Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Perlahan Luluh


__ADS_3

Treeett teed!


Suara bel menggema diseluruh penjuru sekolah, memecahkan keheningan yang terjadi disaat jam pelajaran. Mendengar bunyi bel itu membuat semua siswa bersorak bahagia, mengingat perut mereka yang mulai keroncongan.


"Akhirnyaa!" teriak beberapa siswa saat mendengar bel istirahat berbunyi.


"Yes, istirahat!" teriak Bobo dengan bahagia.


Bagaimana tidak jika empat jam pelajaran mereka berkutad dengan angka-angka dan rumus yang memusingkan kepala.


"Bahagia banget lo, Bob ... bocah!" ledek Ciko sambil tertawa.


"Bodo amat! Gue pusing, dari pagi dikasih rumus-rumus bikin oleng aja," gumam Bobo sambil melangkah keluar kelas.


"Dasar otak udang," saut Attaya yang sudah berada di belakang mereka berdua.


"Kita kan sama!" jawab Bobo yang memmbuat mereka semua tertawa.


Siska yang sudah berada di kantin pun terlihat kesal saat melihat keharmonisa Azka dan Azkia. Ingin sekali Siska menghancurhan keharmonisan itu, harusnya Siska yang berjalan disebelah Azka saat ini bukan Azkia.


Tangan Siska mengepal dengan erat, hingga buku-buku tangannya terlihat memerah. Sesekali keluar umpatan dari bibir tipisnya itu.


"Mereka makin hari makin lengket aja kek prangko," ucap Mira yang melihat arah pandang Siska.


"Namanya juga lagi kasmaran ya gitu, lo nanti juga gitu kok," kata Syla dengan polosnya.


"Ye, tapi gak akan seromantis mereka," keluh Mira sambil bersandar pada bahu Syla.


"Berisik tau gak!" bentak Siska.


Siska tersenyum sinis saat melihat mereka duduk tidak jauh dari tempat Siska saat ini. Dengan langkah pasti Siska mendekat kearah meja Azka dengan segelas jus melon ditangannya.


Azka yang menyadari kedatantan Siska langsung waspada, karena Azka sudah hafal betul dengan sifat Siska.


Tangan Siska mulai bergerak menyiramkan segelas jus melon itu kepada Azkia, namun dengan cepat Azka menarik Azkia menuju pelukannya.


Byur!


Jus melon itu tidak mengenai Azkia, melainkan mengenai seragam Devira yang kebetulan berada di belakang Azkia.

__ADS_1


"Lo sengaja, ya!" bentak Devira dengan kesal.


"Tangan gue licin," elak Siska yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"Heh! Alasan aja lo!" kesal Devira sambil mendorong bahu Siska hingga terhuyung kebelakang.


"Lo berani sama gue!" Siska yang awalnya diam saja menjadi tersulut emosi setelah Devira mendorongnya.


"Berani! Cuma sama nenek lampir kaya lo gini doang, kenapa harus takut!" kesal Devira.


"Udah, Ra ... malu diliatin orang-orang," ucap Nayla mencoba menenangkan Devira.


Sedangkan Azkia hanya bengong dipelukan Azka, ia merasa kaget dengan perlakuan Azka yang tiba-tiba ditambah lagi Azka memeluknya di depan umum. Pikiran Azkia seketika menjadi kosong, bahkan teriakan Siska dan Devira pun tidak mampu membuatnya terpengaruh.


"Nyaman, ya?" bisik Azka ditelinga Azkia.


Pipi Azkia bersemu merah saat mendengar bisikan Azka, membuatnya dengan cepat menjauhi tubuh Azka.


"Ma-mana ada!" entah kenapa hal itu membuat Azkia terbata.


Tangan Siska bersiap untuk menjambak rambut Devira, namun dengan cepat Devan menangkap tangan itu sehingga tidak jadi mengenai rmabut Devira.


"Gak usah ikut campur deh, ini urusan gue sama Devira!" kesal Siska.


"Urusan Devira, jadi urusan gue juga!" ucap Devan tegas.


Nayla yang mendengar itu sengaja menyenggol lengan Devira, mereka semua sudah tau bagaimana perasaan Devan untuk Devira.


"Tuh dibelain pangeran berseragam putih abu-abu," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Ciiee, senengnya dibelain ... mau juga dong!" sindir Azkia.


"Apaan sih kalian ini," ucap Devira pipinya pun sudab bersemu merah.


"Wowowo mau jadi pahlawan lo?" tanya Siska sambil tersenyim tipis.


"Terserah, gue males berdebat sama nenek sihir kaya lo ... gak guna!" ucap Devan.


Tangan Devan meraih pergelangan tangan Devira, lalu menariknya meninggalkan keributan itu.

__ADS_1


Devan merasa kasian melihat seragam Devira yang terkena jus melon hingga meninggalkan bekas diseragamnya.


"Lo mau bawa gue kemana, gue belum puas hajar itu nenek sihir!" kesal Devira sambil menghepaskan tangan Devan.


"Cih!" Devan mendengus kesal dengan keadaan Devira.


"Lo kenapa selalu ikut campur urusan gue?" tanya Devira dengan kesal.


Devan juga tidak kalah emosi dengan Devira, kenapa gadis didepannya ini tidak bisa melihat perasaan Devan yang selalu ia tunjukan. Devan selalu ada saat Devira kesusahan bukan semata-mata karena rasa sukanya, mungkin itu juga sudah takdir. Takdir untuk Devan selalu membantu Devira disaat keadaan apapun.


"KARENA GUE SUKA SAMA LO! GUE GAK TEGA LIHAT KEADAAN LO SAAT INI!" bentak Devan sambil menunjuk seragam Devira yang terkena jus.


Bahkan jus itu sudah hampir mengering, membuat badan Devira lengket, bahkan Devira sendiri tidak menyadari hal itu.


Deg!


Perkataan Devan membuat jantung Devira berdetak lebih kencang, selama ini dia tahu jika Devan menyukainya. Namun, entah kenapa ia belum merasakan getaran didalam hatinya. Baru kali ini Devira merasakan detak jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya, saat ia mendengar bentakan Devan yang menjelaskan isi hatinya.


Devira diam mematung saat mendengar perktaan Devan, hingga ia tidak menyadari Devan sudah memakaikan jaketnya di badan Devira.


"Ma-mau apa lo?" tanya Devira tersentak kaget.


"Gue gak mau badan lo diliatin cowok lain!" bisik Devan dengan tegas membuat bulu kudu Devira merinding.


Blush!


Pipi Devira merona seketika, ia tidak menyadari jika seragam yang terkena jus itu hampir menampakkan lekuk tubuhnya.


Devan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Devira yang masih diam terpaku. Terlihat lah punggung tegap yang sudah berjalan menjauhi Devira, Devira hanya bisa diam memegangi dadanya yang tak beraturan itu.


"Apa mungkin gue juga suka sama dia?" gumam Devira.


"Gak, gak mungkin gue suka sama Devan ... orang yang paling gak gue harapin jadi pacar gue!" bantah Devira pada hatinya sendiri.


Tanpa Devira sadari, kakinya ikut melangkah mengikuti langkah Devan. Seolah kaki itu tahu kemana hati itu akan menetap.


.....................................................................................


...Sekeras-kerasnya hati, ia akan lunak juga jika mendapatkan perhatian dan ketulusan. ~ E H ~...

__ADS_1


__ADS_2