Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Pernah Lihat!


__ADS_3

Jika jatuh cinta dunia terasa milik berdua mungkin kata itu yang dapat mewakilkan perasaan Devan saat ini. Devan tengah menikmati suapan dari tangan Devira. Sejak beberapa hari lalu Devira sangat sibuk dengan kuliahnya, ditambah lagi Devira harus membuat laporan mengenai masalah yang sedang ia tangani.


Hal itu membuat Devan kesal, karena ia merasaerasa Devira berubah dan lebih memilih laporan itu. Sejak pagi Devan mendiamkan Devira, sehingga Devira harus membujuk Devan.


Seperti yang dilakukannya saat ini, membujuk Devan dengan makanan yang di masak Devira sendiri.


"Enak?" tanya Devira.


"Enak lah, kan yang masak bebeb Ira," jawab Devan sambil menoel pipi tirus Devira.


"Masih ngambek?" tanya Devira sambil menyuapinya lagi.


"Masih," jawab Devan membuat Devira memelototkan matanya.


"Canda sayang, kalau udah dibuatin masakan spesial kek gini gimana bisa ngambek, coba?" bujuk Devan sambil memegang tangan Devira.


"Bucin. deh... ayoo aa lagi." Devira menyuapkan dengan satu sendok penuh membuat pipi Devan menggembung.


"Aaaeem,"


Saat asik memakan makanan yang dibuat Devira, tanpa sengaja Devan melihat orang yang ia kenali. Devan menajamkan penglihatannya, dan benar saja orang itu adalah Azkia.


"Uhuukk uhuukk!" Devan tersedak saat melihat Azkia berjalan bersama laki-laki dan mereka berdua terlihat sangat akrab.


"Kenapa tersedak segala?" gerutu Devira, namun tetap saja menyodorkan segelas lemon tea miliknya.


"Itu, itu Azkia bukan, sih?" tanya Devan menunjuk belakang Devira. Karena Devira membelakangi pintu masuk sehingga ia tidak melihatnya.


Devira mengikuti tangan Devan, dan benar saja ia melihat Azkia sedang berjalan keluar Cafe bersama seorang laki-laki yang menurutnya tidak asing.


"Siapa itu yang disebelah Azkia, kek gak asing?" tanya Devira.


"Kaya pernah liat ya, beb?" tanya Devan.


"Iya.. siapa ya," ucap Devira sambil mengingat-ingat wajah ornag itu.


Devira dan Devan saling bertatapan, seolah mereka tau apa yang mereka pikirkan.


"RAYHAN!!" teriak Devan dan Devira saat mengingat siapa orang yang bersama Azkia itu.


"Kok bisa barengan?" tanya Devira.


Kemudian Devira menyusul Azkia yang sudah keluar dari Cafe, sayangnya ia kehilangan jejak Azkia. Devira berjalan dengan lemas menuju mejanya tadi.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Devan.


"Hilang, udah kehingan jejak." lesu Devira.


Devan sedang sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


"Chat siapa?" tanya Devira.


"Azka lah, siapa lagi?" tanya balik Devan yang masih sibuk mengetik.


Dengan cepat Devira menyambar ponsel milik Devan, ia tidak setuju jika memberitahu Azka tentang hal yang belum jelas ini.


"JANGAN!" teriak Devira membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Kenapa? Azka harus tau lah." ucap Devan.


"Kita kan belum tau kenapa mereka bisa barengan gitu, jangan buat Azka nething sama Azkia." jelas Devira.


"Terus gimana, sayang?" tanya Devan.


"Kita tanyain dulu sama Kia, kali aja mereka gak sengaja bertemu," ucap Devira.


"Iyalah, terserah kamu aja." saut Devan.


Sebenarnya Devira juga setuju jika memberitahu Azka, namun ia tidak ingin hal itu mempengaruhi hubungan Azka dan juga Azkia terlebih lagi mereka sedang LDR.


"Salah sendiri, udah dimasakin masih ngajak ke Cafe segala!" gerutu Devira.


"Kan masakan kamu buat aku semua," jawab Devan santai sambil melahab masakan Devira yang terlihat sangat enak jika Devan yang memakannya.


"Emangnya masakan ku seenak itu?" gumam Devira sambil menatap Devan yang lahab sekali memakan masakannya.


"Lumayan lah, yang penting gak buat sakit perut!" ucap Devan sambil terkekeh.


"Yaudah mana, gak usah dimakan!" kesal Devira.


"Enak sayang, astaga... yang ngambek siapa yang marah siapa?" cibir Devan.


"Hummb!"


......................


Azkia pulang kerumahnya setelah menyelesaikan tugasnya, dia tidak menyangka bisa bertemu ketua osis yang dulu dekat dengannya. Seorang ketua osis yang dikagumi banyak orang, dibuat patah hati. Dan sekarang muncul lagi di depan Azkia sebagai calon dokter.

__ADS_1


"Haahh!" dengus Azkia sambil mengingat wajah Rayhan yang semakin tampan.


Azkia membayangkan bagaimana saat Rayhan mengenakan pakaian kebanggannya sebagai dokter, yaitu jas putih ciri khas dokter.


"Astaga Kia, lo gak boleh mikirin cowok lain! Inget lo udah punya Azka!" ucap Azkia sambil menepuk-nepuk jidatnya.


"Gak boleh!" Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah itu ia membersihkan dirinya, agar pikirannya juga bersih dari Rayhan.


Cukup lama Azka mandi, ia keluar dengan mengenakan pakai tidur bergambar kartun. Membuatnya terlihat sangat imut, mungkin jika Azka yang melihatnya bisa pingsan ditempat.


Azkia masih sibuk dengan kertas dan juga pensil, ia memiliki tugas untuk menggambar pakaian laki-laki. Pikirannya buntu sehingga banyak kertas coretan tergeletak disekitar meja belajarnya.


Azkia melihat ponselnya untuk sekedar mencari inspirasi. Namun matanya terfokus pada satu pesan chat yang tidak lain dari Azka.


Azkia mendengus membaca pesan itu, "Kamu bangun tidur, akunya mau tidur... jarak ini terasa sangat jauh," gumamnya sambil menatap foto Azka yang ada pada profil pesan singkat itu.


"Gak nakal kok, kamu itu yang jangan nakal... disitu kan banyak cewek cantik, awas jaga matanya!"


"Miss you!" lanjutnya dengan menambahkan emot menangis.


Kemudian Azkia menekan tombol send, terlihat centang dua abu-abu. Azka mungkin sedang kuliah sehingga tidak bisa melihat pesan tang dikirimkan Azkia.


"Bisa gak waktu dipercepat, aku pengen cepet ketemu sama kamu, Ka!" ucap Azkia sambil membayangkan wajah Azka.


Tiba-tiba saja ia memiliki ide, dengan lincah tangan Azkia menari-nari diatas kertas putih itu. Ya Azkia akan membuat desain baju untuk Azka, karena tubuh Azka yang nyaris sempurna membuatnya sangat cocok jika dijadikan model.


Setelah satu jam berlalu, terlihat senyum merekah di bibir Azkia. Ia sangay bangga dengan hasil karyanya, ia juga tidak menyangka jika desainnya akan terlihat bagus. Namun, seperti ada sesuatu yang kurang dalam gambaran itu. Membuat Azkia berfikir keras.


Azkia memofoto hasil desainnya itu, lalu ia kirimkan pada Azka.


"Kurang apa, ya?" isi pesan itu bersama foto desain Azkia.


"Kalau aku on kamunya off, aku off kamunya on!" kesal Azkia sambil membuang ponselnya diatas kasur.


Azkia masih menatap desainnya itu, baju casual dengan perbaduan tradisional. Azkia sampai mengacak-acak rabutnya karena pusing.


"Dah lah tidur aja, males mikirin ini... bikin pusing aja!" gerutunya sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur big size.


"Emang kasur itu tempat paling nyaman," ucap Azkia sambil memposisikan badannya.


Tidak butuh waktu lama Azkia sudah terlelap dalam tidur. Seharian ini ia sudah lelah, begitu juga dengan pikirnanya. Yang memikirkan Azka ditambah tugas-tugasnya yang semakin banyak.

__ADS_1


Ditambah lagi Azkia bertemu dengan seseorang yang pernah menyukainya, ia akan menjaga jarak dengan Rayhan karena Azkia takut jika hatinya akan goyah. Mengingat Azka yang sedang jauh disana.


...----------------...


__ADS_2