Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Ayam Kecap


__ADS_3

Terlihat perempuan cantik dengan dres selutut berwarna maroon. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, sehingga sedikit berantakan karena tertiup angin. Ditangan kanannya terlihat sebuah paper bag yang entah apa isinya.


Perempuan itu turun dari mobilnya dan langsung saja menuju resepsionis untuk mencari tahu keberadaan Azka. Banyak pasang mata yang menatap kagum kearahnya, terlebih lagi saat ini sedang jam makan siang. Sehingga banyak karyawan yang berlalu-lalang.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis.


"Azkanya ada?" tanya perempuan itu langsung pada intinya.


"Pak Azka ada, tapi sepertinya sedang tidak menerima tamu," kata resepsionis.


"Hmm, kenapa?" tanyanya.


"Sejak tadi pagi mood Pak Azka sedang buruk sehingga banyak karyawan yang terkena imbasnya." ucap sang resepsionis.


"Apa gara-gara tadi pagi?" batin Azkia.


"Loh Kia ngapain disini? Gak langsung keruangan Azka?" kata seseorang yang berdiri dibelang perempuan itu.


"Devan? Ngapain disini?" tanya Azkia.


"Lagi berguru sama suhu," ucap Devan terkekeh.


Azkia menyerkitkan alisnya bingung dengan perkataan Devan.


"Lagi belajar bisnis sama Azka, tapi hari ini Azka terlihat aneh," adu Devan.


"Aneh kenapa?" tanya Azkia.


Para karyawan ada yang sudah tau siapa Azkia dan sebagian lagi belum tau. Karena sejak Azka menikah baru kali ini Azkia datang ke kantor sang suami.


"Ya aneh aja gitu, sejak tadi pagi dia datang udah marah-marah gak jelas gitu... bahkan banyak karyawan yang kena semprotnya, padahal cuma masalah sepele." jelas Devan sambil menyuruh Azkia untuk mengikutinya.


"Masa sih?" tanya Azkia tidak percaya.


"Liat aja sendiri," ucap Devan setelah keluar dari dalam lift.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan Azka, Devan yang sudah mengantar Azkia berpamitan untuk ke ruangannya sendiri. Hingga hanya ada Azkia yang berada didepan pintu ruangan Azka.


"Lo masuk sendiri aja, gue takut kena semprotnya," ucap Devan sambil berlalu.


Lena yang baru saja kembali dari kantin melihat seorang perempuan berdiri didepan ruangan Azka dengan membawa paper bag ditangannya. Dengan cepat Lena menghentikan Azkia saat ia akan masuk kedalam.


"Mau ngapain?" tanya Lena sambil menahan lengan Azkia agar tidak masuk.


"Masuk," singkat Azkia.


"Apakah sudah buat janji sebelumnya?" tanya Lena.


Azkia tidak menjawab pertanyaan Lena, ia menelisik Lena dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ini cewek siapa, kenapa pakainnya kurang bahan gini?" batin Azkia.


"Sebelumnya sudah buat janji belum?" ulang Lena sedikit kesal.


"Ini cabe-cabean dari mana sih? Berani banget datang ke kantor buat nyamperin Pak Azka." batin Lena.


"Belum," singkat Azka sambil tersenyum tipis.


"Maaf anda bisa pergi sekarang, karena Pak Azka sedang sibuk. Mungkin lain waktu bisa datang lagi dan ingat harus membuat janji terlebih dahulu." jelas Lena.


Azkia tidak bergeming sama sekali dengan ucapan Lena, ia masih berdiri ditempat semula. Tangannya ia lipat didepan dada, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maaf, apakah anda tidak mengerti perkataan saya barusan?" tanya Lena.

__ADS_1


"Saya mohon anda segera pergi dari sini!" tegas Lena sambil mempersilahan Azkia pergi.


Bukannya pergi Azkia membuka pintu ruangan Azka dan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.


Terlihat Azka tengah duduk dikursi singgahsananya, tangannya sibuk mencoret lembar-lembar kertas. Azka terlihat tidak baik-baik saja. Dasi yang sudah entah kemana, bahkan kancing lehernya sudah terbuka satu. Rambut yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan.


"Siapa yang menyuruhmu masuk!" bentak Azka tanpa melihat siapa yang masuk kedalam ruangnya.


"Ma-maaf pak, saya sudah menghalanginya tapi tetap saja menerobos masuk ke ruangan bapak," kata Lena takut, karena sejak pagi ia sudah mendapatkan banyak omelan dari Azka.


Azka melerik sekilas terlihatlah wajah cantik Azkia tengah menatapnya tajam.


"Kamu keluar dulu!" perintah Azka.


"Tuh denger gak, kamu disuruh keluar sama pak Azka." kata Lena sambil menatap Azkia.


"Cih, anda yang saya suruh keluar!" tegas Azka yang sudah berada disebelah Azkia sambil menatap kesal Lena.


"Sa-saya, pak?" tunjuk Lena pada dirinya.


Azka tidak menjawab, namun matanya hampir keluar menatap Lena karena geram.


Lena berjalan keluar ruangan Azka dengan perasaan dongkol, bahkan ia sempat melirik Azkia yang tersenyum penuh kemenangan.


"Awas aja kalau berani macem-macem sama pak Azka," gumam Lena.


"Lena!" panggil Azka.


""Iya pak?" Lena berbalik badan dengan wajah berbinarnya.


"Tutup pintunya!" ucap Azka.


Lena hanya bisa pasra saja membiarkan bosnya berduaan dengan perempuan yang baru dilihatnya. Dan kesalnya sang bos membela perempuan itu dan mengusirnya.


"Pacarnya si bos kah? Kalau iya bodo amat gue rebut aja si bos dari pacarnya." batin Lena.


"Kenapa gak telepon dulu kalau udah sampai kan aku bisa jemput dibawah," ucap Azka sambil memeluk pinggang istrinya.


Azka menempelkan dagunya pada curuk leher Azkia, tercium wangi yang Azka sukai.


"Aku bisa jalan sendiri kenapa harus dijemput?" tanya balik Azkia.


"Hmm, yalah," jawab Azka.


"Kenapa?" tanya Azkia.


"Kenapa apa?"


"Semua orang dikantor ini bilang kalau bos mereka marah-marah sejak pagi tadi padahal hanya masalah sepele jadi dibesar-besarin?" tanya Azkia.


Azka mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun.


"Salah sendiri gak dapat morning kiss," jawab Azka sambil mengerucutkan bibirnya.


"Karena itu?" tanya Azkia, dan Azka pun mengangguk.


Azkia langsung menoleh, wajahnya dapat merasakan hembusan nafas Azka. Lalu ia memposisikan badannya senyaman mungkin. Bibir tipisnya menempel pada bibir Azka, cukup lama membuat Azka tersenyum. Wajahnya yang sejak tadi ditekuk seperti cucian kotor sekarang sudah berubah senang.


"Udah!" kata Azkia menjauhkan wajahnya.


Tapi bukan Azka namanya jika merasa puas, ia menarik lagi dagu Azkia agar mendekat sehingga ia dapat menyesap bibir itu lebih dalam lagi. Azkia hanya pasrah dengan permainan sang suami.


Hingga ia merasakan kekurangan oksigen dan mendorong tubuh Azka.

__ADS_1


"Ma-makan dulu," alibi Azkia.


"Maunya makan kamu, Nyun!" rengek Azka seperti anak kecil.


"Ini kantor hubby, gak boleh!" kata Azkia.


Mendengar hal itu membuat Azka lagi-lagi cemberut, Azkia menghembuskan nafasnya kasar menghadapi sang suami yang moodnya cepat sekali berubah-ubah.


Tangan Azkia mengambil paper bag yang ia letakkan diatas meja, Azkia mengeluarkan kotak yang membuat mata Azka berbinar.


"Gak mau nih, ayam kecap lada hitamnya?" tanya Azkia.


"Kalau gak mau aku aja yang makan," lanjutnya lagi sambil menyuapkan sayap ayam pada mulutnya.


Glek!


Azka sampai menelan air liurnya saat Azkia menggigit sayap ayam kecap itu. Dengan cepat Azka merampas kotak yang berisi ayam kecap lada hitam dari tangan Azkia.


"Kan ini pesananku," ucap Azka sambil mengambil ayam kecap dengan garpu.


"Pesanan sesuasi aplikasi ya, pak!" kata Azkia sambil terkekeh.


Azka tak menyauti ia lebih memilih memakan ayam kecap lada hitam itu dengan lahab.


"Pelan-pelan, sayang. Gak ada yang mau rebut juga," kata Azkia sambil membersihkan pipi Azka yang terkena saus kecap.


"Ini nasinya juga dimakan." Azkia menyodorkan nasi kehadapan Azka.


Setelah beberapa saat ayam kecap lada hitam bautan Azkia habis tanpa tersisa sedikit pun. Bahkan Azkia hanya memakan sepotong saja semuanya habis dimakan Azka.


"Kenyang?" tanya Azkia sambil memberikan air putih pada Azka. Azka mengangguk menerima air putih itu.


"Masakan istriku the best!" ucapnya.


"Iya dong istrinya siapa dulu?" tanya Azkia.


"Azka Aldric!" jawab Azka dan mereka berdua tertawa bersama.


"Nyun bisa minta tolong gak, bilangin sama Lena suruh beliin jus alpukat dikantin." ucap Azka.


"Kamu mau jus alpukat?" ulang Azkia.


Azka hanya mengagguk sambil tersenyum manis pada Azkia.


"Kamu belum kenyang?" tanya Azkia heran.


"Entah lah, cuma pengen aja minum jus alpukat siang-siang gini kan enak." jawab Azka.


"Hmmm," mau tidak mau Azkia menuruti permintaan Azka. Ia keluar menuju meja Lena dan memberitahukan apa yang diminta Azka.


"Ehem," dehem Azkia.


"Kenapa?" sewot Lena.


"Tolong beliin dua jus alpukat dikantin ya," kata Azkia.


"Punya kaki kan, beli sendiri lah!" kesal Lena.


"Ini yang nyuruh Azka, kalau gak mau yaudah tinggal aku kasih tau Azka aja." Azkia berbalik hendak masuk kedalam ruangan Azka.


"Oke tunggu sebentar!" kata Lena dengan berat hati.


Azkia hanya bisa tersenyum manis melihat itu, ia tahu jika sekertaris suaminya itu memilik rasa pada suaminya. Tapi Azkia masih diam saja karena Lena belum berbuat sesuatu diluar batasannya. Jika sampai Lena berani ia akan berhadapan dengan Azkia.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak like comemt dan vote gratisnya :)


__ADS_2