
Beberapa hari telah berlalu kali ini Rayhan kembali mendatangi dokter Ratna. Terlihat wajah Rayhan begitu panik terlebih saat ia mengetahui jika sang istri harus melahirkan secara prematut. Rayhan tidak menyanka jika sang istri akan mengalami hal seperti ini padahal sebelumnya semua baik-baik saja.
Tadi saat berbelanja keperluan rumah tanpa sengaja ada yang menabrak tubuh Rayya hingga membuatnya terhuyung jatuh kebelakang, mengakibatkan baby yang ada didalam perut Rayya harus dilahirkan sebelum waktunya dengan operasi caecar.
Usia kandungan Rayya genap 7 bulan saat ini, sehingga dokter menyarankan untuk operasi caecar agar keduanya selamat. Rayhan yang mengetahui itu langsung menyetujuinya karena ia tidak ingin kehilangan istri dan juga anaknya.
Rayya dibawa keruang operasi sedangkan Rayhan menyelesaikan semua administrasi agar sang istri segera ditangani. Setelah semuanya selesai Rayhan bergegas menuju ruang operasi dimana sang istri sudah ada didalam. Rayhan bahkan melupakan jika ia juga seorang dokter yang memiliki banyak pasien yang harus diperiksa namun ia juga harus ada disisih sang istri yang sedang berjuang.
Hati Rayhan gundah dan gelisah, ia bahkan sampai mematikan ponselnya agar tidak dihubungi rekan kerjanya. Namun Rayhan juga menyempatkan diri untuk mengiriminya pesan singkat yang memberitahukan bahwa ia tidak bisa ke rumah sakit saat ini, karena sang istri sedang operasi.
Entahlah sudah berapa kali Rayhan mondar-mandir didepan ruang operasi, bahkan ia terus menatap pintu ruang operasi berharap sang dokter segera keluar.
"Harusnya tadi aku ikut kedalam, tapi gak tega," monolog Rayhan.
Mulut Rayhan terus saja berkomat-kamit melafalkan doa untuk sang istri dan juga anaknya. Hingga lima puluh menit berlaku akhirnya pintu ruang operasi terbuka juga.
Terlihat seorang serba putih keluar dari ruang operasi dengan melepaskan masker yang ia pakai.
"Gimana dok?" tanya Rayhan saat mengetahui jika yang keluar itu adalah doktet yang menangani Rayya.
"Alhamdulillah, semuanya lancar. Dan selamat putra anda lahir dengan selamat!" dokter itu menepuh bahu Rayhan lalu pergi.
Rayhan yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya seakan ingin berteriak namun tidak visa. Rayhan lalu bergegas masuk kedalam ruang operasi terlihat sang istri masih lemah dan disebelahnya ada jagoan kecil yang terlelap.
Rayhan mencium kening Rayya, efek obat biusnya sudah berangsur hilang sehingga ia tahu apa yang dilakukan samg suami.
Cup!
"Makasih, sudah berjuang melahirkan anak kita!" lirih Rayhan dengan mata yang berkaca-kaca.
Tidak dipungkiri Rayhan merasakan kebahagian yang tidak bisa ia ungkapkan, ia terus saja bersyukur melihat kedua orang yang berarti dalam hidupnya baik-baik saja.
Rayhan mendekati jagoan kecilnya lalu menggendongnya, Rayhan melantunkan adzan pada telinga kanan jagoan kecilnya itu diteruskan dengan mengikamahkannya di telinga kiri.
Tanpa sadar air mata Rayya mengalir begitu saja saat melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat itu, ia juga merasa bahagia bisa menjadi seorang ibu walaupun harus operasi caecar padahal ia berharap bisa melahirkan dengan normal.
Rayhan mencium jagoan kecilnya beberapa kali hingga tidurnya terusik, membuat Rayhan tersenyum manis.
"Jagon kecil papa, sehat-sehat ya!" Kata Rayhan pada bayinya yang belum diberi nama itu.
Setelah beberapa saat Rayya dipindahkan keruang rawat inap melihat kondisinya dan sang buah hati tidak mengalami masalah apapun.
Setelah proses melahirkan caesar, Rayya dan bayinya akan tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga hari. Rayya akan tetap menggunakan infus. Hal ini memungkinkan tingkat obat penghilang rasa sakit yang disesuaikan untuk dikirim ke aliran darah saat anestesi habis.
__ADS_1
Dokter juga menyarankan Rayya untuk bangun dan berjalan-jalan. Ini dapat membantu mencegah pembekuan darah dan sembelit.
Terlihat Rayya yang kesusahan bangun dari bangkarnya membuat Rayhan dengan sigap membantu Rayya agar bisa bersandar.
"Mau apa?" tanya Rayhan lembut.
"Minum," jawab Rayya.
Kemudian Rayhan mengambil segelas air putih yang berada diatas nakas, dengan sabar ia membantu Rayya minum.
"Mau makan, gak?" tanya Rayhan.
Rayya hanya menggeleng saja, ada rasa haru yang menjalar begitu saja dalam hati Rayya. Bagimana tidak walaupun Rayhan menerima semua perhatian Rayya namun tetap saja Rayhan tidak membalasnya dengan sepenuh hati. Lebih tepatnya Rayhan memaksakan semua perhatiannya pada Rayya sehingga terasa tidak tulus, namun itu tidak masalah buat Rayya. Karena Rayya tau cepat atau lambat Rayhan akan menerimanya dengan sepenuh hati terlebih lagi saat ini ada sang buah hati diantara mereka berdua.
"Kalau butuh apa-apa bilang aja," kata Rayhan tulus.
Lagi-lagi Rayya hanya mengangguk sambil memperhatikan Rayhan yang terus mengajak bicara buah hatinya padahal masih terlelap dalam tidur.
"Aku juga udah minta izin buat kamu cuti kerja dulu, sampai kamu siap untuk bekerja lagi... tapi kalau bisa kamu dirumah aja jagain anak kita," lanjut Rayhan sambil menatap Rayya lekat.
"Nanti aku pikirin dulu, ya!" kata Rayya.
"Baiklah, semuanya terserah kamu." kata Rayhan.
"Anak papa ganteng banget sih, mirip sama papa ya?" tanya Rayhan.
"Nasis banget sih, Han!" kata Rayya sambil terkekeh.
"Biarin ya kan, boy!" saut Rayhan.
Rayya tertawa melihat sikap Rayhan itu, "Awwhh!" rintih Rayya kemudian.
"Kenapa, apa yang sakit?" tanya Rayhan panik.
"Ini jahitnya kebuka deh, perih." keluh Rayya.
"Oke tunggu sebentar, aku panggilin dokter." setelah mengatakan itu Rayhan langsung pergi mencari dokter.
Setelah beberapa saat masuk lah dokter bersama dengan seorang suster dan dibelakangnya ada Rayhan.
Rayya membiarkan dokter Ratna memeriksa luka bekas sayatan dari operasi caecar, sedangkan Rayhan kembali fokus pada jagon kecilnya.
"Kamu jangan banyak gerak dulu, ya. Nanti lukamu kebuka lagi," kata dokter.
__ADS_1
"Iya dok, tadi cuma ketawa doang padahal." adu Rayya.
"Iya tapi jangan berlebihan, biar cepat sembuh." kata dokter Ratna.
Rayya hanya mengangguk saja, sambil memperhatikan lukanya yang diobati oleh suster. Sedangkan Rayhan hanya mendengarkan semua perkataan sang dokter.
"Baiklah, kalo gitu saya permisi dulu... kalau ada apa-apa langsung panggil saya saja. Dan inget jangan terlalu capek." pesan dokter Ratna.
"Iya dok, makasih!" kata Rayya.
Hening, setelah dokter dan suster pergi tidak ada lagi percakapan diruangan itu. Hingga suara tangisan sang buah hati yang memecah keheningan itu.
Oeek oooeeeekk ooeeekk.
Dengan cekatan Rayhan langsung menggendong jagoannya itu, namun tetap saja tidak bisa mendiamkannya.
"Mungkin dia haus," kata Rayya.
"Haus?" tanya Rayhan menatap Rayya.
"Jagoan papa mau minum?" tanya Rayhan, dan tangis jagoan kecil itu semakin keras.
"Sini," pinta Rayya sambil mengatungkan kedua tangannya meminta jagoan kecil mereka.
Rayhan yang paham langsung saja memberikannya pada sang istri, dan benar saja baby itu terlihat sangat haus.
Jagoan kecil itu terlihat tertidur pulas dalam pelukan Rayya, wajahnya terlihat mirip dengan Rayhan namun jika diperhatian lagi mirip dengan Rayya juga di bagian bibirnya.
"Evan Anggara Mahardika," kata Rayhan sambil berdiri disebelah bankar Rayya.
Rayya hanya menatap bingung kearah Rayhan, Rayhan yang paham langsung buka suara lagi.
"Nama buat jagoan kecil kita," ucap Rayhan.
"Evan? Anak mama yang paling ganteng, jadi anak sholeh ya... buat bangga papa sama mama," ucap Rayya sambil menciumi pipi mungil Evan.
...----------------...
...***HAPPY NEE YEAR 2022...
TERIMAKASIH UNTUK KALIAN SEMUA YANG SUDAH DUKUNG AUTHOR SAMPAI SAAT INI, DAN MAAF JIKA MASIH BANYAK KESALAHAN DALAM NOVEL YANG AUTHOR BUAT. SEMOGA KEDEPANNYA AKAN LEBIH BAIK LAGI AGAR KALIAN TETAP SUKA DENGAN KARYA AUTHOR.
DAN SEMOGA KEINGINAN KITA SEGERA TERWUJUD DITAHUN INI. AMIIN***
__ADS_1