Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Jangan Deket - deket


__ADS_3

...Kamu adalah alasanku bertahan hingga saat ini!...


...—Azka (е н) —...


.......................................................................................


Azka tidak langsung pulang kerumahnya, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di Cafe tempat biasa dia dan temannnya datangi. Azka menyalakan rokoknya lagi, entah sudah berapa batang rokok yang Azka hisap seharian ini.


Tiba - tiba saja ada pesan masuk dari nomer tidak dikenal, pesan itu mengirimkannya sebuah foto dimana Azkia sedang bersama Kevin. Di dalam foto itu terlihat tangan Kevin menyentuh kepala Azkia, seperti orang yang ingin mencium kening.


Hal itu membuat Azka murka, ia menelepon nomor yang sudah mengiriminya pesan. Namun sayang nomor itu sudah tidak aktif lagi.


"Shit!" kesal Azka sambil menendang meja didepannya.


Devan dan Attaya menghampiri Azka, mereka berdua dari toilet.


"Ka, kita diajak balapan." kata Attaya yang baru saja duduk dihadapan Azka.


"Sama siapa?" tanya Azka, yang masih fokus pada ponselnya.


"Aldo." jawab Devan.


"Oke." singkat Azka.


"Kita senang - senang malam ini." ucap Attaya yang diangkui oleh Devan.


Setelah merasa bosan mereka bertiga memutuskan untuk pulang kerumah masing - masing. Dan bertemu lagi nanti malam di tempat balapan.


Azka masuk kedalam rumah yang disambut dengan bahagia oleh pembantu rumah tangganya, orang tuanya belum pulang. Sedangkan Raina dia sudah kembali ke tempat asalnya, karena sekolahnya sudah akan dimulai juga.


Masih terngiang di benak Azka kemarin malam saat dirinya di panggil keruang kerja sang papa, di sana Azka diminta untuk menuruti kemauan orang tuanya. Yaitu untuk menikah dengan anak sahabat dari mamanya Azka, dengan kesal Azka menolak permintaan itu.


"Jaman sekarang masih aja ada perjodohan." gumam Azka sambil tersenyum tipis.


Azka menghempaskan tububnya diatas kasur, kepalannya terasa berat sekali. Namun ponselnya terus berdering hingga membuatnya terpaksa bangkit dan mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas.


"Halo?" ucap Azka saat panggilan itu sudah tersambung.


"Heh, jelek kenapa tadi gak jujur." ucap Azkia yang merasa tidak enak.


"Maksudnya?"


"Tadi kenapa gak jujur kalo nasi gorengnya keasinan... kan tau gitu gak usah di habisin, nanti kamu sakit gimana?" ucap Azkia diseberang sana.


Azka hanya tersenyum mendengar semua ocehan Azkia, terdengar nada kekhawatiran yang membuat Azka tersentuh.


"Halo, masih disitu kan? Kenapa diem aja, kamu gak papa kan?" tanya Azkia mulai panik.


"Masih disini dengan perasaan yang sama." canda Azka.


"Buciin.. hehe." ucap Azkia sambil terkekeh, "Kamu serius gak sakit kan, jangan bohong!" lanjut Azkia.


"Baik kok."


"Kenapa tadi dihabisin, kan aku jadi ngarasa bersalah." Azkia mulai berkaca - kaca.


"Enak kok masakanmu, Nyun... cuma ya itu kebanyakan garamnya." hibur Azka.

__ADS_1


"Itu namanya gak enak, lain kali jangan di makan.. oke?"


"Iya, lain kali jangan kebanyakan garam hehe." tawa Azka terdengar baik-baik saja membuat Azkia merasa tenang.


"Siap ndan!" jawab Azkia sambil terkekeh.


"Oh iya tau dari mana kalo nasgornya keasinan?" tanya Azka.


"Dari mama, pas aku pulang sekolah tadi." jawab Azkia.


Flasback On


Dengan langkah santai Azkia memasuki rumahnya dengan menenteng paper bag yang berisi seragam barunya. Tiba - tiba saja dia dikagetkan oleh suara yang mama.


"Baru pulang, Kia?" tanya mama Lala yang datang dari dapur.


"Iya mah, Kia mau keatas dulu capek." baru satu langkah menaiki tangga Azkia berhenti lagi.


"Nasgor tadi kamu kasih siapa?" tanya mama Lala.


"Temen mah, kenapa?" tanya Azkia berbalik badan menatap sang mama.


"Dia bilang apa soal masakanmu?" tanya mama Lala.


"Katanya enak gitu, orang sampai dihabisin." ucap Azkia dengan penuh kebanggaan masakannya terasa enak.


"Astagfirullah, serius kamu?" mama Lala sedikit kaget mendengar penjelasan Azkia.


"Serius lah mah, mana ada tampang bohong dari seorang Azkia Agatha." ucapnya terkekeh.


Sang mama hanya menggeleng mendengar ucapan yang keluar dari mulut putrinya.


"Maksud mama apa, kok darah tinggi segala?" tanya Azkia.


"Tau gak, nasi goreng kamu tadi asin banget... kaya makan garem, Ki." ucap mama Lala.


"Astagfirullah, mama serius?" paperbag yang sejak tadi Azkia pegang terjatuh begitu saja, tangannya menutup mulutnya yang kaget dengan ucapan sang mama.


"Duarius, tanya abang aja kalo gak percaya."


"Yaah gimana dong mah, Kia jadi gak enak mana tadi Kia suruh habisin itu nasi goreng... kan kata dia enak." ucap Azkia memeluk sang mama.


"Kamu masak gak dicobain dulu, apa?" tanya sang mama.


Azkia menggelengkan kepalanya dalam pelukan sang mama, "Kia tadi fokus sama vidio cara buat nasi goreng, Kia udah ikutin semua sama persis seperti dividio itu mah... Kia gak sadar kalo kebanyakan garam." ucapnya sambil mematap mama Lala.


"Lain kali kalo masak jangan sambil liat ponsel, kan Kia bisa nanya sama mama kalo mau masak sesuatu." Azkia mengangguo mendengar ucapan sang mama.


"Mama salut sama temen kamu yang sanggup habisin nasi goreng asin haha." ledek mama Lala.


"Ih mama mah gitu, Kia kan jadi kasian sama dia.. kalo sakit gimana?"


"Sakit ya bawa kerumah sakit dong."


"Ah mama mah bercanda mulu." ucap Azkia sambil memanyunkan bibirnya.


"Yakin dia cuma temen kamu, hayoo ngaku... temen apa demen nih?" goda mama Lala mengusap pelan pipi Azkia.

__ADS_1


"Mama kepo ih." ucap Azkia sambil berlari keatas menuju kamarnya.


"Dia baik, gak mau buat kamu kecewa." teriak mama Lala.


Flasback Off


"Gitu ceritanya." kata Azkia.


"Ohh."


"Masa oh doang udah capek-capek cerita juga." kesal Azkia.


"Oh iya, nyun.. boleh nanya sesuatu gak?" Azka sempat berfikir sejenak namun ia harus menanyakan hal ini.


"Nanya apa?"


"Kamu ada hubungan apa sama, Kevin?"


"Kevin? Hubungan apa?" tanya balik Azkia.


"Hmm. kan aku nanya kok balik nanya sih." kesal Azka.


"Kevin ya, gak ada hubungan apa-apa sih... orang ketemu juga baru dua kali." ucap Azkia jujur.


"Yakin?" tanya Azka


"Yakin! Emangnya kenapa?"


"Liat foto yang aku kirim, maksudnya apa?" tanya Azka.


Kemudian Azkia membuka pesan yang Azkia kirim tanpa mematikan teleponnya, memang Azka mengirim sebuah foto. Dan saat membukanya Azkia sangat kaget, terlihat foto Azkia bersama Kevin.


Kevin yang tengah berdiri di hadapan Azkia sambil memegang kepala Azkia, wajahnya begitu dekat dengan Azkia. Sehingga jika dilihat sekilas seperti Kevin akan mencium kening Azkia.


"I-ini dapat foto dari mana?" tanya Azkia sedikit panik, ia takut jika Azka berfikiran yang bukan-bukan soal dirinya bersama Kevin.


"Gak perluh tahu, jawab aja!" perintah Azka.


"Itu waktu kepala aku kena bola basket, terus dia niup jidat aku yang sedikit bengkak.. ta-tapi aku langsung menghindar kok." jelas Azkia sedikit takut.


"Yang bener?" Azka memastikan sekali lagi.


"Bener Azka."


"Lain kali kalo ketemu dia jaga jarak, jangan deket-deket.. Paham?"


"Paham!"


"Pinter, yaudah aku mau mandi dulu.. kamu juga sana ganti baju, seragamnya dah lecek tuh." ucap Azkia sambil sedikit tertawa.


"Kok kamu tau aku masih pake seragam sekolah?" tanya Azkia heran.


"Apa sih yang gak aku tahu." ucap Azka dengan percaya diri.


"Tauk ah.. Assalamualaikum." Azkia langsung saja mematikan ponselnya, didekapnya ponsel itu sambil terus tersenyum.


"Waalaikumsalam, aneh." jawab Azka walaupun teleponnya sudah terputus.

__ADS_1


.............


Tamatin aja gimana?


__ADS_2