
Kicauan burung di pagi hari mampu mengusik mimpi indah seorang gadis, memaksanya untuk bangun. Matanya masih terpejam terasa seperti terdapat gundukan lem dikelopak matanya. Namun, cahaya yang memaksa masuk dari cela-cela jendela membuatnya tidak bisa melanjutkan tidur.
Mata gadis itu sedikit demi sedikit terbuka, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Ia melangkah menuju kamar mandi, tapi sebelum itu ia berhenti tepat di depan sebuah kaca.
"Astaga! Mata gue kenapa sampai kek gini!" teriaknya saat menyadari matanya memerah dan masih terlihat sembab.
"Selama itu gue nangis!" pekiknya sambil berlari menuju kamar mandi.
Ia mencoba mengompres dengan air dingin agar tidak terlalu terlihat sembab. Setelah selesai dengan ritual paginya, ia turun kebawa.
Terlihat sang mama ditemani art sibuk menyiapkan sarapan pagi. Dengan langkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara, setelah dekat ia sengaja mengagetkan sang mama.
"MAMA!" teriaknya sambil memeluk sang mama dari belakang.
"Astaga Kia, bikin mama jantungan!" ucap sang mama.
"Hehe maaf, mah!" ucap Azkia sambil melepaskan pelukannya.
"Mata kamu kenapa?" tanya mama Lala sambil menangkup pipi Azkia.
"Hah, kenapa emangnya?" Azkia pura-pura tidak tahu.
"Kamu habis nangis, kenapa?" tanya mama Lala.
"Eng-engak kok mah, tadi cuma kena sabun aja jadi merah." elak Azkia.
"Yang bener?" tanyanya.
"Bener mama sayang," ucap Azkia sambil mengangguk.
"Yuadah duduk sana, kita sarapan," ucap mama Lala sambil mengusap punggung Azkia.
Azkia menurut saja seperti anak kecil. Tidak berapa lama Bima muncul dengan pakaian kerjanya. Bima menghampiri istrinya, lalu mencium kening sang istri.
"Duh yang pagi-pagi pamer kemesraan," cibir Azkia sambil mengoleskan selai pada rotinya.
"Iri?" tanya sang papa.
"Dikit," jawab Azkia sambil terkekeh.
"Makanya buruan nikah, gak usah lama-lama." canda sang papa sambil mengusap pucuk kepala Azkia.
"Ih papa apaan sih, ijazah Kia aja belum keluar masa udah dapet ijabsah!" gerutunya sambil memasukan roti kedalam mulut.
__ADS_1
"Gak masalah, ya kan mah," ucap Bima sambil menyeruput kopinya.
"Iya, mama udah siap kok ngurusin cucu." sambil menaruh roti yang sudah diberi selai pada piring Bima.
"Ihh, mama ngomong apa sih. Kia, mau kuliaj dulu baru mikirin anak." kesal Kia yang digoda terus oleh kedua orang tuanya.
"Kamu udah tau, kalau Azka mau kuliah diluar negeri?" tanya Bima yang membuat Azkia menghentikan sarapannya.
"Ta-tau!" tiba-tiba saja tenggorokan Azkia terasa penuh, ia kesulitan untuk menjawab pertanyaan sang papa.
Matanya mulai memanas saat mengingat kejujuran Azka beberapa waktu lalu, tentang dia dan dirinya yang akan terpisah jarak.
"Kamu baik-baik aja sayang?" tanya mama Lala.
Azkia mencoba tersenyum sambil menatap sang mama, ia juga berusaha agar air matanya tidak jatuh.
"Baik kok, mah!" Azkia meletakkan rotinya yang belum habis. ***** makannya seakan hilang begitu saja.
"Kia udah kenyang, mau balik ke kamar dulu." Azkia langsung pergi setelah mengatakan itu. Bahkan ia tidak menghiraukan panggilan sang mama.
"Azkia, kamu baru makan dikit kenyang dari mana?" kata sang mama.
"Udahlah mah, nanti kalau lapar dia juga turun lagi." Bima tahu apa yang putrinya itu rasakan.
Setelah sarapan selesai, Bima pamit berangkat ke kantor sedangkan Lala ia sibuk mengurus tanamannya yang berada dibelakang rumah.
Bima menyempatkan diri untuk melihat keadaan putrinya itu. Bima mengetuk pintu kamar Azkia yang ternyata tidak tertutup rapat, ia bisa mendengar isak tangis dari bibir Azkia.
"Sayang, papa masuk ya?" ucap Bima samnil membuka pintu kamar Azkia.
Azkia lebih memilih menyelimuti dirinya dari atas hingga bawah, hanya terlihat sedikit pucuk kepala Azkia.
Bima mendekat, ia duduk disebelah Azkia berbaring. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala Azkia.
"Papa tau, Kia udah sayang banget kan sama Azka... jadi Kia gak rela kalau jauh dari Azka, benar?" tanya Bima.
Azkia membuka sedikit selimutnya, menampilkan wajah Azkia yang terlihat berantakan. Bahkan matanya sudah memerah.
Azkia mengangguk,"Kia gak mau jauhan sama Azka, pah!"
"Papa tau, tapi Kia gak boleh egosi." ucap Bima sambil merapikan rambut Azkia.
"Maksud papa?" tanya Azkia bingung.
__ADS_1
"Ya, Kia gak boleh egois... kalau Kia gak bolehin Azka kuliah nanti masa depan Kia gimana? Nanti Kia mau makan apa?."
"Makan nasi lah pah," ucap Kia.
"Bukan gitu sayang, kalian harus saling dukung apapun keputusan Azka. Kia gak boleh maksain kemauan Kia sendiri, lagian kan ini semua buat masa depan kalian." nasehat Bima.
"Azkia tahu, pah! Cuma Azkia belum siap kalau harus jauhan sama Azka, pah!" ucap Azkia sambil memeluk pinggang Bima.
"Pelan-pelan sayang, pasti bisa. Toh sekarang kan zaman udah moderen, udah bisa videocall. Waktu papa muda dulu cuma lewat surat, itu juga harus nunggu satu minggu sampai suratnya tiba." cerita Bima.
"Masa sih pah, jadi papa sama mama dulu surat-suratan gitu?" tanya Azkia antusias.
"Iya, tanya aja sama mama kalau gak percaya!"
"Terus Kia harus gimna, pah?" tanya Azkia.
"Cukup kamu suport Azka, dia pasti akan seneng.. kalau kamu nangis nanti Azka gak tega, dia gak bakalan fokus kuliahnya!" Bima mengusap punggung Azkia.
"Bagus dong, kalau Azka gak tega jadi dia gak usah kuliah di sana," ucap Azkia.
Tuk!
"Kamu ini kalau ada maunya pasti keluarin jurus nangis," ucap Bima sambil menyentil pelan jidat Azkia.
"Hehee.."
"Yaudah, papa berangkat kerja dulu... kamu jangan nangis terus nanti mata kamu bengkak, cantiknya ilang." canda Bima.
"Gak bakalan hilang cantiknya Azkia tuh." ucap Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya, percaya!"
"Makasih, pah?" Azkia memeluk papanya lagi.
Setelah itu Bima keluar dari kamar Azkia, menyisahkan Azkia sendirian didalam kamar dengan semua pikiran yang sudah sedikit terurai.
Azkia mencari ponselnya yang semalam ia matikan, tangannya menekal tombol pada samping ponsel untuk menyalakannya namuan nihil. Ponsel itu lowbet, dengan malas Azkia mengisi daya dan menaruhnya diatas nakas.
Ia lebih memilih menyalakan laptopnya lalu menonton drama korea yang sudah lama tidak ia ikuti, hari ini Azkia akan maraton menonton drama yang sedang viral.
Bahkan Azkia sudah menyuruh art nya untik membawakan beberapa minumam dingin dan juga makanan ringan sebagai pelengkapnya nonton drama. Hari ini Azkia ingin memanjakan dirinya sendiri dan sejenak menyingkirkan pikiran yang beberapa hari membebaninya.
...----------------...
__ADS_1