
Hingga gelap menyapa Azkia masih tetap pada posisinya semula, ia menangis hingga tertidur. Azkia merentangkan tangannya karena terasa pegal, matanya terlihat sembab hampir seharian ia menangis. Tangannya sibuk mencari keberadaan benda pipih yang sekarang menjadi benda yang sangat penting untuknya, bagaimana tidak penting jika itu yang bisa membuatnya berkomunikasi dengan Azka.
"Dimana sih?" gerutu Azkia.
Setelah menemukan ponselnya, Azkia membuka aplikasi chat. Hatinya menjadi gelisah saat belum ada satupun notif dari Azka. Pikirannya semakin tak menentu, berharap semoga Azka baik-baik saja.
"Masa belum sampai, sih?" gumam Azkia, sambil melihat jam pada layar ponselnya.
"Kalau udah sampai kenapa gak ngabarin?" batin Azkia sedikit negatif tingking.
Azkia berusaha menghubungi nomor Azka, hanya terdengar suara dari operator.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi." setelah mendengar itu tangannya langsung menekan tombol warna merah.
"Kenapa gue bisa lupa, kan beda negara mana aktif nomornya," gerutu Azkia sambil menepuk jidatnya pelan.
Azkia masih berusaha menghubungi Azka lewat panggilan di aplikasi chat, tapi tetap saja tidak bisa dihungungi. Azkia tidak menyerah begitu saja ia masih mengirimi Azka pesan singkat, walaupun chat itu masih saja centang satu dan berwarna abu-abu.
Azkia pasrah saja, ia meletakan ponselnya diatas nakas dengan kesal. Kemudian melangkah menuju kamar mandi, ia butuh menenangkan pikirannya. Sehingga Azkia akan berandam air hangat.
Cukup lama sekali Azkia berada di dalam kamar mandi, hingga ia tidak mengetahui jika mamanya sudah berada di dalam kamar.
klek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan gadis cantik yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Mama?" panggilnya.
"Mama bawaain kamu nasi goreng, dimakan ya!" perintah sang mama.
"Kia gak ada selera buat makan, mah." Azkia duduk disebelah mamanya.
"Jangan gitu sayang, sedih boleh tapi jangan nyakitin diri sendiri." sang mama mengambil sepiring nasi goreng yang diletakan diatas nakas.
"Azkia beneran lagi males makan, mah... udah kenyang," saut Azkia sambil menutup mulutnya saat satu suapan nasi goreng berada di depan mulutnya.
"Kenyang dari mana? Seharian kamu belum makan apapun," kata mama Lala.
"Tapi mah, Kia beneran malas makan serius," ucapnya sambil mengacungkan kedua jari membentuk huruf V.
"Yaudah, kalau gak mau makan ponsel kamu mama sita!" tegas mama Lala.
"Loh! Gak bisa gitu dong mah, kalau disita nanti Kia gimana komunikasi sama Azka? Mama tahu sendiri kan, sekarang Kia lagi LDR an sama Azka." protes Azkia.
"Mama gak perduli!" ucap mama Lala sambil mengambil ponsel Azkia.
"Mama!" Azkia tidak bisa berbuat apapun selain pasrah,"yaudah Kia makan!"
Tangannya menyambar sepiring nasi goreng, lalu dengan terpaksa Azkia menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Sang mama hanya memperhatian putrinya sambil menahan senyuman.
__ADS_1
Setelah beberapa saat sepiring nasi goreng itu habis juga. Tidak di pungkiri jika perut Azkia memang terasa lapar, karena menangis juga butuh tenaga.
"Harusnya gitu dari tadi, gak usah pake drama segala." ucap mama Lala sambil mengembalikan ponsel Azkia.
"Huh! Mama gak tau apa yang Kia rasain, sih." keluh Azkia sambil melihat ponselnya yang belum ada notif dari Azka.
"Mama tahu kok, tapi mama gak sebucin kamu hehe." mama Lala mencubit pipi Azkia.
"Tuh kan, ini si Azka juga mana lagi.. masa sampai sekarang gak ada kabarnya, udah sampai apa belum." gerutu Azkia sambil mencoba menghubungi Azka lagi.
"Sabar sayang, hubungan jarak jauh ini yang bisa buat kalian dewasa, saling memahami, jangan negat thinking." nasehat mama Lala.
"Iya-iya, tapi kan Azkia maunya dikabarin kalau udah sampai, kalau kaya gini kan buat panik." keluh Azkia sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Azkia berguling kesana-kemari sambil terus menatap layar ponselnya. Mama Lala hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
......................
Azka tengah menggeliat, badannya terasa capek setelah penerbangan yang cukup lama. Ia tertidur setelah sampai diapartemen yang telah disiapkan oleh sang papa.
Setelah mencuci wajah, Azka mencari ponsel yang tergeletak diatas tempat tidur. Ia lupa menyalakan ponsel itu sejak keberangkatannya. Azka menekan tombol power, setelah itu terlihat lah layar ponsel yang menyala.
Drttt drttt
Ada beberapa pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab. Mulai dari orang tua Azka hingga pacar dan sahabatnya. Mereka semua menanyakan Azka sudah tiba atau belum. Satu persatu Azka membalas pesan mereka, Azka tidak menyadari jika perbedaan waktu sangat jelas sehingga tidak ada balasan dari mereka.
Azka mencoba menelepon nomor Azkia, beberapa kali berdering namun tidak ada jawaban. Membuat Azka menyerah, namun sebelum Azka mematikan ponselnya terdengar suara khas orang bangun tidur dari seberang sana.
"Tidur?" tanya Azka sambil tersenyum.
"Iya tidur lah, tengah malam gini siapa yang mau gadang," ucap Azkia, ia belum sadar jika yang menelepon adalah Azka.
"Yaudah dilanjut tidurnya, sayang!" ucap Azka lembut.
Mendengar kata sayang membuat mata Azkia yang lengket menjadi terbuka lebar. Ia menatap layar ponselnya, ada senyum yang terlukis dibibirnya.
"AZKA!" pekik Azkia bahagia.
"Iya, kenapa?" tanya Azka.
"Kamu kemana aja, kenapa baru bisa dihubungin? Udah sampai belum? Kamu baik-baik aja kan? Gimana tempatnya nyaman gak? Kamu sama siapa disitu?" tanya Azkia beruntun membuat Azka kebingungan menjawabnya.
"Nyun?" panggil Azka yang mendengar Azkia terus saja mengoceh sendiri.
"Sayang?" panggilnya lagi.
"Iya, kenapa?" tanya Azkia.
"Aku gak bisa jawab," saut Azka.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Azkia
"Bingung mau jawab yang mana dulu, kamu tuh kek wartawan yang baru ketemu sama targetnya." gerutu Azka yang membuat Azkia terkekeh.
"Maaf, yaudah jawab satu-satu hehe." pinta Azkia.
"Hmmm, tadi ketiduran sampai lupa ngabarin kamu... aku baik-baik aja, dan aku sendiri disini." jelas Azka.
"Lain kali usahain kabarin, ya... kamu gak tau kan aku nungguin tau, aku takut kamu kenapa-kenapa." ucap Azkia.
"Iya sayang maaf, ya." ucap Azka.
"Hmmm, kamu tau gak rasanya lama banget." ucap Azkia.
"Apanya?" tanya Azka bingung.
"Waktunya terasa lama saat kamu gak disini," ucap Azkia sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Iya, lama banget!" saut Azka.
"Kamu kapan balik?" tanya Azkia.
Azka tersenyum mendengar itu, belum ada satu hari Azka disini tapi Azkia sudah menanyakan kapan Azka kembali.
"Baru juga sampai, kok nanya gitu," ucap Azka sambil terkekeh.
"Biarin! Aku mau waktu cepat berlalu agar kita bisa cepat bertemu." saut Azkia, pipinya mengembung namun sayang Azka tidak dapat melihatnya
"Bersabarlah, yaudah lanjut tidur gih." perintah Azka.
"Hmmmm," dengus Azkia, padahal dirinya masih kangen.
"Kenapa?" tanya Azka.
"Udah gak bisa tidur, masih kangen juga." jawab Azkia jujur.
"Terus gimana?" tanya Azka.
"Nyanyiin, biar cepet tidur." pinta Azkia.
"Gak ada gitar, sayang.. gak bisa nyanyi." saut Azka.
"Huuhh!" kesal Azkia.
Akhirnya mau tidak mau Azka menyanyikan sebuah lagu walaupun tanpa gitar. Suara Azka mampu membuat Azkia terlelap lagi dalam tidurnya, hingga ia tidak sadar jika Azka terus memanggil namanya.
"Night dream, nyun!" ucap Azka sebelum mematikan teleponnya.
Kemudian Azka ikut tertidur lagi karena maish jam 3 dini hari ditempat Azka.
__ADS_1
...----------------...