Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Keberangkatan


__ADS_3

Tidak terasa waktu yang tidak ingin dilewati akhirnya datang juga. Azka sudah rapi dengan pakaian santainya, sedang duduk di balkon kamar sambil menatap jauh ke depan. Ditangannya ada sebuah benda pipih terlihat sedang menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Kamu kemana sih, Nyun?" gumam Azka.


"Sarapan dulu, Ka." ajak Devan yang berada di belakang Azka. Ia bersandar pada pintu penghubung antara kamar dengan balkon.


"Males," saut Azka.


"Lo jangan gitu, Ka... sarapan itu baik buat kesehatan, apalagi buat orang sedih macam lo ini." Devan tertawa setelah mengatakan itu.


"Lo lama-lama mirip mama gue, Van!" seru Attaya yang baru masuk kamar Azka.


"Mirip apanya?" tanya Devan menaikkan sebelah alisnya.


"Mirip crewetnya." ucap Attaya berjalan menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Cih, gini-gini juga buat kebaikan kalian itu!" bela Devan.


"Iyalah-iyalah, oh iya, Ka... gimana Azkia bisa dihubungin?" tanya Attaya.


Azka menggeleng, karena sejak bertemu dengannya semalam Azkia belum menghubunginya bahkan polsenya tidak aktif. Hal itu membuat Attaya dan juga Devan hanya bisa diam dan saling tatap, hingga Yudha masuk memecahkan keheingan itu.


"Kalian ngapak masih disini? Turun kebawah sarapan!" perintah Yudha jelas.


"Iya om," jawab Attaya dan Devan kompak.


"Yuk, Ka... keburu tanduknya keluar tuh." ajak Attaya.


"Kalian berdua duluan aja, gue nyusul!" perintah Azka.


"Oke, jangan lama-lama!" Devan keluar terlebih dahulu diikuti Attaya.


"Azka mirip banget sama om Yudha, sama-sama serem kalau marah." gerutu Attaya.


Plak!


"Namanya juga anak sama bapak ya pasti sama lah!" kesal Devan sambil memukul lengan Attaya.


"Iya-iya gak usah mukul juga sakit." keluh Attaya.


Tak berapa lama Azka ikut bergabung dengan yang lainnya, mama Kayla terlihat sedih menatap anak semata wayangnya yang harus meneruskan kuliahnya diluar negeri.


"Makan yang banyak!" mama Kayla mengambilkan nasi dan juga lauk untuk Azka, dari suaranya terdengar jika dia sedang menahan tangisnya.

__ADS_1


Kayla juga sudah berusaha membujuk sang suami tapi apapun itu tidak akan merubah keputusan Yudha. Sebenarnya Kayla sanhat berat jika harus berjauhan dengan Azka dalam waktu lama, walaupun biasanya ia juga ikut Yudha mengurus bisnis. Tapi jika Azka berada di rumah ia akan merasa tenang, tidak seperti sekarang Azka akan berada di negara orang dengan waktu yang cukup lama.


"Makasih, mah." ucap Azka yang semakin membuat Kayla sedih.


........


Waktu penerbangannya memang masih beberapa jam lagi. Namun perjalanan ke bandara memakan waktu yang lama, mengingat jalanan yang tidak pernah sepi olwh kendaraan. Sehinga membuat Azka berangkat sekarang, ia ditemani Attaya dan Devan setelah berpaitan dengan kedua orang tua Azka. Mereka berdua memang sengaja menginap dirunah Azka dalam beberapa hari ini.


Sepanjang perjalanan Azka hanya diam saja, ia memang pendiam tapi kali ini lebih parah lagi. Sesekali Devan melirik kearah Azka, pertanyaan demi pertanyaan hanya dijawab dengan satu kata saja. Bahkan saat Attaya melawak pun tidak ada artinya buat Azka.


"Kalau udah bucin mah beda, yang lain bagaikan pemain tambahan," ejek Attaya, karena melihat Azka yang terus memandang foto milik Azkia.


...............


Azkia tengah asyik menemani keponakannya yang sudah bisa berjalan itu bermain. Menurut Azkia, keponakannya itu sangat menggemaskan. Apalagi dengan pipi gembul dan juga mata bulatnya. Membuat Azkia sangat gemas.


"Zeo, kesini... mau susu gak?" Azkia memanggil keponakannya yang memiliki nama Alzeo Putra.


Bocah kecil itu berlari menghampiri Azkia, karena ditangannya ada susu coklat yang Zeo suka.


"Anak pinter!" kata Azkia sambil mencubit pipi gembul milik Zeo.


"Azkiaaa!" panggil seseorang yang tidak lain adalah Devira. Devira terlihat tergesa-gesa menghampiri Azkia.


"Kenapa lari-larian, kek Zeo aja," tanya Azkia sambil terkekeh.


"Kan kita udah libur, kalau gak nyantai mau apa? Lagian kuliah juga belum mulai." Azkia masih fokus mencubit pipi Zeo.


"Lo gak nganterin Azka?" tanya Devira tiba-tiba.


Azkia menoleh dan mengerutkan dahinya. menatap Devira mencari tahu apa maksud dari perkataannya.


"Dih, malah diem-diem... gue tanya lo gak nganterin, Azka?" tanyanya sekali lagi.


"Emang Azka mau kemana sampai harus di antar? Kan dia bisa pergi sendiri." Gadis itu melanjutkan kembali aktivitasnya. Ia masih belum paham dengan pertanyaan temannya.


"Astata Azkiaa! Keberangkatan Azka dipercepat, dan sekarang dia sudah dalam perjalanan ke bandara." jelas Devira sedikit kesal.


"Apa?" Azkia terkejut. Ia menatap manik temannya mencari kebenaran.


"Jadi Lo belum tahu kalau Azka mau ke LN hari ini?" tanya balik Devira.


Azkia menggeleng wajahnya berubah menajadi pusat pasif, anatara syok dan sedih menjadi satu. Azkia bertanya-tanya kenapa Azka tidak memberitahunya hal sepenting itu padanya. Kakinya terasa lemas, ia tidak bisa berfikir apapun.

__ADS_1


"Kenapa dia gak ngasih tau gue, Ra?" tamya Azkia sambil terisak.


Devira langsung mendekap Azkia dalam pelukannya, mencoba memberi Azkia kekuatan.


"Mungkin Azka sudah bilanh tapi lo lupa, dan asal lo tau sejak pagi Azka gak bisa hubungin lo." ucap Devira.


Mendengar itu membuat Azkia teringat perkataan Azka kemarin malam, mungkin saat itu Azka ingin memberitahu dirinya.


"Ponsel gue dicharger dari tadi, te-terus gue harus gimana, Ra?" tanya Azkia.


"Kita susul Azka sekarang, gimana?" tanya Devira.


Azkia menyetujui saran Devira, ia sudah tidak dapat berfikir apapun.


"Kita naik apa kesananya? Masih sempetkan susulin, Azka?" tanya Azkia sambil mengusap pipinya yang basah. Ia terlihat sangat panik saat ini.


"Tenang ada gue," ucap Devira sambil tersenyum mencurigakan.


Setelah menceritakan semuanya kepada mamanya, Azkia dan Devira pamit kepada mama Lala.


Mata Azkia dibuat tercengang saat melihat apa yang ada di depan matanya saat ini.


"Yakin mau naik ini?" tanya Azkia.


"Yakin lah buruan naik!" perintah Devira yang sudah naik diatas motornya.


"Buruan jangan bengong, keburu Azka take off!" seru Devira lagi karena Azkia masih saja diam sambil menatap motor sport dan juga Devira.


Tanpa berbicara lagi, Azkia langsung saja naik. Ia dibonceng oleh Devira, entah sejak kapan sahabat kecilnya itu bisa naik motor sport yang sama seperti milik Azka.


Untuk saat ini Azkia tidak mau tahu akan hal itu, yang Azkia inginkan hanya secepatnya sampai di bandara. Dan Azkia berharap masih sempat untuk bertemu Azka.


Azkia memeluk erat tubuh Devira, karena jalanan yang dilalui cukup sepi sehingga Devira bisa menambah laju kendaraannya.


Bibir tipis Azkia tidak berhenti membaca doa, karena bisa dibilang cara mengendarai motor Devira sangat menakutkan.


"Cepet! Tapi slow! Gue belum nikah!" teriak Azkia.


"Hah, cepet tapi slow gimana maksudnya?" teriak Devira bingung.


"Pokoknya cepet! Tapi jangan bikin jantungan, gue baru tunangan belum nikah!" teriak Azkia.


"Udah diem aja yang penting sampai!" Devira menancap gasnya lagi membuat Azkia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Devira.

__ADS_1


"Ya allah, kalau gak terpaksa gue gak mau diboncengin sama Devira!!" batin Azkia.


...------------------------------------------------...


__ADS_2