
Siska yang pulang bersama Mikael hanya diam saja sejak tadi, sifat dia yang berisik dan banyak ngomong berubah seketika menjadi pendiam.
Mikael heran dengan perubahan Siska, ia merasa ada yang kurang saat Siska menjadi pendiam.
"Lo sakit, Sis?" tanya Mikael sambil menyetir mobilnya.
"....."
Tidak ada jawaban apapun dari Siska, membuat hati Mikael resah.
Setelah sampai dirumah Siska langsung keluar tanpa pamit, ia setengah berlari begitu turun dari mobil. Bahkan perktaan Mikael pun tidak ia hiraukan, Siska langsung menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Sayang baru pulang!" sapa Dewi, tidak di hiraukan juga oleh Siska.
Bahkan Siska hanya melewati sang mama tanpa sepatah kata pun.
Ceklek!
Burk.
Suara pintu di hempaskan dengan kasar. Siska menatap setiap sudut dinding kamar yang berukuran cukup luas, terpajang foto Azka dalam berbagai ukuran dengan bingkai kaca.
Foto Azka, Siska dapatkan dari hobby yang tidak bisa ia salurkan itu, sehingga Siska lebih memilih Azka sebagai objek fotonya. Untung saja Azka tidak mengetahuinya, bisa-bisa Siska akan dituntut jika mengambil foto tanpa izin.
"Bagaimana mungkin gue bisa lupain lo, Azka?" Siska mendengus menatap setiap foto Azka.
"Lo gak ngerti perasaan gue yang hampir tiga tahun ini, gue suka sama lo sejak hari pertama sekolah. Saat itu gue udah jatuh hati sama lo." gumam Siska, matanya menatap foto Azka yang paling besar. Foto itu berada didinding tepat di atas tempat tidur Siska.
"Cih, cinta pada pandangan pertama," ucap Siska sambil tertawa hambar.
Dari sudut mata Siska mengeluarkan air namun tak bersuara, goresan luka karena perasaan cinta sepihak kepada Azka membuat hati Siska tidak hanya hancur ataupun terluka tetapi juga terdapat amarah.
"Gak ada satupun orang yang lebih mengenal lo di banding gue. Semua tentang lo gue tau. Hari lahir lo, hobi lo, apa yang lo sukai atau apa yang enggak lo sukai semua gue tahu," bisiknya lirih.
Lalu Siska tertawa sangat keras, namun dari tawa itu tersirat luka yang tidak dapat diobati.
"Hahaha! Lo tau, Ka? Semua orang bilang gue harus lupain lo, cih! Mereka pikir gue gak berusaha lupain lo? Gue udah coba lakuin itu semua,.... tapi apa? Perasaan gue gak bisa semudah itu lupain lo! Semakin gue berusaha lupain lo semakin dalam perasaan gue sama lo." Siska berbicara pada foto Azka seolah foto itu benar-benar Azka.
"Lo tau gak, ini penyiksaan buat gue, yang paling menyakitkan dari pada sikap dingin lo! Gue benci sama orang yang sok tahu sama hidup dan perasaan gue, mereka cuma bisa nilai gue dari apa yang mereka lihat. Walaupun itu bukan kenyataannya, mereka rendahin perasaan gue yang tulus sama lo, gu-gye benci!!" Siska berteriak tangannya membanting semua benda yang ada didekatnya saat ini.
Tatapan mata Siska jatuh pada vas bunga yang ada di meja rias samping tempat tidurnya, lalu dengan kasar Siska mengambil vas bunga itu dan.
__ADS_1
PYARRR!
Siska melempar vas bunga tepat ke wajah Azka hingga vas bunga itu pecah berkeping-keping berserakan di atas tempat tidur Siska.
"Aaaaaa!!" teriak Siska dia seperti ingin melepaskan semua beban yang menghimpit dadanya hingga membuatnya terasa sesak.
Pikiran Siska mulai kosong, ia melangkah mendekati serpihan vas bunga. Lalu mengambil serpihan yang paling tajam, saat akan menggoreskan pada lengannya pintu kamar di ketuk oleh seseorang.
Tok tok tok!
"Sayang buka pintunya!" suara Mama Siska terdengar cemas saat terdengar suara teriakan dan pecahan dari kamar Siska.
Siska diam terpaku dengan tatapan nanar kearah foto Azka tanpa menjawab panggilan mamanya. Tangan Siska sudah mengeluarkan darah segar, karena Siska terlalu kuat saat menggengam serpihan van bunga yang tadi ingin ia gunakan untuk menggoreskan pada lengannya.
"Sayang buka pintunya jangan bikin Mama cemas! Tolong buka dulu pintunya!" teriak sang Mama kembali dari balik pintu kamar Siska, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
"Wen! Cepat panggil Lam kesini untuk mendobrak pintu kamar, Siska!" perintah Dewi kepada asisten rumah tangganya yaitu, Weni.
Tidak butuh waktu lama pak Lam datang, lalu ia mendengarkan instruksi Dewi untuk mendobrak pintu kamar Siska.
Duk!
Percobaan pertama gagal, lalu pak Lam memcoba lagi. Hingga percobaan ketiga baru membuahkan hasil. Pak Lam mampu membuka pintu kamar Siska, membuat semua orang kaget dengan keadaan Siska saat ini.
"Non Siska!" pak Lam dan Weni pun tidak kalah terkejut melihat anak majikannya itu.
Terlihat rambut kusut, mata yang sudah memerah dipenuhu air mata. Bahkan telapak tangannya mengeluarkan darah hingga menetes ke lantai. Bukannya melepaskan, Siska semakin memperkuat genggamannya.
"Astagfirullah! Kenapa kamu seperti ini, sayang!" teriak Dewi sambil mencoba membuang serpihan vas yang sejak tadi Siska genggam.
"Weni! Ambil kotak obat!" perintah Dewi.
"Baik, bu!" setelah mendengar perintah Dewi, Weni langsung saja berlari menju kotak obat yang berada di lantai bawah.
"Sayang, hey kamu kenapa seperti ini ... jangan buat mama khawatir?" tanya Dewi sambil memeluk tubuh putrinya.
"Mama," ucap Siska lirih sambil sesegukan.
"Iya, mama disini," ucap Dewi sambil mengusap air mata yang terus metes di pipi pucat Siska.
"Ma.. hati Siska sakit banget, ma!" Siska menunjuk dadanya yang sesak dan sakit yang tidak mampu ia jelaskan.
__ADS_1
"Iya, sayang! Mama tahu, mama tahu apa yang kamu rasain." Dewi membawa Siska kedalam pelukannya lagi.
Dewi mengamati kamar Siska, terlihat berantakan. Banyak sepihan kaca yang tergelatak di lantai. Bahkan foto Azka yang biasanya tidak boleh disentuh siapapun sekarang berserakan dilantai. Bahkan ada bingkai foto yang sudah pecah.
"Sayang ini pasti soal Azka?" tebak Dewi saat melihat keadaan kamar putrinya.
"Mah, Siska mau Azka mah," ucap Siska sambil menatap mamanya dengan nanar.
"Iya sayang, nanti mama suruh Azka kesini... sekarang luka kamu diobatin dulu ya," ucap Dewi lembut sambil membelai rambut Sisca.
"Lukanya gak bisa sembuh, mah," gumam Siska.
Siska selalu bercerita apapun tentang Azka kepada sang mama, karena itulah Dewi tahu betul perasaan Siska kepada Azka dan sebagai seorang ibu dia ikut sedih dan juga prihatin dengan kondisi Siska saat ini.
Dengan telaten Dewi membalut luka Siska yang sudah sejak tadi mengeluarkan darah. Siska terlihat pucat dan lemas, setelah Dewi selesai membalut lukanya Siska tidak sadarkan diri dalam pangkuan Dewi. Hal itu membuat mereka semua pani.
"SISKA!" teriak Dewi.
Dewi menepuk-nepuk pipi Siska, berusaha membangunkan Siska namun sayang tidak ada pergerakan sama sekali.
"Kita bawa non Siska kerumah sakit!" ucap pak Lam.
Dewi menyetujui saran pak Lam, kemudian mereka membawa tubuh Siska masuk kedalam mobil.
Mikael yang belum sempat pergi dari rumah Siska pun melihat pujaan hatinya tergeletak dalam gendongan pak Lam langsung mendekat untuk membantu.
"Siska kenapa, Tan?" tanya Mikael.
"Kamu temannya?" tanya Dewi sambil menangis.
Mikael mengangguk,"Iya saya temannya tan, Siska kenapa bisa seperti ini?"
"Sis—" ucapan Dewi terhenti karena menangis.
"Kita bawa Siska ke rumah sakit dulu, tan!" saran Mikael.
Kepala Siska bersandar pada bahu Dewi, sedangkan pak Lam berada didepan bersama Mikael. Kali ini Mikael yang mengemudikan mobil keluarga Siska agar cepat sampai.
Dengan kecepatan penuh, mereka sampai dirumah sakit yang paling dekat dengan rumah Siska.
...................
__ADS_1
Bagaimana keadaan Siska? Yok nantikan lagi dan tunggu ke uwuan Azka bersama Azkia di malam minggu ini :v