Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Maafin Aku


__ADS_3

"Kita harus kabarin orang tua Azka, Van." ucap Ciko sambil duduk di sebelah Devan.


"Oke, gue telepon bokap Azka... kalian hubungi Azkia." ucap Devan sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Ngapain ngasih tau Azkia? Ini semua gara - gara dia, Azka jadi kayak gini." ucap Attaya yang baru saja kembali dari kantin. Bajunya sudah berganti dengan yang bersih tidak ada noda darah lagi, namun rahangnya sudah mengeras saat mendengar Devan menyuruh Bobo untuk memberi tahu Azkia.


"Jangan gitu, Ta... ini semua cuma salah paham aja." saut Bobo.


"Salah paham apa? Kalian mau belain cewek itu." bentak Attaya, jidanya mulai berkerut mendengar penuturan Bobo.


"Pas lo nyusulin Azka tadi, Azkia sudah ceritain semuanya sama kita." jawab Devan mengurungkan niatnya untuk menghubungi orang tua Azka.


"Maksutnya?" tanya Attaya bingung.


"Jadi tuh gini, Ta." Devan mulai menceritakan saat tadi Azkia memberitahu siapa Axel itu.


Flashback On


"Azka akan baik - baik aja kan, Van Bob, Ko?" tanya Azkia kepada mereka bertiga.


"Lo tenang aja Azka akan baik - baik aja kok." ucap Bobo mencoba menenangkan Azkia.


"Dia cemburu sama lo!" celetuk Ciko kesal karena Azkia lebih memilih menolong Axel terlebih dahulu dari pada Azka.


"Alus mas dia cewek loh." canda Bobo dengan suara yang dibuat - buat.


"Dia siapa, Ki?" tanya Devan kepada Azkia.


"Dia? maksut lo Axel?" tanya Azkia, dan diangguki oleh ketiga cowok didepannya itu.


"Dia itu abang gue, dia baru pulang dari Amerika.. tadi pagi baru aja gue jemput dari bandara." jelas Azkia sambil menatap ketiga cowok itu.


"Yakin abang lo, kok mesra banget?" tanya Bobo yang sangat penasaran dari tadi.


"Iya Bob, dia abang gue... udah hampir dua tahun dia kuliah di luar negeri, ini baru balik... gue ini adek satu - satunya makanya dia itu manjain gue banget, kalo orang gak kenal sering disangka gue ini pacarnya." jelas Azkia, mereka mencari kebenaran dari mata Azkia dan benar saja tidak terlihat kebohongan dari mata bulat itu.


"Oke - oke berarti semua ini hanya salah paham." ucap Ciko dan mereka mengangguk menyetujui ucapan Ciko.

__ADS_1


"Ponsel lo mati ya? Azka dari tadi tuh hubungin lo tapi kagak ada balasan." tanya Devan


"Ponsel? Astaga ponsel gue mode hening, gue gak tau kalo Azka hubungin gue." ucap Azkia sambil melihat layar ponselnya yang sudah penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Azka.


"Lain kali jagan gitu lagi, Ki... kasian Azka tau gak!" ucap Bobo sambil menghela nafasnya berat.


"Gini banget ya kalo punya pacar, gue kira seneng terus... ini miskom aja jadi ribut urusannya." batin Bobo sambil melihat gadis di depannya ini yang sibuk dengan ponselnya.


"Maaf, Azka gimana dong kayaknya marah banget?" tanya Azkia yang kebingungan.


"Tenang aja nanti gue jelasin, tapi lo juga harus jelasin sendiri ke dia." kata Devan sambil menepuk bahu Azkia agar lebih tenang, Azkia hanya mengangguk mengerti.


"Yaudah gue duluan, jangan lupa kabarin soal Azka.... nanti kalo udah tenang gue jelasin sendiri sama Azka." ucap Azkia sambil melambaikan tangan kepada Bobo, Ciko dan Devan.


Flasback Off


"Yaudah, kasih tau Azkia sekarang." perintah Attaya saat dirinya sudah mendengar cerita dari Devan.


Kemudian Bobo menghubungi Azkia sedangkan Devan menghubungi orang tua Azka yang sedang berada di luar negeri.


Setelah beberapa saat akhirnya ruang UGD terbuka juga, di balik pintu yang sedari tadi tertutup rapat itu muncullah seseorang yang mengenakan baju serba putih. Dokter itu keluar dari UGD, sambil mengelap sedikit keringat yang membasahi pilipisnya.


"Gimana keadaan Azka dok?" bukannya menjawab Attaya malah balik bertanya kepada doket.


"Anda siapanya?" tanya doket itu.


"Kami sahabatnya dok." jawab Devan.


"Maaf keluarga pasien dimana ya, karena ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengan keluarganya." jelas doket.


"Sama kita aja dok, kita juga keluarganya.. orang tua Azka masih dalam perjalan dari luar negeri." jawab Attaya penuh dengan keyakinan.


"Baiklah, pasien mengalami cedera yang lumayan pada bahunya... dan juga karena benturan yang cukup keras mengakibatkan pasien mengalami koma, kita berdoa saja agar pasien cepat sadar." jelas doket itu secara perlahan agar mereka tidak panik.


"Apa koma dok, gak mungkin kan dok.. doket bercanda kan?" tanya Attaya yang tidak bisa menerima ini semua.


Doket hanya menggeleng yang berarti dia tidak bercanda dengan apa yang tadi ia ucapkan. Kemudian doker itu undur diri dari hadapan mereka, sedangkan Azka bisa di pindahkan di ruang rawat inap. Devan memilih ruang VIP agar Azka nyaman dan cepat pulih meskipun dia masih koma.

__ADS_1


"Azka Van... Azka koma, Van hiks hiks." ucap Attaya tidak menyangka ini akan terjadi pada sahabatnya.


Mereka berempat saling berpelukan untuk menguatkan satu dengan yang lainnya. Tiba - tiba saja dari arah belakang mereka ada seseorang yang mengagetkan, suaranya bergetar air matanya sudah mengalir dengan deras di pipi putih itu.


"Ini boong kan, yang gue denger tadi bohong kan.. Azka gak papa kan?" tanya Azkia yang sudah berdiri tepat di belakang mereka berempat, air matanya seakan enggan berhenti mengalir.


"Az - Azka baik - baik aja kan, Van, Ta.. jawab gue yang gue denger tadi bohong kan?" tanya Azkia sambil mengguncangkan lengan Attaya dan Devan. Lidah mereka berdua menjadi kelu saat melihat air mata Azkia, mereka tahu jika Azkia sangat syok dengan ini semua sama halnya dengan mereka berempat.


"Jawab gue!" bentak Azkia sambil terisak dalam tangisnya, Devan mencoba tegar dia mengangguk membenarkan pertanyaan Azkia.


Kemudian Axel muncul dan Azkia berlari kearah abangnya itu sambil memeluknya dengan erat. Azkia menangis sejadinya dalam dekapan Axel, hingga dada bidang Axel terlihat basah oleh air mata Azkia.


"Kenapa hmm?" tanya Axel sambil mengelus punggung Azkia.


"Azka bang, Azka koma... ini gak benerkan?" ucap Azkia yang masih saja terisak dalam tangis, suaranya bergetar saat mengucapkan nama Azka.


Axel yang tidak tahu apapun langsung menoleh kepada empat cowok yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya, mereka yang paham akan tatapan Axel langsung saja mengangguk.


"Doain biar cepet siuman." ucap Axel sambil mengusap air mata Azkia. "Sekarang dia dimana?" tanya Axel.


"Udah dipindahin bang." jawab Bobo.


"Tapi belum boleh dijenguk karena kondisinya masih belum stabil." lanjut Devan. Sedangkan Axel hanya mengagguk.


"Bang, Kia mau lihat Azka." ucap Azkia, kemudian mereka di bawa keruang rawat Azka.


Dari pintu terlihat Azka yang terbaring lemah, wajahnya penuh dengan luka keunguan. Luka itu dari pertarungannya tadi dengan Axel, sedangkan kepalanya dibalut dengan perban. Sedangkan bahunya terpasang gips agar tulang yang terbentur tadi cepat pulih.


Tanpa sadar Azkia dan yang lainnya menitihkan air mata lagi, mereka tidak tega melihat Azka seperti ini. Terlebih lagi orang tuanya yang belum juga sampai hingga saat ini.


"Azka, maafin aku.." ucap Azkia sambil membelain pintu kaca ruangan Azka, karena mereka belum di perbolehkan masuk. Tangisnya kembali tumpah begitu saja, dia mengingat semua hal yang sudah mereka lalui bersama.


......................


...Allah mampu menciptakan kita, apa lagi hanya meluluhkan hatimu yang keras adalah hal mudah, karena allah yang bisa membolak balikkan hati....


...~E H~...

__ADS_1


...............


Author cuma bisa bilang makasih buat kalian yg udh like dan comnt karya author, maaf bila tidak bsa membalas comnt kalian... semoga berkah sllu buat kalian.


__ADS_2