
"Eh eh eh! Pengantin baru kenapa datang ke kantor?" tanya seseorang yang baru saja melihat Azka masuk kedalam lift.
"Lebih pilih kerjaan dari pada istrinya, mungkin," ledek seseorang lagi.
Azka menoleh kebelakang, ternyata ada kedua sahabatnya Attaya dan Devan.
"Berisii!" ucap Azka.
Kemudian mereka bertiga masuk kedalam lift untuk sampai di lantai 7. Lantai dimana hanya ada ruangan Azka dan beberapa staft penting lainnya.
"Jadi gimana?" tanya Attaya.
"Apa?" Azka menaikan sebelah alisnya karena bingung dengan pertanyaan Attaya.
"Gak usah sok polos deh," saut Attaya lagi sedangkan Devan hanya tertawa geli melihat kedua sahabatnya itu.
"Cih, gue emang gak paham maksud lo apa?" jawab Azka sambil mengotak atik ponselnya.
Azka sedang mengirimkan sebuah pesan singkat pada Azkia, memberi laporan pada sang istri jika ia audah sampai kantor.
"Malam pertama gimana?" tanya Attaya.
"Gimana apanya?" jawab Azka polos.
"Astaga ini anak, udah jadi ceo masih aja lola!" geram Attaya.
"Pertanyaan lo yang gak jelas," Devan ikut menimpali.
"Masa sih, gue kan nanya malam pertama gimana? Ya gimana udah belum gitu." tanya Attaya sambil menatap tajam Azka.
Saat Attaya menanyakan hal itu, pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu setelah ia resmi memjadi seorang suami. Tanpa Azka sadari pipinya memerah dan terlihat malu-malu. Azka menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Kenapa, temen lo?" tanya Devan sambil melirik Azka.
Attaya hanya mengendihkan kedua bahunya, baru kali ini dia meliht wajah Azka yang merona.
"Fiks, mereka udah belah duren! Noh buktinya seorang Azka si manusia tembok plus dingin seperti es bisa blusing kaya gitu," kata Attaya, sambil tertawa mengejek.
"Berisik!" singkat Azka setelah memetralkan kembali wajahnya.
"Gimana rasanya?" tanya Devan tiba-tiba.
"Iya-iya gimana rasanya?" timpa Attaya.
Azka menggerakkan jarinya agar Attaya dan Devan mendekat, setelah mereka berdua mendekat Azka membisikan sesuatu agar mereka berhenti penasaran.
"Apa sih, buruan!" geram Attaya.
"Enak? Sakit? Pahit? Manis?" tanya Devan yang sudah mendekat.
Azka berada ditengah, ia merangkup bahu kedua sahabatnya itu.
"Rasanya..?" tanya Azka yang menjeda pertanyaannya itu.
__ADS_1
Attaya dan Devan mengagguk, mereka berdua sangat penasaran dan kepo tentunya.
"Buruan nikah biar tahu rasanya!" ucap Azka setwlah itu ia keluar dari lift terlebih dahulu.
"Waah sial an lo! Kita udah serius dengerinnya, malah dibercandain," gerutu Attaya.
"Sakit tau dibercandain pas kitanya udah serius sayang!" kata Devan.
"Curhat, pak!" ledek Attaya sambil terkekeh.
Ya, untuk beberapa bulan kedepan Attaya dan Devan akan mengasah kemampuannya dalam bidang bisnis dibawah pantauan Azka. Sehingga mereka berdua akan sering terlihat di perusahaan milik Azka. Dan pastinya akan selalu mengusik ketenangan Azka.
"Selamat pagi, pak!" sapa seorang perempuan yang baru pertama kali Azka lihat berada dikantornya.
"Siapa?" tanya Azka tanpa menatap orang yang diajak berbicara.
"Saya Lena Agustina, sekertaris baru bapak," kata gadis itu.
"Pak Sabar, kemana?" tanya Azka dingin.
Pak Sabar adalah sekertaris Azka yang sudah lama mengikuti Yudha, sehingga ia juga menjadi sekertaris Azka saat dirinya dilantik sebagai ceo menggantikan sang papa.
"Beliau sedang sakit, jadi saya ditungaskan untuk menjadi sekertaris sementara," jelas Lena.
"Oh!" singkat Azka kemudian dia masuk kedalam ruangannya.
Sedangkan Attaya dan Devan masuk keruangan disebelah Azka yang sudah disediakan.
"Aku kira ceo itu orang yang udah berumur udah tua gendut pula, eh gak taunya masih muda. Gak nyesel aku gantiin Pak Sabar kalau bosnya masih muda gini, ganteng lagi," gumam Lena sambil tersenyum penuh arti.
......................
Seorang gadis terlihat serius mendengarkan arahan dari sang dosen, wajahnya terlihat kusut. Sesekali ia mencoret-coret kertas yang ada dihadapnnya. Entah sudah berapa kali ia menghela nafasnya, jam dinding seakan tidak berputar sama sekali. Waktu yang hanya tiga puluh menit terasa lama.
Akhirnya sang dosen selesai memberikan arahan pada lembar skripsinya. Gadis itu merapikan semua kertas yang sudah ia coret karena salah, sesekali bibirnya menggerutu untungnya sang dosen sudah pergi jika tidak mungkin dia akan mendapatkan masalah yang lebih sulit lagi.
Gadis itu mengambil benda pipih yang sejak tadi tidak ia sentuh, wajah kusutnya kembali ceria saat mendapatkan sebuah pesan singkat.
"Aku sudah sampai kantor, ingat kamu jangan nakal! Love you, istriku."
Begitulah isi pesan singkat yang mampu membuat moodnya kembali. Jari lentiknya bergegas mengirimkan balasan Setelah itu ia mencari kontak sahabatnya, ia mengajak mereka bertemu dicafe depan kampus.
Gadis itu pergi terlebih dahulu ke cafe tempat janjian, pikirannya sedang buntu dengan semua kesalah dalam berkas skripsinya. Kepalanya terasa berdenyut saat memikirkan hal itu.
"Azkia!" teriak dua orang bersamaan sambil melambaikan tangannya.
"Sini duduk," kata gadis itu yang pasti Azkia.
"Muka lo kenapa, ditekuk gitu?" tanya Nayla
"Gak dapat jatah ya?" imbuh Devira.
"Jatah apa?" jawab Azkia polos.
__ADS_1
"Dahlah lupain," ucap Devira sambil mendengus.
"Gue lagi pusing banget ini," keluh Azkia kepada kedua sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Devira.
"Soal skripsi lagi?" tanya Nayla.
Azkia mengangguk, wajahnya benar-benar terlihat buruk. Bahkan rambut yang sedikit berantakan pun tidak ia perdulikan.
"Iya punya gue banyak banget yang harus direvisi... mana belum lagi lampirannya salah, haduh pusing pokoknya," keluh Azkia.
"Kalau soal revisi mah kita juga sama ya gak, Ra!" ucap Nayla.
Devira mengangguk, memang benar adanya mereka semua harus merevisi kembali berkas skripsi agar sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Tak jarang mereka yang sudah sidang harus merevisi kembali sebelum akhirnya berkas itu diserahkan.
"Kalau kaya gini rasanya pengen nikah aja, biar ada yang ngurusin," keluh Azkia.
"Uhuukk," Devira tersedak mendengar ucapan Azkia.
"Minumnya hati-hati, Ra!" Nayla menepuk-nepuk punggung Devira.
"Lo lupa atau gimana sih, lo kam udah nikah masa mau nikah lagi? Si manusia es mau lo kemanain?" geram Devira.
"Eh iya, gue kan udah nikah ya.. harap maklum, banyak pikiran jadi lupa," ucap Azkia sambil terkekeh. Devira hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Leher lo kenapa, Ki?" tanya Nayla yang tanpa sengaja melihat leher Azkia sedikit kemerahan.
"Emang kenapa?" tanya Azkia polos, karena jujur saja Azkia tidak melihat lehernya karena tertutup oleh jaket yang ia kenakan.
Srett!
Devira menarik jaket yang dipakai Azkia, melihatkan leher dekat bahunya banyak bercak kemerahan. Devira dan Nayla yakin jika itu semua ulah si manusia es.
"Gila banyak banget!" ucap Devira sambil menutup mulutnya tidak percaya.
"Bukan manusia es lagi dong, kalau sampai kaya gitu," ucap Nayla sambil terkekeh.
"Kalian ngomong apa sih?" tanya Azkia.
Tanpa banyak bicara Nayla mengambil sebuah cermin dan meletakannya didepan wajah Azkia. Ia menunjukan bercak merah yang dimaksud.
"Leher gue kenapa ini?" tanya Azkia.
"Digigit nyamuk, kali!" saut Nayla sambil tertawa.
"Masa sih?" tanya Azkia.
"Hmb, terserah lah... susah ngomong sama orang yang lupa sama statusnya sekarang ini," cibir Devira.
Azkia belum terbiasa sehingga ia masih merasa belum menikah, apalagi pernikahan mereka belum genap satu minggu. Azkia masih dalam tahap penyesuaian demgan keadaan yang semuanya berbuah, lebih tepatnya statusnya yang berubah.
...----------------...
__ADS_1
Mampir juga di "Ketua Osis Posesif" makasih :)