
Saat Azkia sedang makan, tidak sengaja ada sedikit makanan yang menempel pada pipinya. Membuat seseorang yang ada di hadapannya itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kebiasaan banget, kalo makan pasti cemong." ucapnya sambil mengelap pipi Azkia dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan tissu.
"Hehe gak sadar kalo nempel di pipi." ucap Azkia polos, sambil mengambil tissu dan membersihkan pipinya.
"Alasan." ucapnya sambil terkekeh, "mau dong es jeruknya!" ucapnya sambil mengambil es jeruk dari hadapan Azkia. Tanpa pikir panjang orang itu langsung meminum es jeruk Azkia.
"Kan itu lemon teanya masih, kenapa minuman Kia diambil sih." kesal Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Pengen wlee." ucapnya sambil menjukurkan lidah mengejek Azkia. Azkia melemparkan tissu kearah orang yang sedang tertawa dihadapannya itu.
Semua tingkah mereka tak pernah luput dari tatapan tajam Azka, sedangkan sahabat Azka mencoba menenangkan Azka agar tidak marah.
"Kok romantis gitu sih?" celuk Bobo yang lansung saja mendapatkan tatapan tajam dari Devan dan Attaya.
"Hehe maap." ucap Bobo sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Lo udah nyari tahu yang gue suruh kemaren, Van?" tanya Azka kepada Devan namun pandangannya tidak melihat lawan bicaranya itu.
"Nanti malem hasilnya dikirim sama anak buah gue." ucap Devan sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Hmm." seru Azka.
"Dimakan dulu itu, Ka... kasian hati lo eh perut lo maksutnya." ucap Ciko yang melihat makanan Azka masih utuh tanpa disentuh sedikit pun.
"Iya makan dulu sana, ribut juga butuh tenaga!" ucap Devan sambil memainkan ponselnya.
"Males!" singkat Azka tanpa melirik makanannya.
Di seberang sana Azkia sudah selesai dengan acara makannya, dia langsung saja mengajak orang yang duduk dihadapnnya itu untuk pulang.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil membahas sesuatu yang entah apa itu Azka tidak bisa mendengarnya.
"Mau di samperin atau di diemin?" tanya Attaya.
"Kita pantau aja dulu, kita kan gak tahu siapa dia?" saran Devan.
"Tapi kelihatan deket gitu tuh." ucap Bobo.
"Kalo itu masa lalu Azkia gimana?" pertanyaan dari Ciko itu membuat mereka semua menatap Ciko dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tanpa pikir panjang Azka menghampiri mereka ketika sampai di parkiran, karena jika masih di dalam cafe Azka malas repot berurusan dengan pemilik cafe.
Laki - laki itu dengan santainya merangkul Azkia, padahal Azka saja belum pernah melakukan hal itu kepada Azkia. Yang membuat Azka semakin geram adalah Azkia biasa saja dan tidak menolak saat laki - laki itu merangkulnya.
"Cih!" umpat Azka, dengan cepat Azka langsung saja memegang bahu laki - laki itu dan satu pukulan melayang begitu saja di pipi laki - laki itu.
__ADS_1
Bugh!
Suara pukulan itu terdengar cukup keras, mengakibatkan orang - orang yang berada di sekitar mereka menoleh kearah suara itu.
Laki - laki itu langsung saja terjungkal kebelakang karena tidak siap menerima pukulan dari Azka. Sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar, hal itu membuat Azkia syok karena kejadian itu sangat tiba - tiba.
"Axel!" teriak Azkia sambil menghampiri Axel. Iya laki - laki yang tadi dijemput Azkia dibandara itu bernama Axel.
Azkia membantu Axel berdiri, wajahnya terlihat sangat khawatir saat melihat wajah Axel yang sudah mengeluarkan darah degar. Azka yang menyadari jika Azkia mengkhawatirkan laki - laki lain membuatnya bertambah marah.
Azka langsung saja menghampiri Axel dan menghajarnya lagi, namun kali ini Axel bisa menangkis serangan Azka. Sedangkan Azkia melangkah mundur karena takut jika nanti dia akan terkena pukulan nyasar jika dekat dengan orang yang sedang berkelahi. Mereka berdua terlibat perkelahian yang sangat sengit, karena kedua orang tersebut sangat jago dalam bela diri. Apalagi mereka menguasai karate dan taekwondo.
Teman - teman Azka bingung harus berbuat apa karena jika mereka memisahkan Azka, bukannya pisah malah mereka yang terkena pukulan. Namun sesekali mereka tetap mencoba memisahkan Azka dan axel.
Buuugh!
Axel berhasil meninju perut Azka, hingga Azka mundur beberapa langkah ke belakang. Azka maju kedepan Axel dengan cepat kakinya melayang diudara dan berhasil mengenai pipi mulus Axel. Axel terhuyung kesamping, dia terjatuh terlentang ditanah.
Azka masih menghampiri Axel lagi dan meninjunya, namun Axel bisa menghindarinya. Kini giliran Azka yang terpojok, Azka masuk dalam kungkungan Axel sehingga dia tidak bisa bergerak.
Bugh bugh bugh!
Kini pelipis Azka yang terkena beberapa kali tinjuan Axel mengeluarkan darah segar, karena pertahanan Azka mulai runtuh sehingga Axel berhasil meninjunya.
"Azka!" teriak sahabat - sahabat Azka.
"Axel!" teriak Azkia, namun mereka berdua sama sekali tidak menghiraukan teriakan itu.
"Lo tau sendiri kan, Ki... kita tadi udah mencoba pisahin mereka tapi sulit." ucap Devan.
"Iya, mereka sama - sama kuat mana gak ada yang mau ngalah." sambung Attaya.
"Terus gimana?" tanya Azkia, suaranya sudah mulai bergetar karena menahan tangis yang mulai pecah begitu saja saat melihat orang yang dia sayangi terluka.
"Gue harus apa?" tanya Azkia lagi sambil menangis.
"Coba lo teriakin mereka suruh berhenti kaya di pilem - pilem gitu." ucap Bobo sambil terkekeh.
"Lo ya keadaan genting masih sempet - sempetnya bercanda." sindir Attaya.
"Biar gak tambah panas hehe." jawab Bobo.
"Yaudah gue coba!" kata Azkia, dan diangguki oleh mereka yang berada di hadapan Azkia.
Azkia menarik nafasnya panjang seolah sedang mengumpulkan tenaga, agar bisa berteriak dengan kencang.
"Stoop! Axel Azka udah berhenti!!" teriak Azkia dengan satu tarikan nafas. Suaranya bergema di antara bangunan lainnya yang dekat dengan cafe.
__ADS_1
Mendengar suara Azkia mereka berdua langsung menghentikan aktifitas berkelahinya.
"Nah kan berhasil." gumam Bobo yang masih bisa di dengar oleh Azkia.
Azka mencoba bangun namun sulit karena badannya penuh luka begitu juga dengan Axel, melihat itu mereka langsung saja membantu Azka bangun. Sedangkan Axel dibantu oleh Azkia.
"Awhh." keluh Axel membuat Azkia khawatir.
"Mana yang sakit? Kita kerumah sakit oke!" perintah Azkia dan disetujui oleh Axel.
Sedangkan Azka, dia harus menerima dengan lapang dada saat melihat kekasihnya lebih perduli kepada Axel dari pada dirinya.
Azkia membantu Axel berjalan kearah mobilnya, dengan perlahan melangkah sambil menggandeng Axel. Setelah Axel masuk kedalam mobil. Azkia menghampiri Azka yang sudah berada di atas motornya.
"Kamu gak papa?" tanya Azkia sambil mencoba menyentuh lengan Azka, namun dengan cepat Azka menampiknya.
"Gak papa gue, urusin aja tuh dia!" kesal Azka, kemudian dia mengenakan helmnya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Azka tidak menghiraukan teriakan sahabatnya, bahkan Azkia sekalipun tidak ia dengarkan.
"Duh bahaya!" kata Ciko yang melihat kepecatan Azka saat mengendari motor.
"Gue susulin Azka dulu, ntar gue sharelock biar kalian bisa nyusulin." kata Attaya sambil mengenakan helmnya dan langsung saja menyusul Azka.
"Hati - hati cepet kabarin!" teriak Bobo, Attaya hanya membalasnya dengan mengacungkan jempol kirinya yang berarti oke.
"Azka akan baik - baik aja kan, Van Bob, Ko?" tanya Azkia kepada mereka bertiga.
"Lo tenang aja Azka akan baik - baik aja kok." ucap Bobo mencoba menenangkan Azkia.
"Dia cemburu sama lo!" celetuk Ciko kesal karena Azkia lebih memilih menolong Axel terlebih dahulu dari pada Azka.
"Alus mas dia cewek loh." canda Bobo dengan suara yang dibuat - buat.
"Dia siapa, Ki?" tanya Devan kepada Azkia.
Kemudian Azkia menceritakan semua kepada mereka bertiga, sedangkan mereka bertiga hanya mengangguk mengerti.
"Yaudah gue duluan, jangan lupa kabarin soal Azka.... nanti kalo udah tenang gue jelasin sendiri sama Azka." ucap Azkia sambil melambaikan tangan kepada Bobo, Ciko dan Devan.
Kemudian mereka bertiga menyusul Azka setelah mendapat pesan dari Attaya.
......................
...Pintaku satu, bersyukur lah karena kamu telah memilikiku.. karena kamu tidak akan pernah menemukan manusia seperti aku didiri orang lain....
...(~ E H ~)...
__ADS_1
......................
Apakah yang akan terjadi pada Azka? yok jangan lupa like dan coment ya reader.. karena kalian adalah semangatnya author :)