
Suara sepatu terdengar disetiap lorong kelas, karena sudah masuk jam pelajaran sehingga tidak terlihat siswa yang berkeliaran. Hanya terlihat beberapa siswa saja yang baru akan masuk kedalam kelas.
Suara gesekan sepatu dan lantai bahkan bisa terdengar jelas saat suasana sepi seperti ini. Terlihat seorang cowok dengan kaca mata yang selalu ia kenakan berjalan santai menuju kelasnya. Disebelahnya ada perempuan yang tidak lain tetangga kelasnya.
Sesekali terdengar suara gadis yang sedang mencoba mengajak bicara si kutu buku anak XII IPS 1. Siapa lagi kalo bukan Ciko, ia baru saja kembali dari kantor guru setelah mendapatkan perintah jika ketua kelas diharuskan berkumpul.
"Yes! Jamkos sampai siang... yuhuu!" teriak gadis itu yang bername tag Clarisa.
Clarisa adalah ketua kelas sebelah kelas Ciko, sehingga saat ada panggilan ketua kelas Ciko dan Clarisa secara tidak sengaja akan datang bersamaan. Seperti saat ini, hanya saja Ciko terlalu fokus pada buku yang sedang ia baca sambil berjalan dan tidak ada niatan untuk menanggapi ocehan Clarisa.
Sesekali Ciko menggerakkan ujung matanya untuk sekesar melihat tingkah Clarisa yang seperti anak tk. Ciko benar-benar tidak habis pikir, perempuan modelan seperti Clarisa ini bisa menjadi ketua kelas. Ciko tidak bisa membayangkan bagaimana kelas yang di ketuai oleh Clarisa, mungkin akan sama absrudnya dengan Clarisa.
Langkah kaki Ciko dan Clarisa memenuhi lorong kelas mereka, membuat seluruh penghuni kelas terdiam dan kembali ketempat duduknya. Mereka mengira jika itu pak Slamet yang selalu berpatroli disetiap sudut sekolah, agar tidak ada siswa yang membolos.
Clek!
Suara pintu terbuka membuat semua orang yang berada didalam kelas menatap pintu masuk. Terlihat kaki Ciko terlebih dahulu yang mengenakan seragam berwarna coklat.
"Astaga, gue kira pak Slamet, Ko!" gerutu Dika.
"Kalo masuk ketuk dulu kek, bikin kaget aja!" teriak Bobo.
"Aman!" ucap satu siswa yang baru saja kembali dari kantin.
Ciko malas menangapi ocehan teman-temannya itu, ia lebih memilih diam dan berjalan menuju depan papan tulis.
"Eheemmm!" deheman Ciko membuat mereka semua diam dan memperhatikan Ciko.
"Berhubung hari ini semua guru ada rapat, jadi kita." belum selesai bicara sudah ada yang menyambar perkataan Ciko.
"PULANG CEPAT!" teriak Aditia.
Membuat kelas yang awalnya tenang kembali riuh dengan cuitan-cuitan mereka.
Ciko geram dengan teman-temannya yang suka menyela saat ia belum selesai berbicara.
Tok tok!
Beberapa kali Ciko mengetuk papan tulis yang berada di belakangnya itu.
"Kita ada tugas!" ucapnya tegas.
"Yaaaahhhh!" kompak satu kelas saat mendengar ucapan Ciko.
"Gak jadi pulang cepet?" tanya Dini.
Ciko menggelengkan kepalanya,"kita ada tugas mengerjakan soal-soal latihan UN, nanti di kumpulkan!"
"Huuuuhh!" seru mereka semua seperti paduan suara.
Akhirnya mau tidak mau mereka mencoba mengerjakan soal-soal UN dengan setengah hati. Kelas yang sudah terkenal dikalangan semua guru, sehingga tidak heran jika kelas mereka sangat ramai saat jam kosong.
Sebenarnya Azka sangat malas untuk mencoba mengerjakan soal-soal itu, terlebih lagi untuk pelajaran matematika. Azka malas untuk mencari jawaban karena menggunakan rumus, jika rumus salah maka harus mengulang dari awal lagi.
"Sini aku ajarin," ucap gadis cantik disebelahnya.
Azka hanya diam menatap Azkia, dari tatapannya tersirat keragukan akan kemampuan Azkia. Azkia menyadari tatapan itu, ia tersenyum tipis.
"Yang jelas aku lebih paham sama yang rumit-rumit kek gini, soalnya pacarku juga rumit hehe," canda Azkia sambil membuka soal milik Azka.
"Pacarmu siapa?" tanya Azka.
"Kamu gak tahu? Pacarku itu lebih dingin dari es, lebih pendiem dari patung!" ucap Azkia membuat Attaya dan Devan tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.
__ADS_1
Azka menyerkitkan alisnya mendengar pertunuturan Azkia.
"Tapi kamu sayang kan?" tanya Azka.
"Emmm, sayang gak ya?" goda Azkia, kali ini ia ingin menjaili Azka juga.
Wajah Azka berubah menjadi kesal, ia tidak suka dengan jawaban Azkia yang seperti itu. Karena terkesan meremehkan perasaanya.
"Gak sayang," ucap Azkia yang semakin membuat Azka diam tanpa ekspresi sedikit pun.
Azkia menaik turunkan alisnya berharap ada respon dari Azka, namun dugaannya salah. Azka terlihat marah, dia mengacuhkan Azkia.
"Azka?" panggil Azkia sambil menarik lengan bajunya.
"Jangan marah dong, kan aku cuma bercanda... ya gak Van, Ta?" Azkia mencari pembelaan dari Devan dan Attaya.
Attaya menyenggol lengan Devan, menyuruhnya untuk buka suara.
"Iya, Azkia cuma bercanda, Ka... jangan dimasukin hati!" ucap Devan.
"Azka jangan marah-marah, nanti kau cepat tua.. kalau lo tua Azkia buat gue saja!" nyanyi Bobo sambil memetikkan gitarnya sambil melangkah menuju pojokan belakang bangku Azka.
"Emangnya lo berani?" tanya Ciko.
Bobo menatap Ciko sambil tersenyum manis.
"Gue?" tanya Bobo sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya, Ciko hanya mengangguk.
"Ya... ya gak berani lah, gila kali gue masih mau hidup," ucap Bobo, hal itu membuat mereka semua tertawa. Kecuali Azka pastinya.
"Udah dong jangan ngambek, aku cuma bercanda aja.. soalnya kamu sering banget godain aku kan—" ucapan Azkia terpotong.
"Ohh, mau balas dendam ceritanya?" tanya Azka.
"Emm gak gitu, aku cuma bercanda serius," kata Azkia sambil memasang wajah sedihnya.
"Hah?" tanya Azkia bingung.
Azka sedikit mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Bahkan Azkia dapat merasakan hembusan nafas Azka. Membuat jantung Azkia bertedak lebih kencang, seakan ingin keluar dari tempatnya. Apalagi ketika mendengar perkataan Azka membuat Azkia semakin salah tingkah.
"Coba cium dibibir gitu," bisik Azka sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Azkia memelototkan matanya, dengan cepat ia mendorong tubuh Azka hingga menabrak dinding.
"Ka-kamu, kamu ngomong apa sih!" wajah Azkia sudah merah merona bahkan detak jantungnya sampai terdengar.
"Kalau mau godain jangan setengah-setengah!" ucap Azka, lagi-lagi ia mengerlikan sebelah matanya menggoda Azkia. Bahkan Azka sempat tertawa melihat ekspresi kaget Azkia.
"Jadi dari tadi lo tau gue godain, terus sengaja pura-pura marah gitu! Astaga, kenapa pacar gue licik banget sih." batin Azkia.
"Niat mau godain eh malah kegoda!" celetuk Devira yang melihat pertunjukan Azkia dan Azka.
Membuat mereka semua tertawa, setelah itu mereka fokus lagi pada soal-soal yang sudah ada didepan mata. Devan duduk bersama Devira, ia memintanya untuk mengajari soal-soal yang tidak dipahami begitu juga dengan Attaya. Dia melakukan hal yang sama bersama Ciko. Sesekali Bobo ikut mengamati saat Ciko menjelaskan sebuah materi.
Sedangkan Azka, ia terus menatap Azkia yang duduk disebelahnya. Dengan telaten gadis cantik itu sibuk menjelaskan rumus matematika dan cara mengerjakannya. Azka terlihat dengan seksama mendengarkan penjelasan Azkia, namun sebenarnya ia tidak fokus kepada rumus itu melainkan pada wajah cantik Azkia.
Pikiran Azka melayang entah kemana, yang jelas dia sedang mengagumi gadis cantik didepannya itu.
"Mana bisa gue jauh dari lo, Nyun!" batin Azka.
"Pahamkan?" ucap Azkia.
"Azka?" panggil Azkia.
__ADS_1
Azkia menoleh, dia melihat Azka yang masih menatapnya. Namun matanya terlihat kosong.
"Azkaa!" panggilnya lagi sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Azka.
Melihat tidak ada respon membuat Azkia geram, ia sudah capek menjelaskan. Tapi ternyata Azka tidak serius dan hanya bengong saja.
"PATUNG ES!" teriak Azkia sambil menyenggol lengan Azka yang ia gunakan sebagai tumpuan kepala.
"Hah apa?" tanya Azka.
"Nglamun mulu, cewek lo ilang juga gak tau ngab!" ledek Bobo sambil terkekeh.
"Lo berani?" tanya Azka dingin.
"Ampun suhu," ucap Bobo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Azka kembali menatap Azkia yang tengah melipat tangannya didepan dada, membuat Azka tersenyum kikuk.
"Udah nghalu nya!" ucap Azkia.
"Udah." jawab Azka tanpa dosa.
Azkia mengulurkan tangannya, dengan cepat Azkia sudah menjewer telinga Azka tanpa ampun.
"Awh! Sakit, nyun!" rintik Azka sambil memegangi telinganya.
"Sakitan mana, sama aku yang udah jelasin panjang kali lebar tapi kamunya malah bengong gitu!" gerutu Azkia.
"Iya maaf," ucap Azka lembut.
"Tarik terus, Ki... jarang-jarang kita liat Azka dianiaya. Hahhaa!" ucap Attaya sambil terkekeh.
"Nah bener itu!" sambung Devan.
"Diam!" bentak Azka membuat mereka terdiam namun masih tidak bisa menahan tawanya.
"Kamu berani bentak aku?" tanya Azkia.
"Buka kamu, tapi mereka!" kesal Azka sambil melirik sahabatnya yang masih tertawa.
"Aku kan juga ngetawain kamu, berarti kamu bentak aku juga!" kata Azkia yang masih menjewer Azka.
"Mana ada, aku gak bentak kamu, Nyun!" jelas Azka.
"Yang bener?" tanyanya.
"Iya bener, lepasin sakit." keluh Azka.
"Makanya kalo ada orang ngomong itu didengerin jangan cuma masuk telinga kiri terus keluar telinga kanan!" kata Azkia sambil melepaskan jewerannya.
"Iyaaa saayaang!" ucap Azka sambil mengusap telinga yang sudah memerah.
"Kamu harus rajin belajar, masa ayah dari anak-anak ku gak bisa tambah-tambahan," ucap Azkia membuat mereka semua tertawa.
"Iya-iya, serius belajarnya," ucap Azka sambil cemberut membuat Azkia gemas.
Tanpa sadar tanganya mencubit pipi Azka, membuat siempunya pipi merintih lagi.
"Manyun!" gertak Azka sambil menatap Azkia.
"Eh maaf, gak sadar! hehee!" ucap Azkia sambil melepaskan tangannya dari pipi Azka.
Kemudian Azka melakukan hal yang sama yaitu mencubit pipi Azkia, ia juga beralasan tidak sengaja. Sambil mengerlingkan sebelah matanya, dan lagi-lagi membuat Azkia salah tingkah.
__ADS_1
...--------------------------------...
Dukung aurhor dengan like coment vote tips dan share ya! Makasih semua :)