
Setelah pulang sekolah mereka semua berkumpul di parkiran hanya untuk menunggu Azka, karena hanya Azka yang belum ada. Bobo sudah mulai kesal karena Azka tidak juga kembali dari toilet, cacing diperut Bobo sudah memberontak untuk diisi.
"Azka mana, sih?" tanya Bobo sambil mencari-cari barangkali Azka sudah kembali.
"Toilet," saut Ciko yang masih fokus pada buku yang selalu ia bawa.
"Gue tahu! Maksud gue lama banget, mules apa gimana tuh si Azka," gerutu Bobo.
"Sabar ngab, lo ngeselin kalo laper," canda Devan.
Sedangkan Azka dengan santainya berjalan ke parkiran, ia tidak merasa jika dirinya sedang ditunggu. Azka mendapat tatapan tajam dari teman-temannya.
"Kenapa?" tanya Azka tanpa dosa.
"Cih, lo gak peka apa pura-pura gak peka sih, Ka!" kesal Attaya.
"Gak peka," saut Azka sambil menghampiri Azkia.
"Lo tidur di kamar mandi, Ka? Lama banget sih!" kesal Bobo
"Gak," jawab Azka
Azkia hanya tertawa melihat itu, ia sudah paham dengan sikap Azka.
"Ya allah kita dari tadi nungguin lo, lo datang dengan santainya dan tanpa dosa! Lo gak tau perut gue udah dangdutan ini," gerutu Bobo.
"Kenapa gak duluan?" tanya Azka.
"Tauk ah gelap!" kesal Bobo.
"Udah ayo berangkat!" ajak Devan, yang sudah memakai helm fullfacenya.
"Mobil gue gimana?" tanya Devira, karena hanya dia yang membawa mobil sedangkan yang lain membawa motor sportnya.
"Jual aja buat tambah uang makan-makan," canda Attaya sambil terkekeh.
"Janga gitu yank nanti Devira nangis lo," ucap Nayla sambil mencubit pelan lengan Attaya.
"Bercanda sayang," ucap Attaya dengan manis.
"Hueeeekkk!" terdengar suara orang muntah yang tidak lain dari mereka semua.
"Bucinnya ditunda dulu, kita berangkat dulu," saran Devan.
Mereka semua menganggu menyetujui saran Devan.
"Kamu ikut aku aja, mobilnya biar disini!"perintah Devan.
"Nanti ilang gimana?" tanya Devira.
"Gak akan gue jamin," ucapan itu mampu menyakinkan Devira.
Sehingga mereka semua menuju tempat biasa dengan menggunakan motor dan saling berpasang-pasangan.
Namun tidak dengan Bobo dan Ciko, mereka berdua masih menyandang status jomblo.
"Jomblo gini amat ya, ngeliat yang uwuuwuan .. kita kapan kek gitu, Ko?" tanya Bobo yang duduk di belakang.
"Kapan-kapan," saut Ciko yang fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Gue juga mau," ucap Bobo sambil memeluk pinggang Ciko.
"Eh gila! Lepasin geli, gue masih normal!" teriak Ciko sambil melepaskan tangan Bono dari pinggangnya.
Namun bukan Bobo namanya yang tidak bisa membuat Ciko marah, Bobo tidak melepaskan pelukan itu. Bobo semakin mempererat pelukannya pada pinggang Ciko. Karena iri melihat semuanya di peluk oleh pacarnya masing-masing.
"LEPASIN WOY!" teriak Ciko.
"gak mau, gue pengen dipeluk juga kek mereka," ucap Ciko.
"Tapi jangan peluk gue, gue masih Normal!" kesal Ciko yang membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian karena berteriak-teriak dijalan raya.
"Mesra amat ngab!" teriak Attaya sambil mensejajari motor Ciko.
"Berisik!" kesal Ciko.
"Uhuyy, pepet terus Bob!" teriak Devan yang ikut berada di samping kiri Ciko.
"Lanjutkan, Bob ... gue dukung!" Devira ikut berusuara sambil terkekeh.
"Jangan kenceng-kenceng beb, gue takut jatuh," canda Bobo yang berteriak di telinga Ciko.
"Astagfirullah, gue normal!" kesal Ciko membuat mereka semuanya tertawa.
Termasuk Azka dan Azkia yang berada dibelakang mereka.
"Mereka lucu ya?" ucap Azkia.
"Hah?" teriak Azka yang tidak dapat mendengar jelas suara Azkia.
"MEREKA LUCU!" teriak Azkia tepat ditelinga Azka.
"Halah, modus," sindir Azkia sambil terkekeh.
Azkia merentangkan kedua tangannya meradakan hembusan angin yang cukup kencang.
"Ngapain, bahaya!" teriak Azka.
"Lagi menikmati hidup!" saut Azkia yang masih saja merentangkan kedua tangannya.
Azka yang melihat itu menjadi panik karena jalanan yang mereka lalui cukup ramai. Dengan kesal Azka menarik tangan Azkia lalu menggenggamnya menggunakan tangan kiri.
Tangan kiri Azkia kini sudah berada dipaha Azka, tangan itu tidak bisa lepas karena digenggan erat oleh Azka.
"Lepasin, Ka," pinta Azkia.
"Gak, bahaya ... gue gak mau ibu dari anak-anak gue terluka," ucap Azka dengan mengeratkan tangannya.
Blush!
Wajah Azkia yang bertumpu pada bahu Azka pun menjadi memerah saat mendengar perkataan Azka. Hal sederhana namun bisa membuatnya bahagia.
"Ih apaan sih, masih kecil juga masa bahas anak," gerutu Azkia yang terlihat kesal, padahal itu hanya topeng untuk menyembunyikan kebahagian hati Azkia.
"Oh jadi gak mau jadi ibu dari anak-anakku?" tanya Azka.
"Ya mau lah!" jawab Azkia spontan membuatnya malu sendiri.
Azka hanya tersenyum mendengar penuturan Azkia. Tangan Azka mengarahkan agar Azkia memeluknya, Azkia hanya menurut saja karena hal itu sudah menjadi jandu bagi Azkia.
__ADS_1
Memeluk pinggang Azka dan bersadar pada punggung Azka yang lapang itu membuat Azkia merasa nyaman. Azkia betah jika harus berlama-lama dalam posisi tersebut, apalagi wangi parfum Azka yang sudah menjadi wangi favorit diindra penciuman Azkia.
Bahkan cuaca terik sekalipun tidak Azkia rasakan saat bersadar pada punggung Azka. Sejuk dan nyaman, itulah yang Azkia rasakan. Bahkan Azkia pernah tertidur saat dibonceng oleh Azka.
Azkia pun tersenyum dibalik punggung Azka, yang tidak bisa Azka lihat.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di Cafe yang biasa mereka datangi. Dengan tertib mereka memakirkan motor setelah itu berjalan masuk beriringan kedalam Cafe.
"Boleh pesen apa aja?" tanya Bobo yang sudah tidak sabar.
"Pesen apa aja boleh, Azka yang bayar!" teriak Attaya sambil mengikuti Bobo mencari tempat duduk.
"Ogah!" saut Azka.
"Ko! Gimana rasanya dipeluk Bobo ... jangan sampai nyaman ya!" tanya Devira sambil terkekeh.
"Cih, mana ada gue nyaman sama begituan," jawab Ciko dengan wajah ditekuknya.
"Hahaha... canda doang kali, Ko!" saut Nayla.
"Tapi kalian berdua cocok loh," imbuh Azkia tang masih mengandengan tangan Azka.
Ciko enggan menanggapi candaan mereka, ia hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Lalu menyusul Attaya dan juga Bobo.
"Jangan gitu kasian anak orang nanti nangis," kata Devan sambil memegang pucuk kepala Devira.
"Kalo nangis beliin permen aja," ucap Devira yang bergelayut manja di lengan Devan.
"Gue bukan anak kecil!" saut Ciko yang masih mendengar percakapan mereka.
Hal itu, membuat mereka semua tertawa hingga membuat pengunjung lain memperhatikan mereka.
"Seru juga gangguin si kutu buku," kata Azkia yang diangguki oleh Nayla dan Devira.
"Tapi jangan sampai naruh hati aja sama kutu buku," gumam Azka yang masih mampu didengar oleh mereka.
"Uhuuk ada cemburu tuh!" sindir Nayla.
"Ciee dicemburuin sama calon suami tuh " goda Devira sambil menyikut lengan Azkia.
"Apa sih," kata Azkia malu-malu.
"Hati-hati, yang modelan kek Azka gitu posesifnya masya allah," seru Nayla sambil terkekeh.
"Emang po—" ucapan Azkia terpotong saat mendengar teriakan Devan.
"Hei, kalian bertiga mau sampai kapan berdiri disitu? Cepet kesini, keburu dihabisin Bobo makannya!" teriak Devan sambil melambaikan tanggannya.
"Iyaa!" seru mereka bertiga dengan kompak.
Sedangkan Azka sudah duduk manis bersama Attaya, entahlah sejak kapan Devan dan Azka sudah bergabung dengan Attaya. Padahal tadi mereka masih nerdiei disebelah Azkia dan juga Devira.
Kemudian mereka memeaan makanan yang mereka inginkan, sesekali mereka tertawa saat tingkah Bobo yang selalu saja menggoda Ciko. Atau Azka yang bersikap dingin mamun sangat perhatian membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dibully.
Attaya yang selalu memperlihatkan kemesraannya bersama Nayla, sedangkan Devan dan Devira mereka berdua masih malu-malu.
...................
Mampir di karya author "Dighosting pacar!" makasih.
__ADS_1