
Entah harus bahagia atau sedih karena hanya selisih beberapa hari dari Devan sekarang giliran Bobo yang menggelar acara resepsi yang sengaja digelar dirumahnya. Azka harus kembali tidak masuk kerja karena harus menghadiri acara resepsi Bobo, sehingga sejak pagi dia dan juga yang lainnya sudah stanby di rumah Bobo.
Devan yang baru menikah pun menunda acara bulan madunya karena harus menghadiri resepsi Bobo.
"Makan gratis lagi!" celetuk Ciko ditengah-tengah keheningan itu.
"Bener, tiap hari aja kita gantian resepsi jadi makan gratis terus," ucap Attaya sambil terkekeh.
"Yang ada dompet tipis," celetuk Azka.
"Apa? Lo bilang apa? Dompet tipis, gue gak salah dengarkan? Seorang Ceo sebuah perusahaan yang terkenal dengan pengusaha muda dan kaya bilang dompetnya tipis... terus apa kabar sama kita-kita ini?" cerocos Attaya tanpa henti.
Azka hanya mengendihkan bahunya menanggapi perkataan Attaya sedangkan yang lainya terkekeh melihat mereka berdebat.
"Orang kaya mah beda ya, dompet isi kartu semua jelas bilang tipis!" ledek Devan.
"Kartu bon," saut Azka membuat mereka semua tertawa.
"Ki, suami lo mulai perhitungan banget ya sekarang ini," kata Devira.
"Mulai mikirin kebutuhan rumah apalagi ada calon anak... pengeluaran harus diatur kalau gak bisa bangkrut." respon Azkia sambil terkekeh.
"Mana ada lo bangkrut, yang ada makin kaya!" cebik Nayla.
"Amiiin," ucap Azkia menanggapi Nayla.
"Lo kapan, Ko? Lo juga kapan, Ta?" tanya Devan.
"Kapan apanya?" tanya balik Attaya.
"Iya nih kalau ngomong yang jelas, dong. Kita udah gak zamannya main kode-kodean," kata Ciko sambil terkekeh.
Devan memutar kedua bola matanya malas, "Nikahnya kapan?" tanya Devan.
"Masih lama kok, santai aja... kalian kumpulin uang dulu aja yang banyak buat kasih kado kita, ya gak sayang?" kata Attaya sambil merangkul bahu Nayla.
"Iya biar gak barengan, nanti kalian gendut kalau makan gratis mulu," ucap Attaya.
"Rezeki kan gak boleh ditolak, kalau bisa dibungkus sekalian!" kata Azkia sambil terkekeh.
"Bumil makannya banyak, ya?" tanya Devira.
"Banget!" saut Azka tiba-tiba, Azkia yang mendengar itu sampai memelototkan matanya. Tangannya mencubit pelan pinggang Azka.
"Makan dikit doang aku tuh, gak banyak!" protes Azkia sambil mengerucut bibirnya.
"Iya dikit kok, yang terkahir maksudnya," kata Azka membuat mereka semua tertawa.
Namun tawa itu terhenti saat acara akan segera dimulai, lagi-lagi mereka menjadi saksi. Satu persatu sahabat mereka bergantian menikah, kini tinggal Attaya dan Ciko yang belum diantara mereka.
__ADS_1
Terlihat Bobo yang biasanya urakan dan selengekan menjadi pendiam dan terlihat tegang. Sekali lihat saja mereka tau bahwa Bobo bbenar-benar gugup, ia takut melakukan kesalahan saat pengucapan ijab qobul.
Karena ada yang bilang jika ikrar ijab qobul salah sampai tiga kali maka pengantin harus mengulangnya lagi di hari berikutnya.
Devan dan Azka mendekati Bobo yang sudah duduk di kursi yang akan digunakan untuk ijab qobul.
"Jangan mikir yang aneh-aneh," kata Devan sambil menepuk bahu Bobo.
"Kemaren udah belajar kan?" tanya Azka sedangkan Bobo hanya mengangguk saja.
"Yakin bisa, jangan sampai gak yakin!" kata Azka.
"Iya kalau gak yakin mending gak usah aja," kata Devan.
"Enak aja gak usah, ya harus jadi lah... masa harus jomblo lagi!" kesal Bobo.
"Makanya jangan mikir yang lain, cukup pikirin gimana biar lancar ngomong... awas aja kalau sampai gagap, habis lo sama kita!" ancam Devan agar Bobo percaya pada dirinya sendiri.
"Lo kok lebih serem dari bapaknya doi sih, Van?" keluh Bobo.
"Calon bapak ini," ucap Devan sambil terkekeh.
"Emang langsung isi?" tanya Azka polos.
Plak!
Devan memukul lengan Azka sangat keras hingga bunyinya terdengar sampai kursi yang diduduki sahabatnya yang lain.
"Lo bukan istri gue KDRT dari mananya?" gerutu Devan.
"Stop! Kenapa kalian jadi debat sih, gue mau ucapan akad ini!" protes Bobo yang membuat mereka tertawa.
Setelah itu Devan dan juga Azka kembali duduk karena Oryza dan keluarganya sudah sampai dan segera duduk disebelah Bobo.
"Bagaimana , nak Bobo apakah anda sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Siap, pak!" kata Bobo dengan keras membuat mereka tertawa.
"Baiklah saya akan memulai acara ini." kata pak penghulu.
Penghulu sudah mengucapkan ijab qobul yang harusnya langsung dijawab oleh Bobo, namun Bobo hanya diam saja sambil melihat sang penghulu. Pak penghulu yang sadar langsung menghentakkan tangannya yang sedang berjabat tangan dengan Bobo.
"Sa-saya terima nikah dan kawinnya Oryza Sativa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Bobo.
Penghulu menggeleng sedikit lalu membero tahu pada Bobo jika dia kurang menambahi nama ayah mempelai wanita dibelakang nama Oryza.
"Kenapa, kok belum bilang sah?" tanya Attaya.
"Mau diulang kayanya!" saut Ciko.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Devan penasaran.
Belum sempat Ciko menjawab mereka mendengar suara penghulu yang memberitahukan kesalahan yang Dibuat Bobo.
"Harus ada bin Wahyu Hidayat, kita ulang sekali lagi ya... jangan grogi, tarik nafas dulu lalu buang perlahan," ucap pak penghulu.
Bobo melakukan sesuai dengan instruksi sang penghulu, kemudian ia menjabat tangan sang penghulu lagi. Tangannya bahkan terasa basah karena berkeringat, sesekali juga bergetar hebat.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Bobby Wijayakusuma dengan ananda Oryza Sativa bin Wahyu Hidayat dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." kata pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Oryza Sariva binti Wahyu Hidayat dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Gimana saksi?" tanya penghulu sambil menoleh kesamping kanan kiri.
"Saaahhh!" kata mereka bersamaan.
"Alhamdulillah," kata Bobo yang lega akhirnya ia tidak mengulang untuk yang ketiga kalinya.
Bobo sudah bisa bernafas lega, padahal tadi sudah diberitahu agar tidak banyak pikiran karena badan Bobo akan mengikuti apa yang membuatnya takut.
Saat pemasangan cincin tangan Bobo terlihat bergetar bahkan teman-temannya bisa melihat itu semua. Mereka menertawakan Bobo yang seperti itu, Bobo yang biasanya selalu bercanda bisa sebegitu gugupnya.
Dengan perlahan Bobo memasukkan cincin pada jari manis Oryza begitu juga dengan Oryza, bedanya Oryza memasukkan cicin itu dengan sangat cepat bahkan mereka belum berkedip pun cicin itu sudah masuk dijari manis Bobo.
Setelah semua acara selesai mereka menikmati makanan yang sudah disiapkan, berbagai jenis makanan ada disini. Dari mulai yang tradisonal hingga internasional.
Bobo dan Oryza memang sengaja tidak mengundang banyak orang, hanya saudara kerabat dan sahabat mereka saja yang hadir. Mereka memiliki alasan agar acara terasa lebih sakral sehingga tidak banyak yang mereka undang.
"By, mau sate," kata Azkia yang duduk disebelah Azka.
"Habis dulu itu!" Azka menunjuk piring yang Azkia pegang masih tersisa banyak.
"Kamu yang habisin, ya! Aku mau sate," kata Azkia manja.
"Gak mau ah, udah kenyang!" protes Azka.
"Gak boleh gitu, kemaren siapa yang bilang katanya gak boleh buang-buang makanan?" Azkia membalikkan omongan Azka beberapa waktu lalu.
"Iya-iya!" Azka mengambilkan satu piring yang berisi sate ayam dan lontong. Setelah itu memberikannya pada Azkia dan piring yang Azkia bawa diambil alih oleh Azka.
"Dimakan, By... kan sayang!" perintah Azkia.
Dengan malas Azka langsung memakan nasi dengan lauk rica-rica beserta acar. Azkia hanya tersenyum melihat sang suami yang mau menghabiskan makanannya.
Sedangkan sahabatnya yang lain lebih fokus pada makannya masing-masing, bahkan ada yang nambah lagi.
"Gimana jadi bungkus gak?" canda Attaya.
"Kalau boleh dibungkus aja!" saut Devan yang membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
...----------------...