Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Kenapa nangis, sakit?


__ADS_3

AREA 21+, untuk yang dibawah umur skip aja!


...----------------...


Azkia tengah lahab memakan camilan yang Azka beli, bahkan ia tidak memperdulikan Azka yang tengah menatapnya tajam.


"Rakus banget, gak takut gendut?" tanya Azka.


"Biarin gendut, udah nikah ini," jawab Azkia sambil terkekeh.


"Kamu mau menerima aku apa adanya, kan?" tanya Azkia yang tak mendapatkan respon dari sang suami.


"Tergantung!"


"Kok tergantung sih, berarti kamu gak tulus dong cinta sama aku? Terus buat apa kita nikah!" ketus Azkia.


Ia bahkan sudah tak berselera lagi dengan beberapa roti dan camilan yang ada didepannya. Wajahnya kini cemberut bagaikan anak kecil yang ngambek gara-gara mainnya diambil orang.


Azka tersenyum mematap istri yang baru dinikahinya itu, tangannya terulur untuk mengusap kepala sang istri tapi sayangnya belum sampai dipucuk kepala sudah ditepis Azkia.


"Gak usah pegang-pegang!" kesal Azkia, bahkan kini ia tak mau menatap Azka.


"Kok gitu sih, Nyun?" tanya Azka lembut.


"Kamu kan gak suka kalau aku makan banyak terus nanti jadi gendut!" kesal Azkia.


"Siapa bilang?" tanya Azka yang sudah menangkup kedua pipi Azkia.


"Lah kamu sendiri kan yang belang nanti kalau aku gendut gimana, gitu!" jelas Azkia sambil menjauh dari Azka tapi sayangnya tak bisa.


Kedua kaki Azka digunakan untuk mengunci Azkia agar tidak bisa kabur, tangannya terus menangkup pipi sang istri.


"Aku kan cuma nanya, Nyun... masa kamu gak bisa bedain nanya sama penolakan?" tanya Azka.


"Liat aku, Nyun!" pinta Azka karena sejak tadi Azkia hanya menunduk saja tak berani menatap kedua manik mata Azka.


Perlahan Azkia mendongakkan kepalanya, menatap sang suami yang sejak tadi sudab menatapnya.


"Dengerin perkataan ku baik-baik!" pinta Azka dengan wajah seriusnya.


Azkia pun mengangguk sebagai jawaban, ia terus menatap netra sang suami.


"Aku Azka Aldric, gak akan pernah mandang kamu istriku Azkia Aghata Aldric..." Azka sedikit menjeda perkataannya, hal itu membuat Azkia semakin penasaran.


"Aku gak akan pernah mandang kamu dari fisik, mau kamu gendut kaya panda sekalipun aku akan tetap mencintaimu," kata Azka dengan lembut.


Perlahan ia mendekati wajah sang istri dan satu kecupan mendarat di kening Azkia. Tanpa Azkia sadari matanya sudah memanas, ada cairan bening yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Loh, kenapa nangis?" tanya Azka panik.


Azkia menggeleng, ia diam seribu bahasa tapi hatinya sangat lah bahagia mendengar perkataan sang suami. Perlahan Azkia mendekati tubuh sang suami, lalu memeluknya dengan erat. Azka pun sama halnya ia membalas pelukan hangat dari sang istri.


Udara semakin terasa dingin, membuat Azka semakin erat memeluk sang istri. Azkia hanya diam saja karena pelukan Azka memberikan kenyamanan tersendiri untuknya.


Air mata Azkia pun perlahan sudah mulai menghilang, hanya terlihat matanya yang masih merah begitu juga dengan hidungnya.


Hembusan nafas Azka mengenai telinga dan tengkuk Azkia, membuatnya merinding. Apalagi Azkia sedang mencepol rambutnya sehingga memperlihatkan lehernya yang putih bersih.


Azkia terdiam sambil menunduk untuk menyembunyikan wajah meronanya pada dada bidang Azka. Ia tau betul jika Azka sedang menggodanya, mungkin saja Azka akan meminta haknya sebagai seorang suami sekarang juga.


"Apakah secepat ini?" batin Azkia.

__ADS_1


Tangan Azka mulai menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran, perlahan tangan itu menelusup punggung sang istri membuat Azkia sedikit mengeliat sepeti ulat bulu.


Sensasi dingin sangat terasa saat tangan Azka menyentuh kulit punggung Azkia tanpa pembatas kain itu, Azkia merasa seperti ada es yang yang menyentuh punggungnya. Mungkin karena Azka dari luar untuk membeli camilan, sehingga tangannya sedingin es mengingat cuaca begitu dingin saat dini hari.


Sentuhan demi sentuhan yang Azka berikan perlahan mulai terasa hangat, ya tangan yang sedingin es itu berubah seperti ada kobaran api yang menjalar pada sela-sela jarinya.


"Az-Azka," rengek Azkia saat tangan Azka tidak mau berhenti.


"Panggil Hubby!" perintah Azka dengan suara seraknya yang terdengar sangat menggoda ditelinga Azkia.


Mungkin jika menuruti perintah Azka ia akan lepas dari sang suami, tapi nyatanya pemikirannya itu salah.


"Hubb—"


Azka mengecup bibir Azkia dengan lembut, bahkan Azkia sudah mulai terbuai dengan ciuman itu. Azka tersenyum simpul saat melihat sang istri merespon ciumannya. Bibir ranum yang sejak lama sudah membuatnya ingin mencicipi akhirnya terlaksana sudah.


Hebat bukan, Azka seorang yang terkenal bad boy dan memiliki banyak masalah mampu menahan keinginannya sebagai seorang pria sejak pacaran hingga sekarang mereka menikah. Karena Azka ingin menjaga sang pujaan hati dari segi hati dan fisiknya, sehingga ia tak ingin melakukannya sebelum ada ikatan suci dalam pernikahan.


Azkia sangat terkejut dengan serangan Azka yang tiba-tiba menuntuk untuk meminta lebih, bahkan Azka tidak memberikan kesempatan Azkia untuk bernafas.


"Hmmbb mmbb," nafas Azkia terengah-engah, ia kebahisan oksigen.


Azka yang menyadari jika Azkia kesusahan bernafas langsung melepaskan ciumannya. Ia memberikan kesempatan Azkia untuk mencari oksigen yang beberapa saat lalu hilang.


"Bodoh!" ledek Azka sambil mengusap bibirnya yang basah.


"Bernafaslah! Kau bisa pingsan," lanjut Azka.


Dengan segera Azkia menarik nafasnya dalam-dalam hingga paru-parunya terisi penuh dengan oksigen.


"Aku, aku kehabisan nafas tau gak!" geram Azkia sambil mencubit perut Azka.


Hal itu membuat Azka semakin bersemangat ia sudah kecanduan dengan bibir ranum milik Azkia yang terasa manis dan lembut.


Perlahan Azka membaringkan Azkia di ranjang, tapi sebelum itu ia menyingkirkan kantong kresek yang berisi beberapa camilan itu.


"Makanan ku!" prores Azkia sambil menarik kembali kresek itu tapi sayangnya tangannya kalah cepat dengan Azka.


"Sekarang giliranku yang makan, Nyun!" kata Azka sambil mencium hidung Azkia kemudian turun ke bawah, tepatnya bibir Azkia.


"Azka kamu mau apa?" tanya Azkia sambil menutup mulut Azka dengan kedua telapak tangannya.


"Menurutmu?" tanya balik Azka dengan seringai yang muncul diwajahnya.


Hal itu membuat hati Azkia was-was dan juga berdetak lebih cepat dari sebelumnya Ingin rasanya Azkia menghilang saat ini juga, ia belum siap tapi mau bagaimana lagi jika sang suami menginginkan saat ini, bukankah dia harus patuh.


Badannya terasa lemas seperti tak memiliki tenanga sedikit pun, Azkia hanya bisa pasrah sambil menatap Azka yang sedang mencium dan menjilat telapak tangan Azkia.


Deg!


Deg!


Deg!


Bahkan Azkia sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri, ingin menarik tangannya pun sudah tak sanggup. Wajah mereka berdua sangatlah dekat hingga hembusan nafas Azka terasa hangat dipipi Azkia. Aroma mint menyapa indra penciuman Azkia, ada sedikit senyuk disudut bibir Azka.


"Aku mau hakku, sayang," ucap Azka dengan suara seraknya sambil menatap kedua manik mata Azkia.


"Ta-tapi, aku belum siap!" kata Azkia, Azka pun seolah tak mendengar apa yang istrinya itu katakan.


"Boleh, ya?" pinta Azka dengan wajah seimut mungkin.

__ADS_1


"Si al kenapa dia pasang wajah sepeti itu, membuatku tak tega untuk menolak, lucunya!" batin Azkia.


Azka yang melihat sang istri mengangguk pun langsung tersenyum manis, bahkan lebih manis dari gula.


Azka langsung mencium bibir sang istri, bahkan sesekali ia mengigitnya pelan. Azka terus melakukan aksinya hingga terlihat banyak tanda kemerahan yang ia buat pada curuh leher Azkia


"Tunggu! Hubby, tunggu," ucap Azkia sambil berusaha mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


Azka tersenyum saat mendengar Azkia memanggilnya hubby. Entah kenapa ada perasaan hangat yang menjalar hingga kehatinya.


"Kenapa, hmm?" tanya Azka sambil mendongak menatap kedua manik mata Azkia.


"A-aku ta-takut," ucap Azkia malu, ia membuang wajahnya kesamping untuk menghindari tatapan mata Azka. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi pipinya, sudah merah merona mengingat apa yang ia ucapkan.


Lagi-lagi Azka tersenyum, ia mendekatkan wajahnya pada telinga Azkia lalu membisikan sesuatu, "Tenang saja, aku akan pelan-pelan melakukannya."


"Kamu cukup menikmatinya saja," lanjut Azka sambil tersenyum tengil.


Jujur saja Azka juga merasa debaran dalam hatinya dan juga rasa gugup itu menyelimutinya tapi sebisa mungkin Azka mengesampingkan semua itu.


"Ini beneran suamiku kan? Azka si beruang kutub, manusia tembok? Kenapa bisa berkata manis seperti itu, dari mama dia belajar kata-kata seperti itu?" batin Azkia dengan penuh tanda tanya besar.


Namun disisih lain dia merasa bahagia, jika sedikit demi sedikit gunung es itu sudah meleleh, tak sedingin dulu bahkan sekarang Azka sudah membatasi dirinya dengan sang istri.


Hembusan nafas Azka mengenai telinga Azkia yang membuatnya mengeliat risih, Azka yang paham titik kelemahan sang istri pun langsung saja menggigit pelan telinga sang istri, sehingga Azkia melenguh dan membuat Azka semakin bersemangat.


Tangannya tidak tinggal diam, karena menemukan sesuatu yang menarik. Azka sempat ragu dan sesaat menghentikan gerakan tangangnya. Karena hal ini baru pertama kalinya untuknya, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sebelum tersalurkan.


Azka mendongak mencoba melihat wajah istrinya, ia tidak menyangka jika wajah Azkia akan terlihat begitu menggoda.


Membuat Azka mencium pelan bibir merah milik Azkia, tangan yang sempat berhenti kini kembali bekerja.


Azkia menggeliat kesana-kemari, seolah ia tengah berada di dalam api yang membara, panas. Begitu juga dengan Azka, tubuhnya tidak kalah panas dengan Azkia.


Perlahan namun pasti tangan Azka bergerak membuka setiap kancing baju tidur milik Azkia. Bibirnya terus bermain-main dicuruk leher Azkia, bahkan sudah mulai turun kebawah.


"Emmmm." lagi-lagi terdengar dari mulut Azkia, badannya terasa melemas menikmati setiap sentuhan Azka. Sudah tidak ada lagi penolakan dari Azkia, kini Azkia pasrah toh mereka berdua sudah sah.


Secara bergantian Azka membuat banyak tanda kemerahan pada semua tempat yang ia inginkan. Tanpa sadar tangan Azkia mencengkram kuat rambut Azka. Akhirnya mereka beruda benar-benar melakukannya dini hari ini.


"Sa-sakit, Hubby!" rengek Azkia sambil mencengkram kuat lengan dan punggung Azkia.


"Tahanlah sebentar lagi," ucap Azka sambil mengecup bibir Azkia.


Azka menjatuhkan tubuhnya disamping Azkia saat semuanya sudah selesai, nafas mereka berdua masih terengah-engah seolah mereka baru selesai lari maraton.


Air mata Azkia lolos begitu saja dari pelupuk matanya, rasa sakit, senang dan tidak percaya jika dia sudah menjadi seorang istri dan memberikan haknya kepada sang suami.


"Kenapa menangis, sakit?" tanya Azka sambil mencium tepat pada butiran air yang jatuh dari kelopak mata Azkia.


Azkia hanya diam saja, ia masih mencerna semuanya yang sudah ia lakukan bersama Azka. Azka membawa Azkia masuk kedalam pelukannya.


"Makasih... i love you, Nyun," ucap Azka sambil mencium kening Azkia sangat lama hingga Azkia tertidur dalam dekapannya.


Azkia merasa sangat nyaman dalam pelukan Azkia, begitupun Azka. Ia ikut memejamkan matanya hingga terlelap sambil memeluk Azkia erat.


Azka benar-benar mencintai istrinya itu, sejak saat mereka masih duduk dibangku SMA. Hingga sekarang dan nanti, Azka sangat bersyukur bisa memiliki istri seperti Azkia. Orang yang ia cintai dan mencintainya. Hidup Azka terasa sangat berwarna setelah kehadiran Azkia, mungkin nanti kehadiran Azka kecil akan membuat kebahagiaannya sangat lengkap.


...----------------...


Bijak dalam membaca ya Kakak-kakak semua, ambil baiknya aja buang buruknya oke :)

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like coment vote :) Trimakasih sudah mampir!


__ADS_2