Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Beneran Dia?


__ADS_3

Laki - laki itu mengenakan pakai santai sama seperti Azkia, kaos lengan pendek berwarna putih yang di balut dengan jaket berwarna army. Celana jins hitam semakin membuat kakinya terlihat jenjang, tidak lupa ia mengenakan sepatu yang warnanya senada dengan koas yang ia kenakan.


Mereka segera mencari tempat duduk yang kosong, setelah dapat tempat duduk Azkia memanggil pelayan dan memesan makanan. Begitu juga dengan laki - laki itu dia memilih menu yang ia sukai.


Sedari tadi ponsel Azkia terus bergetar, iya ponser itu dalam mode hening sehingga hanya bergetar jika ada pesan atau panggilan masuk. Namun Azkia tidak menyadarinya karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan seseorang yang berada di depannya saat ini.


"Tuh cewek - cewek pada liatin kamu." ucap Azkia sambil melirik ke kanan dan kekiri.


"Biarin aja, mereka cuma iri." ucap pria itu sambil melihat layar ponselnya.


"Iri?" tanya Azkia bingung.


"Ya iri, liat kamu bisa jalan bareng sama cowok ganteng kek aku, mereka kan gak bisa." ucapnya dengan pede.


"Hilih, pede banget sih." ucap Azkia sambil terkekeh. Pelayan tadi sudah datang dan membawa pesanan mereka, Azkia memesan Ayam bakar dengan es jeruk sedangkan pria itu memesan nasi goreng spesial dan lemon tea.


"Silahkan di nikmati kak." ucap pelayan itu sambil membungkuk.


"Makasih." ucap mereka bersamaan. Setelah itu mereka berdua menikmati makanannya dengan tenang.


............


Azka sedari tadi terus melihat layar ponselnya, entah apa yang sedang Azka lakukan dengan menatap ponsel itu. Tingkah Azka yang terus menatap ponselnya membuat teman - teman Azka menjadi heran, karena Azka hanya diam saja dan terlihat kesal dari raut wajahnya.


"Mau sampai kapan natap tuh ponsel gak bakalan berubah jadi Kia." celetuk Bobo sambil terkekeh.


"Apaan?" tanya Attaya yang sibuk dengan gamenya.


"Cih." kesal Azka.


"Kenapa, Ka?" tanya Devan penasaran.


"Dari kemaren Kia gak ada kabar sama sekali, mana gue telepon kagak diangkat." jelas Azka sambil memcoba menelepon Azkia kembali.


"Lagi sibuk kali." kata Ciko yang tetap fokus pada novel yang sedang dia baca.


"Sibuk sama yang lain.. eh." canda Bobo dan langsung saja mendapatkan tatapan tajam dari Azka.


"Mulut lo Bob, suka bener aja!" kata Attaya memanas - manasi Azka. Benar saja perkataan mereka membuat Azka kesal, pikiran negatif tentang Azkia bersama orang lain pun sudah terbesit dalam pikirannya.


Kemudian Azka bangkit dari duduknya, dia menyambar jaket yang tergeletak di atas sofa. Tak lupa kunci motor diatas nakas pun dia ambil dengan kasar, Azka melangkah menuju pintu.


"Mau kemana, Ka?" tanya Devan yang menyadari Azka akan pergi.


"Cari angin!" ucap Azka sambil memakai sepatunya.


"Ikutt!!" teriak mereka semua serentak, membuat Azka menutup telinganya karena berisik.


"Toak masjid pindah ke sini!" bentak Azka, sambil menatap sinis sahabatnya itu.


"Hehhee." mereka hanya tertawa sambil mengambil jaket dan juga kunci motornya.


Azka melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pikirannya hanya terfokus pada Azkia yang tidak dapat dihubungi. "Kemana sih kamu nyun?" batin Azka, pandangannya lurus kedepan tanpa menghiraukan kanan kirinya.

__ADS_1


Devan yang berada tepat di sebelah Azka pun berteriak kepada Azka, karena di depan mereka lampu sudah merah namun Azka terus saja berjalan.


"Ka berhenti, lampu merah itu... Woy nyeet!" Teriak Devan namun Azka tidak mendengarnya pikirkannya kosong begitu saja. Devan merapatkan motornya di sebelah Azka, kemudian dia menepuk bahu Azka dengan tangan kirinya karena tangan kanan Devan memegang setir motornya.


"Ngab lampu merah!" teriak Devan membuat Azka kaget dan langsung saja menginjak rem, untung saja Azka berhenti tepat di garis putih yang menjadi pembatas saat di lampu merah.


"Lo kenapa gak fokus gitu, BAHAYA!" bentak Devan kepada Azka, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Ke cafe aja yuk." ajak Attaya yang berada disebelah Azka, jadi posisi mereka saat ini ada Attaya Azka Devan di depan sedangkan Bobo Ciko berada di belakang mereka.


"Cafe mana?" tanya Devan.


"Cafe biasanya aja!" teriak Bobo dari belakang mereka, mereka hanya menganggu mengiyakan perkataan Bobo.


Lampu sudah berganti warna menjadi hijau, sehingga mereka langsung saja tancap gas.


Tidak butuh waktu lama mereka semua sudah sampai di parkiran cafe, terlihat parkiran yang cukup penuh sehingga mereka kesulitan untuk memarkirkan motor milik mereka.


"Hah! Akhirnya masuk cafe juga, panas banget di luar." keluh Bobo sambil mengipas - ngipaskan telapak tangannya di depan wajah.


"Cih, manja!" sindir Ciko yang berada di belakang Bobo, mereka sudah berjalan memasuki cafe. Sama halnya dengan Azkia, mereka juga menjadi pusat perhatian terutama kaum hawa.


"Astagfirullah, ada boy band!" teriak salah seorang pengunjung.


"Oppa sharangheo!"


"Semalam gue mimpi apa, ketemu banyak cogan gini."


"Gila damagenya nyampai ke urat nadi."


Mereka tetap berjalan dengan santainya dan tidak terpengaruh dengan cuitan para pengunjung itu, sesekali Bobo lah yang menanggapi mereka dengan senyuman atau candaan yang membuat mereka tertawa.


Mereka memilih meja yang muat untuk lima orang, setelah duduk pelayan mengahampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka.


Azka hanya diam saja, matanya fokus pada satu objek di depannya. Panggilan temannya pun tidak bisa meruntuhkan pandangan Azka, yang terus menatap kedepan. Sesekali dia memincingkan matanya untuk memastikan sesuatu.


"Itu beneran dia kan? sama siapa dia? Pantes aja telepon sama chat gue kagak di balas, Cih!" batin Azka terus menatap tajam seseorang yang ada di ujung sana.


"Heh nyet lo mau pesen apa?" tanya Attaya, namun Azka masih diam saja.


"Ini anak kenapa sih dari tadi?" tanya Bobo yang bingung dengan sikap Azka.


"Kesambet?" tanya Ciko dengan menaikkan sebelah alisanya.


"Galau?" tanya Bobo sambil melambaikan tangan di depan wajah Azka.


"Cih, kesambet beneran ini anak." kata Devan yang berada di sebelahnya.


"Wait wait dia ngeliatin apaan sampai segitunya?" tanya Attaya yang menyadari jika Azka sedang fokus pada sesuatu, sesekali tangannya mengepal karena kesal.


Mendengar ucapan itu Devan, Ciko dan Bobo pun mengikuti arah pandang Azka, dan ternyata mereka menemukan sesosok yang mereka rasa sangat familiar.


"Gila!" ucap Attaya saat mengetahui siapa seseorang itu.

__ADS_1


"Ini bener kan yang gue lihat?" tanya Devan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Cowok di sebelahnya Siapa?" tanya Ciko.


"Ganteng banget cowoknya!" kata Bobo.


"Eh beneran lagi sama yang lain." celetuk Attaya.


"Shit!" umpat Azka, kemudian dia menatap kesal kearah Bobo dan Attaya karena ucapan mereka membuat Azka kesal.


"Alus bro, tapi beneran ganteng kayak anak kuliahan gitu." ucap Bobo lagi yang menambah kesal Azka, rahangnya sudah mengeras wajahnya yang putih terlihat merah padam.


"Kita liatin aja dulu, siapa tau saudaranya kan?" ucap Devan agar Azka sedikit tenang.


Iya yang mereka lihat adalah Azkia yang sedang makan bersama laki - laki yang Azkia jemput dari bandara tadi. Niat hati Azka ingin mencari angin agar pikirannya tenan, namun malah semakin membuatnya kesal.


Sedangkan di meja Azkia, dia tidak menyadari jika ada beberapa pasang mata yang menatapnya tajam. Sesekali Azkia bercanda dan tertawa bersama seseorang itu, bahkan Azkia memintanya untuk menyuapi dirinya.


Hal itu membuat Azka semakin geram saja, "Saudara mana yang sampai mesra - mesraan kayak gitu." batin Azka.


Pelayan tadi mengahampiri mereka lagi dan membawakan pesanan yang telah mereka pesan, Azka juga sudah di pesankan sesuai seleranya. Karena Devan dan Attaya adalah sahabat Azka dari dulu sehingga mereka sudah paham makanan kesukaan Azka.


"Makan dulu, berat menahan cemburu!" sindir Devan sambil terkekeh dengan ucapannya.


"Makan dulu biar kuat, menghadapi kenyataan." kata Attaya.


"Hmm." hanya itu respon Azka.


"Loro rasane ati nganti ra biso lali...


tresno tulus songko ati dilarani.." nyanyi Bobo sambil terkekeh melihat Azka terbakar cemburu.


"Lo nyindir gue?" tanya Azka geram.


"Gak, gue nyanyi doang." bantah Bobo sambil menyuapkan makanannya, sedangkan temannya yang lain hanya tertawa melihat perdebatan itu.


......................


Aku tahu...


Kamu Ibarat senja


Karena, senja itu setia


Dia tak berjanji untuk kembali


Dia hanya butuh waktu untuk menepati


Karena dia tahu, meninggalkan bukan berarti


mengusaikan segala harapan


Tapi meninggalkan

__ADS_1


hanya untuk menguji sebuah kesetiaan


(Niandra~)


__ADS_2