
Setelah pulang sekolah Mikael menunggu Siska di depan kelasnya, Mikael tidak tenang dengan keadaan Siska saat ini. Dia takut jika Siska akan bertindak di luar batasnya, apalagi setelah Siska mengetahui tentang hubungan Azka dengan Azkia.
Mikael mondar - mandir di depan kelas melihat satu persatu siswa yang keluar dari kelas Siska, dan akhirnya Siska keluar dari kelas. Siska nampak tidak suka saat melihat Mikael di depan kelasnya, Siska mengetahui jika Mikael menunggunya. Mikael menghampiri Siska namun dia mengabaikannya, seolah tidak ada Mikael.
"Siska!" panggil Mikael sambil menarik tangan Siska, namun dihempaskan tangan itu dengan kuat membuat Mikael hampir terhuyung.
"Sis, lo nyerah aja udah... ada gue Sis yang bisa menerima lo apa adanya." ucap Mikael memohon kepada Siska
"Gak!" kata Siska singkat sambil meninggalkan Mikael. Namun Mikael tidak kekurangan akal dia mengikuti Siska dan terus berusaha menyadarkan Siska, karena Mikael tahu jika Siska akan berbuat sesuatu kepada Azkia.
"Sis, lo jangan kayak gini mereka udah bahagia lo harus relain dia! Lo jangan sampai lakuin hal yang merugikan diri lo sendiri nantinya, Sis." nasehat Mikael
"Bukan urusan lo, Mik!" teriak Siska sambil berbalik menghadap ke Mikael, matanya sudah memerah seakan sudah menahan begitu lama air mata yang akan jatuh itu.
"Ini urusan gue juga, Sis. Karena gue perduli sama lo, gue sayang sama lo dan gue gak mau sesuatu hal buruk terjadi sama lo... kalo lo lakuin hal yang aneh - aneh." ucap Mikael sambil menatap lekat mata Siska.
"Gue tahu, tahu Mik! Gue tau perasaan lo, semua pengorbanan lo buat gue, tapi gue gak bisa berhenti, Mik. Gue gak bisa, gue udah terlanjur sayang sama Azka, hati gue sakit Mik liat dia lebih milih Azkia dari pada gue yang jelas - jelas udah suka sama dia dari kelas satu... gue benci dengan diri gue sendiri yang seperti ini, Mik. Tapi gue bisa apa? Gue cuma bisa terus berusaha hingga gue bener - bener lelah untuk terus memperjuangkan cinta gue ke Azka." ucap Siska panjang lebar sambil menangis tersedu - sedu hingga matanya pun menjadi sembab, membuat hati Mikaek sakit mihat Siska yang seperti ini.
Mikael mendekat meraih tangan Siska lalu mendekapnya dalam pelukan Mikael, di situ tangis Siska semakin menjadi. Namun, dengan sabar Mikael menenangkan Siska agar tangisnya reda. Mikael mengelus perlahan kepala Siska, hati Mikael seperti teriris melihat Siska sang seperti ini, karena jarang sekali Siska menunjukkan sisi ini kepada orang lain. Syla dan juga Rima hanya bisa diam melihat Siska, mereka memberiakan Siska di peluk Mikael mungkin itu bisa menenangkan hati Siska.
Mikael membiarkan dadanya basah oleh air mata Siska, tangis yang menjadi itu perlahan mereda. Namun pelukan itu masih enggan untuk di lepaskan, tanpa Siska sadari dia nyaman berada dalam pelukan Mikael saat ini. Dan juga Siska belum menyadari jika dirinya bisa leluasa mengeluarkan semua beban di dalam hatinya kepada Mikael.
__ADS_1
"Udah ya udah, jangan nangis lagi... nanti jelek loh." hibur Mikael sambil mengusap pelan kepala Siska, untung saja sekolah sudah sepi jika tidak Siska akan malu memperlihatkan sisinya yang seperti ini kepada orang - orang.
"Beliin es cream mau?" tanya Mikael lagi sambil menghapus sisa - sisa air mata di pipi dan juga mata Siska.
Siska tak menjawab satu pertanyaan pun dari Mikael, mungkin dia malu karena sudah menyadari perbuatannya saat ini yang menangis dalam pelukan Mikael. "Seperti ini sebentar lagi." ucap Siska sambil mempererat pelukannya kepada Mikael. Mikael hanya mengangangguk menyetujui permintaan Siska, dia merasa kasihan melihat sisih Siska yang seperti ini.
Salah satu tangan Mikael memberikan kode kepada Syla dan juga Rima agar mereka berdua pulang terlebih dahulu, biar Siska nanti dia yang mengantarnya. Melihat itu Rima dan Syla setuju dan berjalan menjauh tanpa berpamitan kepada Siska.
Siska memejamkan matanya dalam pelukan Mikael, entah Siska merasa ketenangan dalam hatinya dan seolah semua beban yang sudah Siska rasakan hilang begitu saja. Rasa sesak dan sakit saat mengetahui Azka sudah pacaran dengan Azkia pun hilang saat itu, namun Siska tidak mau membenarkan yang dia rasakan saat ini dalam dekapan Mikael. Siska belum bisa memerima perasaan Mikael sepenuhnya, Siska takut jika nantinya Mikael hanya sebagi pelariannya saja.
Perlahan Siska melepaskan pelukannya dari Mikael, wajahnya menunduk enggan untuk melihat wajah Mikael. "Kenapa nunduk gitu, uang lo jatuh ya?" tanya Mikael membuat Siska kesal.
"Haha nah gitu dong, jangan sedih mulu kan jadi jelek." ucap Mikael sambil memegang dagu Siska agar tidak menunduk lagi, kemudian Mikael membersihkan sisa makeup Siska yang luntur terkena air matanya tadi. "Nah gini kan cantik." ucap Mikael setelah mengelap wajah Siska dengan tissu.
Perlakuan Mikael ini membuat Siska menjadi salah tingkah, matanya terpaku menatap wajah Mikael. Siska baru menyadari jika wajah Mikael tidak kalah ganteng dengan Azka, Mikael yang mengetahui jika Siska menatapnya langsung berkata "Gimana ganteng kan? Baru sadar ya?" ucapan Mikael membuat Siska semakin salah tingkah.
Siska lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Mikael yang masih berdiri melihatnya sambil tersenyum, sesekali Siska menoleh ke arah belakang melihat Mikael yang ternyata mengikutinya.
"Gue anterin pulang, gak boleh nolak harus nurut!" ucap Mikael berbisik di telinga Siska saat Siska akan menolak ajakannya.
Dengan pasrah Siska mengikuti Mikael menuju mobilnya, dengan perhatian Mikael membukakan pintu mobilnya untuk Siska. Siska baru pertama kali mendapatkan perlakuan seperti ini dari seseorang, namun dia menyembunyikan dan menyangkal seolah biasa saja dengan apa yang di lakukan Mikael.
__ADS_1
Mobil Mikael keluar dari area sekolah menembus jalanan yang mulai ramai, sesekali Mikael menoleh ke arah Siska yang berada di sebelahnya. Mikael merasa senang karena Siska mau di antarkan pulang olehnya, karena selama ini Siska selalu menolak jika di ajak Mikael.
"Liat depan, nanti nabrak." ucap Siska yang masih fokus memandangi ke depan, ya Siska seolah tahu jika Mikael mencuri pandang kepadanya.
"Baik tuan putri, hehe." ucap Mikael menggoda Siska, membuat Siska tersenyum dengan candaan itu.
"Nah gitu dong kan jeleknya ilang." ucap Mikael sambil tertawa melihat Siska.
"Fokus depan!" bentak Siska sambil menyembunyikan pipinya yang sudah memanas seperti kepiting.
"Astaga kenapa sama gue ini, gue kan sukanya sama Azka tapi kenapa gue nyaman banget tadi di peluk dia.." batin Siska sambil terus menatap ke luar jendela.
Mikael yang melihat itu langsung bertanya kepada Siska, "Kenapa? masih sedih? Mau makan dulu?" , karena dia berfikir harus menghibur Siska agar tidak sedih lagi. Mikael tahu bagaimana rasanya sedih namun tidak ada orang yang memahaminya bahkan menghiburnya.
Mikael berusaha tidak membuat mereka berdua diam tanpa obrolan, walaupun Mikael tau Siska tidak menyukainya tapi apa salahnya jika berusaha.
......................
..."Percayalah! Kamu lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan!"...
......................
__ADS_1