Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Hukuman apa Kecanduan


__ADS_3

Dalam hitungan menit mereka berdua langsung tertidur dengan sangat pulas. Bahkan tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali.


Hingga sekitar pukul 02:00 dini hari, Azkia terbangun. Perutnya terasa sangat lapar, Azkia baru menyadari jika ia hanya sempat makan saat selesai ijab qobul. Setelah itu ia tidak makan apapun, hanya beberapa camilan saat resepsi.


"Duh laper banget," keluhnya sambil berjalan menuju kulkas kecil yang berada dipojok kamar dekat balkon.


Azkia berharap didalam kulkas itu terdapat sesuatu yang bisa digunakan untuk mengganjal perutnya. Wajah Azkia terlihat cemberut setelah ia melihat isi kulkas.


"Air doang mana kenyang, kembung iya," keluh Azkia sambil memegangi perutnya yang terasa melilit karena lapar.


"Ngapain?" tanya Azka yang sudah berdiri dibelakang Azkia.


DUK!


Suara Azka membuat Azkia terkejud hingga jidat Azkia terbentur pintu kulkas.


"Awh," rintih Azkia sambil mengusap jidatnya.


"Hati-hati," kata Azka yang langsung berjongkok disebelah Azkia.


Azka mengusap jidat Azkia dengan lembut, "Masih sakit?" tanya Azka.


"Udah gak kok," jawab Azkia.


"Kamu ngapain malem-malem didepan kulkas, aku kira tadi suster ngesot." canda Azka.


PLAK!


Azkia memukul lengan Azka, "Suster ngesot?" tanya Azkia sambil menatap tajam Azka.


"Sakit," keluh Azka.


"Kamu bilang aku suster ngesot, gak liat apa cantik kaya gini... dari mananya terlihat seperti suster ngesot!" geram Azkia sambil menunjuk dada Azka.


"Jawab dong jangan diem aja!" kesal Azkia.


Wajah Azkia yang terlihat kesal membuat Azka tersenyum, "Imutnya," gumam Azka.


"Cantik gini disamain sama suster ngesot," ucap Azkia lagi.


"Cantik? Coba lihat mana cantiknya?" goda Azka.


Azkia yang mulai terpancing langsung saja menunjukan wajah cantiknya tepat didepan Azka. Membuat Azka membelalakan matanya karena jarak mereka terlalu dekat, bahkan hidung mereka saling bersentuhan.


"Liat baik-baik!" perintah Azkia.


Glek!


Azka menelan slavinanya saat melihat bibir Azkia yang terlihat sangat lembut. Tanpa sadar tangannya bergerak memegang tekuk Azkia, lalu dengan cepat Azka mencium bibir merah Azkia. Hal itu sangat tiba-tiba membuat Azkia tidak sempat menghindarinya.


"Beneran lembut," batin Azka.

__ADS_1


Azkia mencoba mendorong tubuh Azka, namun sayangnya tubuh itu benar-benar seperti patung yang tidak bisa Azkia robohkan.


Tangan Azka melingkar dipinggang Azkia lalu menariknya hingga menempel pada tubuh Azka. Sesekali Azka mengigit bibir lembut milik Azkia, hingga meninggalkan sedikit bekas luka.


Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga membuat Azkia kehabisan oksigen. Azka yang menyadari itu langsung melepaskan ciumannya.


"Berfanas, Nyun!" ucap Azka.


Lalu Azkia mencoba mengatur nafasnya, bibirnya terasa perih. Pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ia tidak menyangka jika Azka akan menyerangnya secara tiba-tiba seperti ini.


Hembusan nafas Azka terasa dipipi Azkia membuatnya bergidik geli. Azkia harus cepat-cepat berdiri agar tidak diserang lagi karena Azka terlihat ingin melakukannya lagi.


"Ughh!" keluh Azkia saat dirasa kakinya kesemutan, ia baru menyadari posisi mereka yang masih berjongkok didepan kulkas.


"Kenapa?" tanya Azka lembut.


"Kakiku kesemutan," jawab Azkia sambil berusaha memukul pelan kakinya agar hilang kesemutannya.


Tanpa berucap apapun lagi, Azka langsung membawa Azkia kedalam gendongannya. Ia menggendong Azkia ala bridal style membuat Azkia sedikit kaget.


"Belum ada seminggu bisa-bisa kena serangan jantung dengan semua perilaku Azka yang tiba-tiba," batin Azkia.


Azka menurunkan Azkia diatas ranjang, ia meluruskan kaki Azkia agar tidak kesemutan lagi. Lalu Azkia duduk dibibir ranjang sambil menatap Azkia, membuat Azkia salah tingkah.


"Ngapain jongkok didepan kulkas?" tanya Azka.


Azkia menunduk, "Aku lapar," jawabnya malu.


"Aku gak mau ganggu tidurmu," elak Azkia.


Azka berdiri dari duduknya, ia mengambil ponsel dan dompet yang berada diatas nakas.


"Mau kemana?" tanya Azkia yang melihat semua gerak gerik Azka.


"Tunggu disini, jangan kemana-mana kalau gak mau ketemu sama suster ngesot beneran," perintah Azka.


Azkia menyebikkan bibirnya hal itu membuat Azka tersenyum, ia mengingat beberapa menit lalu sudah mencoba binir lembut milik Azkia.


"Nurut, ya!" ucap Azka sambil mencium kening Azkia sekilas. Lalu ia berjalan keluar dari kamar hotel, entah akan kemana Azkia juga tidak tahu.


Karena bosan Azkia menyalakan tv, tapi ia sibuk dengan benda pipih yang sejak pagi tidak di sentuh sama sekali.


Banyak pesan masuk yang memberikan Azkia ucapan selamat dan juga doa. Namun tidak ada yang dibalas mengingat ini suda hampir pagi. Azkia memilih membuka akun media sosialnya. Hingga Azka sudah kembali dengan kantong kresek ditangannya.


Azka meletakan ponsel dan dompetnya ditempat semula, lalu ia memberikam kantong kresek itu pada Azkia.


"Cuma ada ini," ucap Azka, tangannya terasa sangat dingin seperti dirinya.


Azkia langsung membuka kantong kresek itu, terdapat banyak camilan dan juga roti. Ada beberapa susu kotak rasa coklat kesuakaan Azkia.


"Banyak banget!" Azkia mengeluarkan roti tawar dengan selai blueberry lalu memakannya.

__ADS_1


"Biar kenyang," saut Azka sambil duduk disebelah Azkia.


"Makasih, Azka!"


"Azka?" ulang Azka.


Azkia mengangguk dan meneruskan makannya dengan lahap, ia tidak menyadari jika sejak tadi Azka sedang memperhatikannya.


Azka melingkarkan kedua tangannya dipanggang Azkia, lalu dagunya ia letakam dibahu Azkia. Azkia dapat merasakan hembusan nafas Azka yang teratur.


"Azka ih ngapain?" tanya Azkia sambil mencoba melepaskan tangan Azka.


"Jangan panggil Azka, kita kan udah nikah."


"Lalu panggil apa? Tembok? Beruang kutub, kulkas berjalan? Atau patung berjalan?" tanya Azkia sambil tekekeh.


"Hmmm, panggilan sayang apa gitu lah," ucap Azka sambil mengeratkan pelukannya, ia merasa kedinginan setelah keluar kemini market.


"Itu kan panggilan kesayangku," ucap Azkia polos.


"Cih, panggil sayang, hubby, atau suamiku gitu." saran Azka.


"Gak, gak mau!" tolak Azkia, ia tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu.


Cup!


Azka mencium pipi kiri Azkia, membuat Azkia diam membeku.


"Kok cium-cium terus sih," gerutu Azkia.


"Biarin, udah sah juga!"


"Iya, tapi kan ga—" belum selesai Azkia berbicara, Azka sudah membukamnya dengan sebuah ciuman pada bibir Azkia.


Bahkan tak hanya sekali tapi berulang kali Azka melakukan itu. Bibir merah milik Azkia sudah membuatnya candu.


"Panggil aku sayang, jika tidak aku akan menghukum mu," bisik Azka ditelinga Azkia yang membuatnya membeku.


"Gak mau, panggil beruang kutub aja itukan juga panggilan kesayangan," tolak Azkia.


Cup!


Azka mencium bibir Azkia lagi, kali ini ciumam itu cukup dalam. Azkia yang sempat menolak kini hanya pasrah saja menerima perlakian Azka. Tangan Azka yang berada dipanggang Azkia pun sedikit demi sedikit menelusup kedalam baju tidur milik Azkia.


Azkia merasa geli saat ada tangan yang menyentuh kulitnya secara langsung.


Azkia mencoba menahan tangan Azka agar tidak kemana-mana.


...--------------------------------...


Gak jadi skip, lanjut tunggu ya!

__ADS_1


__ADS_2