Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Pemaksaan demi kebaikan


__ADS_3

..."Kamu bahagia dengan pilihanmu dan aku juga akan berusaha bahagia meski tak bersamamu." ~Rayhan M~...


...----------------...


Mobil yang dikendarai Rayhan melaju dengan kecepatan sedang, pikirannya terus saja terngiang dengan perkataan Azkia, yang menyatakan bahwa ia sudah hamil delapan minggu. Itu berarti didalam rahim Azkia ada anak Azka.


Kaget? Pasti tapi apa boleh buat memang kenyataannya Azkia sudah menikah jadi bila ia hamil itu adalah hal wajar saja. Namun kenyataan itu kembali membuat luka lama Rayhan terbuka, ia yang masih belum bisa berdamai dengan hatinya secara sepenuhnya hanya bisa menerima semua kenyataan ini.


Sebenarnya Rayhan sudah rela jika Azkia bersama pilihannya, hanya saja ia masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu. Sulit, setiap kali berusaha Rayhan semakin teringat dengan masa lalu saat cinta itu tumbuh.


"Selamat ya, atas kehamilannya," monolog Rayhan sambil tersenyum kecu.


"Aku gak mau kaya gini terus, kamu bahagia dengan pilihanmu dan aku juga akan berusaha bahagia meski tak bersamamu." gumam Rayhan sambil menatap jalanan.


"Mungkin aku harus mencoba buka hati buat orang lain," gumam Rayhan.


Saat Rayhan terus berdebat dengan hatinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering ada sebuah panggilan masuk yang tak lain dari sang bunda.


Rayhan menepikan mobilnya terlebih dahulu sebelum menerima telepone itu.


"Hallo bund," sapa Rayhan.


"Lagi dimana sekarang?" tanya sang bunda dari sebrang sana.


"Dijalan, ini mau pulang," jawab Rayhan.


"Kalau gitu cepet pulang, ada yang mau bunda omongin sama kamu."


"Soal apa, bund?" tanya Rayhan penasaran.


"Nanti aja kamu juga akan tahu, yaudah bunda tunggu dirumah."


"Iya, bund!"


Setelah itu panggilan diakhiri, Rayhan segera bergegas pulang kerumah sesuai dengan instruksi sang bunda. Ia penasaran apa yang akan dibicarakan sang bunda karena tidak biasanya beliau terlihat serius seperti ini.


Rayhan memarkirkan mobilnya digarasi setelah itu ia masuk kedalam rumah yang langsung disambut sang adik yang kini sudah menginjak remaja.


Gadis itu berlari mengahampiri sang kakak dengan wajah yang berseri, ia merangkul lengan Rayhan mengajaknya masuk ke ruang keluarga dimana sayang bunda berada.

__ADS_1


"Kakak udah ditungguin bunda dari tadi, kok kakak lama sih?" tanyanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, tadi sedikit macet... kamu udah pulang sekolah?" tanya Rayhan.


"Udah lah kak, kalau belum Rere juga gak akan dirumah kan!" ketusnya.


"Loh kok nggas?" Rayhan mengacak-acak rambut adiknya itu.


"KAK! KEBIASAAN BANGET SIH KAN JADI BERANTAKAN!" teriak Rere sambil memperbaiki poninya.


"Rere jangan teriak-teriak ini rumah bukan hutan!" teriak sang bunda.


"Lah bunda sendiri juga teriak!" protes Rere tak mau kalah.


"Udah-udah kamu masuk ke kamar dulu aja yang mau bunda bicarain sama kakak kamu." pinta sang bunda.


"Rere mau disini aja, gak bakalan ganggu kok tenang," ucapnya sambil memperagakan seolah sedang mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Biarin aja, bund." bela Rayhan.


"Kamu itu selalu belain adik kamu itu, kan jadinya manja gak ketulungan!" kesal sang bunda.


"Begini, bunda mau jodohin kamu sama anak temen bunda... dia juga seorang dokter kok, anaknya cantik, pinter lagi." jelas sang bunda.


"Rayhan gak mau dijodohin, bund!" tolak Rayhan.


"Kamu belum ketemu sama orangnya jangan langsung gak mau, nanti nyesel loh!" bujuk sang bunda.


"Gak akan nyesel!" kata Rayhan ketus.


"Bunda gak mau tau alasan apapun, pokoknya kamu udah bunda jodohin sama anak temen bunda. Ini semua demi kebaikan kamu!" tegas sang bunda.


"Tapi bund, Rayhan gak mau.. Rayhan gak cinta sama dia, lihat wajahnya aja belum," tolak Rayhan.


"Apa kamu mau bilang kalau kamu masih suka sama perempuan itu? Sadar Rayhan dia udah ada suami, kamu harus relain dia dan buka hatimu buat orang lain. Ini semua demi kebaikan kamu!" kesal sang bunda.


"Tapi gak harus dijodohin juga kan bund!" protes Rayhan lagi.


"Bunda gak mau tau kamu harus terima perjodohannya!" tegas sang bunda.

__ADS_1


"Terserah!" Rayhan beranjak dari duduknya dan akan pergi ke kamarnya hingga suara sang bunda lagi-lagi mengentikan langkahnya.


"Lusa kamu akan menikah dengannya!" kata-kata itu membuat amarah Rayhan semkain tinggi.


"Jadi bunda bilang perjodohan itu hanya alibi saja, yang bunda inginkan pernikahan?" tanya Rayhan tidak percaya.


"Bunda hanya ingin kamu bahagia!" kata sang bunda teelihat sedih dan air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


Rayhan yang tidak bisa melihat sang bunda bersedih dan menangis langsung saja bersimpuh didepan snag bunda. Hatinya pasti akan langsung luluh saat melihat bundanya memangis karena ia tidak mau melukai hati sang bunda.


"Bunda jangan nangis lagi, Rayhan akan turutin yang bunda bilang kalau itu keinginan bunda!" kata Rayhan sambil mengambil tangan sang bunda dan menciumnya pelan.


Rayhan merebahkan kepalanya pada pangkuan sang bunda, ia memejangkan matanya sambil mencerna kejadian yang tidak pernah ia bayangian sama sekali. Rere hanya bisa diam saja melihat itu, karena ia juga sedih jika melihat Rayhan yang selalu seperti orang putus asa dan Rere tahu apa penyebabnya.


"Bunda sayang sama kalian berdua, bunda lakuin ingin cuma mau lihat kamu bahagia, dan pilihan bunda pasti tidak salah," kata sang bunda sambil mengusap kepala Rayhan.


Rayhan hanya mengangguk saja, hari ini terlalu banyak kejadian yang membuat pikirannya kalut. Entahlah kenapa bisa semuanya terjadi dihari yang sama.


Rayhan pamit untuk pergi kemarnya karena sudah lelah. Untung sang bunda langsung mengizinkannya tanpa bertanya lagi.


Rayhan langsung merebahkan dirinya diatas ranjang yang berukuran cukup besar jika untuk satu orang saja. Ia menatap langit-langit kamarnya, kepalanya berdenyut kencang. Pusing, pening semua jadi satu.


"HAH!" Rayhan mengatur nafasnya untuk menghilang rasa sesaknya.


Semua kejutan tiba-tiba ini membuatnya benar-benar oleng. Mungkin memang ini lah yang terbaik untuk dirinya, menerima perjodohan itu walaupun berat hati.


"Mungkin benar kata bunda ini yang terbaik buat aku," monolog Rayhan.


Ya, Rayhan akan mulai membuka hatinya untuk gadis yang akan dijodohkan dengannya itu. Mulai kehidupan baru dengan orang baru pula.


"Lusa? Apa itu tidak terlalu cepat? Tapi itu lebih baik dari pada terlalu lama." batinnya.


Rayhan meletakkan lengannya untuk menutupi kedua matanya yang sedang terpejam, ia ingin beristirahat sebentar saja karena kepalanya terasa sangat pening.


Hingga tanpa sadad Rayhan tertidyr dengan baju yang masih melekat rapi, bahkan sepatunya masih belum ia lepas sama sekali.


Tidak hanya pikirannya yang lelah, hatinya juga lelah dengan semunya. Saat ini Rayhan benar-benar bertekas untuk berdamai dengan hatinya itu, meski sulit semoga calon istrinya itu bisa membantunya menumbuhkan rasa cinta itu lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2