Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Kelemahan Azka


__ADS_3

Udara pagi ini membuat siapapun enggan beranjak dari kasurnya, seperti Azka yang memilih menggulungkan badannya lagi dengan selimut tebal yang hampir membuat semua tubuhnya tertutup oleh selimut.


Namun tidur nyenyaknya terganggu dengan kehadiran dua makhluk yang tak diundang, mereka menerobos masak kedalam kamar Azka sesuka hatinya.


Melihat Azka yang masih terlelap dalam mimpinya membuat ide jail muncul di kepala mereka berdua.


Sreek!


Terdengar suara tirai jendela yang terbuka, membiarkan cahaya matahari masuk dengan leluasa ke dalam sudut-sudut kamar Azka.


Cahaya itu membuat Azka yang masih terlelap dalam tidurnya terusik karena wajahnya tidak tertutup selimut. Selimut yang Azka kenakan perlahan ditarik hingga pinggang hal itu membuat Azka semakin tidak bisa tertidur lelap lagi.


Azka menarik selimutnya lagi hingga menutupi seluruh tubuhnya, namun lagi-lagi selimut itu ditarik oleh seseorang hingga terjatuh di lantai.


Tangan Azka yang sedang mencari selimut terpaksa terhenti karena tidak menemukan selimutnya.


"Sialan, mau kalian apa sih!" geram Azka yang masih memejamkan matanya karena silau.


"BANGUN OY UDAH SIANG!" teriak mereka berdua dengan kompaknya seperti paduan suara.


Hal itu, membuat Azka menutup kedua telinganya. Setelag beberapa detik Azka melempar bantal dan guling kearah mereka berdua.


"BERISIK!" teriak Azka tak kalah kerasnya.


Dengan gesit Attaya menghindari lemparan batal Azka, sedangkan Devan menepisnya menggunakan punggung tangan.


"Ka, bangun! Kita berdua pagi-pagi kesini tuh, karena penasaran sama perjodohan lo!" ucap Devan yang membuat Azka akhirnya dudu menatap sahabatnya satu persatu.


"Jadi lo batalain perjodohan itu?" tanya Attaya yang langsung menghempaskan tubuhnya disebelah Azka begitu juga dengan Devan.


Azka hanya menggeleng.


"Lo terma perjodohan itu, terus Azkia mau lo kemanain?" teriak Attaya disamping telinga Azka.


"Lo gak usah teriak-teriak gue gak budek!" bentak Azka, sedangkan Azkia hanya tertawa.


"Jadi soal perjodohan lo?" tanya Devan.


"Gue terima," kata Azka.


"Terus lo putusin Azkia?" tanya Attaya.


"Gak!" ucap Azka.


"Jadi lo punya dua cewek dong?" tanya Devan.


"Satu." singkat Azka.


"Heh ngab! Kalo ngomong jangan sekata doang lo kira kita lagi game sambung kata apa!" geram Attaya.


"Bener Ta, pelit banget dia kalo ngomong... kita kan bukan cenayang yang bisa paham dengan perkataannta yang hanya satu kata," ucap Devan.


"Gue mandi dulu," ucap Azka membuat mereka berdua cengoh menatap punggung Azka yang sudah berjalan kearah kamar mandi.


........


Tak butuh waktu lama Azka sudah menyelesainkan rutinitas mandinya, setelah itu Azka menuju ruang makan karena kedua sahabatnyaya sudah berada disana.

__ADS_1


"Makan mulu," ucap Azka sambil duduk dikursinya ikut sarapan bersama.


"Dari pada mubazir gak ada yang makan," saut Attaya.


Karena kedua orang tua Azka sudah terbang keluar kota semalam setelah acara makan malam bersama keluarga Azkia.


"Jadi siapa yang di jodohin sama lo, Ka?" tanya Devan sambil mengunyah roti isinya.


"Kia," singkat Azka, tangannya sibuk mengambil selai.


Byur!


Attaya yang sedang minum tanpa sengaja menyemburkan air nya ke wajah Azka, begitu juga dengan Devan. Wajah Azka terkena semburan air bercampur serpihan roti.


"Cih, kebiasaan banget!" kesal Azka sambil mengelap wajahnya dengan tissu.


"Jangan bercanda deh, gak lucu tau gak... masa Azkia yang dijodohin sama lo, mimpo ya ngab!" ledek Attaya.


"Bener itu, mana mungkin bisa kebetulan yang indah kaya gitu," ucap Devan.


"Namanya juga jodoh," ucap Azka dengan santainya.


Attaya dan Devan saling pandang, dan detik berikutnya mereka menertawakan perktaan Azka.


"Terserah kalo gak percaya," ucap Azka lalu pergi menuju ruang keluarga.


....................


Azka yang sedang bersantai bersama kedua sahabatnya tiba-tiba terganggu dengan suara ponsel Azka yang terus berdering.


"Halo," ucap Azka setelah meletakkan ponselnya disampinh telinga.


"Udah bagun?" tanya seseorang disebrang sana.


"Udah." singkat Azka.


"Besok pulang sekolah kamu mampir ke perusahaan papa," ucapnya yang tak lain adalah Yudha.


"Ngapain?"


"Bentar lagi kamu kan tunangan, harus ngurusin anak orang... kamu harus mulai belajar bisnis supaya bisa mencukupi kebutuhannya." jelas Yudha dari sebrang sana.


"......"


"Atau mau papa batalain perjodohannya?" ancam Yudha.


"Cih, iya-iya besok Azka ke kantor," ucap Azka malas.


Bisa-bisanya sang papa menggunakan perjodohannya dengan Azkia sebagai ancamannya.


"Itu baru anak papa," ucap Yudha diseberang sana.


Dengan malas Azka mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Ponselnya ia lemparkan begitu saja kesembarangan arah, tanpa sengaja mengenai kepala Attaya.


"Awh, apa ini yang kena kepala gue," gerutu Attaya sambil memegangi kepalanya yang terkena ponsel Azka.

__ADS_1


"Ikan terbang, eh ponsel terbang," ucap Devan sambil terkeheh.


"Gak sayang sama ponselnya, main lempar aja... mentang-mentang rusak tinggal beli," gerutu Attaya yang kembali fokus pada layar game didepannya.


Mereka bertiga sedang bermain game, namun tidak dengan Azka yang duduk santai di sofa belakang Attaya dan Devan.


"Muka kenapa kusut ngab?" tanya Devan.


Azka masih bersadar pada sofa, tangannya menutupi sebagian matanya. Sesekali Azka memijitnya pelan seoalah ada beabn yang memenuhi pikiran Azka.


"Gue diancem bokap," saut Azka dengan kesal.


"Hah? kok bisa?" tanya Attaya dan Devan berbarengan sambil menatap Azka.


"Gue disuruh belajar bisnis," ucap Azka.


"Bagus dong," saut Devan.


"Ancamannya apa?" tanya Attata penasaran.


"Bagus kalo yang paham, lah gue dari dulu gak pernah paham urusan bisnis." kesal Azka.


"Makanya belajar ngab!"


"Kok lo cuekin gue sih, diancam apaan?" tanya Attaya sambil cemberut seperti anak kecil.


"Gak cocok muka lo kek gitu!" seru Devan sambil menutup wajah Attaya dengan bantal.


"Sialan," gerutu Attaya.


"Azkia," singkat Azka.


"Hah! Jadi bokap lo jadiin Azkia buat ancam lo?" tanya Attaya.


"Hmm," saut Azka.


"Bokap lo tau kelemahan lo, Ka!" tebak Devan.


"Lagian gak ada salahnya belajar bisnis, nanti lo jadi Ceo muda yang berbakat disukai banyak orang... kek di novel-novel gitu," ucap Attaya antusias.


"Lo kira hidup ini seindah novel yang dibaca Nayla," geram Devan.


Ya Attaya tahu tentang cerita novel itu dari Nayla yang suka sekali membaca novel bergenre Ceo.


"Kan siapa tau dari badboy jadi Ceo kesayangan kaum hawa," ucap Attaya sambil terkekeh.


"Azka gak usah jadi Ceo udab banyak cewek yang ngantri gak kaya kita," kata Devan.


"Berisik!" bentak Azka yang membuat perdebatan antara Attaya dan Devan berhenti.


Azka lebih memilih membaringkan tubuhnya diatas sofa, matanya terpejam namun terlihat jelas wajahnya sedang memiliki banyak beban pikiran.


......................


Kalo author buat karya baru soal Rayhan bagaimana? Kalian masih mau baca tidak?


yang Bad Boy Bucin ini author lanjutin sampai lulus trus nikah :v

__ADS_1


__ADS_2