
"Kak Darren masih ada di rumah grandmerenya. Nanti habis pulang dari belanja kita langsung jemput kak Darren ke sana." Ujar Edward
"Asyik kita ke rumah grandmere." Ucap Tristan bahagia.
"Udah kalo gitu kalian mandi dulu, tubuh kalian kan masih bau acem tuh, keringatan abis main tadi."
"Iya mama." Tristan turun dari gendongan Edward dan berjalan mendekati Lusy.
"Mommy aku mau dimandiin mommy," rengek Tristan kepada Lusy.
"Ashiap!" Lusy menggendong Tristan dan membawa ke kamar mereka.
"Atan mandi sama mama Syasa aja ya!" ucap Isyana.
"Nggak Ma Atan mau mandi sendiri aja, Atan kan udah besar."
"Duh anak mama udah pinter. Udah ayo mama antar ke kamar mama kan di kamar mandi kalian Itan yang lagi mandi."
"Oke mama."
Sampai di kamar Isyana menurunkan Nathan dari gendongannya. Nathan pun berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
"Beneran nih bisa mandi sendiri?" ucap Isyana sambil mengintip dibalik pintu.
"Mama jangan ngintip ah! Atan kan malu. Atan beneran kok bisa mandi sendiri."
"Sejak kapan putra mama malu sama mama? Biasanya juga mama yang mandiin."
"Sejak sekarang mama!" katanya dengan suara manja.
"Oke-oke, tapi mama mau lihat kamu mandi sendiri dulu. Kalau mandinya benar mulai besok mama izinkan Atan mandi sendiri."
"Siap Mama."
Nathan mengguyur tubuhnya dengan air kemudian menyabuni seluruh tubuhnya.
Isyana melihat putranya dengan bangga dan terharu rupanya dia sudah merawat mereka sejauh ini bahkan Nathan sekarang sudah bisa mandi sendiri.
"Telinganya tuh sayang masih ada sabunnya," ujar Isyana saat melihat Nathan meraih handuk selesai membasuh tubuhnya namun sepertinya telinga Nathan tidak kena bilasan.
"Hehe...sorry mama Nathan tidak lihat." ucap Nathan cengengesan.
"Sini mama bantu!"
Isyana membantu membilas kemudian melingkarkan handuk di tubuh Nathan dan mengangkatnya serta membawa ke kamar si kembar sambil mengguseli wajah mungil putranya tersebut.
"Ampun mama geli." ucap Nathan sambil tertawa renyah.
Sesampainya di kamar Tristan sudah siap dengan pakainnya.
"Sini sayang mama bantu pakaikan baju kamu biar lebih cepat, lihat tuh adik kamu udah siap."
"Baiklah Mama.
Akhirnya Nathan memakai pakaiannya dibantu Isyana.
"Ayo sayang, Daddy sudah menunggu!" Isyana berjalan sambil menuntun kedua putranya sedangkan Lusy sudah keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Daddy kami sudah siap!" teriak keduanya.
Kedua anak tersebut berlari ke arah Edward.
"Coba Daddy cek dulu." Edward menciumi pipi si kembar secara bergantian.
__ADS_1
"Sip. Anak daddy udah pada harum. Ayo berangkat!"
"Let's go." Kedua anak tersebut berjalan mengikuti Edward disusul Isyana dan Lusy di belakangnya. Mereka masuk ke mobil dengan wajah yang ceria.
๐ ๐ ๐๐ ๐
Sampai di mall...
"Kita mau ngapain dulu ini, mau belanja apa bermain?"
"Bermain daddy." jawab kedua bocah tersebut serempak.
"Oke kita langsung ke lantai 4 kalau begitu."
"Sip." Tristan mengacungkan kedua jempolnya.
Isyana hanya menggelengkan kepala melihat kedua putranya sangat antusias.
Mereka pun menaiki lift menuju lantai empat.
"Aku mau naik itu daddy!" ucap Tristan ketika melihat mobil-mobilan elektrik yang dipajang di sebuah pusat mainan di lantai empat.
"Atan juga mau." Nathan menimpali.
"Ya udah ayo kita ke sana!" ucap Edward sambil berjalan mendekati mobil-mobilan elektrik yang disewakan.
Setelah Edward berbicara dengan pemiliknya akhirnya Nathan dan Tristan bisa mengendarai mobil-mobilan tersebut.
"Ayo kita balapan Atan," ajak Tristan
"Ayo." Ucap Nathan menyetujui ajakan Tristan.
Sementara Nathan dan Tristan sedang balapan di arena permainan itu dengan pengawasan Edward, Lusy dan Isyana memilih pergi untuk berbelanja.
"Ayo kejar aku!" ucap Tristan kepada Nathan.
"Ye.. Atan tidak sampai," ledek Tristan karena kakaknya itu tidak bisa mengejarnya.
Akhirnya Nathan pun semakin mengencangkan setirnya namun tiba-tiba.
"Brak." Mobil-mobilan yang dikendarai Nathan menabrak besi pembatas.
"Aduh sakit..." ucap Nathan lirih.
Tristan segera menghentikan laju mobil-mobilannya dan berlari ke arah Nathan, begitu pun dengan Edward.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Edward.
"Kak Atan nggak apa-apa? Maafin Itan ya! Kak Atan begini gara-gara Itan kalo Itan nggak nyuruh Atan supaya ngejar Itan nggak mungkin bakal jatuh kayak gini." Ujar Tristan, matanya sudah nampak berkaca-kaca.
"Atan nggak apa-apa kok Itan, Dad." Ucap Nathan sambil meringis menahan sakit. Dia tahu Tristan sudah mulai mau menangis makanya dia berbohong dengan mengatakan tidak apa-apa padahal lutut dan betisnya terasa sangat sakit.
Nathan mencoba berdiri. "Auw." Dia merasakan sakit yang sangat hingga ia tidak bisa berdiri.
Edward membantu Nathan berdiri namun tetap saja Nathan kesulitan karena tidak kuat menahan sakit. Akhirnya dia memutuskan menggendong Nathan ke mobil.
"Daddy telepon mommy dulu ya biar menyusul ke mobil."
"Tidak usah daddy nanti mommy sama mama malah khawatir. Atan nggak apa-apa kok cuma terkilir doang palingan besok udah sembuh."
"Bener nggak apa-apa? Daddy takut kamu nanti nggak bisa berjalan. Atau kita ke rumah sakit saja?"
"Nggak usah Daddy, Atan beneran nggak apa-apa kok, lebih baik Daddy sama Itan temenin mama sama mommy belanja biar Atan tunggu di mobil aja," pinta Nathan.
__ADS_1
"Tapi kak Atan beneran nggak apa-apa?"
Nathan mengangguk.
"Beneran kamu nggak apa-apa ditinggal di mobil sendirian?" kali ini Edward yang bertanya.
Nathan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu Daddy antar Tristan ke mommy dulu ya!" Kan mommy sudah janji mau beliin kalian mainan. Nathan mau nitip apa?"
Nathan menggeleng. "Nggak usah Dad aku lagi nggak pengin apa-apa."
"Kalau mainan?"
"Samain aja sama Itan."
"Oke kalau begitu, kami pergi dulu ya!"
"Iya Dad."
Setelah Tristan dan Edward meninggalkan mobil tiba-tiba saja Isyana berlari menuju mobil. Dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Eh kok Atan ada di sini?"
"Mama ngapain lari-lari begitu? Kayak dikejar hantu aja." Nathan tidak menjawab pertanyaan Isyana malah balik bertanya.
"Mama nggak apa-apa kok. Eh dimana Itan?"
"Iran sama Daddy katanya mau beli mainan."
"Kamu kok nggak ikut?"
"Kaki Atan sakit Ma, ups." Nathan segera menutup mulutnya yang keceplosan bicara.
"Sakit? Kenapa?" Isyana tampak khawatir dan panik.
"Mananya yang sakit?" Sambil meraih kaki Nathan.
"Auw, jangan disentuh Ma."
"Kamu kenapa sih? Jatuh? Sini mama lihat!"
Isyana meneliti kaki, betis dan lutut Nathan. "Kok memar sih sayang, kamu sebenarnya kenapa?"
Melihat wajah Isyana yang memelas akhirnya dia memilih berkata jujur. Nathan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
"Kita ke dokter ya sayang!" ajak Isyana.
"Nathan menggeleng. "Aku nggak mau Ma."
"Ayo dong sayang nanti mama beliin es krim. Mau ya! Atau nanti mama beliin apa aja yang Nathan pengen."
Nathan tetap menggeleng. "Aku nggak mau disuntik Ma."
"Nggak akan disuntik sayang paling dikasih salep sama obat."
"Kalo begitu mama beliin aja Atan salep di apotik, nggak usah ke dokter."
"Takutnya tulang kamu ada yang patah sayang jadi kamu harus diperiksa dokter."
"Nggak Ma nggak ada yang patah kok. Tenanglah Ma, aku tidak apa-apa."
"Kamu ya benar-benar keras kepala persis ay...." Isyana tidak melanjutkan perkataannya, hampir saja dia keceplosan mengatakan bahwa Nathan mirip ayahnya.
__ADS_1
"Persis ay ... , apa Ma?"
"Nggak, nggak mama salah ngomong."