
Bendera yang di dapatkan kelompok Azka lumayan banyak, kemungkinan mereka bisa memenangkan game ini. Susah payah mereka bisa mengumpulkan semua bendera tersebut, sampai harus terpeleset, bahkan sampai tangan mereka luka - luka karena terkena semak - semak.
"Kaa..." panggil Attaya pelan
"Apa?" jawab Azka tanpa menoleh ke arah Attaya
"Ada yang narik baju gue Ka..." ucap Attaya lirih.
"Ha..? Halu aja kali, kita cuma bertiga ini.." ucap Azka agar membuat Attaya tidak panik.
"Tapi serius ini ada yang narik..." rengek Attaya
Lalu Kia dan Azka berhenti dan membalikkan badannya melihat Attaya, Azkia heran karena tidak ada orang di belakang mereka lalu siapa yang menarik baju Attaya.
"Coba deh Ta, lo balik badan.." saran Azkia
"Gak, gak mau gue takut.."
"Kebanyakan nonton film horor jadi gini kan." kata Azka
Kemudian Azka berjalan mendekat ke arah belakang tubuh Attaya, dan benar saja baju Attaya hanya tersangkut ranting pohon tidak ada hantu yang menariknya.
"Balik badan coba!" gertak Azka
"Gak mau Ka." rengek Attaya
"Yaudah, Ki ayo kita tinggalin aja Atta disini." ucap Azka sambil berjalan melewati Attaya dan juga Azkia.
"Lo jahat banget sih Ka." rengek Attaya seperti anak kecil.
"Emang ada apa di belakang Atta?" tanya Azkia yang ikut penasaran.
"Liat aja sendiri.." ucap Azka, lalu Azkia melihat dan berpura - pura kaget.
"Astagaa Atta... ada tangan yang megang baju lo!" teriak Azkia
"Huaaaa..." teriak Attaya sambil melepaskan rantin yang menyangkut di bajunya, terus berlari duhalu meninggalkan Azka dan juga Azkia. Attaya belum sadar juga jika yang di pegang tadi hanyalah ranting pohoh bukan tangan.
Melihat itu membuat Azka dan Azkia tertawa terbahak - bahak, lalu mereka menyadari sesuatu dan menjadi canggung.
"Hahahaa.. itu anak udah takut hantu masih aja nonton horor jadi parnoan kan.." ucap Azka sambil menertawakan Attaya yang sudah lari.
"Hahaa.. bener - bener dasar Atta lucu sekali ekspresinya.." ucap Azkia sambil tertawa
"Gantengnya.." spontan saja ungkapan Azkia saat melihat Azka tertawa
"Baru nyadar?" kata Azka
"Iyaa.. Eh gak gak apaan sih..." ucap Azkia yang terlihat salah tingkah.
Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan untuk menyusul Attaya yang sudah lari duluan. Tapi sebelum itu Azkia melihat sesuatu di balik pepohonan, kemudian Azka memberitahukannya kepada Azka.
"Ka... tunggu.." ucap Azkia sambil memegangi baju lengan Azka, Azka berhenti dan menoleh ke arah Azkia.
"Itu.. disitu tadi kayaknya ada orang?"
"Orang? atau setan?" tanya Azka
"Gak tau pokok nya tadi ada disitu ngliatin kita terus tadi.." ucap Azkia, kemudian Azka mendekatinya terlihat putih - putih begerak.
__ADS_1
"Lo orang..?" tanya Azka
"Setan.." jawabnya
"Orang.." kata Azka, dalam hati Azka berkata "mana ada setan jawab pertanyaan.."
"Setan.." katanya lagi
"Setan.." ucap Azka
"Orang.." katanya dan di tertawakan oleh Azka
"Nah kan kena lo!" ucap Azka
"Siall gue terperangkap.." keluh setan itu. Tiba - tiba saja Azkia bertanya kepada setan jadi - jadian tersebut.
"Lo kenal gak lagi ngomong sama siapa..?" tanya Azkia
"Azka.." kata setan itu
"Hahaha Ka, lo terkenal di kalangan setan juga.." canda Azkia sambil tertawa.
"Setan jadi - jadian hmm." ucap Azka datar.
Setelah beberapa lama mereka menemukan Attaya juga yang sedang terduduk di bawah pohon, menyembunyikan wajahnya kedalam lututnya. Attaya sangat bahagia bisa bertemu dengan Azkia dan Azka jika tidak mungkin dia bisa menangis, untung saja tidak sampai mengompol. Attaya memang suka film horor tapi setelah menontonnya dia pasti minta di temani setiap tidur.
.........
Di Kelompok Lain
Mereka berempat menyusuri rute dengan bergandengan tangan, seperti mau menyebrang jalan saja kan.
"Duh jangan dorong - dorong dong.." keluh Devan yang berjalan paling depan.
"Gue takut.." sambil terus memegang tangan Devira
"Gaya lo aja kalo di sekolah udah kek macan kelaperan, gini doang aja takut.." sindir Devira
"Kan beda lagi.." bantah Syla
"Udah! Ribut mulu kalian tuh gak capek apa?" tanya Bagas yang berada di urutan paling belakang sendiri.
Hiiihiiiiiii
Tiba - tiba saja terdengar suara perempuan tertawa serem, mereka semua langsung panik. Penerangan yang minim membuat suasana semakin menjadi horor.
"Suara apa tuh? Kalian denger gak?" tanya Bagas yang sedikit panik.
"Iya denger, suaranya kayak dari atas.." ucap Devan sambil melihat lihat ke atas pohon.
"I-itu diatas a-ada mbak ku-kuntiiii..." ucap Devira tergagap karena melihat penampakan.
Mereka semua melihat ke atas pohon dan benar saja diatas pohon ada yang duduk manis di sana sambil tertawa, spontan saja mereka berempat lari terbirit - birit. Bagas yang awalnya sok cool terlihat takut juga bahkan larinya yang paling cepat di antara yang lain.
"Kunti kunti kunti..lanak huaaaa..." latah Syla
"Bahahahahaaa asataga seru juga bisa nakut - nakutin kek gini..." ucap mbak kunti setelah mereka semua kabur.
"Duhh tapi kok tiba - tiba merinding gini ya." kata mbak kunti lagi
__ADS_1
Mbak kunti ini sebenarnya anak osis yang memakai costum agar mirip dengan mbak kunti aslinya. Ini semua untuk melatih keberanian mereka, melatih kekuatan dan juga melatih keperdulian mereka. Sebenarnya manfaat acara seperti ini itu banyak sekali.
"Berhenti.. berhenti dulu gue capek.." ucap Devira dan di setujui mereka.
"Tadi itu beneran mbak kun..?" tanya Devan yang tidak melihat dengan jelas apa yang di atas pohon, karena hanya terlihat putih - putih saja.
"Entah gue ngikut lari aja tadi.." ucap Bagas
"Kayaknya bener deh... udah jangan di omongin ntar muncul lagi.." kata Syla
"Oh iya gue baru tau kalo lo latah La.." kata Devira
"Latah gue kumat kalo takut..." jelas Syla
"Heh bisa gitu ya.." tanya Devira dan di angguki oleh Syla
Lalu mereka melajutkan perjalanan lagi, tiba - tiba saja senter yang Bagas bawa mati namun masih tersisa senter milik Devan dan Syla saja.
"Duh pake acara habis batrai segala ini senter." keluh Bagas
"Yaudah pake punya gue aja, lo kan di belakang." ucap Syla
Angin berhembus membuat mereka kedinginan, entah kenapa bulu kudu mereka berdiri di tambah terdengar suara - suara aneh dari semak - semak.
"Kok gue merinding ya.." ucap Syla dan di angguki oleh mereka semua.
"Sama..."
Saat Bagas menyenteri ke arah samping di sana ada penampakan pocong yang sedang loncat loncat, Bagas dan Syla kaget mereka berdua langsung pingsan sedangkan Devan dan Devira lari ketakutan.
"Po-po-po-pocong.." teriak Devira sambil lari menggandeng tangan Devan.
"Heh kalo tidur jagan disini, utututu kasian ketakutan ya..?" kata pocong itu saat menghampiri Bagas dan Syla yang sudah pingsan.
"Dahlah gue pergi aja.. Bye bye.." kata pocong itu sambil meninggalkan mereka berdua.
Devan dan Devira sudah capek berlarian dan mereka baru sadar jika Bagas dan Syla tertinggal di belakang.
"****! mereka ketinggalan.." ucap Devan sambil mengatur nafasnya
"Duh gimana dong? Masa iya balik ke sana lagi..?" tanya Devira ragu
"Mau gimana lagi..?" tanya Devan sambil berjalan ke arah tadi
"Semoga saja tuh nganu udah pergi.. kalo gak gue timpuk pake sepatu.." ucap Devira
"Hahahaa..." tawa Devan,
Mereka berdua kembali mencari Bagas dan Syla, mana tega meninggalkan mereka berdua di tempat gelap seperti ini. Jadi mau gak mau mereka balik lagi, rasa solidaritas mereka lebih tinggi ketimbang rasa takut.
.
.
..."Memiliki teman sejati lebih bahagia dari pada memiliki banyak teman namun hilang saat kita membutuhkannya"...
...- Bagas -...
.
__ADS_1
...Terimakasih semua yang masih stay di BBB, makasih untuk Like , Vote, Koment dan Hadiahnya :)...
...Sukses selalu buat kalian ^.^...