Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Butuh waktu sendiri


__ADS_3

"Ma-maaf, pak!" ucap Bobo sambil menunduk.


"Kok bau pesing, ya!" polisi itu celingukan mencari sumber bau yang ia cium.


"Astagfirullah, kamu ini laki-laki atau bukan, masa gitu aja ngompol dicelana." ucap polisi itu saat mengetahui jika celana jins warma mokka milik Bobo itu basah.


Bobo hanya diam saja sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sesekali dia melirik kearah samping ingin tahu bagaimana reaksi teman - temannya. Ciko hanya menggelengkan kepalanya melihat Bobo.


"Itulah akibatnya kalo pas dikelas tidur." sindir Ciko.


"Malu sama umur, woy!"


"Gue kira bakalan merana disini, gak taunya dapat hiburan."


"Dedek ngompol dicelana, ya?"


Begitulah cuitan dari beberapa orang sambil menertawakan Bobo, tapi tidak dengan Azka dia lebih memilih diam.


"Sial, kok gue berasa ngulang kejadian kaya gini untuk kedua kalinya, ya?" batin Bobo.


Setelah satu persatu di beri pertanyaan yang berbeda-beda akhirnya mereka diperbolehkan pulang. Namun tidak untuk tiga orang itu, lebih tepatnya dua orang yang masih setia menunggu Azka.


Orang tua dari mereka yang ikut balapan dipanggil untuk diberi arahan agar anak mereka tidak mengulangi hal semacam ini lagi.


Ken menghubungi Om nya, dia yang akan menjadi wali Ken dan menjamin agar mereka bertiga bisa keluar dari kantor polisi.


Setelah mendapat arahan dari poisi Yudha dan Pras keluar dari kantor polisi dan menghampiri mereka bertiga. Pras adalah adik dari mamanya Ken, Ken biasanya memanggilnya dengan sebutan Om. Setelah urusannya selesai Pras segera pergi karena besok pagi dia ada kerjaan yang sangat penting.


Tinggalah Yudha, papanya Azka yang sedang berdiri di depan Azka sambil menatapnya dengan penuh kekesalan.


PLAK!


"MAU JADI JAGOAN, KAMU!" bentak Yudha bersamaan dengan satu tamparan yang lumayan keras mengenai pipi mulus Azka, hingga meninggalkan bekas merah.


Azka hanya diam saja sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri.


"Mau sampai kapan kamu kaya gini? Mau jadi apa kamu, kalo tiap hari kerjaannya bikin masalah!" bentak Yudha.


"...."


"Papa kira kamu akan berubah, tapi kenyataannya. APA!" bentak Yudha lagi.


Azka hanya diam saja, tangannya sudah mengepal dengan kuat hingga jari-jarinya memerah. Ken dan Aldo sangat prihatin melihat Azka yang dimarahi oleh orang tuanya di depan kantor polisi.


"Itu kenapa gak nunggu sampe dirumah dulu sih?" Ken menunjuk Azka menggunakan dagunya agar tidak terlalu kentara, karena jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Gak tau gue, bokapnya ngeri banget... untung bokap gue lagi gak dirumah." jawab Aldo sambil bergidik ngeri.


"Mau gue laporin sama bokap lo juga?" saut Ken.


"Jangan dong! Bisa - bisa disita si manis." rengek Aldo.


"Si manis?" tanya Ken sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iya si manis... motor kesayangan gue hehe." ucap Aldo sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Gila! motor aja pake dikasih nama." Ken memukul pelan kepala Aldo.


"Biarin suka-suka gue, ya gak manis." ucap Aldo sambil mengusap motor kesayangannya dengan penuh perhatian.

__ADS_1


"Udah gak waras ya, pasti ini efek dari kelamaan jomblo." ucap Ken sambil terkekeh, sedangkan Aldo dia memasang wajah masamnya.


Walaupun ketika balapan mereka menjadi lawan, namun saat diluar itu mereka sangat akrab seperti sahabat yang sudah mengetahui semua kejelekan masing-masing.


Terdengar lagi bentakan Yudha yang memecahkan keheningan pagi buta itu.


"Papa kira dengan kamu mengalami kecelakaan kemarin, kamu bisa berubah... tapi ternyata papa salah!"


"Papa udah gak tau lagi harus bagaimana agar kamu berubah!" bentak Yudha sambil menggelengkan kepalanya, ada nada marah bercampur kecewa yang terdengar dari ucapannya.


Azka yang sedari tadi hanya diam membisu, akhirnya ikut mengungkapkan semua isi hatinya.


"Apa perduli anda, ha? Anda hanya sibuk dengan pekerjaan yang terus saja tidak ada habisnya itu! Dan selalu menuntut saya untuk mengikuti semua keinginan anda, bahkan anda tidak pernah mendengar pendapat saya terlebih dahulu. Apakah saya mau atau tidak! Apakah saya bahagia atau tidak! Bahkan mungkin anda tidak tahu apa keinginan saya!" ucap Azka panjang lebar tepat di depan sang papa.


Setelah mengucapkan itu Azka menghampiri motornya yang berada tepat disebelah motor Ken. Lalu mengenakan helm fullfacenya, langsung tancap gas tanpa memperdulikan pertanyaan Ken dan Aldo.


"Mau kemana?" tanya Ken.


"Ka, mau kemana?" tanya Aldo.


"Azka... Azka Aldric!!" teriak Yudha.


Namun ucapannya mereka hilang begitu saja bersamaan dengan punggung Azka yang semakin tidak terlihat.


Yudha menarik nafasnya dengan kasar untuk beberapa kali agar mampu meredakan emosinya. Ken dan Aldo menghampiri Yudha untuk menenangkannya.


"Sabar ya, Om... mungkin Azka butuh waktu sendiri." ucap Ken.


"Iya Om sabar, nanti Azka pasti bisa berubah." ucap Aldo.


Yudha hanya menggangguk menanggapi ucapan mereka, hingga Yudha melupakan jika mereka berdua juga terlibat dalam balapan itu.


"Iya nanti saya sampaikan, Om." jawab Ken ramah.


"Yaudah kalian berdua pulang lah, besok masih harus sekolahkan?" tanya Yudha, mereka berdua hanya mengangguk.


"Om duluan." ucap Yudha lagi sambil menepuk bahu Ken.


"Hati - hati, Om." kata Aldo dan Ken bersamaan.


Setelah mobil yang dikendari Yudha hilang dikegelapan malam, barulah Aldo dan Ken mencari keberadaan Azka. Namun sebelum itu Aldo mengabari Devan soal kejadian pagi ini.


...........................


Mereka berempat sudah berada di persimpangan jalan, tempat dimana mereka sepakati untuk bertemu.


"Bau busuk apa ini?" tanya Ken sambil menutup hidungnya. Helm fullface ia tenteng di pergelangan tangan kiri.


"Iya, bau sampah." ucap Aldo.


Sedangkan Attaya dan Devan hanya pura - pura tidak mendengar ucapan itu, karena bau yang mereka maksud adalah dari badan Attaya dan Devan.


"Kalian berdua gak nyium apa?" tanya Aldo.


"Se-sebenarnya ini bau dari kita." ucap Attaya ragu.


"What!" pekik Aldo dan Ken bersama.


"Jangan bilang kalian berdua nabrak tong sampah." kata Ken.

__ADS_1


"Lebih dari itu." saut Devan dengan wajah kesalnya.


"Maksudnya?" tanya Aldo.


"Kita sembunyi di TPA." jawab Attaya sambil terkekeh.


Namun dengan cepat Devan memukul kepala Attaya karena kesal melihat dia tertawa bahagia padahal sedang bau sampah.


Tuk!


"Kdrt mulu lo, Van." kesal Attaya sambil mengusap kepalanya.


"Bodo amat!"


"Udah kalian ini ribut mulu, Azka kemana? Gue telepone gak diangkat." saut Ken yang membuat mereka tersadar tujuan awal mereka.


"Lah emang kemana?" tanya Attaya.


"Tadi habis dimarahin bokapnya dia pergi gitu aja." jelas Aldo.


"Kabur kemana tuh anak?" tanya Devan.


"Kalian kan sahabatnya masa gak tau kemana dia pergi." kata Ken.


"Masa iya kesana?" gumam Devan.


"Kemana?" tanya Aldo, Attaya dan Ken bersamaan sambil menatap Devan penuh harap.


"Ke danau, tapi gak mungkin subuh - subuh gini dia disana?" tanya balik Devan.


"Bisa jadi sih." jawab Attaya.


"Yaudah biarin Azka nenangin diri dulu, mungkin dia masih butuh waktu sendiri... kita jangan ganggu dulu." ucap Ken bijak, pasalnya Ken juga tidak jauh berbeda dari Azka jadi dia paham betul seperti apa Azka.


"Iya juga, apalagi papanya kaya gitu tadi." ucap Aldo.


"Gue sih setuju aja." jawab Devan.


"Yaudah masalah Azka sampe sini dulu, kita pulang dulu... gue gak tahan lama-lama sama bau sampah ini." ucap Attaya sambil mencium bau bajunya yang semakin menyengat.


"Bener, mau berendam air mawar gue." kata Devan.


"Kek cewek aja, Van." ucap Aldo dan diikuti tawa mereka semua.


"Biarin."


Kemudian mereka berpisah disini, menuju rumah mereka masing - masing. Karena sebentar lagi matahari muncul dan mereka harus bersiap untuk sekolah juga.


.......................................


^^^Keinginanku sederhana, namun ^^^


^^^terasa sulit. ^^^


^^^- Azka Aldric - ^^^


........................


Jangan lupa coment, like, vote dan gift nya :)

__ADS_1


__ADS_2