
Hari berganti hari bulan pun silih berganti. Semenjak kejadian hari itu Annete tidak pernah bertemu Adrian lagi. Saat kangen sama Adel pun Annete hanya akan menghubunginya lewat video call, beruntungnya Adel tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Hubungan Annete dan Lexi mulai menemukan arahnya bahwa hubungan tersebut tidak lagi pantas dipertahankan. Sejak kejadian di pantai saat mereka diajak piknik oleh si kembar dan orang tuanya, Annete menjadi benar-benar yakin bahwa hati Lexi bukan lagi untuknya. Pun dirinya mengapa perasaannya menjadi aneh pada Adrian mengapa ia kerapkali cemburu kala melihat Adrian dan Adel yang begitu dekat dengan Yuna.
"Ah aku maunya apa sih," protes pada diri sendiri yang plin-plan.
Saat semua berjalan-jalan di pinggir pantai dan dibeberapa tempat lainnya Annete hanya fokus melihat Adel dan Adrian yang kini sedang tertawa-tawa di bibir pantai. Entah mengapa Annete merasa sakit melihat posisinya digantikan Yuna. Biasanya dirinyalah yang ada di samping Adrian dan Adel sekarang namun kenyataannya Annete merasa mereka terkesan cuek dan melupakannya.
Cuaca yang dingin dan matahari yang masih belum terbit membuat tubuh Annete menjadi menggigil. Meskipun ia sudah terbiasa dengan musim salju sekalipun, apalagi suasana hatinya yang tidak mendukung sekarang membuat tubuhnya semakin merasa tidak baik.
Annete memilih kembali ke kamar berharap Lexi sebagai sang kekasih bisa memberikan perhatian lebih namun nyatanya ketika dia menyapanya Lexi malah menanyakan ke mana Naura pergi sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya yang mengatakan sedang tidak enak badan.
Annete langsung masuk ke kamar setelah memberitahukan dimana keberadaan Naura sekarang. Dia membuka jaketnya dan melemparnya begitu saja kemudian mengganti menggulung tubuhnya dengan selimut. Dingin, suasana begitu dingin hingga dinginnya begitu menusuk tulang.
Di saat Annete memilih kembali ke penginapan, Adrian yang sedari tadi hanya memperhatikan Annete lewat ekor matanya langsung menyusulnya. Entah mengapa hatinya merasa tidak enak.
"Yun aku balik dulu ya!" pamitnya pada Yuna.
"Aku ikut Yah." Adel mengekor sang ayah.
"Oke sana kalian pergi dulu biar aku yang cari makanan saja." Mereka melangkah dengan arah yang berlawanan.
Sampai di depan pintu kamar Annete Adrian menyuruh Adel memeriksa keadaan Annete terlebih dahulu karena takut lancang kalau dia yang langsung mengeceknya.
"Yah tubuh Tante Annete bergetar di bawah selimut Yah," lapor Adel.
"Apa dia menangis?"
"Nggak tahu Yah Tante Annete menggulung semua tubuhnya dengan selimut jadi wajahnya tidak kelihatan."
"Ayo kalau begitu kita periksa bersama, takut terjadi sesuatu padanya," ucap Adrian.
Adrian pun masuk ke kamar dan mendekati ranjang. Perlahan Adrian menyingkap selimut yang menutupi tubuh Annete. Adrian terperangah melihat Annete menggigil dan bibirnya bergetar, sekali-kali mulutnya meracau tidak jelas seperti orang mengigau sedangkan matanya terpejam.
Adrian memeriksa tubuh Annete dan menyentuh keningnya, panas.
__ADS_1
"Del tolong ambilkan tas ayah di kamar!"
Adel pun berlari menuju kamar ayahnya dan mengambil tas sesuai yang diperintahkan. Setelah Adel menyerahkan tasnya dengan sigap ia langsung memeriksa Annete seperti layaknya dokter pada umumnya.
"Del tolong ambilkan kompresan ya di dapur Tante Annete demamnya tinggi ini." Dengan sigap Adel langsung mengambil baskom dan mengisinya dengan air serta kain kompres lalu mengompres Annete.
"Sini biar ayah yang kompres." Adrian mengambil alih pekerjaan Adel.
Beberapa saat kemudian Yuna datang dengan menenteng bungkusan plastik.
"Kenapa dengan Annete Dri?" tanyanya pada Adrian.
"Dia demam Yun."
"Oh, ini aku bawakan bubur ayam untuk kalian. Sepertinya pagi-pagi yang dingin seperti ini sangat baik untuk mengonsumsi bubur hangat."
"Taruh aja di situ Yun!" Adrian menunjuk sebuah meja kemudian tangannya dengan terampil mengompres Annete lagi.
"Tidak di suruh minum obat Dri?"
"Nanti kalau dia sudah terbangun. Sudah sana katanya kamu mau menyusul Zidane."
"Kalian tidak apa-apa aku tinggal?"
"Tidak apa-apa Yun kamu pergilah. Maaf kami tidak bisa ikut karena harus menjaga Annete."
"Baiklah kalau begitu aku susul mereka dulu ya."
"Ya hati-hati." Yuna melangkah meninggalkan ketiganya keluar dari kamar sedangkan Adel menuang bubur ke dalam mangkok agar setelah terbangun nanti Annete bisa langsung makan.
Merasai ada tetesan air di keningnya Annete langsung terbangun dan duduk. Dia terkejut melihat Adrian sudah ada di sampingnya.
"Mas kamu...auw." Annete memegang kepalanya yang berdenyut.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya," ucap Adrian sambil membantu membenarkan duduk Annete supaya bersandar pada sandaran ranjang.
"Del mana buburnya." Tanpa mendengar persetujuan Annete, Adrian langsung meminta bubur yang sudah dituangkan tadi oleh Adel dan menyuapi Annete. Awalnya Annete menolak ingin makan sendiri namun ternyata kekuatan tangannya tidak bisa diandalkan kini karena bergetar dan menjatuhkan sendok yang dipegangnya beberapa kali. Dengan telaten Adrian menyuapi Annete.
Annete memandangi wajah Adrian yang kini dengan telaten menyuapinya dengan perasaan tidak menentu. Mengapa sekarang jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Apakah memang pengaruh panas tubuhnya ataukah ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.
Adrian menatap Annete yang kini sedang menatapnya juga. Tatapan mereka bertemu. Ada rasa yang berbeda di hati keduanya. Adrian tersenyum manis ke arah Annete namun Annete memilih menunduk karena malu Adrian memergokinya sedang menatap dirinya.
"Sekarang minum obatnya ya biar demam kamu turun!" Annete mengangguk. Adrian mengeluarkan obat dari dalam tasnya kemudian membatu Annete meminum obatnya.
"Terima kasih ya Mas, Del." Hanya ucapan terima kasih yang terlontar dari mulut Annete atas perhatian keduanya.
"Tidak perlu berterima kasih pada kami karena kau bahkan melakukan lebih dari ini terhadap kami. Istirahatlah biar kesehatanmu kembali pulih." Annete hanya mengangguk dan mencoba berbaring kembali. Adrian dengan sigap membantunya. Kemudian membenarkan letak selimut di kaki Annete.
"Kamu dan Adel tidak menyusul si twins?"
Adrian dan Adel kompak menggeleng. "Mana mungkin kami meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini."
"Aku sudah tidak apa-apa Mas, kalian pergilah. Kalian ke sini kan untuk berlibur bukan untuk menjaga orang sakit."
"Tidak apa-apa Tante biar kita temani Tante di sini. Sekalian buat ngobatin kangen Adel sama Tante."
"Adel?"
"Tante tahu, Adel selama ini kangen sama Tante tapi ayah selalu menolak Adel jika minta dianterin ke Tante."
"Mas...!" Annete ingin protes tapi dengan cepat Adrian menjawab, "Aku tidak ingin melihat kebersamaan kamu dengan Lexi. Maaf aku tidak bisa." Adrian pikir Lexi sekarang juga tinggal bersama Annete di rumah Atmajaya.
"Apa maksudmu kamu cemburu Mas? Ah jangan biarkan aku salah mengartikan perhatianmu Mas!" batin Annete.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak: Like, vote, hadiah dan komentarnya. terima kasih. ๐
__ADS_1