
Ketika seseorang yang sudah lama kau rindukan datang,
Tanpa ada senyum ataupun sapaan,
Bukan menghilangkan rindu
Namun semakin membuat rindu itu memuncak,
Pelukan hangat mampu menjadi penawar rindu untuk sementara waktu,
atau mungkin membuatnya semakin rindu,.hingga tak terbendung lagi..
Salam rindu untukmu
~ E H ~
...———————————...
"Na-Nayla, gu-gue su-su," sekita saja Attaya menjadi gagap, tangannya sudah terasa dingin.
"Susu saya susu bendera!" nyanyi Bobo yang usil.
"Suutt jangan ganggu!" ucap Azkia sambil menempelkan jari telunjuknya didepan mulut.
"Ganggu aja, anak tuyul!" Devan menjitak pelan kepala Bobo.
"Lanjut, Ta!" seru Ciko.
"Gu-gue suka sama lo, Nay!" ucap Attaya sambil memejamkan matanya yang tidak berani menatap Nayla.
Sontak saja hal itu membuat mereka semua mengerubungi Attaya dan Nayla.
"Terima ... terima... terima!" seru mereka semua dengan kompak.
Sedangkan Attaya tanggannya sudah keluar keringat dingin dan itu bisa dirasakan oleh Nayla yang tangannya masih di genggam oleh Attaya.
Nayla diam menunduk, antara malu dan senang bercanpur menjadi satu dalam hatinya. Nayla bingung harus menjawab apa, karena ini baru pertama kali untuknya.
"Terima... terima!" sorak mereka semakin kencang membuat Nayla samakin menunduk.
Namun panggilan Attaya mampu membuatnya menjadi tuli dengan semua teriakan orang - orang disekitarnya. Hanya suara Attaya yang ia dengar, bahkan suara Devira saja tidak ia hiraukan sama sekali.
"Gi-gimana?" tanya Attaya dengan malu - malu.
Nayla memberanikan dirinya menatap Attaya, matanya terfokus pada mata hazel Attaya. Sedangkan Attaya dia terlihat sangat menanti jawaban dari Nayla.
Gadis manis dengan kucir dua yang membuatnya terlihat feminim yang mampu meluluhkan hati Attaya. Awalnya Attaya selalu menganggap Nayla manja dan sedikit kekanak - kanakan. Namun hal itulah yang membuat Attaya tertarik dan menyukai Nayla.
"Hayoo gimana, jawabannya apa?" saut Bobo yang tidak sabaran.
"Gue gak bisa," ucap Nayla sambil menunduk.
Hal itu membuat Attaya lemas dan tidak bersemangat lagi
"Yaah kok gitu sih," seru salah satu siswa.
"Terima nasib,"
"Yang sabar ya, masih banyak jalan menuju Roma," ucap Bobo menepuk bahu Attaya.
"Jauh banget ke Roma?" saut Devan.
"Cih, cepat bilang keburu nanges tuh," saut Azka sambil menatap Nayla.
Ucapan itu membuat mereka semua menatap Azka dengan tatapan tidak mengerti.
Nayla yang mengerti maksud Azka langsung berkata,"Gue gak bisa nolak lo, Ta!" Nayla menatap mata yang membuatnya candu.
"Hah?" tanya Attaya bingung.
"Gue mau jadi pacar lo, Attaya!" tegas Nayla sekali lagi sambil menahan malunya, wajah putihnya sudah berubah menjadi merah seperti tomat.
Mereka semua diam sejenak mencerna kata - kata yang di ucapkan Nayla, hingga teriakan Bobo menyadarkan mereka semua.
"Makan - makan, asyik makan gratis!" teriak Bobo.
"Traktiran, Ta!"
__ADS_1
"Pajak jadiannya, ditunggu."
"Selamat ya, sobat gue udah gak jones lagi," Devira memeluk Nayla diikuti Azkia.
"Selamat, Nay," ucap Azkia.
"Oke pulang sekolah kita makan - makan, Attaya yang traktir!" seru Bobo dan diiyakan oleh mereka semua.
Attaya? Dia masih tidak percaya dengan jawaban yang sudah dia dengar, berkali - kali Attaya mencubit lengannya. Berharap ini semua bukan mimpi.
Plak!
Azka menampar pipi Attaya hingga menimbulkan bunyi.
"Sakit?" tanya Azka.
"Sakit ngab!" kesal Attaya sambil mengusap pipinya.
"Berarti lo gak mimpi!" seru Devan.
"Jangan lupa pulang sekolah makan - makan, lo yang traktir," ucap Bobo sambil merangkul bahu Attaya.
"Iya deh iya," saut Attaya, yang membuat mereka semua berseru bahagia.
...............
Mereka berjalan dengan santainya menuju Cafe tempat biasanya mereka menghabiskan waktu, sesekali candaan Bobo membuat mereka semua tertawa. Ya hari ini Attaya akan mentraktir mereka semua karena cinta Attaya berhasil di terima oleh Nayla.
Cafe yang sudah terlihat ramai itu semakin ramai setelah kedatangan Attaya dan kawan - kawan. Attaya sudah memesan satu tempat di bagian atas untuk teman - temannya. Panas? Pasti tapi cafe di bagian atas ini adalah tempat paling favorit, karena saat sore bisa melihat senja yang sangat indah.
"Akhirnya makan geden haha," ucap Bobo sambil tertawa.
"Geden?" tanya Ciko yang tidak paham kata - kata Bobo.
"Makan besar, Ko." Bobo mengambil piring dan mengisi dengan berbagai makanan yang ia sukai.
"Ohh."
"Astaga, lo udah gak makan berapa hari Bob?" tanya Devan yang heran melihat piring Bobo penuh dengan makanan.
"Gratisan aja cepet," ucap Azka sambil meleparkan kacang kearah Bobo.
Bukannya menghindar Bobo membuka mulutnya dan menangkap kacang itu dengan mulutnya.
"Mubazir, makanan jangan di buang-buang," ucap Bobo sambil mengunyah kacang itu.
Sedangkan yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bobo.
"Ini yang baru jadian langsung musuhan, ya?" tanya Devira.
"Kok musuhan?" tanya Azkia tidak mengerti.
"Lah itu pada diam-diaman gitu," ucap Devira sambil menunjuk Attaya dan Nayla menggunakan dagunya.
"Maklum masih anget!" canda Devan sambil tertawa terbahak - bahak hingga tersedak.
"Uhukk,"
"Syukurin kualat lo haha," ucap Devira namun tangannya tetap menberikan segelas minuman kepada Devan.
"Aaaa," ucap Azkia sambil menyodorkan satu sendok kue.
Azka ragu untuk menerima suapan itu, hal itu membuat Azkia cemberut. Dengan terpaksa Azka menerima suapain itu meski dirinya menahan malu di depan semua teman - temannya.
"Enak?" tanya Azkia, Azka hanya mengangguk saja sambil mengelap bibirnya yang terdapat sedikit cream.
"Mau lagi?" tanya Azkia.
"Gue makan sendiri aja." Azka merampas sendok yang ada di tangan Azkia.
"Suapin juga!" perintah Azkia dengan manja, membuat semua yang ada di meja itu menatap Azkia dan Azka.
"Yaudahlah gak usa—" kesal Azkia saat melihat tidak ada respon dari Azka.
Azka menyendokkan es cream yang ada di depannya, lalu menyuapkannya kepada Azkia saat dirinya masih menggerutu.
"Enak?" tanya Azka, sambil mengelap bibir Azkia.
__ADS_1
"Dingin kaya kamu," canda Azkia sambil terkekeh sedangkan teman - temannya yang lain hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Mau disuapin juga?" tanya Attaya.
"Boleh," jawab Nayla malu - malu namun terlihat lucu.
Kemudian Attaya juga menyuapi Nayla, hal itu membuat para jomblo kesal.
"Ko, aaaa ayo aaa!" perintah Bobo sambil menyodorkan sesendok nasi kedepan mulut Ciko.
"Apaan sih!" kesal Ciko sambil maunyingkirkan tangan Bobo.
"Yaelah yang lain pada suap-suapan itu, masa kita kagak?" ucap Bobo terus menyodorkan sendoknya.
"Tuh sama tembok," ucap Ciko dengan ketus, namun membuat mereka semua tertawa.
"Jomblo gini amat," keluh Bobo sambil menyuapkan nasi itu kedalam mulutnya sendiri.
"Ka, aku ke toilet dulu, ya." pamit Azkia.
"Mau dianterin gak?" tanya Azka yang akan berdiri dari duduknya.
"Halah modus," celetuk Devan.
"Iya tuh modus mau berdua-duaan kan," cibir Bobo.
"Iri?" tanya Azka.
"Canda doang, bos!" saut Bobo sedangkan Devan tertawa melihat nyali Bobo menciut.
"Gak usah, bisa sendiri kok," ucap Azkia sambil menepuk bahu Azka pelan.
"Kalo ada apa-apa panggil aja," kata Azka.
"Siap ndan!" Azkia tertawa sambil melangkah menuju toilet.
.........
Setelah beberapa saat Azkia keluar dari toilet, kemudian berniat kembali bersama teman-temannya. Namun saat menaiki tangga Azkia tanpa sengaja di tabrak oleh seseorang yang tengah terburu - buru.
Bruk!
Badan Azkia tanpa sengaja bertabrakan dengannya, membuat Azkia oleng hingga terbentur dinding.
"Maaf banget aku tidak sengaja," ucapnya sambil membantu Azkia berdiri tegak.
Deg!
"Suara yang sangat familiar," batin Azkia, dengan wajah menunduk dan sedikit tertutup rambut yang ia biarkan tergerai.
"Permisi aku buru-buru," lanjutnya lagi bahkan Azkia saja belum mengucapkan sepatah kata orang itu sudah pergi.
Azkia mendongak melihat siapa yang menabraknya, ternyata seorang laki-laki dengan suara yang tidak asing baginya.
"Wangi parfum ini," gumam Azkia.
Hatinya mulai resah, dengan segera Azkia mencoba mengejar laki-laki tersebut, namun sayang Azkia tidak menemukan jejaknya lagi.
Saat tengah sibuk mengamati sekitar Azkia tidak mendengar jika ada langkah kaki yang mulai mendekatinya.
"Cari siapa?" tanyanya.
Azkia membali badan, terlihatlah Azka dibelakangnya yang ikut melihat sekeliling melihat siapa yang dicari Azkia.
"Ga-gak cari siapa-siapa, kamu kenapa disini?" tanya Azkia mencoba mengalihkan percakapan.
"Nyusulin, lo lama banget," jawab Azka sambil mengandeng tangan Azkia agar mengikutinya naik menuju tepatnya tadi.
Dengan patuh Azkia mengikuti Azka, namun matanya masih sibuk mencari seseorang yang sudah lama menghilang dari hidupnya itu.
"Ayo!" ucap Azka sedikit keras agar Azkia mendengarnya.
"A-ayo," jawabnya melanjutkan langkah kakinya dengan perasaan gelisah.
....... .. ........ ..................................................... ............
Jangan lupa Gift dan tinggalkan jejak agar author smngt up :)
__ADS_1