau papa gak mau ngasih!" suara itu dari Azzalea yang ingin merebahkan lagi tubuhnya diatas kasur yang hangat itu.
"Setuju," saut Azzam.
Azka memijat pelipisnya yang terasa berdenyut itu, Azka lebih memilih mengurusi client yang susah dari pada mengurusi anaknya yang susah diatur itu. Lebih tepatnya mereka suka menguji kesabaran Azka.
"Azam gak ikut joging, Azzam masih ngantuk," ucap anak laki-lakinya yang sudah berumur 7 tahun itu.
"Terserah kalau kalian gak nurut sama papa, jangan harap kalian bisa ikut liburan ke Bali." ucap Azka dengan santai.
Mendengar hal itu membuat Azzalea langsung bangun dan menuju kamar mandi, karena ia suka berwisata sehingga ancaman itu membuatnya luluh begitu juga dengan Azzam. Mereka berdua sama sepeti Azka, yang hobby jalan-jalan.
Tak hanya hobby bahkan sifat mereka sama persis tidak suka diatur dan diperintah. Tapi yang namanya anak harus nurut sama orang tua, sehingga Azzalea dan Azzam pun begitu menuruti orang tuanya dan keluarganya yang lain.
...----------------...
__ADS_1
#Bonus ini :v