Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Jangan Lama-lama


__ADS_3

Azkia sedang sibuk memoles wajahnya didepan meja rias, sedangkan Azka masih sibuk di dalam kamar mandi sejak tadi ia belum juga selesai.


"Mandi apa tidur sih lama banget," gumam Azkia sambil milirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


Cklek!


Mendengar pintu kamar mandi dibuka, Azkia langsung saja melontarkan kekesalnya pada Azka.


"Mandinya lama banget udah kaya cewek aja!" gerutu Azkia.


"Keramas, Nyun." jawab Azka karena memang rambutnya masih basah.


"Aduh kenapa gak dari tadi mandinya kalah mau keramas, kita kan buru-buru, By!" ketus Azkia.


Ya pagi ini mereka harus segera tiba ditempat acara pernikahan sahabat mereka berdua yaitu Devan dan Devira. Tapi lihatlah Azka masih belum bersiap, bahkan ia masih memakai handuk dengan rambut yang masih basah sedangkan Azkia sudah cantik dengan kebayanya.


"Buruan ganti baju, By!" perintah Azkia.


"Bentar belum kering," kata Azka sambil mengelap rambutnya dengan handuk kecil.


Azkia yang tidak sabar langsung menarik Azka agar duduk di depan meja riasnya. Azka mencoba bangun dari duduknya tapi ditahan oleh tangan Azkia.


"Duduk diem!" perintah Azkia.


Lalu Azkia mengeluarkan hairdryer dari lemari kecil yang ada dimeja riasnya itu.


"Ngapain?" tanya Azka sambil memperhatikan Azkia yang sibuk dentab hairdryernya.


"Udah diem aja, kita buru-buru, By!" Azkia mulai menyalahkan hairdryer kemudian digunakan untuk mengeringkan rambut Azka. Sedangkan Azka pasrah saja dengan pelakuan sang istri.


Setelah selesai Azkia langsung mendandani Azka, dari mulai rambut dengan style laki-laki korea. Lalu baju yang dipakai Azka pasangan dengan Azkia dan tak lupa sepatu hitam mengkilap membuat Azka semakin mempesona kaum hawa.


"Perfect!" Azkia terlihat begitu bangga dengan hasil karyanya yang sangat memuaskan, sedangkan Azka hanya bisa pasrah menuruti semua permintaan Azkia karena Azkia selalu berdalih jika itu keinginan baby mereka.


"Gimana?" tanya Azka yang belum melihat cermin.


"T O P B G T!" Azkia sengaja mengaja katanya dengan penuh semangat.


"Masa sih?" tanya Azka penasaran, kemudian ia berbalik dan menatap pantulan dirinya pada cermin.


Azka memutar badannya dan memainkan poninya namun dengan cepat Azkia menepuk tangan Azka.


Plak!


"Sakit, Nyun!" gerutu Azka.


"Jangan dirusak, aku kan udah capek dandaninnya!" gerutu Azkia.


"Hmm, dikit doang!" protes Azka.

__ADS_1


"Terserahlah!" Azkia langsung keluar begitu saja sambil menenteng tas selempangnya.


"Ngambek lagi." dengus Azka yang kemudian juga mengikuti langkah kaki Azkia.


Selama perjalanan tidak ada suara apapun selain suara mesin kendaraan dan tlakson mobil dari kendaraan lain. Azkia masih saja cemberut dengan persoalan sepele tadi sedangkan Azka sedang tidak ingin berdebat sehingga ia memilih untuk diam.


Setelah menempuh perjalan yang lumayan jauh akhirnya mereka berdua sampai ditempat yang sudah disulap menjadi begitu indah. Azkia yang masih marah memilih untuk keluar terlebih dahulu sambil membanting pintu mobilnya, Azka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang istri.


"Untung sayang," gumam Azka.


Azka tidak mengikuti Azkia yang pergi entah kemana, tapi Azka tahu jika Azkia sedang menuju ruangan yang digunakan Devira untuk berias.


"Tumben sendirian, istri kemana?" tanya Attaya.


"Entah," singkat Azka.


"Wah parah, istri sendiri gak tau kemana nanti diambil orang loh!" canda Attaya.


"Berisik!" kesal Azka.


"Kalian disini?" tanya Bobo yang sudah datang bersama Ciko.


"Iya, pacar lo mana?" tanya Attaya.


"Pacar? Calon istri makaud lo?" tanya balik Bobo dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Cih yang udah dapet calon istri sombong amat!" ledek Attaya.


"Takdir, Bob. Syukurin aja, siapa tahu dia memang yang ditakdirkan Tuhan buat lo!" bijak Ciko.


"Bener tuh," saut Attaya.


"Iya, doain aja. Lalu dua hari lagi kalian harus datang dan jangan sampai gak datang!" pinta Bobo.


"Kemanan?" tanya Azka.


"Nikahan gue lah!" dengan bangganya Bobo mengatakan itu.


"Kita pasti datang kok, jangan lupa siapin makanan yang banyak ya!" kata Attaya.


"Siap itu mah gampang, yang penting kalian datang dulu," jawab Bobo.


Kemudian mereka mendengar suara dari pembawa acara yang mengatakan acara akan segera dimulai. Sehingga mereka segera bergegas mendekat untuk menjadi saksi dalam akad Devan.


Terlihat Devan sudah duduk didepan penghulu dengan wajah tegangnya, disampingnya ada Devira yang terlihat cantik dengan balutan kebaya putih tulang. Rambutnya disanggul sehingga mempertegas rahangnya.


Dibelakang mereka ada saudara dan sahabat yabg sudah duduk dikurai yang disediakan. Jika melihat Devan sekarang membuat Azka memgingat kembali moment sakral waktu itu, dimana dia juga pernah berada pada poisis Devan saat ini.


Azka yang duduk disebelah Azkia pun langsung menggandeng tangan Azkia erat, apalagi ketika Devan mengikrarkan janji sucinya pada Devira. Sedangkan Azkia tanpa sengaja meneteskan air matanya ia terharu melihat temannya sudah resmi menjadi seorang istri sama seperti dirinya

__ADS_1


"Gimana para saksi?" tanya pak penghulu.


"SAAAHH!" terdengar panduan suara dari beberapa orang yang menjadi saksi.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.


Setelah acara akad dilanjutkan dengan resepsi, tapi sebelum itu mereka sudah memberikan selamat dan doa untuk pasangan Devan dan Devira. Bahkan kado yang mereka siapkan sudah diserahkan, selanjutnya mereka berfoto bersama.


"Van, jangan lama-lama ya!" kata Azka yang membuat mereka semua menoleh pada Azka.


"Apanya?" bingung Devan.


"Buat adonannya, biar nanti kita besanan," kata Azka sambil terkekeh.


"Boleh tuh, gue juga mau cepet-cepet buat!" kata Devan yang langsung mendapat tinjuan dari sang istri. Sedangkan yang lainnya hanya tertawa saja melihat itu.


"Ka, gue juga mau besanan sama lo!" kata Bobo dengan penuh semangat.


"Gue yang gak mau besanan sama setengah orang kaya lo!" canda Azka.


"Gak boleh gitu," kata Azkia.


"Besanan sama gue aja, Ka?" kata Attaya sambil melirik Nayla.


"Resiko orang ganteng gini amat ya, anak belum lahir udah banyak calon yang ngantri " kata Azka dengan penuh percaya diri.


"Sombong, sombong!" cebik Ciko.


"Tapi bener loh, anak kita nanti seumuran semua orang kita nikahnya barengan gini, paling cuma beda beberapa hari doang itu nanti," kata Devira.


"Pasti seru kalau anak kita juga bisa sahabatan," seru Nayla.


"Kita kapan, beb!" Clarisa menanyakan kejelasannya pada Ciko.


"Maunya kapan?" tanya Ciko.


"Secepatnya," kata Clarissa sambil menaik turunkan alisnya.


"Udahlah, Ko! Gas ayuk semuanya, lo juga Ta gak usah lama-lama!" kata Bobo semangat.


"Lo kira nikah tinggal ijab qobul aja udab gitu?" kata Attaya sambil menggeplak kepala Bobo.


"Suka banget mukul gue, sakit nih yang!" keluh Bobo pada Oryza.


Dengan lembut Oryza mengusap kepala Bobo yang dipukul oleh Attaya, membuat mereka semua menatap malas Bobo.


"Hilih ngakunya gak akan bucin!" ledek Azkia yang membuat mereka semua terkekeh.


Bobo yang belum menikah dengan Oryza saja sudah mulai bucin dengan calon istrinya itu, apalagi nanti jika sudah menikah.

__ADS_1


"Ternyata disayang itu senyaman ini, Ki!" saut Bobo.


...----------------...


__ADS_2