Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Cobaan Sebelum Hari H


__ADS_3

Sore ini mereka berdua sudah janjian akan bertemu didepan kampus Azkia. Karena mama Lala yang menyuruh mereka untuk melihat baju yang akan di kenakan saat resepsi nanti. Namun sepertinya Azkia melupakannya.


Azka sudah menunggu Azkia didepan kampus dengan setelan jas, memgingat ia menjadu ceo menggantikan sang papa diperusahaan. Tangannya sibuk membalas satu persatua email yang masuk.


Tak disangka Azka akan disuguhkan pemandangan yang dapat membuat darahnya mendidih. Azka mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat merah.


"Beraninya!" kesal Azka sambil memukul setir mobil.


Mata Azka menangkap sosok yang ia kenali sedang berjalan menuju gerbang kampus dengan seorang laki-laki, sesekali terlihat tawa renyah dari bibir mereka. Seolah ada hal yang sangat menarik yang bisa membuat mereka sedekat itu.


Apalagi laki-laki itu adalah Rayhan, saingan Azka sejak dulu hingga sekarang.


Azka masih diam sambil mengamati dari dalam mobil, namun matanya terlihat seperti akan menerkam seekor mangsa.


"Kakak dari dulu gak pernah berubah, ya?" ucap Azkia sambil terkekeh.


"Aku bukan bunglon yang bisa berubah-ubah," ucap Rayhan sambil mengacak-acak rambut Azkia.


"Oh iya, tumben ke sini emangnya gak masuk kerja?" tanya Azkia.


"Iya lagi libur, jadi pengen jalan-jalan cari udara segar." Rayhan menatap lurus kedepan.


"Ohh, enak gak sih kak jadi dokter?" tanya Azkia tiba-tiba.


"Kenapa? Kamu juga mau jadi dokter?" tanya balik Rayhan sambil menoleh pada Azkia.


Azkia menghembuskan, "Aku sih pengen, tapi kalau liat jarum suntik aku takut... ya kali dokter takut jarum suntik,kan?"


"Hahahaaaa," Rayhan bisa tertawa lepas mendengar kejujuran Azkia.


"Tuh kan, diketawain!" kesal Azkia dengan wajah ditekuknya.


"Lagi bayangin, kamu jadi dokter terus pingsan gara-gara liat jarum suntik," ucap Rayhan sambil memegangi perutnya.


"Yaudah gak usah di bayangin juga!" kesal Azkia.


"Maaf-maaf, habisnya ekspresimu lucu sekali." Rayhan menatap wajah cantik didepannya itu.


"Eheemm!" terdengar deheman dari seseorang yang membuat mereka berdua tersadar.


Terlihat seseorang tengah bersadar pada mobilnya, dengan tangan yang ia lipat didepan dada. Kacamata hitam yang menutupi mata tajamnya. Bahkan aura dingin sangat kentara saat berada didekatnya. Seolah aura dingin itu mampu membunuh siapa saja yang berani mendekatinya.


"Azka!" ucap Azkia begitu juga dengan Rayhan.


"Ngapain disini?" tanya Azkia yang melupakan janji yang sudah dibuat mamanya.


"Halo, Ka... lama gak ketemu," ucap Rayhan basa basi.


"MASUK! perintah Azka, suaranya terdengar sangat dingin.


"Mau kemana?" tanya Azkia dengan wajah bingung.


Azka yang sudah membukak kan pintu mobil untuk Azkia hanya diam sambil menatap Azkia. Dari tatapan itu seolah berbicara masuk sekarang.


"Kak duluan!" ucap Azkia pada Rayhan, kemudian masuk kedalam mobil.

__ADS_1


BRAK!


Suara pintu yang ditutup itu cukup keras membuat orang-orang disekitar mereka menatap penasaran. Azka tidak menghiraukannya, bahkan suara Rayhan pun seolah hanya angin lalu untuk Azka.


"Gue peringatin jangan deket-deket sama calon istri gue!" ucap Azka setelah itu ia masuk kedalam mobil.


Namun, Azka sempat mendengar ucapan Rayhan walaupun samar.


"Baru juga calon," lirih Rayhan.


Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia hanya terfokus pada jalanan yang ada di depannya. Azkia bingung kenapa tiba-tiba Azka marah padanya. Ingin sekali Azkia mengajak bicara tapi rasa takut itu seolah menghantui Azkia.


Ciitt!


Tanpa sengaja Azka hampir menabrak seseorang yang menyebrang jalan. Orang itu terlihat memaki Azka, untung saja tidak terdengar jelas makiannya.


"Ahh! Hati-hati, Azka!" spontan saja Azkia memejamkan matanya.


Azka hanya diam saja, ia memukul setir mobil itu lagi karena kesal.


"Se-sebenarnya kita mau kemana?" akhirnya Azkia berani bertanya.


Azka melirik sekilas lalu kembali lagi fokus menyetir mobil. Diamnya Azka membuat Azkia resah. Karena tidak tahu harus bagaiamana agar Azka tidak seperti ini.


"Azka?" panggil Azkia.


"...."


"Kamu kenapa? Kita mau kemana?" tanya Azkia.


"Seru ya ngombrol sama senior sampai lupa janji," ucap Azka dingin.


"Janji apa?" tanya Azkia benar-benar lupa.


"Gue pernah bilang, jangan deket-deket sama yang namanya Rayhan! Lo bisa gak sih dibilangin? Hah!" bentak Azka, ia mencengkram kuat stir mobilnya.


"Tadi itu gak sengaja ketemu sama Kak Rayhan, lagian aku gak ngapa-ngapain sama dia," bela Azkia.


"Cih, gak ngapa-ngapain lo bilang? Lo bisa tertawa lepas sama dia dan lo lupain janji yang udah mama lo buat!" bentak Azka.


"Lo gak tau berapa lama gue nungguin lo, sampai meeting penting gue tunda!" lanjt Azka.


Deg!


"Janji yang dibuat mama, apa yang Azka maksud janji buat fiting baju," batin Azkia.


"Dan gue udah bilang berapa kali sama, lo? Jangan pernah lo silent ponsel, lo!" ucap Azka dingin.


"Maaf," lirih Azkia sambil menunduk.


"Kenapa lo susah banget sih nurut sama gue?" tanya Azka, nadanya terdengar putus asa.


"Ma-maaf, hiks hiks." Azkia menangis.


"Inget loh kita bentar lagi mau nikah, tolong rubah sikap lo yang seperti ini!" kata Azka kemudian turun dari mobil membiarkan Azkia menangis sendirian.

__ADS_1


Sebenarnya Azka tidak tega jika harus membentak Azkia, tapi bagaimana lagi rasa cemburu sudah membuatnya buta. Untung saja Azka mampu menahan amarahnya dengan tidak memukul Rayhan didepan banyak orang. Jika tidak, entahlah apa yang sudah terjadi.


Tok tok tok!


Azka mengetuk pintu mobil itu dari luar, ia memberikan kode pada Azkia untuk keluar dari mobil. Azkia menurut saja, kemudian ia disodorkan sebotol air meneral dan juga tissu.


"Diminum," ucap Azka yang terdengar masih dingin.


Botol air mineral itu sudah Azka buka, sehingga Azkia tinggal meminumnya saja. Tangan Azka terulur, ia menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Azkia.


Ibu jari Azka mengusap lembut butir-butir air mata yang masih tersisah dipipi Azkia.


Lalu tangan besar itu memegang erat jemari Azkia, mengajak masuk kedalam sebuah butik.


"Hangat!" batin Azkia menatap tangan yang sedang menggandengnya itu.


"Ayo, udah ditunggui mama dari tadi," ucap Azka tanpa menoleh kearah Azkia.


Mereka berdua memasuki sebuah butik, terlihat banyak gaun dan juga kebaya yang terlihat cantik-cantik. Azka hanya diam saja saat pelayan toko itu menyapa mereka.


Hingga suara yang sudah tidak asing lagi untuk mereka terdengar sedang memanggil.


"Azka, Azkia!" panggil mama Lala.


Terlihat seorang ibu paruh baya menghapiri mereka berdua. Azka langsung menyalaminya begitu juga dengan Azkia.


"Astaga kalian dari mana saja, mama kira kalian tidak datang.... mama udah nunggu kalian hampir dua jam," ucap mama Lala.


"Maaf, mah... tadi Azka masih ada kerjaan dikantor jadi terlambat buat jemput Kia," ucap Azka.


"Lain kali kabarin mama, biar mama gak khawatir... ya sudah kalian pilih-pilih dulu mau yang mana." mama Lala mengusap pelan lengan Azka kemudian ia pergi bersama salah satu karyawan toko untuk melihat model lain.


Azkia hanya bisa diam sambil tersenyum, "Dia gak bilang yang sebenarnya buat lindungin aku," batin Azkia.


"Pilih aja, terserah yang mana," kata Azka dingin.


"Sikap dia bisa berubah begitu cepat," batin Azkia.


"Makasih," ucap Azkia.


"Buat?" tanya Azka bingung.


"Itu tadi, kamu gak bilang sama mama alasan sebenarnya kenapa kita terlambat," ucap Azkia sedikit takut.


"Aku cuma gak mau mama kecewa sama anaknya sendiri," jawab Azka singkat tapi terasa perih di hati Azkia.


Azkia mengangguk, matanya terasa panas lagi namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Mungkin ini yang dibilang orang, cobaan sebelum hari H," gumana Azka yang masih bisa didengar jelas oleh Azkia.


Karena memang Azka berdiri membelakangi Azkia sambil memilih jas yang cocok resepsinya nanti.


"Maaf," lirih Azkia.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2