
Azka melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Azkia yang terlihat sembab.
"Kenapa?" tanya Azka sambil mengusap lembut air mata Azkia.
Azkia menggeleng, rasanya ia tidak bisa berbicara saat ditanya begitu oleh Azka. Ia memilih membenamkan wajahnya pada dada bidang Azka. Tangan itu semakin mempererat pelukannya pada pinggang Azka.
Azka mengusap pelan rambut Azkia, sesekali menciumnya. Azka memberiarkan dadanya basah oleh air mata Azkia.
"Nyun, aku udah disini jangan nangis. Oke?" lirih Azka sambi menangkup kedua pipi Azkia.
Azkia mengangguk sambil menatap mata hazel milik Azka. Lagi-lagi wajah Azka semakin mendekat membuat detak jantung Azkia berdetak dengan cepat.
"Tenang, Kia... lo jangan panik, Azka pasti cuma ngprank lagi," batin Azkia.
Azkia terus menatap mata yang membuatnya candu itu, hingga sesuatu yang lembut hampir menyentuh bibirnya. Namun terhenti ketika mendengar suara seseorang.
"Azka! Makanan yang lo pesen udah da...tang! Eh... maaf gue ganggu!" ucap Devan langsung berlari menuruti anak tangga seperti melihat setan.
Dengan cepat Azkia mendorong tubuh Azka agar menjauhinya, membuat tubuh Azka sedikit membentur dinding. Wajah Azkia sudah memerah, ia malu karena ketahuan oleh Devan.
"Cih!" decak Azka karena kesal. Hampir saja bibirnya menyentuh bibir milik Azkia tetapi gagal karena kehadiran Devan.
"Ak-aku kebawah duluan!" setelah berkata seperti itu Azkia berlari menuju lantai bawah sambil menunduk.
Azka menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Tunggu oleh-oleh dari gue, Nyun!" kata Azka sambil tersenyul tipis.
Kemudian ia bergabung dengan teman-temannya di lantai bawah. Mereka sedang menyantab beberapa makanan yang sudah Azka pesan lewat aplikasi online.
"azka kenapa diam disitu, cepet kesini keburu dihabisin sama Bobo makannya!" teriak Attaya yang mengetahui Azka hanya berdiri menatap mereka.
Bobo dan Ciko sudah datang ke rumah Azka setelah diberitahu oleh Attaya. Bobo yang melihat Azka langsung saja memeluk Azka, membuat Azka sesak nafas karena pelukannya sangat erat.
"Le-lepasin, lo mau bunuh gue!" kesal Azka sambil memukul lengan Bobo.
"Maaf, gue kangen sama lo!" ucap Bobo sambil terkekeh.
"Gimana kabar lo, Ka?" tanya Ciko yang menyalami Azka.
"Baik, makin keren aja lo, Ko!" ucap Azka sambil terkekeh.
"Jangan salah, Ka... si kutu buku udah berubah jadi bucin juga," ledek Devan sambil terkekeh.
"Hah, masa? Lo udah ada doi?" tanya Azka yang sudah duduk di dekat Azkia.
"Udah," jawab Ciko singkat, ia sedikit malu mengakuinya.
"Lo inget gak, Ka... sama ketua kelas sebelah?" tanya Devan.
__ADS_1
"Inget," saut Azka sambil meminum mimuman kaleng yang ada di depannya.
"Ya it—"
"Nah itu dia pacarnya!" saut Bobo tiba-tiba.
"Gak usah teriak juga kali, sakit kuping gue!" kesal Attaya.
Azka hanya mengangguk saja, mendengarkan mereka semua bercerita kepada Azka. Karena memang banyak hal yang tidak Azka ketahui saat dirinya berada di luar negeri.
Azka melirik sekilas gadis sebelahnya, ia sedang tertawa bersama ketiga sahabatnya.
"Manis!" gumam Azka, matanya fokus pada bibir Azkia.
"Hah apanya yang manis?" tanya Ciko. Lalu ia memgikuti arah pandang mata Azka.
"Lo emang belum pernah?" tanya Ciko penasaran.
Mendnegar pertanyaan itu membuat Azka menoleh kearah Ciko, lalu ia balik bertanya, "Emangnya lo udah pernah?"
Ciko mengangguk sambil tersenyum, kemudian mata Azka beralih menatap Devan dan juga Attaya. Mereka berdua juga mengangguk seperti Ciko, kecuali Bobo yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo kenapa belum pernah?" tanya Azka langsung intinya.
"Gue kan ma—" ucapan Bobo terpotong oleh ketiga temannya.
"Jomblo akut!" ucap mereka bertiga serentah yang membuat gelak tawa.
"Terus lo kenapa belum?" tanya Ciko penasaran, karena Ciko tahu Azka bukan anak baik-baik atau pendiam seperti dirinya.
Azka hanya diam saja sambil meminum minuman kalengnya, tapi matanya menatap Devan tajam. Seolah Azka sedang melihat buruannya dan sekali tanggap akan memakan habis mangsanya itu.
Devan yang merasa diperhatian hanya bisa tersenyum paksa. Ya karena dirinya Azka tidak jadi mencium Azkia padahal hanya kurang sedikit lagi.
"Ampun bos," lirik Devan.
"Kenapa?" tanya Attaya penasaran.
Kemudian Devan menceritakan apa yang ia lihat tadi pada Ciko, Bobo dan juga Attaya. Sedangkan Azka ia malas mendengar hal itu. Untung saja Devan bercerita sangat pelan sehingga ketiga perempuan itu tidak mendengarnya.
"Nyun?" panggil Azka membuat Azkia menoleh kearahnya sambil mengangkat sebelah alisnya seolah sedang bertanya kenapa?
"Suapin!" pinta Azka sedikit manja.
Lucu, ya hal itu membuat Azkia terkekeh. Sedangkan parah sahabatnya hanya menatap dengan malas.
"Lain kali gue ajak, Clarisa aja kesini!" dengus Ciko sambil memakan camilannya.
"Jangan dong gue nanti jadi obat nyamuk sendirian!" cegah Bobo.
__ADS_1
"Makanya cari pacar lah," kata Devira.
"Bener tuh, nanti kita jalan bareng kan seru," sambung Nayla.
"Kalau aja cari pacar segampang itu," ucap Bobo dengan lesu.
Sedangkan Azka hanya diam saja, ia sibuk menikmati setiap suapan dari Azkia. Tidak di pungkiri perutnya memang terasa sangat lapar. Karena hampir seharian penuh sejak penerbangannya Azka belum makan apapun.
Tiba-tiba saja ada ponsel yang terus berdering membuat mereka menatap sumber suara itu yang tidak lain dari ponsel milik Azka.
"Ponsel lo, berisik!" keluh Bobo.
"Angkat lah, siapa tau penting," saran Devan.
"Dari om Yudha," kata Azkia sambil memberikan ponselnya kepada Azka.
Azka menerima panggilan telepon itu tanpa beranjak dari tempatnya duduk.
Setelah beberapa saat ponsel itu kembali ia letakkan diatas nakas, yang berarti sudah selesai percakapan antara ayah dan anak itu.
"Kenapa?" tanya Azkia yang melihat wajah Azka sedikit di tekuk.
"Papa nyuruh aku buat handel perusahaannya mulai besok," ucap Azka dengan helaan nafas yang terdengar berat.
"Bagus dong, terus kenapa?" tanya Attata.
"Gue kan baru balik, belum juga istirahat," gerutu Azka.
"Kan masih besok, Ka," kata Ciko, Azka malas menanggapi hanya diam saja.
Mereka kembali bertukar cerita selama Azka diluar negeri hingga larut malam mereka memutuskan untuk pulang.
"Maaf gak bisa nganterin pulang," ucap Azka.
Azkia tersenyum manis kepada Azka, "Gak apa-apa kok, kamu cepet istirahat ya!"
Azka megangguk kemudian membawa Azkia dalam pelukannya, hingga teriakan Devira memaksa Azkia untuk melepaskan pelukan itu.
"Ayo Azkia keburu pagi!" gerutu Devira.
"Iya-iya sabar!" teriak Azkia.
"Yaudah aku pamit dulu, ya!" ucap Azkia kepada Azka.
"Iya hati-hati, besok aku antar ke kampusnya," ucap Azka.
"Baiklah, makasih buat kejutannya hari ini," kata Azkia kemudian dengan cepat ia mencium pipi Azka setelah itu berlari dengan cepat menuju mobil Devira. Menyisahkan Azka yang masih berdiri mematung memegangi pipinya.
"Mulai berani, ya?" ucap Azka sambil melambaikan tangan pada Azkia.
__ADS_1
...----------------...