
Kantung mata Azkia begitu terlihat, membuat Nayla dan Devira heran. Karena tidak biasanya Azkia memiliki kantung mata. Terlebih lagi hari ini Azkia tidak berangkat bersama dengan Azka, mereka berdua berangkat dengan mengendari mobilnya masing-masing.
"Tumben mata lo ada kantungnya, udah bisa buat nyimpen koin tuh." canda Devira sambil duduk di depan Azkia.
"Gak lucu!" kesal Azkia sambil melemparkan buku pada Devira.
"Sakit weh main timpuk aja!" gerutu Devira.
"Tumben gak berangkat bareng ayang beb, gak lagi marahan kan?" tanya Nayla.
"Gak kok," jawab Azkia sambil mengalihkan pandangannya.
Hal itu, membuat Devira dan Nayla menaruh curiga kepada Azkia.
"Cepet cerita, gue gak mau sampai tertinggal satu info!" perintah Devira sambil menatap tajam Azkia.
"Kita menunggu," ucap Nayla.
"Cerita apa? Orang gak ada apa-apa juga." elak Azkia.
"Gak usah bohong, Ki... gue paham betul sama sifat lo, jadi pilih lo cerita apa gue yang nanya langsung sama Azka!" ancam Devira yang sudah mulai bangkit dari duduknya.
"Eiittt tunggu, Ra... okee gue cerita!" akhirnya Azkia pasrah.
Devira kembali duduk didepan Azkia sedangkan Nayla duduk dibangku Azka. Azka dan yang lainnya masih berada dikantin seperti biasanya.
"Jadi tuh kemaren gue kerumah sakit jenguk Siska, gara-gara si malaikat." jelas Azkia.
"Malaikat?" tanya Devira dan Nayla bersamaan.
Azkia mengangguk,"Mikael itu kan nama malaikat," jawab Azkia polos.
"Yaelaah!" dengus Devira.
"Ada-ada aja suka ganti nama orang sembarangan, gue kira siapa." balas Nayla sambil melemparkan jajannya kearah Azkia.
"Hehee.. mau lanjut gak?" tanya Azkia.
"Lanjut!" kompak mereka, untung saja kelas belum begitu ramai jika tidak mereka bisa dikira sedang paduan suara.
"Kalian tau, waj—"
"GAK!" Azkia belum selesai bercerita sudah di potong oleh kedua sahabatnya.
"Ah malas mau cerita kalo gini." Azkia berpura-pura merajuk.
"Lanjut dong, lanjut!" ucap Nayla dan diangguki oleh Devira.
"Kemaren gue jenguk Siska dirumah sakit sama Azka, dia kelihatan pucet banget... cuma mau makan kalau disuapin sama Azka," ucap Azkia.
"WHAT! TERUS LO BIARIN AJA GITU?" teriak Devira yang membuat mereka semua menutup telinga.
"Mulut apa toak!" kesal Dini teman sekelas mereka.
__ADS_1
"Dua-duanya," saut Devira tanpa ada amarah saat disindir seperti itu.
"Jangan teriak-teriak, ini kelas bukan hutan!" ucap Nayla.
"Ya mau gimana, Ra.. gue izinin aja toh cuma nyuapin dia biar mau makan, terus gue tinggalin mereka soalnya kesel liatnya hehe," tawa garing Azkia.
"Kalo cemburu gak usah diizinin lah," ucap Devira.
"Bener tuh dari pada makan hati," imbuh Nayla.
"Demi rasa kemanusian, hehee... habis itu gue balik kan, nah gue liat tuh si nenek lampir peluk-peluk tunangan gue," kata Azkia kesal mengingat kejadian kemarin.
"Ciee diakuin tunangan," goda Nayla.
"Terus gak lo tampar tuh muka nenek sihir? tanya Devira ikut kesal.
Azkia menggeleng, tanpa sadar ia memegangi bibirnya sambil tersenyum. Devira dan Nayla saling pandang seolah sedang bertanya 'kenapa?'.
"Obat lo gak habis kan, Ki?" tanya Nayla sambil mengecek suhu di jidat Azkia.
"Masih banyak kok, gak gue makan," kesal Azkia.
"Lanjutannya apa jangan senyum-senyum sendiri kaya orang didepan gerbang tuh," canda Devira.
"Enak aja, gue masih waras!" kesal Azkia.
"Makanya buruan lanjut!" desak Nayla.
"Terus... ya gitu deh hehe," jawab Azkia.
"Heh punya mulus kalo ngomong lemes banget, gue gak diapa-apain sama Azka!" jelas Azkia.
"Lo ngarep diapa-apain kan, hanyo ngaku!" canda Devira.
"GAKK! IH KALIAN APAAN SIH!" teriak Azkia kesal karena sejak tadi dibully oleh kedua sahabatnya.
"Kenapa?" suara dingin yang khas menusuk telinga mereka.
Dibelakang mereka sudah ada Azka, Attaya dan juga Devan yang masih menggendong tas mereka dibahu. Tangan kanan Azka membawa sekantung kresek yang penuh dengan makanan ringan dan juga susu.
"Pagi bebeb!" sapa Nayla kepada Attaya, bahkan dia sudah menghampiri Attaya.
"Pagi juga bebebku sayangku!" jawab Attaya.
"Cih, Alay!" cibir Azka.
"Bodo amat!" ucap Attaya dan Nayla serentak.
Sedangkan Devan langsung menghampiri Devira yang sedang duduk dibangkunya. Azkia? Ia hanya diam saja seolah tidak melihat jika Azka sedang berdiri disebelahnya.
"Nyun, hey nyun!" panggil Azka.
Namun tak ada tanggapan dari Azkia, ia memilih pura-pura tidak mendengar. Karena jika menatap wajah Azka, membuatnya teringat kejadian kemarin sore dibawah guyuran hujan. Bahkan kantung mata yang ada saat ini juga karena semalaman Azkia tidak dapat tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Sayang," panggil pelan Azka.
"Ini anak kenapa lagi?" batin Azka.
Azka menaruh kantung kresek yang ia bawa didepan meja Azkia, lalu Azka duduk dibangkunya sendiri sambil mengamati Azkia.
Tangan Azka tidak hanya diam, ia terus mencolek lengan Azkia. Hingga Azka menyerah dan memilih diam saja memandangi Azkia.
Azkia yang tidak mendengar suara Azka lagi memilih untuk menoleh, dilihatnya Azka yang sedang menatapnya sambil tersenyum tipis. Mata Azkia lagi-lagi terfokus pada bibir Azka.
"Apa sekarang rasanya masih dingin, ya? batin Azkia yang terus menatap bibir Azka.
Azka menyadari arah pandang Azkia, terbesit niatan untuk menjaili Azkia. Azka sengaja memanyunkam bibirnya seolah akan mencium Azkia. Membuat Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan jadi halu gue, ya kali bibirnya Azka dimanyun-manyunnin gitu," batin Azkia.
Namun matanya masih menatap bibir tipis bersemu merah. Walaupun Azka merokok bibirnya tidak terlihat hitam sama sekali. Karena Azka selalu menjaga pola makannya dan juga semenjak bersama Azkia, Azka sudah libur dengan yang namanya rokok. Sehingga bibir Azka terlihat sangat menggoda iman.
Azkia tidak menyadari jika wajah Azka sudah mendekat kearahnya, bahkan nafas Azka pun bisa Azkia rasakan.
"Mau lagi ya, sayang?" goda Azka ditelinga Azkia.
Tanpa sadar Azkia mengagguk membuat Azka tersenyum simpul.
Blush!
Wajah Azkia mendadak menjadi panas seperti terbakar dan tidak bisa digerakkan bahkan sedikit sekalipun. Canggung dan grogi itulah yang Azkia rasakan sekarang.
"Tunggu ya, nanti kalau udah waktunya gak akan ada lagi jariku yang menjadi penghalang," goda Azka sambil terkekeh.
"Apaan sih!" protes Azkia menoleh kearah Azka.
Cup!
Satu kecupan tanpa sengaja dipipi kiri Azka, membuat nyawa keduanya hilang begitu saja.
Wajah Azka dekat dengan Azkia namun masih ada jarak, dan siapa yang menyangka jika tanpa sengaja Azkia menoleh kearahnya.
"Selamat pagi anak-anak!" suara bu Arum terdengar diseluruh penjuru kelas.
Membuat nyawa Azka dan Azkia balik lagi. Dengan cepat Azkia memposisikan dirinya menghadap depan, kantung kresek yang ada dihadapannya langsung ia masukkan kedalam laci sebelum disita oleh bu Arum.
Sedangkan Azka, ia memegangi pipinya yang tanpa sengaja tercium oleh Azkia.
"Niatnya mau godain, eh malah gue yang kegoda... astaga, mikir apa sih gue!" batin Azka, ia menepuk pelan jidatnya sendiri.
"Gue nyium Azka, OMG BIKIN MALU!" teriak Azkia dalam hatinya. Sebisa mungkin Azkia berusaha baik-baik saja, padahal badannya sudah panas dingin.
Untung saja kejadian itu tidak ada yang melihat karena mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Dan juga kejadian itu sangat cepat, begitu cepat sampai tidak ada dua detik.
..............................................................................................
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE VOTE FAVORIT AGAR AUTHOR SEMANGAT!
__ADS_1
Yuk! Share-share novel ini ketemen kalian agar mereka juga merasakan ke uwuan Azka dan Azkia.. dan juga panasnya emosi saat ada penganggu Dan sapa tau ketemu jodoh halu 😂😂