
Kruuyuukk kruyuukk
Seketika mereka semua mencari sumber suara tersebut, karena saat semua hening terdengarlah suara perut yang lapar.
"Hehe itu suara perut gue... tadi cuma sarapan roti aja udah laper lagi." ucap Bobo malu karena suara perutnya terdengar oleh semua orang, sedangkan mereka menertawakan Bobo.
"Astaga gue kira suara apaan." kata Nayla.
"Pesen makan kuy!" ajak Devira kemudian di setuju oleh yang lainnya.
"Di dapur ada makanan tuh." ucap Devan menawarkan masakan pembantunya yang tidak kalah enak.
"Nanti aja itu, gue lagi pengen seblak." ucap Devira.
"Mau!"
"Mau juga!" ucap Azkia, sedangkan Azka hanya diam saja sambil memainkan game di ponselnya.
"Boleh lah pesen itu, buat kita juga pengen nyobain gimana sih rasanya seblak sampai pada doyan gitu." saran Bobo sambil memakan camilan di depannya.
"Oke gue pesen sekarang, jadi semua ada..." ucap Devira terhenti saat dia menghitung jumlah temannya, "delapan bungkus ya, ni pedes semua?" tanya Devira lagi.
"Iya samain aja!" jawab Attaya yang sedang main ps di lantai bersama Ciko.
"Oke siap!" jawab Devira setelah itu memesan makanan seblak lewat gofood.
Bobo mengambil gitar yang tergeletak di sofa dekat Azka, sambil menunggu seblak datang dia berniat untuk menghibur diri. Sedangkan Devan ikut bermain ps bersama Ciko dan Attaya, Nayla Devira dan Azkia mereka sibuk melihat akun sosial media mereka sendiri - sendiri. Tidak jarang mereka berteriak histeris saat melihat keuwuan aktor favorit mereka.
"Nyanyi apa, Ka?" tanya Bobo kepada Azka, kemudian Azka menaruh ponselnya diatas meja dan memperhatikan Bobo.
"Terserah!" jawab Azka cuek.
"Kelingan mantan tau gak?" tanya Bobo kepada Azka sambil mencoba kunci gitar.
"Gak tahu." singkat Azka.
Jreeng
"Apa kabar wong seng tau tak sayang..." nyanyi Bobo.
"Apa kabar wong sing tau tak gawe nyaman." lanjut Azka, kini di tanganya sudah ada ponsel dengan layar yang menyala menandakan Azka sudah mencari lirik lagu yang Bobo nyanyikan.
"Susah seneng janjine bebarengan... ning akhire koe lungo ninggal kenangan." lanjut Bobo, lagu yang mereka berdua nyanyikan terdengar asyik membuat temannya ikut menikmatinya.
"Atiku ra bakal serapuh kui." sambung Azka, apalagi saat Azka bernyanyi membuat mereka kagum, karena mereka tidak menyangka Azka juga bisa menyanyikan lagu jawa seperti Bobo.
"Masalah percintaan tak piker keri... masalalu ra perlu tak baleni." sambung Bobo sambil terus memtik gitarnya.
"Duh jadi inget mantan kan." cuit Nayla sambil terfokus pada Azka dan Bobo.
__ADS_1
"Teko tenang kabeh uwis tak gawe...
la..li.." nyanyi Azka
"Hey apa kabar mantanku sing tau neng atiku.... kelingan ra karo aku sing tau ngisi atimu... mbien bubare mergo koe ono sing liyane." lanjut Azka dan Bobo bersamaan.
"Waton minggat ninggal lungo... aku sing ono neng kene... tangise ati iki mergo koe sing njalari." nyanyi Bobo sendirian sambil sesekali kepalanya manggut - manggut.
"Bahagiaku hancur ketika tresno iki di bagi... cerita cinta sing tak bangun nganti tibo tangi... terimakasih luka ini sekian ku pamit pergi." nyanyi Azka dan Bobo berbarengan lagi.
Jreeng jreng.
Lagu sudah habis dan mereka berdua mendapat tepuk tangan dari sahabt mereka. "Gue gak nyangka kalo lo bisa nyanyi jawa juga, Ka!" ucap Devan kagum.
"Iya bener, emang sahabat gue yang satu ini multilavel." jawab Attaya dengan percaya diri namun salah.
"Multitelent!" ralat Azkia Devira dan Nayla bersamaan dengan nada nggas.
"Iya iya itu yang gue maksut, multilevel eh multitelent haha." jawab Attaya sambil menghindari jitakan dari Nayla.
"Sejak kapan lo bisa lagu bahasa jawa?" tanya Ciko yang penasaran dan benar saja pertanyaan Ciko bisa mewakili mereka semua.
"Sejak tadi." jawan Azka santai.
"What!" kaget mereka, sedangkan Azka hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Keren, untuk pemula bagus pelafalan lo, Ka... diasak dikit lagi gue yakin lo bakalan sama kaya gue kerennya haha." ucap Bobo dangan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Dari arah luar terdengar suara, "Go good!" buru - buru Devira keluar untuk menghampiri suara tersebut. Setelah beberapa saat Devira kembali dengan menenteng dua kantung kresek di tangan kiri dan kanannya.
"Seblaknya datang guys!" teriak Devira sambil menggoyangkan dua kantung kresek yang dia bawa.
"Serbuu!" ucap Attaya dan Bobo seperti anak kecil sedangkan yang lainnya hanya tertawa sesekali menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman mereka seperti bocah.
Di depan mereka sudah tersedia mangkuk beserta sendok dan garpu, tak lupa ada satu teko es jeruk yang dibuatan oleh bibi.
"Duh, lidah gue udah bisa membayangkan gimana enaknya ini seblak." ucap Azkia yang mendapat lirikan dari Azka.
"Heh mana ada lidah bisa membayangkan, astaga ini anak sedikit konslet." ucap Devira sambil menepuk jidatnya.
"Yang ada tuh pikiran kita yang membayangkan, bukan lidah." saut Nayla.
"Bodo lah pokoknya itu hehe." jawab Azkia sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih.
"Haaaaahh!" ucap Bobo yang membuat kaget semua orang.
"Kenapa?" tanya mereka semua.
"Gila pueedeess buanget tau gak, tapi enak bikin nagih." jelas Bobo sambil menyuapkan lagi seblaknya, diikuti temannya yang lain.
__ADS_1
"Ini pedes semua?" tanya Azka ditengah - tengah makan, karena hanya dia sendiri yang belum mencoba seblaknya.
"Iya!" jawab Azkia sambil menahan pedas di mulutnya, bahkan bibir Azkia sudah terlihat merah karena efek dari pedasnya seblak.
"Yang namanya seblak pasti pedes lah, Ka!" jawab Ciko.
"Cobain aja Ka, sapa tau lo juga suka kek Bobo tuh." saran Devira. Namun Azka masih saja diam menatap seblak yang ada di depannya.
"Kalo gak suka gak usah di makan, gue suruh bibi buat masakin lo aja." saran Devan.
"Enak kok, Ka... kamu cobain deh dikit." ucap Azkia memberi saran kepada Azka. Azkia geram karena tidak mendapat jawaban apapun dari Azka, saat Azka ngomong tiba - tiba saja satu suapan seblak masuk kedalam mulutnya.
"Boleh, Va—" suapan Azkia masuk dengan sepurna di mulut Azka.
"Uhukk uhuk a- air" ucap Azka terbata. Dengan cepat mereka menyodorkan air minum mereka yang masih belum di minum, dan dengan cepat pula Azka mengambil salah satu gelas agar tersedaknya hilang.
Saat dikira sudah lumayan mendingan Azka menaruh gelas itu diatas meja, wajahnya terlihat merah seperti tomat. Bahkan bibirnya tidak kalah merah, seperti seseorang yang sedang mengenekan lipteen.
"Lo gak papa, Ka?" tanya Attaya.
"Udah mendingan belum?" tanya Bobo, Azka hanya mengangguk dan menggeleng menjawab pertanyaan mereka.
Karena rasa pedas seperti terbakar masih terasa di lidah bahkan tenggorokan Azka, "Van, ambilin es!" perintah Azka kepada Devan.
"Oke!" ucap Devan sambil melangkah kedapur.
"Maaf." lirih Azkia sambil sedikit menunduk tidak berani melihat Azka, sedangkan Azka masih diam saja.
"Aku gak sengaja." lirik Azkia lagi, Devan kembali dengan membawa segelas es batu dan langsung saja memberikannya kepada Azka.
Azka langsung memakan satu es batu yang sudah terpecah menjadi kecil - kecil tersebut. Saat es batu masuk kedalam mulut Azka, terasa dingin dan nyaman sedikit demi sedikit mampu menyamarkan rasa terbakar di dalam mulut Azka.
Setelah di rasa cukup Azka berhenti memakan es tersebut, kemudian menoleh kearah Azkia. Tangannya terulur menuju pucuk kepala Azkia, sambil berkata, "Dimaafkan!"
"Sebenarnya kenapa ini?" tanya Ciko yang tidak mengerti.
"Azka gak kuat sama makanan pedas!" jawab Attaya dan juga Devan bersamaan, pasalnya mereka juga lupa tidak memesan yang tidak pedas atau level 1 saja buat Azka.
"Ohh." ucap mereka beroh ria.
"Perut aman, Ka?" tanya Ciko.
"Aman!" jawabnya singkat.
Seblak mereka sudah habis hanya tersisa milik Azka yang memang tidak dimakan.
......................
^^^"Apa kabar? Baik - baik kan.. ku harap begitu, karena aku di sini juga Baik - baik saja.^^^
__ADS_1
^^^—Mantan ^^^