Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Kok Beda


__ADS_3

Azkia sekarang sedang berada di masjid yang sangat megah, disana sudah terdapat banyak orang yang sedang sibuk dengan kesibukannya masing - masing.


Azkia hanya diam saja sambil sesekali melihat layar ponselnya, dia seperti sedang menunggu pesan dari seseorang.


"Hayoo, nunggu chat dari siapa?" ucap Axel yang tiba - tiba saja duduk disebelahnya.


"Hist bikin kaget aja sih El." kata Azkia sambil memanyunkan bibirnya.


"Apa!" tanya Axel sambil memiringkan kepalanya menatap tajam Azkia.


"Bang abang tadi Kia bilang bang El kan hehe." elaknya sambil tersenyum canggung.


"Ini anak kebiasaan banget manggil abangnya pake nama langsung, nanti dikira kita pacaran loh." goda Axel.


"Ih mana ada wlee." kata Azkia.


"Ada, tuh buktinya sampai ada yang masuk rumah sakit." sindir Axel sambil terkekeh.


"Eh iy- ih apaan sih bang!" sempat Azkia mengakui perkataan Axel namun dengan cepat dia mengelaknya.


Ting!


Terdengar bunyi dari layar ponsel yang sedari tadi Azkia tatap, dengan cepat Azkia membukanya dan membalas pesan singkat itu.


"Tuh kan, yang di tunggu udah chat langsung seneng." ledek Axel lagi.


"Biarin dari pada jomblo kek gak laku aja." gumam Azkia yang masih terfokus pada layar ponselnya.


"Apa kamu bilang gak laku? Heh denger ya banyak cewek yang ngantri mau sama abang kamu ini, cuma aku nya aja yang belum nemu yang nyaman dihati." kata Axel panjang lebar.


"Curhat buu." ledek Azkia sambil terkekeh.


"Das—" ucapan Axel terhenti saat mendengar panggilan dari sang mama.


"Axel Kia, kesini acaranya sebentar lagi mau di mulai." perintah mama Lala.


"Iya mah!" ucap Azkia dan Axel bersamaan, kemudian mereka menghampiri sang mama karena acara akad saudara mereka akan segera dimulai.


.................


Dirumah Azka.


"Hayoo loh senyum - senyum sendiri, obat habis?" ucap Aina yang ikut duduk disebelah Azka. Kali ini mereka sedang di ruang keluarga bermain game.


"Masih banyak tuh." ucap Azka darar.


"Ah gak seru." kata Aina sambil melirik malas kearah Azka.


"Azka kan emang gitu, pangeran es wkwk." ucap Attaya sambil terkekeh.


Mereka semua menertawakan Azka, namun yang ditertawakan hanya diam saja dan fokus pada layar ponselnya.


"Oh iya, kayaknya kita pernah ketemu tapi dimana? Terus kenapa muka lo sekilas mirip Azka?" tanya Devan yang sangat penasaran.


"Wajahnya juga kek gak asing gitu ya kan Van?" ucap Attaya.


"Jodoh kali." ucap Aina singkat, Aina akan bersikap dingin dan masa bodo seperti Azka jika berhadapan dengan orang yang belum dikenalnya.

__ADS_1


"Cih, kalian ini pikun apa emang amnesia." kesal Azka saat mendengar perdebatan mereka.


"Makstunya?" tanya Attata dan Devan bersamaan dengan wajah kebingungan.


"Dia ini Aina alias Raina, dia sepupu gue... dulu kan kita berempat sering main bareng." jelas Azka.


"Hah Raina yang itu, yang pipinya udah kek bakpao?" tanya Devan tidak percaya.


"Yang suka makan es cream sama coklat sampai - sampai beli beberapa lusin coklat?" tanya Attaya yang juga tidak percaya.


"Iya Aina yang itu emang yang mana lagi hehe." ucap Azka sambil terkekeh mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Heh mana ada beli beberapa lusin coklat, orang cuma yang ada aja." ucap Aina santai.


"Iya yang ada kan beberapa lusin itu dan lo beli semua." ucap Devan sambil memutar kedua bola matanya malas.


"Kok beda sekarang? sampai kita gak ngenalin." tanya Attaya.


"Ya bedalah kan itu masih kecil ogeb." ucap Aina yang sudah tidak sedingin tadi kepada Attaya dan Devan.


"Lo Devan yang suka ngompol kan kek Azka, terus lo Atta kan yang dikit - dikit nangis itu." itulah ingatan yang Raina ingat sewaktu mereka masih kecil.


"Eng-enggak ya, gue gak ngompolan.. Azka tuh." elak Devan karena malu mengingatnya.


"Masih kecil wajar kan nangis." elak Attaya.


"Heh kemaren yang nangis kejer dibawah pohon pas camping siapa?" ucap Azka sambil terkekeh, Devan dan Aina juga ikut tertawa.


"Tauk ah." kesal Attaya.


"Nangis nangis lagi hahaa." ledek Aina.


Mereka berempat memang dulu waktu masih sekolah dasar sudah berteman namun saat kelas enam Aina atau Raina harus pindah ikut orang tuanya ke luar negeri. Segingga mereka harus berpisah, sekarang Aina menjadi perempuan cantik manis namun sifatnya tidak jauh berbeda dari Azka yang dingin cuek dan masa bodo.


............


"Sial kenapa jadi kepikiran sama cewek yang bareng Azka tadi sih." keluh Rayhan sambil menutup bukunya.


Setelah pulang dari menemani mamanya dirumah sakit Rayhan langsung menyibukkan dirinya didalam kamar untuk belajar mengingat sebentar lagi dia akan melaksanakan ujian. Namun sayangnya pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama, dari Rayhan terus terbayang perempuan yang pernah bertabrakan dengannya. Auranya dingin tapi entah kenapa hal itu yang membuat Rayhan mrnjadi semakin memikirkannya dan selalu ingin mengetahui hal tentang perempuan itu.


"Azkia tahu enggak ya soal perempuan yang bareng Azka tadi?" gumamnya sambil mencari keberadaan ponselnya.


Setelah Rayhan menemukan ponselnya dia berniat untuk menghubungi Azkia namun ia urungkan dan memilih mengiriminya pesan singkat.


Send


Namun setelah beberapa saat pesan itu belum juga dibaca oleh Azkia. Yang membuat Rayhan semakin gelisah.


"Ah udahlah kebapa harus mikirin yang gak penting sih." ucap Rayhan sambil meletakan ponselnya diatas nakas, kemudian dia membuka bukunya lagi yang berisi tentang soal - soal menjelang ujian.


Rayhan mencoba mengerjakan beberapa soal itu, namun lagi - lagi pikirannya tidak ingin diajak untuk mengerjakan soal.


"Kalo Azka berani - beraninya sama cewek lain terus buat Azkia nangis awas aja, habis ditangan gue!" kata Rayhan sambil menaikan bolpoinnya.


"Tapi itu vusa jadi kesempatan aku buat luluhin hati Azkia kan." gumam Rayhan, pikirannya sudah terbang entah kemana.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Rayhan.


"Masuk, gak dikunci." kata Rayhan.


"Lama banget sih jawabnya lagi ngapain!" kesal Jojo.


"Belajar lah." jawab Rayhan.


"Belajar mulu lama - lama kek buku tuh muka." canda Jojo sambil terkekeh, dia mendudukan tubuhnya di kasur Rayhan.


"Main kuy, bosen nih." ajak Jojo sambil melirik sekilas kearah Rayhan.


"Gak, gue mau belajar bentar lagi ujian." tolak Rayhan.


"Yaelah kitakan masih liburan ini, refreshing dulu lah biar seger tuh pikiran." sindir Jojo yang melihat wajah Rayhan sudah seperti buku yang sudah lama tidak terawat, suram.


"Hmm, yudah ayok!" ajak Rayhan yang sudah menutup semua bukunya, ucapan Jojo memang ada benarnya juga karena Rayhan sudah tidak bisa fokus pada soal - soal yang ada didepannya itu.


"Kemana?" tanya Jojo.


"Katanya ngajak main malah balik nanya kemana, lo sehat?" kesal Rayhan.


"Hehe maksut gue kita mau kemana mainnya, yaelah gitu aja ngambek... lagi pms ya?" canda Jojo sambil merangkul bahu Rayhan.


"Iya lagi pms, puas!" Rayhan menjawab sesuka hatinya saja karena terlalu kesal dengan Jojo.


"Hehee, belum.. kalo belum buat seorang Rayhan Mahardika marah belum puas gue." kata Jojo sambil berlari menuju bagasi.


"Cih, awas lo.. gak gue kasih contekan lagi!" ancam Rayhan yang mengikuti langkah Jojo menuju bagasi namun sebelum itu dia berpamitan terlebih dulu kepada mamanya.


"Ampun suhu gak lagi, untuk hari ini." teriak Jojo sambil terkekeh. Entah kenapa Jojo selalu saja membuat Rayhan marah namun juga tertawa dengan kelakuannya itu.


............


Hal yang paling ku takutkan


namun pasti terjadi..


Perpisahan..


Entah itu waktu atau rasa bosan membuat kita saling meninggalkan


Namun percayalah


bahwa aku sangat egois..


aku hanya ingin meninggalkan agar tak merasa kehilangan..


Tapi aku keliru


bahkan disaat aku meninggalkan


aku akan tetap kesepian


merasa kehilangan.


Ternyata aku sadar

__ADS_1


yang perlu kulakukan hanyalah belajar menerima semuanya :)


(Mala Bee)


__ADS_2