Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Aku cuma mau kamu


__ADS_3

Tepat pukul 10 pagi Azkia baru bangun, ia melihat sekeliling yang sepi dan tentunya sudah terlihat panas karena marahari sudah berada diatas. Setelah selesai mandi Azkia langsung turun kebawah untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Pagi non Azkia," sapa bibi.


"Pagi juga bi, Azka udah berangkat ya?" tanya Azkia, padahal sudah jelas jika Azka sudah berangkat ke kantor karena sudah siang.


"Sudah non dari pagi, non mau sarapan?" tanya bibi.


"Iya bi, laper banget ini," kata Azkia sambil memegangi perutnya.


"Tunggu sebentar bibi siapin dulu." dengan lihai bibi menyiapkan makanan diatas meja. Terlihat berbagai jenis makanan yang tersaji membuat Azkia menyerkitkan keningnya.


"Kok banyak banget, bi. kan saya makan sendiri," ucap Azkia.


"Ini tadi perintah den Azka sebelum berangkat kerja, bibi disuruh buatin berbagi macam makanan katanya kalau non Azkia bangun pasti lapar." jelas sang bibi.


Azkia hanya mengangguk sambil memasukan nasi kedalam piringnya, ia cukup lahab menikmati masakan bibi yang pas dilidahnya.


"Bibi, ikut makan bareng Kia sini," ajak Azkia disela-sela makannya.


"Bibi udah makan, non Kia habisin aja.. kalau kurang nanti bibi buatin lagi," kata sang bibi.


"Cukup bi, ini aja masih banyak... nanti bisa-bisa aku jadi gendut mendadak," kata Azkia sambil terkekeh.


"Non ini ada-ada aja." bibi pun ikut tertwa dengan candaan Azkia.


Setelah merasa kenyang Azkia berjalan-jalan disekitaran rumah, semenjak menikah ia belum melihat isi rumah Azka.


"Nyaman banget kalau disini," kata Azkia.


Ia duduk disebuah kursi dekat kolam berenang, tempat dimana Azka suka berjemur disaat sore hari. Azkia meregangkan tangannya yang terasa pegal.


"Permisi non, anu itu den Azka." kata bibi ragu.


"Azka kenapa bi?" tanya Azkia.


"Non disuruh angkat teleponnya, katanya udah berkali-kali tapi gak dijawab." ucap bibi.


"Astaga, aku lupa cek ponsel... pasti dia marah-marah kan, bi?" tanya Azkia yang langsung berlari menuju kamarnya.


Dan benar saja sudah lebih dari sepuluh panggil tak terjawab dari Azka, lima puluh pesan singkat yang terlihat pada layar ponsel Azkia.


"Astaga." Azkia menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


Sebelum Azkia menelepon balik, Azka sudah memanggil terlebih dahulu.


Drrttt drrrtttt.


Dengan cepat Azkia menekan tombol warna hijau pada layar ponselnya, namun sebelum dia menjawab sudah terdengar suara dari sebrang sana.


"Kemana aja sih, kenapa baru diangkat... kamu tau gak aku udah berapa kali telepon kamu? Kamu udah bangun kan? Bangun jam berapa, udah makan belum?" tanya Azka.


"Kenapa kok diem aja?" lanjut Azka karena tidak ada jawaban dadi Azkia.

__ADS_1


"Sayang?" panggil Azka lagi.


"Aku bingung mau jawab yang mana dulu," " kata Azkia. Ia duduk ditempat belajar yang biasanya azka gunakan.


"Ya semuanya dong," jawab Azka.


"Hmm, aku udah bangun dan ini baru selesai makan... ponsel aku dikamar jadi gak tau kalau kamu telepon," jelas Azkia.


"Anak pinter, lain kali jangan lupa liat ponselnya ya! Siapa tau kan ada pesan penting," kata Azka.


"Apalagi pesan dari aku kan sangat penting," lanjut Azka lagi.


"Iya, maaf... emang ada hal penting?" tanya Azkia.


"Ada,"


"Apa?" tanya Azkia penasaran.


"Aku kangen, pengen meluk kamu," ucap Azka sedikit manja.


"Astaga ini anak kenapa bucin banget," batin Azkia.


Namun tidak dipungkiri ada rasa bahagua saat Azka mengatakan itu. Bibirnya terangkat sempurna membentuk setengah lingkaran.


"Sayang, istriku," kata Azka dengan nada sangat lembut membuat hati Azkia meleleh.


"Iya Az eh Hubbya," jawab Azkia.


"Kangeeen," rengek Azka seperti anak kecil membuat Azkia terkekeh.


"Kalau pulang cepet kasih hadiah, ya?" tanya Azka.


"Mau hadiah apa? Tapi jangan yang aneh-aneh, soalnya lagi mager hehe."


"Aku cuma mau kamu," ucap Azka.


Seolah detik itu juga waktu berhenti, suara lembut dan hangat Azka terngiang beberapa kali ditelinga Azkia.


"Sayang?" panggil Azka.


"Eh iya," jawab Azkia setelah sadar.


"Yaudah, aku kerja dulu biar cepet selesai terus pulang ketemu sama kamu," kata Azka.


"Iya, jangan lupa makan ya? Biar semangat kerjanya." jawab Azkia.


"Semangatnya itu kalau ada kamu, Nyun!" kata Azka sambil terkekeh.


"Apa sih gombal mulu, ih!" namun tetap saja hal itu membuat Azkia senang.


"Mana ada dikamus seorang Azka gombal, semua yang aku bilang itu kenyataannya," kata Azka dengan penuh percaya diri.


"Kan mulai kan, percaya dirinya tingkat dewa gak ada yang nandingin," cebik Azkia.

__ADS_1


"Hahaaa," hanya tawa yang terdengar dari sebrang sana.


Setelah berpamitan Azka mematikan panggilan itu, ia kembali mengurus berkas-berkas dan rapat. Agar cepat bisa bertemu dengan Azkia.


Sedangkan Azkia memilih menyibukkan dirinya dengan tumpukan kertas sekripsi yang harus ia revisi. Hari ini tidak ada jadwal bimbingan dengan dosen, sehingga Azkia bisa fokus pada lembar revisinya.


Azkia ingin skripsinya cepat selesai dan dia bisa berfokus pada butiknya yang sudah setengah jadi itu.


......................


Sedangkan Lena tengah sibuk menyusun berbagai rencanan untuk mendekati bosnya. Ia sangat berharap bisa membuat Azka bertekuk lutut padanya. Bisa dibilang baru kali ini Lena melihat laki-laki setampan Azka dan juga diusianya yang masih muda sudah diberik kepercayaan untuk menguruai perusahan.


"Oke kita jalankan rencana pertama," monolog Lena.


Lena menuju tempat istirahat yang biasanya digunakan para karyawan. Disana ada semua bahan untuk membuat berbagai minuman yang sudah disediakan oleh pihak kantor.


Lena membuatkan secangkir kopi untuk Azka, dia membuatnya dengan sepenuh hati dan berharap bisa mendapatkan hati Azka.


Tok tok tok!


"Masuk!" ucap dari dalam ruangan.


"Permisi pak, saya buatkan bapak kopi," ucap Lena setelah dipersilakan masuk.


Azkia menyerkitkan alisnya, ia tidak merasa meminta dibuatkan kopi.


"Saya tidak minta kopi," kata Azka yang membuat Lena diam ditempat.


"Ah itu pak, ini inisiatif saya sendiri karena saya tau bapak sedang sibuk dan butuh penyegaran," kata Lena yang diraaa cukup masuk akal.


"Oh, taruh disitu." Azka melirik secangkir kopi itu sekilas.


"Silahkan diminum, pak!" kata Lena setelah meletakkan secangkir kopi didekat Azka.


Azka yang memang butuh secangkir kopi untuk menghilangkan rasa ngantuknya, langsung saja menyeruput kopi itu tanpa berpikir apa-apa.


"Bagaimana pak?" tanya Lena.


"Lumayan," singkat Azka.


"Tolong berkas ini kamu antar ke ruangan Pak Attaya, bilang sama dia untuk cepat menanganinya!" perintah Azka.


"Baik, ada lagi pak?" tanya Lena dengan nada dibuat selembut mungkin.


"Itu aja," ucap Azka sambil menggelengkan kepalanya.


Lena mengambil berkas yang Azka maksud, kemudian ia pamit. Tapi sebelum itu ia sempat melirik Azka dan tersemyum manis saat tanpa sengaja Azka juga melihatnya.


"Gak jelas!" batin Azka.


"Duh, jantung jangan berontak!" batin Lena.


"Yok, Lena selangkah demi selangkah kamu pasti bisa!" gumam Lena didepan pintu ruangan Azka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2