
Setelah acara selesai, Azka mengantarkan Azkia pulang. Azkia masih marah dengan sikap Azka, sehingga tanpa pamit dia langsung masuk kedalam rumah. Menyisahkan Azka yang masih terdiam membisu mengamati punggung Azkia.
"Hast!" kesal Azka sambil memukul stir kemudinya.
Setelah melihat lampu kamar Azkia yang semula menyala kini sudah padam, Azka memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan tatapan kosong ia kembali mengingat perdebatannya dengan sang papa, entah sudah berapa kali Azka mencoba membujuk sang papa untuk mengizinkannya kuliah di dalam negeri. Namun, hasilnya tetap sama dan tidak berubah sama sekali.
Bahkan tawaran yang Azka berikan tidak bisa menggoyahkan keputusan sang papa, terlebih lagi calon mertuanya mendukung keputusan itu. Membuat Azka sangat terbebani dengan itu semua, karena hatinya tidak menginginkan hal itu.
FLASHBACK ON!
"Azka janji bakalan nurut sama papa, Azka mau disuruh kerja diperusahaan papa! Azka akan jual Cafe yang Azka punya!" ucap Azka sambil menatap mata sang papa.
Terlihat keseriusan dari semua perkataan Azka, namun itu belum bisa meluluhkan hati sang papa.
"Azka mohon pah, biarin Azka lanjutin kuliah disini gak usah sampai luar negeri segala. Ya pah?" ucap Azka lagi.
"Keputusan papa sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi!" tegas Yudha sambil berdiri berjalan menatap gelapnya malam dari jendela rumahnya.
"Tapi pah! Azka gak mau!" ucap Azka yang tidak kalah tegas dari sang papa.
"Pah," bujuk mama Kayla.
"Mama gak perlu bantuin Azka buat bujuk papa, karena ini semua demi masa depan Azka nantinya!" jelas Yudha.
"Papa itu egois! Papa gak pernah mau dengerin apa kemauan Azka!" teriak Azka.
"Yang Azka tau hanya Azka yang selalu dituntut untuk nurut sama papa, sedangkan papa? Hah! Papa gak pernah mau dengar apapun yang Azka ucapkan! Bahkan, papa gak pernah tau apa yang Azka inginkan!" kesal Azka.
"Ingat! Gak semua yang papa sama mama anggap itu baik, akan baik juga buat Azka! Papa sama mama cuma mentingin diri kalian sendiri, tanpa tahu apa yang sebenarnya Azka inginkan!" kesal Azka sambil melangkah menaiki anak tangga.
"Ini semua demi kebaikanmu, agar nanti kamu gak menyesal seperti papa!" ucapan Yudha membuat langkah Azka terhenti.
"TERSERAH!" teriak Azka menggema diseluruh ruangan.
__ADS_1
Dengan langkah besar Azka menaiki tangga menuju kamar, setelah masuk kedalam kamar Azka membanting pintu itu dengan sangat kasar. Sampai membuat semua orang yang berada di lantai bawah kaget.
Yudha menyandarkan tubuhnya diatas sofa, disebelahnya ada sang istri yang mencoba menenangkannya.
"Sabar pah, ingat kesehatan papa!" ucap Kayla sambil mengusap dada bidang Yudha.
"Papa cuma mau yang terbaik buat Azka, mah!" jelas Yudha sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Mama tau, tapi harus pelan-pelan kasih pengertian sama Azka... kalau papa keras semakin susah buat Azka luluhnya, kan sama seperti waktu papa muda dulu!" ucap Kayla.
Yudha menatap kedua manik mata istirnya itu, yang diucapkan Kayla semuanya benar. Sifat Azka hampir mirip dengannya waktu muda, hanya saja Azka hidup dengan serba berkecukupan beda dengannya dulu. Yang masih serba kekurangan, bahkan untuk membayar uang sekolah pun Yudha sampai bekerja setelah pulang sekolah dan hari libur. Untung saja ada Kayla yang selalu menemaninya dalam keadaan susah maupun senang.
Saat Yudha benar-benar terpuruk datangla Bima yang menawarkan bisnis yang mereka kembangkan hingga menjadi sebesar sekarang, dan sejak saat itu lah persahabatan dimulai. Teman Sekolah menengah sekaligus teman bisnisnya yang sekarang akan menjadi calon besannya.
Yudha hanya berharap bisa membuat Azka lebih kuat lagi dari sekarang, karena kehidupan yang sebenarnya akan lebih berat dari apa yang sebenarnya dilihat. Yudha tidak ingin membuat Azka, akan mengalami masa-masa sulit seperti tidirnya waktu muda. Sehingga Yudha selalu memaksa dengan dalih untuk masa depan Azka.
Yudha tau jika Azka sudah memiliki sebuah Cafe yang di kelola sendiri. Cafe itu berkembang sangat pesat diberbagai kalangan, karena tempatnya yang strategis ditambah lagi dekorasi yang Azka pilih sangat mengikuti zaman. Menu makanan yang disajikan juga sangat memanjakan lidah, membuat siapa saja akan kembali setelah datang. Tidak dipungkiri bakat bisnis yang Yudha milik juga mengalir pada darah Azka.
FLASHBACK OFF
suara nyaring dari mobil yang berada di depan Azka membuatnya tersadar dari lamunan. Dengan cepat Azka membanting stir kearah kiri agar tidak bertabrakan dengan mobil didepannya.
"WOY BISA NYETIR MOBIL GAK, SIH!!" terdengar suara teriakan dari balik kaca mobil yang sudah diturunkan setengah. Setelah berteriak, terlihat mobil itu melanjutkan perjalanannya seperti semula.
Azka mencoba mengatur nafasnya yang bergemuruh, lalu menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi. Matanya terpejam, tangan kanannya sedikit memijat pelipis yang terasa pusing. Tidak seharusnya Azka melamun saat berkendara atau kejadian waktu itu akan terulang kembali.
"Hah!" Azka membuang nafasnya melalui mulut seolah sedang mengatur hati dan pikirannya yang benar-benar kusut.
Drrtt Drrttt!
Ponselnya tiba-tiba saja berdering, dengan mata yang masih tertutup Azka mengambil benda pipi disaku celananya. Tanpa berniat melihat siapa penelepon, Azka langsung saja menggeser warna hijau pada layar ponselnya. Azka menempelkan ponsel itu pada samping telinga kanannya.
"Lo dimana?" pertanyaan yang langsung pada intinya.
__ADS_1
"Entah!"
"Heh! Jangan bercanda, dimana lo sekarang... kenapa belum sampai rumah?" tanya seseorang diseberang sana.
"Hampir nambrak!" singkat Azka.
"Apa! Gimana keadaan lo? Lo baik-baik aja, kan?" tanyanya panik.
"Mungkin."
"****! Lo diem disitu, gue kesana sekarang!" ucapnya sambil mematikan telepon.
Azka masih pada posisinya semula, semangatnya terasa hilang begitu saja. Badannya terasa lemas jika mengingat lusa ia harus berangkat ke luar negeri.
Sesekali Azka mengingat wajah cantik Azkia yang sudah menemani hari-harinya yang membosankan berubah menjadi lebih indah. Senyuman manis dengan wajah berseri Azkia tadi siang sangat melekat diingatan Azka.
Azka mengatur nafasnya yang terasa sedikit sesak, ada butiran air yang menggenang disudut matanya.
"Cih, kenapa gue jadi selemah ini!" gumam Azka sambil membuka matanya.
Azka sedikit mendongak keatas, mengedipkan kelopak matanya beberapa kali. Agar air mata yang ia tahan sejak tadi tidak jatuh.
Azka kembali menyandarkan kepalanya seperti semula, tangan kanannya ia gunakan untuk menutup mata. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Azkia dan Azkia saja.
Tanpa Azka sadari ada seseorang yang berdiri disebalah mobilnya, sesekali oramg itu mengetuk kaca mobil milik Azka.
Tidak ada jawaban dari Azka membuat seseorang itu terlihat khawatir, dan langsung menggedor kaca mobil yang berada tepat disebelah Azka.
"Azka! Ka!" panggilnya.
"Azka! Heh! Lo tidur atau pingsan sih?" kesalnya sambil menempelkan wajah pada kaca mobil agar bisa melihat keadaan Azka dengan jelas.
Saat bersamaan Azka menoleh kearah kaca mobil yang membuatnya kaget ketika terlihat wajah yang sangat jelek menempel pada kaca mobilnya.
__ADS_1
"Astaga!!" kaget Azka begitu juga seseorang yang berada diluar mobil Azka.
...--------------------------------...