
Pagi ini cuaca sangat cerah, mentari bersinar terang dari timur. Udara dingin masih terasa hingga menembus kulit, bahkan air pun menjadi lebih dingin dari biasanya. Mau tidak mau mereka harus bertarung dengan air, karena hari ini adalah hari senin dimana mereka sudah harus kembali ke rutinitas mereka sebagai pelajar.
Rasa malas masih menghantui mereka yang biasanya bangun siang selama liburan ini harus bisa merubah hal itu, apalagi hari pertama masuk sekolah selalu diadakan upacara bendera.
"Ka, bangun oy ... sekolah!" teriak Raina dari balik pintu, iya kali ini Raina yang membangunkan Azka. Karena tadi mamanya sudah mencoba membangunkan Azka namun sama saja tidak ada hasilnya.
"Bang Azka sekolah!" teriak Rania dari balik pintu kamar Azka, tangannya terus mengetuk pintu itu namun masih saja tidak ada jawaban.
"Gila dia tidur apa pingsan sih?" gumam Raina.
Brak
"Azka bangun!" teriak Raina sambil menggedor pintu kamar Azka. Biasanya Raina langsung masuk ke dalam kamar Azka tanpa mengetuk pintu, namun hari ini kamar itu terkunci rapat dari dalam.
"Bangun, Ka!"
"Azka! Kalo lo gak bangun cewek lo di ambil Devan!" teriak Raina karena sudah kesal, suranya pun hampur habis karena sudah berteriak sejak tadi.
Clek
"Gila, ampuh banget... langsung bangun saat sebut nama ceweknya, cih!" gumam Raina sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa?" tanya Azka dengan suara khas orang bangun tidur.
"Buruan mandi, sekolah! Udah setengah tujuh tuh." Raina masuk kedalam kamar Azka.
"Hmm."
"Ya kali hari pertama udah telat, kan gak lucu!" Raina mendudukan tubuhnya di sofa kamar Azka.
"Hmm."
"Buruan mandi!" bentak Raina sambil menatap tajam Azka.
"Cih! Lo lama - lama kek mama tau gak!" kesal Azka sambil menyambar handuk, kemudian melangkah menuju kamar mandi.
BRAK
Azka menutup pintu kamar mandi dengan kencang, membuat Raina terpelonjat kaget.
"Astagfirullah, jantungan lama - lama disini!" ucap Raina sambil mengusap dadanya yang berdetak cepat karena kaget.
............
"Assalamualaikum!" teriak Devan dan juga Attaya di depan pintu rumah Azka.
"Waalaikumsalam." ucap Raina sambil membuka pintu.
"Azka mana?" tanya Attaya sambil menengok kebelakang tubuh Raina mencari keberadaan Azka.
"Mandi." singkat Raina.
"Tuh anak hobby nya telat." kata Devan sambil terkekeh.
"Udah sarapan belum? sarapan dulu sana." tawar Raina sambil melangkah menuju ruang makan.
"Udah, tapi kalo ditawarin sih gak bakalan nolak hehe." kata Attaya mengikuti langkah Raina disusul Devan.
Attaya dan Devan duduk manis sambil mengambil nasi goreng ke dalam piringnya. Baru akan menyuapkan nasi goreng itu kedalam mulut, suara di belakang mereka membuat suapan itu terhenti.
__ADS_1
"Ayo berangkat, nanti telat!" ucap Azka dingin.
"Yaelah belum juga makan nih nasgornya." keluh Attaya.
"Makan mulu lo, udah telat." ucap Azka sambil melangkah keluar rumah menuju mobil Devan.
"Salah siapa yang telat bangun!" kesal Devan namun tetap saja mengikuti Azka.
"Nasgornya?" tanya Raina.
"Bungkus bisa kan, Na?" tanya Attaya dengan mata terlihat memohon.
"Cih,ini bukan warung ya!" kata Raina samnil menggelengkan kepalanya, namun tetap Raina membukuskan nasi goreng itu kedalam wadah tupperware.
"Ta, buruan!" teriak Devan dari balik pintu.
"Bentar!" teriak Attaya.
"Nih." Raina menyerahkan tupperware itu kepada Attaya.
"Makasih, Raina cantik!" kata Attaya sambil berlari menghampiri Devan dan Azka.
Sedangkan Raina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudara dan temannya itu yang tidak pernag berubah dari kecil.
............
"Hampir saja!" ucap Devan yang melewati gerbang sekolah.
"Kan gak lucu, hari pertama masuk udah di hukum!" gerutu Attaya yang berada dikursi belakang.
Mereka hampir saja terlambat, karena saat mereka sampai pak satpam sudah bersiap menutup gerbang sekolah. Mereka masih sempat masuk sebelum gerang itu tertutup penuh.
Azka keluar dari mobil Devan diikuti Attaya dan juga Devan, tasnya ia sampirkan begitu saja pada bahu kanannya.
Semua mata tertuju kepada mereka bertiga dari mulai kelas sepuluh hingga kelaa dua belas, karena mereka bertiga datang saat semua sudah bersiap di halaman sekolah untuk melaksanakan upacara bendera.
"Itu kak Azka kan?" tanya siska kelaa sepuluh.
"Kalo dilihat - lihat makin ganteng aja sih mereka."
"Kok kak Azka kurusan. ya?"
"Bebeb gue selalu saja jadi pusat perhatian... kangen bebeb." kata Siska sambil menatap lutus kearah Azka, selama liburan Siska tidak bisa bertemu Azka karena berada di luar kota.
"Pacar lo telat mulu, Ki." ucap Nayla sambil menyikut lengan Azkia.
"Udah kek artis aja tuh mereka!" sindir Devira.
"Emang artisnya sekolah kita." ucap Azkia sambil terkekeh.
Sedangkan ketiga orang itu tidak mau mendengarkan ucapan - ucapan yang menemani langkah mereka menuju kelas.
"Kalian bertiga cepat ke lapangan, atau gue hukum!" teriakan itu membuat langkah mereka bertiga terhenti dan berbalik menatap siapa orang yang tengah meneriaki mereka.
"Gue hitung sampai sepuluh, gak segera ke lapangan gue suruh berjemur!" teriak Jojo sambil berkacak pinggang.
"Satu!" Jojo mulai menghitung
"Cih, hukum ya hukum." ucap Azka santai, sambil berjalan kearah kelasnya untuk meletakkan tas.
__ADS_1
Sampai hitungan ke sepuluh, Azka Attaya dan Devan baru sampai di depan Jojo. Alhasil mereka bertiga di hukum beridiri di sebelah tiang bendera menghadap semua siswa yang sedang berbaris mengikuti upacara bendera.
Cahaya matahari menyinari ketiga orang itu, yang semakin membuat mereka terlihat keren.
"Pangeran bukan sih?" celetuk senior mereka.
"Sayang brondong, coba kalo gak udah gue sikat."
"Susah, dapetin hati tuh brondong."
"Kan manis - manis gimana gitu." begitulah ungkapan dari kaka kelas mereka.
Diseberang sana ada Rayhan yang bertugas sebagai pemimpin upacara, dia terlihat sangat berwibawa dan berkarisma. Patut jika banyak siswi yang mengidolakannya, bahkan banyak diantara mereka yang terang - terangan mengungkapkan perasaannya kepada Rayhan.
"Sutt, kak Rayhan keren banget sih." bisik Nayla sambil terus menatap Rayhan.
"Dari dulu." jawab Devira.
"Andaikan dia mau jadi pacar gue." kata Nayla sambil membayangkan.
"Mimpii!" ucap Azkia dan Devira bersamaan.
"Eheemm." suara itu terdengar dari belakang mereka bertiga.
Dengan pelan, Azkia Devira dan Nayla menoleh kebelakang. Ternyata di belakang mereka sudah berdiri guru bp dengan aura yang mematikan, membuat mereka bertiga diam membisu.
"Jangan berisik, atau saya hukum sepeti mereka bertiga!" ucapnya sambil menunjuk kearah Azka dan kawan - kawannya.
"Ba-baik." ucap Azkia dan Devira terbata, kemudian mereka bertiga fokus dengan pelaksanaan upacara bendera.
Sesekali Azkia mencuri pandang kearah Azka yang bendiri di dekat tiang bendera, saat mata mereka bertemu Azkia melemparkan senyuman yang di balas oleh Azka.
"Ya allah, kak Azka senyum sama aku!" ucap siswi yang merasa Azka tersenyum padanya padahal itu untuk Azkia.
"Enak aja, sama gue itu." ucap siswi lainnya.
"Kalian berdua tuh jangan ke pede an deh, dia itu senyum sama gue." ucapnya sambil mengibaskan rambut panjangnya kebelakang.
"Bubarkan!" instruksi pembina upacara.
"Bubarkan!" jawab Rayhan.
Setelah pembina upacara meninggalkan mimbar upacara, Rayhan berbalik badan menghadap mereka semua. Lalu perwakilan pemimpin barisan memberikan instruksi untuk hormat kepada Rayhan.
"Kepada pemimpin upacara, hormat grak!" ucapnya.
Rayhan juga ikut hormat setelah beberapa detik Rayhan menurunkan tangannya.
"Tegak grak!" ucap pemimpin barisan.
"Untuk semuanya bubar jalan!" ucap Rayhan dengan suara lantang.
Setelah mendengar instruksi mereka balik badan, dan meninggalkan lapangan upacara.
Kecuali Azka dan kawan - kawannya masih setia berdiri di dekat tiang bendera.
......................
"Jangan pernah berfikir kamu sendirian, balik badanlah dan lihat ada aku disini!"
__ADS_1
~е н~