
Azka yang sudah segar setelah mandi sore, duduk bersantai dibalkon kamar Azkia. Malam ini mereka berdua memutuskan untuk menginap dirumah Bima, karena sudah lama mereka tidak menginap.
Azka sedang menikmati senja bersama segelas kopi favoritnya untuk sejenak menghilangkan penat yang terus membuatnya pusing sejak pagi, Azka tidak menyadari jika Azkia sudah masuk kedalam kamar.
"Aawwhhh!" rintih Azka yang tiba-tiba merasakan sakit pada pipi kirinya.
Ternyata ada Azkia yang sudah membuat pipi putih Azkia memerah karena gigitannya, Azka yang kaget langsung beediri membuat Azkia sedikit tersentak.
"Ka-kamu, kamu ngapain gigit aku, Nyun?" tanya Azka sambil menjaga jarak dari Azkia.
"Pengen!" satu kata yang membuat kedua bola mata Azka mendelik. Ia tidak salah dengar jika Azkia menggigitnya karena pengen.
"Hah? Kamu kalau lapar makan aja, jangan gigit aku... aku bukan makanan!" protes Azka.
"Tapi aku pengen, by!" wajah Azkia memelas dengan wajah dibuat seimut mungkin agar hati Azka luluh.
"Iya tapi gak gigit juga kan, Nyun?" kata Azka sambil mengambil ponselnya, Azka menghidupkan kamera guna untuk melihat bekas gigitan Azkia karena terasa perih.
"Tapi aku pengennya gigit pipi kamu, By!" Azkia berjalan mendekati Azka.
"Tuh lihat merah gini, mana ada bekas gigitan pantas aja perih." keluh Azka sambil menatap camera pada layar ponselnya.
"Maaf," kata Azkia sambil mengusap lembut pipi Azka yang membekas itu.
"Tapi aku mau lagi," lanjut Azkia yang membuat Azka langsung memundurkan badannya.
"Jangan, Nyun! Besok aku kerja loh, ada rapat juga gimana mau ketemu client kalau wajahku ada bekas gigitan?" tanya Azka yang sudah bersiap lari.
"Sekali aja, By! Ya, mau ya?" bujuk Azkia dengan manja.
"Gak mau, besok aku kerja, Nyun!" dengan lincah Azka langsung menghindari Azkia masuk kedalam kamar, bahkan ia sudah berada diambang pintu kamarnya.
Sedangkan Azkia menatap tajam Azka seoalah sedang melihat buruannya yang hampir kabur. Azkia juga tidak tau kenapa ia sangat ingin mengigit pipi Azka yang sekarang sudah terlihat sedikit gembul.
Azkia melipatkan tangannya didepan dada sambil melangkah mendekati Azka, wajahnya benar-benar terlihat garang seperti singa yang sedang kelaparan.
"Nyun, jangan aneh-aneh deh!" Azka membuka pintu kamar dan bersiap lari.
Azkia tidak menanggapi ia terus melangkah mendekati Azka, Azka yang merasa terancam langsung saja lari menuruni anak tangga seperti seorang anak kecil yang ketakutan melihat hantu.
"Kenapa lari-larian, Ka?" tanya mama Lala yang berada di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ah anu itu mah, Kia mah!" Azka bingung bagaimana harus menjelaskan pada sang mertua.
"Kia kenapa?" tanya mama Lala.
"Kia ma—" ucapan Azka terhenti saat ia mendengar suara tangis Azkia yang sangat kencang.
Mama Lala dan Azka saling bertatapan untuk beberapa saat hingga mereka sadar dan berlari menuju kamar Azkia, mereka berdua sangat panik takut jika terjadi sesuatu pada Azkia. Begitu juga Bima yang baru saja sampai langsung ikut berlari menuju kamar Azkia.
Cklek!
Terlihat tempat tidur yang sudah tidak berbentuk lagi, kain sprei sudah terlepas dari kasurnya bahkan bantal dan juga guling sudah berserakan dilantai.
"NYUN!" teriak Azka bersamaan dengan sang mertua.
"AZKIA KAMU KENAPA, NAK?"
"AZKIA!" teriak Bima.
Mereka semua bingung dengan sikap Azkia saat ini karena tidak seperti biasnya ia bertingkah seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Azka mulai mendekati Azkia yang duduk diatas ranjang sambil menekuk kedua lututnya. Lutut itu ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang terisak.
"Ia bilang sama papa siapa yang jahatin kamu pasti akan papa kasih pelajaran!" tegas Bima namum masih terlihat lembut.
Perlhan Azkia mendongkan wajahnya melihat ia sedang di kelilingi oleh Azka, Lala dan juga Bima. Namun mata Azkia berhenti tepat diwajah Azka, terbesit senyum tipis disudut bibirnya yang hanya diperlihatkan untuk Azka.
Melihat itu pikiran Azka sudah terbang kemana-mana, ia takut dengan perkataan yang akan diucapkan oleh Azkia yaitu ingin menggigitnya.
"Suamimu kenapa sayang?" tanya Mama Lala karena melihat Azkia terus melihat kearah Azka.
"Mama, Kia pengen," rengek Azkia seperti anak kecil.
"Pengen apa bilang sama mama biar mama buatin, apalagi kamu sedang hamil jadi pengen apa bilang aja jangan dipendem." saran sang mama.
"Kia pengen gigit bakpau," jawab Azkia.
Mata Azka membulat penuh karena ia paham yang dimaksud bakpau oleh Azkia.
"Yaudah biar di buatin mama, ya! Lain kali jangan nangis, mau sesuatu bilang aja?" Bima mengusap pucuk kepala Azkia lalu pamit ke kamarnya sendiri karena badannya sudah lengket.
"Jadi mau bakpau rasa apa?" tanya mama Lala.
__ADS_1
Azkia tidak menajawab ia masih saja menatap Azka, sedangkan Azka yang ditatap seolah tak menyadarinya. Hingga tepukan bahu sang mama menyadarkan Azkia.
"Mau bakpau rasa apa?" ulang sang mama
"Ah itu, sebenarnya Kia mau bakpau itu tapi Kia gak izinin buat gigit, makanya Kia kesel mah sampai nangis." Azkia menunjuk pipi Azka, Azka hanya bisa menahan prosesnya didepan sang mertua.
"Ohh kalau itu tanya saja sama suamimu," ucap mama Lala sambil terkekeh.
Sebelum keluar mama Lala membisikan sesuatu pada Azka.
"Istrinya lagi hamil jadi turuin saja," ucapnya sambil menahan tawa, setelah itu mama Lala benar-benar keluar dari kamar Azkia dan menutup pintunya.
"Lama-lama jadi patung beneran loh!" ejek Azkia sambil menyunggingkan senyumnya.
"Mau mu apa sih, Nyun?" tanya Azka sambil memunguti bantal yang berserakan dilantai.
"Mau ini," ucap Azkia sambil mencubit pipi Azka.
"Aku gak mau, sakit! Besok aku rapat, Nyun." tolak Azka.
"Yaudah aku nangis lo!" ancam Azkia.
"Nangis aja," ucap Azka.
Mendengar itu membuat Azkia bersiap untuk memangis dengan kencang, namun dengan cepat Azka membungkam mulut Azkia agar mertuanya tidak mendengar.
"Suttt! Jangan nangis oke, kalau diem aku lepasin." setelah Azkia mengangguk ia melepaskan bukamannya.
"Permintaanmu aneh-aneh aja!" lanjut Azka.
"Ini itu bawaan bayinya, bukan aku!" protes Azkia.
Kalau sudah menyangkut saol bayinya Azka tidak bisa berkutik lagi, dengan terpaksa Azka membiarkan pipinya merasakan perih karena digigit oleh Azkia.
"Manis," gumam Azkia sambil tersenyum.
"Perih, Nyun." rengek Azka, lalu ia merungkuh badan Azkia.
Azka membenamkan wajahnya disela-sela curuk leher Azkia, lalu ia mengeratkan pelukannya membuat Azkia tidak bisa bergerak. Dalam hitungan detik Azka sudah melupakan rasa perihnya, buktinya ia sudah tidak terdengar rengekannya. Hanya terasa hembusan nafas Azka yang sudah teratur, itu berarti Azka sudah terlelap dalam tidurnya.
Azkia mengacak-acak rambut Azka karena gemas, sesekali menciumnya juga. Lalu ia juga ikut terlelap.
__ADS_1