Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Suami Idaman


__ADS_3

Azka masih terlelap didalam mimpinya disaat sang istri sudah bangun, tapi sayangnya ia tidak bisa bergerak sama sekali karena tangan Azka yang melingakr erat dipinggang Azkia.


"Lepasin." suara halus dan sedikit serak khas orang bangun tidur.


"Mau kemana?" tanya Azka walaupun matanya masih terpejam.


"Bangun, By! Udah pagi ini, tuh lihat mataharinya udah diatas," ucap Azkia sambil menyingkirkan lengan Azka dari atas perutnya.


Bukannya menyingkir lengan itu semakin erat memeluk Azkia hingga wajah Azkia menempel pada dada bidang Azka. Azkia berusaha berontak tapi sayangnya usahanya hanya sia-sia saja. Karena Azka lebih kuat sedangkan Azkia tak ada apa-apanya dibanding dengan Azka.


"Lepasin, aku mau masak... kamu bangunin anak-anak, mereka harus berangkat sekolah," kata Azkia.


"Lima menti lagi, Nyun!" pinta Azka.


Pagi ini udahara memang terasa begitu dingin, membuat banyak orang malas untuk beranjak dari kasurnya. Begitu juga dengan Azka, terlebih lagi ada sang istri yang ada didalam pelukannya.


"Gak ada lima menit lagi, bangun sekarang nanti kamu terlambat ke kantornya." bujuk Azkia dengan lembut.


"Terserah aku, kan aku Ceo nya!" dengan bangganya Azka menyombongkan diri didepan sang istri.


"Tapi anak-anak harus sekolah, By! Kamu mau anak-anak kita gak naik kelas?" tanya Azkia.


Mendengar itu membuat Azka berdecak kesal, ia langsung saja melepaskan pelukannya lalu bangun dari tidurnya tanpa sepatah kata. Azka langsung masuk kedalam kamar mandi sambil membanting pintu kamar mandinya.


Brak!


Azkia sampai terpelonjat kaget, ia hanya bisa mengusap dadanya melihat kelakuan Azka yang tidak pernah berubah jika keinginannya dibantah atau tidak dituruti.


Setelah membereskan tempat tidur Azkia segera bergegas membangunkan kedua anaknya, setelah itu ia bergelut dengan bahan makanan yang akan digunakan untuk membuat sarapan.


Tak Tak Tak


Beberapa saat kemudian Azka terlihat menuruni anak tangga menuju meja makan, Azka duduk ditempatnya. Didepannya sudah tersedia secangkir kopi yang sudah mejadi kebiasaan Azka.


Azkia menatap sang suami sekilas lalu ia melanjutkan memasak omelete dan juga nasi goreng. Tak selang berapa lama masakannya selesai, Azkia menaruhnya dipiring masing-masing.


Azka masih saja diam dan terlihat sangat dingin, bahkan saat anak-anaknya datang pun masih sama.


"Pagi," sapa Azzalea.

__ADS_1


"Pagi mama papa," sapa Azzam.


"Pagi sayang, buruan dimakan sarapannya... nanti telat loh," kata Azkia penuh kasih sayang, sedangkan Azka hanya diam saja.


"Papa kenapa?" tanya Azzam.


"Kenapa?" tanya balii Azka.


"Kok diem aja? Gak mau sapa balik Azzam sama Kak Lea?" tanya Azzam.


Akhirnya Azka luluh juga dengan kedua anaknya itu, suasananya yang begitu dingin berubah begitu saja saat Azka tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Azzalea karena ia yang paling dekat duduknya dengan Azka.


"Papa, cuma lagi capek aja.. kalian buruan sarapan nanti papa anterin kesekolah." ucap Azka hangat, Azkia tersenyum melihat itu. Mau bagaimana pun Azka tidak bisa bersikap dingin kepada dua anaknya itu.


Setelah sarapan mereka pamit kepada Azkia, saat Azkia menyalami tangan Azka wajahnya kembali dingin seperti semula.


"Udaranya dingin, kamu juga jangan dingin gini, By. Nanti aku kena hipotermia loh," canda Azkia.


Azka masih saja diam, sedangkan kedua anaknya sudah menunggu di dalam mobil. Azkia tak kekurangan akal ia langsung mencium bibir tipis Azka, berharap sang suami tidak ngambek lagi.


Cup!


Azkia melepaskan ciuamannya itu tapi apa yang terjadi, Azka langsung menarik tengkuk Azkia agar mendekat lalu ia mencium Azkia sama seperti yang dilakukan sang istri. Namun kali ini berbeda karena Azka meresponnya dan berharap lebih.


"Cih! Udah lama nikah tapi masih aja buruk soal ciuman," ledek Azka.


"Biarin! Udah sana berangkat, anak-anak pasti udah nungguin!" Azkia mendorong tubuh Azka agar segera berangkat kerja.


"Ngusir nih?"


"Bukan gitu suamiku, anak-anak nanti telat sekolahnya!" tegas Azkia.


"Hmm, lain kali aku pengen nitipin mereka kerumah omanya... biar kita gak ada yang ganggu," kata Azka langsung mencium kening Azkia.


"Apaan sih, kenapa harus dititipin segala?" Azkia mencubit pelan perut Azka.


"Biar gak gangguin kita buat adek untuk mereka!" bisik Azka lalu mencubit pipi Azka. Setelag itu ia benar-benar berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah.


"AZKA!" kesal Azkia tapi wajahnya sudah merah seperti tomat, bisa-bisanya ia digoda seperti itu.

__ADS_1


......................


Azka ikut turun dari mobilnya ketika sudah sampai didepan gerbang sekolah. Sebenarnya ia sangat ingin mengantarkan kedua buah hatinya itu sampai kedalam sekolah, tapi mereka tolak mentah-mentah dengan alasan mereka bukan anak TK lagi.


Mereka berdua secara bergantian berpamitan kepada Azka dengan mencium punggung tangannya.


"Sekolah yang rajin ya! Kalau ada yang nakal bilang sama papa," kata Azka.


"Mau apa?" tanya Azzalea.


Azka paham anaknya satu ini sangat mitip dengannya sehingga kata-kata yang ia ucapkan pun sangat irit.


"Nanti papa jewer kalau ada yang berani gangguin anak kesayangannya papa," kata Azka.


Azka mencium pucuk kepala mereka satu persatu, setelah itu mereka masuk kedalam sekolah sesekali menoleh dan melambaikan tangannya pada Azka. Azka pun dengan senang hati menyambut lamabaian tangan itu. Tak ada rasa malu atau pun gengsi karena Azka akan melakukan apapun agar anaknya bahagia.


Pemandangan ayah dan anak yang terjadi didepan gerbang sekolah itu tak lepas dari pengelihatan ibu-ibu yang juga mengantar anak mereka sekolah. Bahkan mereka sempat membayangkan jika Azka menjadi suami mereka pasti akan sangat bahagia.


"Suami idaman banget, sih!" kata salah satu ibu-ibu.


"Andaikan suami saya juga seperti itu,"


"Pengen punya ayah kaya gitu, bun!" celetuk salah satu anak yang membuat ibunya malu.


Karena terlihat sangat jelas Azka menyanyangi kedua ankanya itu, bahkan ia tak malu untuk mengantar sang anak sekolah.


Setelah kedua anaknya tak terlihat dari dari kedua manik matanya Azka berbalik masuk kedalam mobil. Tapi sebelum itu ia memakai kaca mata hitamnya yang semakin membuat orang-orang disana terpanah.


Seorang Ceo muda dan seorang ayah bagi kedua anaknya, membuat siapapun ingin menjadi istri kedua Azka. Tapi sayangnya impian itu tak akan terwujud dengan Azka yang setia kepada sang istri, bahkan ia masih bucin jika bersama sang istri. Terlebih lagi sikap Azka yang dingin dan tegas tak memberikan cela untuk siapapun masuk kedalam hatinya.


...----------------...


dah ya bonusnya :)


^^^Dan Mohon dukungannya untuk karya author yang judulnya "Gadis Pemilik Hati"^^^


...Mampir like favorite dan coment yak!...


Dan sequel soal anak Azka bisa kalian baca di novel berjudul "Evanzza"

__ADS_1


Author akan banyakin ke uwuan Azka dan Azkia, dan kebucinan Azka disana :)


Terimakasih!


__ADS_2