
Melihat putrinya memang benar-benar ingin pergi dari rumah Farah dan pak Ramlan segera berlari menyusul keluar dan memerintahkan pak satpam untuk mengunci pagar agar Nindy tidak bisa kabur.
"Buka Pak, buka!" perintah Nindy pada pak satpam.
"Maaf Nona tidak boleh keluar."
Melihat tidak ada celah untuk kabur Nindy menjadi putus asa. Di saat bersamaan dia melihat ada tangga yang ada di samping pos satpam Nindy segera menaiki tangga tersebut dan memanjat genteng.
"Mau apa kamu sayang?" Farah tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh putrinya.
Pokoknya batalkan perjodohan itu atau aku lompat sekarang!" ancam Nindy.
"Mas dia mau bunuh diri beneran, bagaimana ini Mas?" tanya Farah panik.
"Tenang Farah, kita harus bisa merayu dia agar dia tidak nekat."
"Safa turun Nak," perintah Pak Ramlan.
"Tidak aku tidak akan turun sebelum kalian membatalkan perjodohan ini."
"Iya, iya kami akan segera membatalkannya, asalkan kamu turun sekarang ya!"
"Telepon teman bunda dulu dan katakan kalau bunda dan ayah membatalkan perjodohan itu!"
Dan bodohnya Farah memang menelpon mama Ani dan berkata," batal."
"Apanya yang batal?" tanya mama Ani dari balik telepon. Dia tidak mengerti dengan perkataan Farah, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba bilang 'batal'.
Namun sayang Farah langsung menutup teleponnya.
Mama Ani mengernyit. "Aneh tuh orang, kesambet kali ya."
Sudah, sekarang kamu turun ya!" pintanya pada Nindy.
Nindy mengangguk lalu benar-benar turun melewati tangga tadi.
Bunda Farah dan Pak Ramli bernafas lega tapi tidak dengan Nindy karena bisa saja kedua orang tuanya tetap menjodohkan dengan pria itu kembali.
"Sudah sana masuk kamar, jangan coba-coba lari lagi. Bunda janji tidak akan menjodohkan kamu kembali."
Nindy mengangguk walaupun dalam hati ragu-ragu. Segera ia bergegas kembali ke dalam kamar. Namun sampai di kamar dia tetap tidak menaruh pakaiannya dalam lemari lagi tapi tetap dibiarkan dalam tasnya.
Sedangkan pak Ramlan dan bunda Farah juga kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mas yakin mau membatalkan keinginan Mas untuk menjodohkan Safa dengan putra jeng Ani?"
"Ya nggak lah aku hanya berbohong. Nanti kita coba untuk mengatur pertemuan mereka agar mereka bisa bertemu tanpa merasa bahwa pertemuan mereka kita atur, siapa tahu mereka saling menyukai satu sama lain. Kan jadi mudah perjodohan mereka nantinya."
Apa memang tidak sebaiknya dibatalkan saja Mas, saya takut Safa nekad lagi." Bunda Farah nampak ragu.
"Kita lihat saja nanti."
Nindy yang kebetulan ingin ke dapur untuk mengisi botol dengan air dingin lewat di depan pintu kamar mereka dan tidak sengaja mendengar perbincangan keduanya menjadi yakin bahwa kedua orang tuanya hanya membohonginya.
"Sepertinya aku memang harus benar-benar pergi dari tempat ini," gumamnya lalu ia melanjutkan langkahnya ke dapur.
Malam hari ketika para penghuni rumah pada tidur Nindy beranjak ke dapur untuk membuat minuman. Bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk pak satpam yang bertugas malam ini. Untung saja setelah kejadian beberapa hari yang lalu Pras tidak pernah mengganggunya lagi sehingga ia bebas berkeliaran dimana saja. Mungkin takut aksinya kepergok orang rumah dan dirinya terbukti yang bersalah.
"Ini Pak diminum dulu," ujar Nindy sambil menyodorkan minumsn dan se toples kue kering ke arah Pak satpam.
"Tumben Non buatkan saya minuman," ujar Pak satpam heran karena baru kali ini Nindy membuatkan minuman untuknya.
"Iya Pak ini sebagai rasa terima kasihku tadi pagi karena Bapak telah menyelamatkan saya."
Menyelamatkan bagaimana pikir pak satpam toh tadi pagi Nindy turun bukan karena dirinya, tapi karena rayuan dari kedua orang tuanya, tapi ya sudahlah yang namanya rezeki tidak perlu ditolak kan? Pak satpam mengambil kue kering itu kemudian meminum tehnya. Nindy memandang wajah pak satpam berharap agar obat tidur yang ia masukkan ke dalam minuman itu bereaksi.
Lama Nindy menunggu tetapi pak satpam belum terlelap juga.
"Kenapa Nona enggak kembali ke dalam rumah?"
"Oh begitu ya Non." Pak satpam Tampak menguap membuat Nindy senang dan menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa saat kemudian pak satpam benar-benar sudah terlelap.
Nindy segera beraksi, mengambil kunci dari kantong celana pak satpam. "Kenapa begitu sulit sih?Kalau ada yang lihat bisa-bisa aku difitnah lagi nih disangka menggoda pak satpam." Ia terkekeh sendiri.
Beberapa saat akhirnya berhasil mengambil kunci pagar dari kantong pak satpam. "Yes, berhasil!" Dia mengepalkan tangannya karena bersemangat.
Ia segera membuka pintu pagar, setelah terbuka ia lalu mengambil tas miliknya yang sempat ia sembunyikan tadi dibalik tanaman hias.
Ia langsung keluar dari pagar dan mengunci pintu pagar dari luar. Setelah itu langsung melempar kunci tersebut ke arah pak satpam yang telah tertidur pulas.
"Dadah pak satpam terima kasih atas semuanya," ujar Nindy sambil melambaikan tangan.
"Semoga nggak ada maling masuk." Doanya dalam hati karena melihat pak satpam yang terlelap.
Dia langsung menelpon taksi online dan pergi ke rumah salah satu pembantunya yang sudah lama berhenti. Kebetulan dia pernah bertemu dan diajak ke rumahnya. Dia sengaja tidak pergi ke rumah putri ataupun Kinara temannya karena akan mudah ditemukan oleh kedua orang tuanya.
"Non Safa ngapain kamu ke sini malam-malam?" Winda kaget.
__ADS_1
"Aku kabur dari rumah bik, boleh aku menginap di sini?"
"Kabur? Ada apa?"
"Besok aku ceritakan Bik."
"Baiklah sekarang kamu masuk dulu."
"Terima kasih Bik."
"Sudah makan kamu?"
"Sudah Bik."
"Yasudah kalau begitu mari saya antar ke kamarmu." Nindy mengangguk dan mengikuti langkah Winda.
Winda membuka pintu sebuah kamar. "Ini kamarmu, kamu boleh tidur di sini."
"Baik Baik terima kasih."
"Ya sudah beristirahatlah dan selamat malam." Winda hendak beranjak namun dicegah oleh Nindy.
"Hei Bik!"
"Ada apa?"
"Mulai sekarang panggil aku Nindy bukan Safa." Winda mengernyit namun akhirnya mengangguk juga.
"Ya sudah aku pergi dulu sudah ngantuk," ujar Winda.
"Oke, God night Bibik!"
Winda hanya berlalu sambil geleng-geleng kepala.
Flashback Off.
Louis cekikikan mendengar cerita Nindy. "Ternyata kamu gadis yang nakal ya! Kenapa pas kaburnya tidak lompat pagar saja? Ya ampun Nindy kalau sampai kamu benar-benar mati karena lompat dari genteng aku yakin kisah kamu akan jadi viral. Begini-begini, 'Dikabarkan seorang perempuan tewas karena melompat dari genteng akibat dipaksa oleh orang tuanya menjadi Siti Nurbaya' hahaha...." Louis tertawa renyah.
"Ah Tuan Louis kok malah nertawain saya sih? Nyesel deh saya cerita sama Tuan Louis."
"Habisnya kamu lucu sih, emang nggak ada cara lain untuk bunuh diri gitu hingga harus lompat dari genteng?" Louis terkekeh sedangkan Nindy tampak cemberut.
"Udah ah aku nggak mau cerita lagi kalau ada apa-apa." Nindy ngambek.
__ADS_1
"Orang tuamu juga lucu banget, jaman sekarang main jodoh-jodohan takut anaknya nggak laku apa?" Nindy bertambah cemberut.
Bersambung.....