
Azka sudah terlihat segar setelah mandi, ia keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk karena lupa tidak membawa pakaian ganti.
Ceklek!
"Astaga!" teriak Azka karena kaget melihat dua orang yang sudah duduk di tepi kasurnya dengan tangan yang terlipat didepan dada. Mata mereka menatap tajam Azka, seakan dikepala mereka berdua sudah keluar tanduknya.
"Bagus ya, kita dilupain mentang-mentang jalan sama pacarnya," gerutu Attaya.
"Apaan sih?" tanya Azka sambil mengambil baju gantinya.
"Lo yang apaan, Ka... kita dari siang disini nunggui lo, ponsel lo pake acara dimatiin segala," ucap Attaya lagi.
"Biar aman!" gumam Azka.
"Lo tau gak tadi si Bobo hampir digebukin sama anak sekolah sebelah, kita kalah banyak," gerutu Devan.
"Selamat kan?" tanya Azka tanpa dosa.
"Selamat lah, kita bisa kabur kalo gak udah gak tau lagi gimana nasib kita!" kesal Devan.
"Syukurlah!" ucap Azka.
"Astaga!" Attaya menepuk jidatnya geram dengan kelakuan Azka.
"Pikiran lo udah penuh dengan Azkia, ya?" tanya Devan sambil menghela nafasnya.
"Ya gitu," singkat Azka.
"Lo tadi kemana? Kalo tau jalan-jalan kan kita bisa double date," ucap Attaya sambil mengahampiri Azka mencoba mencairkan ketegangan itu.
"Ogah!" tolak Azka.
"Kalian enak lah gue, jones sendiri," keluh Devan.
"Kasian!" kata Attaya dan Azka bersamaan.
"Awas ya kalian berdua udah bucin sampai lupa sama gue, gue tikung pacar kalian!" ancam Devan.
"Apa lo bilang?" tanya Attaya geram.
"Lo berani?" tanya Azka dengan tatapan tajamnya.
Azka dan Attaya melangkah mendekati Devan, membuatnya melangkah mundur hingga terjatuh diatas kasur milih Azka.
Dengan cepat Attaya memegangi kaki Devan sambil menggelitikinya, sedangkan Attaya memegangi tangan Devan melakukan hal yang sama dengan Attaya.
"Hahaha geli, udah-udah lepasin!" teriak Devan.
"Lo berani nikung pacar kita?" tanya Azka.
"Ga-gak, gak berani hahaa ampun bos ampun Ta." Devan memohon agar mereka berdua melepaskannya.
"Awas aja kalo berani selangkah deketin Kia, habis lo ditangan gue," ucap Azka.
"Lo itu bodyguardnya atau pacarnya sih?" gerutu Devan.
__ADS_1
"Gue?" tanya Azka.
Devan mengangguk menanti jawaban dari Azka.
"Gue bisa jadi apapun asalkan dia suka! Eh tapi gue hadir dihidup dia juga udah buat dia cinta," ucap Azka yakin.
Hal itu membuat Attaya dan Devan cengoh dengan perkataan Azka yang terlewat percaya diri. Mereka tidak habis pikir jika teman mereka bisa berfikiran senarsis itu.
"Jadi gimana nanti malam?" tanya Attaya.
"Jadi lah, udah lama sejak kita keciduk waktu itu haha," ucap Devan sambil tertawa.
"Gas gak, Ka?" tanya Attaya.
Azka sedang asyik bermain ponselnya, bukan main game melainkan mengirimi pesan kepada Azkia membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Woy! Azka!" teriak Attaya.
"Apa sih?" geram Azka.
"Jadi gak nanti malam?" ulang Attaya.
"Apanya?"
"Balapannya," jawab kompak Attaya dan juga Devan.
"Gue gak ikut," saut Azka.
"Lah kenapa, kita udah lama gak balapan loh?" tanya Attaya.
Lagi-lagi hal itu membuat Attaya dan Devan diam membisu dan saling pandang. Seorang Azka yang tidak pernah menurut perintah orang lain, selalu melakukanhal-hal yang disuka tanpa memperdulikan pendapat orang lain. Dan sekarang ia tidak ingin melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaannya setiap malam sebelum mengenal Azkia.
"Bener-bener bucin Akut!" kesal Devan sambil melempar batal kewajah Azka.
"Bukan bucin," saut Azka santai.
"Terus apa?" tanya Attaya.
"Gue cuma gak mau orang yang gue sayang khawatir sama gue, lagian papa juga larang buat balapan... kalo sampai ketahuan lagi, motor bakalan disita lagi," ucap Azka sambil melangkah menuju balkon kamarnya.
Tangan kanannya terlihat membawa sebatang rokok, tangan satunya sudah bersiap untuk menyalakan korek api.
Cetek!
Azka menghisat rokok itu perlahan lalu terlihat asap yang keluar dari mulutnya, sesekali Azka membentuk bulatan dengan asap itu.
Plok plok
Suara tepuk tangan menggema diseluruh kamar Azka. Suara itu berasal daei Attaya, ia tidak menyangka jika Azka yang nakal bisa berubah menjadi sekarang ini. Walaupun belum sepenuhnya, tapi hal ini sudah membuat kedua sahabatnya bangga.
"Gue gak nyangka, seorang Azka yang dulu hobi balapan bisa berubah gara-gara seorang perempuan," ucap Attaya setelah bertepuk tangan.
"Lo nanti juga akan rasain, gimana rasanya hati lo takut jika melihat seseorang yang lo sayangin kecewa atau bahkan terluka karena lo," ucap Azka sambil menghisap rokoknya lagi.
"Masa sih?" tanya Devan tidak percaya.
__ADS_1
Azka hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Devan.
"Gue setuju sama ucapan lo, Ka... dan baru kali ini gue denger kata-kata sebagus ini dari mulut lo," ucap Attaya sambil terkekeh.
"Cih, kata-kata gue emang selalu bagus kali," gerutu Azka.
"Yalah-yalah, percaya!" kata Attaya dengan sedikit meremehkan Azka.
"Gue juga mau ngebucin, yaelah tapi susah banget lumpuhin hati dia.. lebih susah dari pada soal matematika," gerutu Devan yang merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tentu saja milik Azka.
"Halah, lo kemaren aja sok-sokan ngajarin kita soal cinta... gak taunya lo sendiri jomblo akut!" ucap Attaya sambil terkekeh begitu juga dengan Azka.
"Cih, gue kan juga cari dimbah google itu, gue jomblo mana ada pengalaman," kesal Devan yang sedang mengejar Attaya berusaha untuk menjitak kepalanya.
Azka membalik badan melihat kamarnya yang berantakan karena ulah kedua sahabatnya itu, Azka hanya bisa terseny tipis saat melihat Attaya dan Devan kejar-kejaran seperti anak kecil di dalam kamarnya. Sesekali Azka juga ikut melemparkan bantal saat wajahnya terkena timpukan.
Setelah lelah mereka bertiga tergeletak diatas kasur, untung saja kasur Azka berukuran besar sehingga muat untuk menampung mereka bertiga.
Saat suasana hening, Devan memberanikan diri untuk bercerita tentang asmaranya. Devan sebenarnya belum menyatakan perasaannya kepada Devira karena takut ditolak. Padahal belum tentu Devira akan menolak perasaan Devan.
Devan memang terlalu lemah soal asmara, walaupun banyak perempuan yang menyukainya. Namun tidak satu pun dari mereka yang mampu meluluhkan hati Devan, hanya Devira lah yang mampu menggetarkan hati Devan.
Devira bukan tipe perempuan lemah lembut seperti pada umumnya, ia terlihat keras, galak, berani dan tidak mudah untuk ditakhlukkan itulah yang membuat Devan semakin mengagumi Devira.
"Lo harus berani, Van," ucap Attaya.
"Hasil, urusan belakangan," saut Azka.
"Tapi gue takut dia udah ada yang ngisi hatinya," jawab Devan.
"Lebih baik tau diawal, dari pada bertahan dengan ketidak pastian," kata Azka yang terlihat bijak.
"Woow asek kata-kata bijak bos Azka keluar hehe," tawa Attaya pecah saat bisa meledek Azka.
"Bener sih, apa gue coba besok?" tanya Devan yang langsung duduk menatap kedua sahabatnya yang amsih tiduran.
"Terserah!" malas Azka.
"Kita selalu dukung lo kok, kalo Devira gak mau nanti kita paksa dan harus mau haha," canda Attaya.
"Cih, gue gak seperti lo ya! Gue gak akan maksain perasaan orang lain untuk gue.. kalo gak suka yaudah gak usah di paksa yang pada akhirnya akan nyakitin dua belah pihak." kata Devan.
"Ini tadi hari apa sih? Kenapa dua sahabat gue mendadak jadi bejak semua haha," kata Attaya sambil terkekeh.
"Berisik!" kesal Azka sambil menutupi wajah Attaya dengan bantal.
"Temen gak ada akhlak lo!" ucap Devan sambil melakukan hal yang sama dengan Attaya.
......................................................................
Hayo ada yang kangen gak sma authornya, eh sma Azka Kia maksudnya wkwk
Maapkan author up nya lama karena lagi sibuk dan juga bingung mau dibawa kemana hubungan ini eh salah ya :v
maksudnya mau dibawa kemana lagi cerita ini, atau tinggal happy" nya aja ini? Tapi gak seru kalo gak ada mbak konflik wkwk..
__ADS_1
Semangat buat kalian semua! Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa pake masker :)