
Kini giliran Azka yang mendapatkan tantangan, untung saja Azka tidak harus berhadapan dengan Zian jika tidak habis sudah Azka di hukum oleh Zian.
Saat Azka mendekat menuju panitia yang kosong dengan sengaja Azka menginjak tangan Bobo yang sedang push up, Azkia yang melihat itu pun menjadi kesal dengan Azka. Azkia berfikir kenapa Azka tega sekali dengan orang lain, apakah dia tidak berfikir jika Azka yang mendapatkan posisi seperti Bobo.
"Aarrrgghhhh.." Keluh Bobo
"Oh maaf sengaja..." kata Azka
Bobby yang mendengar ucapan Azka pun langsung bangkit dari posisi push up nya. Bobby bertanya kepada Azka apa salah nya sampai - sampai harus berbuat seperti itu kepadanya. Padahal selama ini Bobo tidak pernah melakukan kesalahan apapun bahkan menyinggung Azka saja Bobo tidak berani, tapi kenapa hari ini dari pagi Azka sudah berbuat ulah kepada Bobo. Dari mulai tas yang di sembunyikan, saat game tarik tambang dan bahkan saat makan siang tadi Azka sengaja menabrak Bobo alhasil makanan Bobo jatuh semua ke tanah.
Bobo sudah menahan kekesalannya, dia mencoba untuk tidak marah kepada Azka namun saat ini karena faktor capek dan kesal di tambah lagi lapar membuat Bobo tidak tahan lagi dengan Azka. Dengan cepat Bobo menghampiri Azka dan saat Azka berbalik langsung saja satu tinjuan mendarat mulus di pipi Azka. Azka yang tidak siap pun langsung jatuh tersungkur di tanah, dari sudut bibir Azka sampai mengeluarkan darah segar.
Buuuggghhhhh
"Sini bangun lo.." ucap Bobo kesal sambil menarik baju Azka.
"Apa - apaan kalian ini.." ucap Zian yang baru datang dari rundingan dengan panitia lain.
"Bangun!" kesal Bobo tanpa memperdulikan ucapan Zian.
Sedangkan Azkia dan yang lainnya hanya menonton saja, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara Azka dan Bobo. Bobo menarik kerah Azka, mencengkramnya sangat kuat hingga Azka susah bernafas.
"Heh! Kalo mau jadi jagoan jangan disini di jalanan sana!" kesal Zian berusaha melepaskan Azka dari cengkraman Bobo.
"Jangan ituk campur ini urusan gue sama Azka! Maksut lo apaan haa? Lo, gue diemin tapi makin kesini makin senaknya aja lo!" caci Bobo kepasa Azka.
"Ciihhh .." ucap Azka sambil tersenyum seolah merendahkan Bobo.
Tanpa pikir panjang lagi Bobo memukul Azka tepat di pelipis matanya berungkali, namun Azka diam saja padahal kalo Azka mau melawan hanya dengan beberapa kali pukul saja Bobo pasti sudah kalah. Karena Azka menguasai karate, dia sudah menggeluti nya sedari kecil jadi tak heran jika sedang berantem dia pasti menang. Tapi entah kenapa untuk kali ini Azka diam saja tanpa mau membalas perbuatan Bobo.
Panita yang berada di situ langsung saja menghentikan mereka berdua, Bobo di tahan oleh Ciko dan Jio agar tidak menyerang Azka lagi, sedangkan Azka di batu Zian untuk berdiri.
"Lo gak papa?" tanya Zian
"Lo gak liat muka gue kek gini masih di tanya gak papa?" tanya balik Azka
"Salah lo sendiri gak nglawan, mana nih Azka sang jagoan neon.. Yang biasanya ngajak berantem orang masa bisa kalah gitu aja." sindir Zian
"Cihh... gak usah ikut campur lo..!" pinta Azka
"Heleh sans aja gak usah nggas juga ntar gak bisa belok." canda Zian
"Lo ya Zi, udah tau lagi pada berantem masih aja lo candain." ucap Mela
"Mencairkan suasana tidak harus dengan kekerasan juga kan.." ucap Zian sambil menata sedikit rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Sok bijak lo.." kata Quena
Sedangkan Bobo masih saja emosi, dia meronta - ronta agar dilepaskannya pegangan Jio dan Ciko.
Namun Jio memeganginya sangat kuat agar tidak berkelahi lagi, kasian liat wajah Azka sudah babak belur seperti itu. Wajah Azka sampai membengkak keunguan di beberapa titik.
"Sini lo maju jangan bisanya cari gara - gara aja!" bentak Bobo namun di acuhkan saja oleh Azka.
Zian yang melihat semua sudah tidak kondusif lagi memutuskan untuk melanjutkan Bobo ketahap selanjutnya yaitu menuju sungai, nanti di sama juga akan di beri tantangan lagi.
"Bob, lo udah lanjut aja ke tempat selanjutnya yang di bilang panitia tadi.." jelas Zian kepada Bobo.
Zian yang notabenya sebagai penanggung jawab saat di pos tidak mau ada kejadian yang membuatnya harus mendapatkan ceramah dari Rayhan dan pembinanya yang tidak akan ada habisnya jika sudah mengomel.
"Syukuriin." ucap Azkia saat melewati Azka yang tengah duduk sambil memijat pelipisnya yang sakit.
Azka hanya diam saja tanpa menghiraukan Azkia ataupun tatapan orang yang berada disitu. Siska yang baru saja datang dan melihat Azka seperti itu langsung panik dan heboh sendiri membuat Azka menjadi tambah pusing.
"Sayang, mukanya kenapa ini?" ucap Siska penuh perhatian kepada Azka.
"Kok bisa memar kayak gini, ayo balik ke tenda aku obatin.." ajak Siska sambil menggandeng tangan Azka.
"Apaan sih!" kesal Azka sambil menyingkirkan tangan Siska.
"Itu muka mu udah bengkak gitu kalo gak di obatin bisa infeksi." jelas Siska yang kasian melihat Azka kesakitan.
"Tapi Ka,.. " ucapan Siska terpotong saat dirinya sudah di panggil Quena untuk menerima tantangan.
"Siska kesini..!" teriak Quena, dengan malas Siska berjalan ke arah Quena.
"Iya - iya sabar napa!" kesal Siska karena mengganggunya mendekati Azka.
Sedangkan Devan yang baru saja datang syok melihat wajah Azka yang babak belur dan memar di mana - mana, "Perasaan tadi wajahnya baik - baik saja, kenapa sekarang jadi kek gitu.." batin Devan
"Ka, muka lo kenapa?" tanya Devan
"Habis make up.." sudah tau jika babak belur masih saja tanya kenapa, membuat Azka semakin kesal saja.
"Hah? Buat apa make up kek gitu, mau caper lo." tanya Devan tidak tau apapun yang sebenarnya terjadi.
"Bomat!" kesal Azka
"Lah ngambek.. Haha.."
"Gak, Lo tuh masa gak bisa bedain mana memar asli sama palsu_-" kata Azka sambil menarik tangan Devan utuk memegang wajahnya yang bengkak.
__ADS_1
"Eh ini beneran Ka, lo berantem sama siapa? Sini bilang sama gue." ucap Devan saat mengetahui luka Azka itu bukan make up melainkan luka beneran.
Mela dan Ciko saling pandangan saat melihat kelakuan kedua juniornya itu, bagaimana tidak karena saat ini posisi Devan dan Azka seperti orang pacaran. Tangan Devan menempel pada pipi Azka yang memar, sedangkan tangan Azka memegang tangan Devan yang berada di pipinya.
"Uhhuukkk..." suara Ciko, membuat Devan dan Azka menoleh kearah nya.
"Kalo mau romantis - romantisan nanti aja, jangan buat gue berfikiran yang gak - gak soal kalian Hahaha..." ucap Mela
"Haa...?" Azka dan Devan pun kebingungan dengan maksut perktaan Mela.
Ciko memberi kode dengan menunjuk ke arah pipinya sendiri berulangkali, membuat Devan dan Azka tiba - tiba sadar jika tangan Devan dan Azka masih berada di wajah Azka. Sepontan saja membuat mereka berdua menjaga jarak karena paham maksut dari Mela tadi.
"Kenapa jauh - jauhan kan gue belum fotoin." ucap Mela yang sudah memegang camera nya.
"Cih, gue masih normal." ucap Azka
"Apalagi gue." bela Devan
"Ah masa? Terus tadi ngapain doang uwu uwuan gitu Hahhaa..." kata Mela sambil tertawa terbakah - bahak.
"Kilaf tuh Mel." canda Ciko
"Bisa jadi bisa jadi.."
"Kejadian tadi tuh tidak seperti apa yang kalian lihat! Gue cuma liat lebam di muka Azka tuh beneran apa make up aja." jelas Devan
"Iya - iya kami mengerti kok." ucap Ciko sambil mengejek Devan dan Azka.
"Dah lah... gue lanjut dulu aja." ucap Azka
"Doi nya gak di ajak sekalian Ka..?" canda Ciko sambil melihat ke arah Devan.
"Gilaa .." ucap Azka sambil berjalan ke pos selanjutnya.
Sedangkan Ciko dan Mela tertawa terbahak - bahkah bahkan sampai mengeluarkan air mata, kapan lagi mereka bisa menjaili Azka. Sebenarnya Azka itu lucu wajahnya jika sedang kesal hanya saja tertutup wajah songongnya dan sikap nya yang cuek membuatnya terlihat susah di ajak bercanda, padahal aslinya Azka gampang banget di bercandain.
.
..."Ku harap kau selalu mengingatku meski ku jauh disini, meski kita tak bertegur sapa"...
...- E H -...
Sebenarnya apa yang terjadi? Tunggu kelanjutannya :)
.
__ADS_1
...Tetap Jaga Kesehatan, seperti kau menjaganya ehek :v...